
Bugh bugh bugh...
"Bukaa.. Buka nduk..!!" Khe Khe Khe..
"Nduk.. Buka.."
Bugh bugh bugh !!!
"Bukaaaa..."
Kini suara itu semakin berat dan membuat intan semakin ketakutan.
Intan terus menutup telinga nya dengan tangan nya, degup jantung yang tidak beraturan hingga keringat membasahi pipinya.
"Nduk.. Buka, nduk..!!"
"intan... Ini aku tara"
"benarkah itu kamu mas..??"
Ucap intan lirih sembari mendekati pintu utama
"intan.. Tan.. Ini aku tara, buka Tan.!!"
perlahan intan membuka pintu dan mendapati Tara tengah berdiri bersama Hartini.
"mas Tara, bu'le Tini...!!!"
Ucap intan yang langsung memeluk Hartini
"tenang ya nduk, tenang.. Kami ada disini"
kini mereka membaringkan intan di sofa ruang tamu, Hartini pun membuatkan minuman hangat untuk menenangkan intan.
nampak Tara tengah menggenggam tangan intan sembari terus mengelus lembut ujung rambut intan.
"Katakan lah apa yang terjadi disini, barusan.??"
Tanya Tara dengan nada lembut sembari terus mengelus rambut intan.
"tadi aku sedang duduk di kursi teras, sore tadi. Namun, dari luar gerbang ada seorang nenek tua yang sebelumnya pernah mendatangi aku waktu itu. Aku coba menghampiri nenek itu, tapi semakin lama dia semakin menyeramkan, Tara. menggedor-gedor pintu sambil tertawa melengking, kan aku jadi takut."
Jelas intan sesenggukan
"bisa jadi nenek tersebut mengalami gangguan jiwa, Tan. Atau karena kamu kelelahan mengurus kebun sendirian, jadi kamu berhalusinasi."
Ucap Tara untuk menenangkan intan
"jadi kamu fikir aku ini berbohong, gitu.?? nenek tua itu sungguh menyeramkan, Tara. Aku tidak berbohong!!"
Jawab intan lirih
Tara kembali memeluk intan sembari terus mengelus punggung nya, mencoba menenangkan hatinya.
"kalau begitu aku nginap disini, ya.. Aku akan menjaga kamu!!!"
Ucap Tara sambil tersenyum
"iya.. Baiklah"
"yasudah, kalau begitu bu'le Tini pamit pulang dulu ya nduk, besok bu'le akan kembali mengunjungi mu. Tara, ibu titip intan ya.!!"
ucap Hartini pada intan dan Tara.
malam semakin larut, tampak Tara yang tertidur di sofa ruang keluarga yang berada di depan kamar intan, Tara nampak terlelap dalam tidur nya namun tidak dengan intan.
dia masih terjaga dalam tidur nya, bayangan sore tadi terus menari-nari dalam ingatan nya. Suara lengkingan nenek tua itu pun selalu menggema di telinga nya.
"Ada benar nya juga apa yang di bicarakan sosok nenek tua itu tentang kematian eyang Ratmi, kalau saja eyang masih ada sudah pasti aku pun masih punya keluarga. Tidak seperti saat ini, aku hanya seorang diri. Tapi, Cahya juga punya maksud dan tujuan mengapa dia harus melakukan hal itu. Lagi pula, sudah beberapa kali aku di pasung sama eyang semasa hidup nya."
gumam intan dalam hati
intan merasa haus, lantas dia keluar kamar dan ingin ke dapur mengambil segelas air putih.
namun tepat di ruangan dapur yang gelap gulita, sebab lampu nya di matikan oleh intan.
__ADS_1
Terdengar suara ketukan di jendela dapur, sembari terus memanggil intan.
"intan, intan.. Tolong... Tolong ibu nak!!'
ucap seorang wanita yang suaranya sangat tidak asing bagi intan.
"Ibuuu... Benar kah itu ibu??"
Jawab intan lirih
"Akhh... Tolong intan, tolong ibu..!!"
bergegas intan membuka sedikit jendela dapur, namun ia tak mendapati siapapun disana.
dia hanya mendengar suara sang ibu yang tersapu angin.
"Apa aku berhalusinasi?? Tapi rasanya, suara itu sangat nyata."
Ucap intan dengan nada suaranya rendah
ia kembali menutup jendela dapur tersebut, berjalan mundur sembari terus memandangi jendela kaca itu.
"Intan..."
"Ta-tara"
"kamu ngapain kok jalan mundur sambil ngeliatin jendela? kamu seperti tengah ketakutan, apa sosok nenek tua itu kembali meneror mu.?"
"ah, tidak. Aku hanya sedang mencari minum, aku haus."
Lantas intan berlenggang pergi kembali ke kamar nya dan meninggalkan Tara di ruangan dapur.
Kini mentari pagi sudah membentang di ujung timur.
Intan menyuguhkan segelas teh hangat dan sepiring singkong rebus untuk Tara yang sudah sibuk di kebun samping rumah.
"Tara, sarapan dulu."
teriak intan
"intan, apa kamu mengalami sesuatu tadi malam.?"
Tanya Tara yang membuka obrolan di antara mereka
"ti-tidak"
"semalam, beberapa kali aku seperti mendengar suara bu'le winar. Dia terus memanggil nama mu dan terus meminta tolong, namun entah dimana sumber suara itu."
Degh!
"bagaimana mungkin, ibu ku kan sudah meninggal tiga tahun lalu, Tara. Dan kamu tahu kan, penyebab ibu ku meninggal."
Jawab intan lirih
"tapi rasanya suara itu benar nyata, Tan."
"sebenarnya, aku pun mendengar suara ibu saat aku di dapur semalam. apa mungkin ini tipu daya nenek tua itu"
Ucap intan
"sebenarnya apa maksud dan tujuan sosok nenek tua itu yang terus meneror kamu, namun bukan hanya kamu saja tapi seperti nya sosok nenek tua itu juga lah yang meneror Cahya."
"Cahya juga di teror??"
Sahut intan sedikit terkejut
...****************...
Hari ini Cahya dan teman-teman nya harus kembali ke Setu Bodas, sebab sudah saat nya mereka menjalani KKN.
Dengan kemantapan hati Cahya memberanikan diri menjalani KKN disana.
selama perjalanan menuju desa Setu Bodas tidak ada kendala sedikit pun, perjalanan berjalan dengan baik hingga mereka sampai di gapura desa Setu Bodas.
"Alhamdulillah, kita sampai dengan selamat.!!"
__ADS_1
Ucap Zein
"semoga nanti pulang nya pun kita selamat"
Sahut Nabila
"aku janji, kita datang kesini sama-sama dan pulang pun kita harus sama-sama.!!"
jawab Cahya
Kini mereka sampai di intan, tampak sangat sepi rumah nya.
"Ca, kok rumah nya sepi? apa mbak intan sedang tidak ada di rumah."
Ucap Zein
"assalamualaikum, mbak intan.!!"
Teriak Cahya dari luar gerbang, sebab gerbang nya di kunci oleh intan.
"mbak.. mbak intan!!"
Teriak nya lagi
Namun saat itu juga, tampak intan keluar dari dalam rumah nya.
seketika di halaman rumah intan banyak sosok makhluk menyeramkan muncul di depan Cahya, mereka berterbangan kesana kemari.
wajah-wajah nya sangat menyeramkan, lantas secara bersamaan makhluk-makhluk menyeramkan itu berteriak meminta tolong pada Cahya, membuat Cahya ketakutan dan perlahan dia berjalan mundur hingga ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Dengan cepat Zein menompang tubuh Cahya yang hampir tersungkur ke tanah.
"Cahya.. Ca, loe kenapa.??"
Ucap Zein sembari mengelus lembut pipi cahya
"ada apa dengan Cahya??"
Sahut intan yang nampak panik
"mungkin Cahya kelelahan, mbak."
Jawab Maura
Zein membopong tubuh Cahya masuk ke dalam rumah intan, dan di baringkan di atas ranjang kasur.
"Cahya..."
panggil Tara yang sedikit berlari masuk ke dalam kamar yang si siapkan untuk Cahya.
"apa yang terjadi pada Cahya?"
Tanya Tara pada teman-teman Cahya
"seperti nya Cahya hanya kelelahan saja, mas Tara."
Jawab Zein
"yasudah, kalau begitu kita tinggalkan Cahya sendiri. Biar dia istirahat saja"
Titah Tara
"mengapa kamu begitu khawatir pada Cahya? Apa kamu benar mencintai adik sepupu ku?"
Gumam intan dalam hati
...****************...
......(guys maaf ya kemarin author gak update 🙏🙏......
...kemarin aku ada acara di sekolahan anak, jadi gak sempat update episode 🙏🙏...
...dan maaf juga author hari ini update nya sedikit )...
...Mohon di maklumi ya guys🙏...
__ADS_1