Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Menghilang Nya Cahya


__ADS_3

"Ca, kita keliling sekitaran desa sini yuk.? Gua bosen banget"


Ajak Maura pada Cahya yang tengah bersantai di teras rumah Harjo.


"Boleh... Yukk!!"


Jawab Cahya dengan senyuman yang sumringah.


Lantas mereka berlenggang pergi begitu saja tanpa pamit pada Harjo ataupun Hartini.


Mereka berjalan melewati perkebunan sayur dan beberapa sawah milik warga setempat, lingkungan yang asri dengan suasana pedesaan yang masih sejuk.


"Desa nya indah banget ya, Ca. Tapi sayang, masih kental dengan hal-hal berbau mistis.."


Ucap Maura dengan pilu.


"Ya... Itulah yang sangat di sayangkan, dulu saat gua baru menginjak di tanah Setu Bodas gua benar-benar di buat kagum dengan keindahan alam nya. Oh iya.. Disini sudah bukan Desa Setu Bodas lagi Ra. Disini sudah masuk kawasan Desa Merpati"


Sahut Cahya tersenyum tipis.


"Ca. Mampir kesitu yuk!!"


Tunjuk Maura pada sebuah warung kecil yang mirip dengan gubuk, warung tersebut terbuat dari anyaman bambu.


Lantas Cahya mengekor di belakang Maura.


Warung kecil itu menjual beberapa macam kue basah dan goreng-gorengan, namun seperti nya sang pemilik warung tidak ada disana.


"Permisi... Ada orang tidak??"


Teriak Maura sembari mengedarkan pandangannya.


"Orang nya lagi keluar kali Ra. Sudah yuk, kita cari warung lain saja.!!"


Ajak Cahya


Namun saat mereka baru saja ingin pergi, tampak seorang wanita paruh baya berwajah pucat pasi dan menggunakan pakaian kebaya berwarna hitam, tengah berdiri menatap Maura dan Cahya tanpa ekspresi. Membuat mereka amat terkejut.


"Mau beli apa, nduk.?"


Ucap wanita tersebut


"Huhh.. Sampai kaget saya, Bu'de pemilik warung ini.?"


Tanya Cahya sambil tersenyum


Lantas wanita tersebut hanya menganggukkan kepalanya.


"Saya mau beli kue nya Bu'de. Tapi, saya boleh gak makan disini?"


Sahut Maura


"Silahkan duduk"


Jawab nya yang masih tanpa ekspresi.


Kini mereka mulai mencicipi beberapa kue basah sembari berbincang ringan, hitung-hitung menghilangkan perasaan-perasaan takut setelah teror demi teror yang mereka alam beberapa hari belakangan.


"Ini minum nya.."


Ucap Bu'de pemilik warung sembari menyuguhkan dua gelas kecil teh yang masih mengeluarkan asap tipis.


Aroma teh tersebut membuat Cahya sedikit mengerutkan keningnya, ia merasa aneh dengan aroma teh itu.


"Maaf Bu'de.. Ini teh apa ya?? Kok dari aroma nya, kaya aroma kembang kantil.??"


Degh !


Ucapan Cahya berhasil membuat bulu tengkuk Maura berdiri. Maura percaya jika kembang kantil selalu berkaitan dengan makhluk-makhluk halus.


"Iya. Memang ini adalah teh kembang kantil, khasiat nya bagus nduk, untuk menyegarkan tubuh."


Jawab Bu'de pemilik warung sembari tersenyum tipis di ujung bibir nya.


Kini Cahya dan Maura mulai menyeruput secangkir teh kembang kantil yang di suguhkan oleh Bu'de pemilik warung.


Rasa teh kembang kantil itu sangat pahit, hingga Maura tidak menghabiskan teh tersebut.


Namum tidak dengan Cahya, ia meminum teh kembang kantil itu sampai habis.


"Ca. Loe doyan apa haus??"


Ucap Maura yang menatap heran pada teman nya itu.


"Enak loh Ra, manis.!!"


Jawab Cahya hingga membuat Maura sedikit membulatkan matanya.

__ADS_1


Mereka kembali berbincang ringan. Hingga 17 menit kemudian tiba-tiba saja Cahya tertidur di warung kecil tersebut.


"Ca.. Cahya.. Jangan bercanda dong Ca"


Ucap Maura yang nampak panik sembari menggoyangkan tubuh Cahya.


"Ca.. Loe pingsan lagi Ca?? Cahya...!!"


Maura semakin panik melihat Cahya yang tak kunjung bangun.


Hihihi hihi hihihi


Suara tawaan yang amat melengking membuat bulu tengkuk Maura berdiri, suara tersebut keluar dari mulut Bu'de pemilik warung. Seketika Maura menoleh ke arah sang pemilik warung, dan benar saja.


Bu'de pemilik warung itu kini berubah menjadi Nyi Dasimah si manusia titisan iblis yang berumur ratusan tahun.


"Se-setannnn... Ca.. Ayokk bangun Ca, Cahya..!!"


Ucap Maura sembari berusaha memapah tubuh Cahya, namun kaki nya terasa sangat berat untuk melangkah, seperti ada yang menahan kaki Maura agar tidak bisa bergerak.


"Cahya... Bangun Ca... Hiks hiks!!"


Teriak nya lebih keras sembari menangis ketakutan.


Nyi Dasimah mulai mendekat ke arah Maura sembari mengulurkan tangannya, Nyi Dasimah mencoba ingin mencekik leher Maura.


Jantung Maura memompa dengan sangat cepat, hingga tubuh nya kini melemas.


Tidak hanya itu, kini beberapa makhluk halus dengan wajah yang sangat hancur pun bermunculan dan ikut mendekat ke arah Maura dan Cahya.


"Akhhhh.....!!!"


...****************...


"Gi, dari tadi saya tidak melihat Cahya dan Maura? Apa mereka sedang beristirahat di kamar?"


Tanya Tara pada Yogi yang sedang membantu Harjo memotong kayu bakar.


"Saya kurang tahu, mas. Sebentar, saya tengok dulu."


Jawab Yogi yang langsung berlenggang masuk ke kamar yang di sediakan untuk Cahya dan Maura.


Namun Yogi tidak mendapati Cahya dan Maura di kamar nya.


"Gawat Mas, Cahya dan Maura tidak ada di kamar nya.!!"


Sahut Harjo yang terkejut kala mendengar bahwa Cahya dan Maura tidak ada di kamar nya.


"Tara, cari mereka sampai dapat.!!"


Titah Harjo


Lantas Tara menganggukkan kepalanya memberi isyarat bahwa dia mengerti apa yang harus dia lakukan.


Tara bergegas pergi mencari Cahya dan Maura dan temani oleh Yogi.


Mencari ke segala penjuru Desa Merpati, bahkan mereka bertanya ke beberapa warga yang berlalu-lalang di area perkebunan warga setempat.


Namum tidak ada yang melihat Cahya maupun Maura melintas disana.


"Mas, mungkin gak kalau mereka nekat mencari Zein dan Nabila di rumah Mbak Intan.?"


Ucap Yogi


"Ahh.. Iya, Cahya itu kan orang nya terlalu nekat dan memiliki rasa penasaran yang amat tinggi. yukk kita cari mereka disana.!!"


Sahut Tara.


Sedikit berlari mereka menuju rumah Intan di ujung jalan Desa Setu Bodas.


...****************...


Perlahan Maura membuka matanya, dan mendapati seorang gadis cantik yang mengenakan jilbab, sedang mencoba membangunkan Maura dari pingsan nya.


"Jangan... Jangan bunuh saya.. Hiks hiks!! Cahya.. Dimana loe Ca..??"


Teriak Maura yang histeris sembari menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.


"Tenang Mbak, tenang..!! Saya orang baik, saya tidak akan menyakiti Mbak..!!"


Sahut gadis itu yang mencoba menenangkan Maura.


"Enggak... Jangan mendekat.. Loe setan yang nyamar jadi manusia kan??"


Teriak Maura dengan lantang.


"Astaghfirullahalajim"

__ADS_1


Sahut gadis itu sembari menggelengkan kepalanya.


"Loe.. Loe beneran manusia??"


"Saya hamba Allah, Mbak. Tenang saja, saya tidak akan menyakiti Mbak.!!"


Ucap nya untuk meyakinkan Maura.


"Dimana teman saya? Kamu lihat teman saya?"


Tanya Maura lirih.


"Teman?? Apa sebelum nya Mbak bersama dengan teman nya? Karena saya hanya melihat Mbak seorang saja.!!"


Jawab nya sembari mengerutkan keningnya.


"Cahya.. Hiks hiks!! Loe dimana Ca..??"


Teriak nya histeris.


"Saya Kanaya, Mbak tinggal dimana? Mari saya antar pulang Mbak??"


Ucap nya sambil tersenyum.


"Saya Maura, sebenarnya saya mahasiswi yang sedang melaksanakan KKN. Tapi, saat ini sedang ada kendala Nay. Saat ini saya sedang menginap di rumah Eyang nya teman saya, Pak'de Harjo nama nya."


Jawab nya lirih.


"Oh.. Mbah Harjo, mari Mbak saya antar pulang."


Sahut nya sembari memapah tubuh Maura.


Kini Maura yang di antar pulang oleh Kanaya telah sampai di kediaman rumah Harjo.


"Assalamualaikum.. Mbah Tini!!"


Ucap Kanaya.


"Astaghfirullah.. Maura..!! Pak.. Maura sudah kembali Pak!!"


Teriak Hartini memanggil suami nya.


"Dimana Cahya??"


Tanya Harjo dengan mimik wajah panik.


"Maaf Mbah, saat Kanaya menemukan Mbak Maura tergeletak tak sadarkan diri, ia hanya seorang diri Mbah. Kanaya tidak mendapati ada siapapun di sekitar Mbak Maura saat dia pingsan."


Sahut Kanaya yang mencoba menjelaskan kepada Harjo.


"Ya Allah Gusti.."


Sahut Hartini lirih.


Lantas Harjo mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.


Dan Maura pun mulai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami, Harjo sedikit menahan amarah dalam hati nya. Bagaimana tidak, ia sudah berusaha untuk melindungi sang cucu, namun cucu nya sendirilah yang seolah menyerahkan diri ke Nyi Dasimah.


"Seperti nya.. Sudah saat nya bapak turut campur dalam masalah ini"


Ucap Harjo


"Assalamualaikum Pak, Bu. Maaf Pak kami tidak bisa menemukan Cahya dan Maura"


Sahut Tara lirih.


"Loh... Itu Maura.. Mana Cahya??"


Tanya Yogi


"Ca-Cahya.. Cahya hilang Gi.. Hiks hiks!!"


"Apaa?? Cahya hilang?? Lagian loe ngapain sih keluar rumah, hahh? Sudah tahu keadaan lagi genting, bahaya sedang mengintai kita Ra. Terlebih lagi Cahya, loe tahu kan manusia iblis itu lagi ngincar Cahya, loe malah ngebiarin dia keluar rumah tanpa izin dulu ke Eyang Harjo atau Mas Tara."


Gertak Yogi dengan lantang.


"CUKUP.... Sudah, ini bukan saat nya kita untuk berdebat."


Teriak Harjo


"Tara, bapak ingin mencoba meraga sukma untuk mencari keberadaan Cahya. Tolong awasi keadaan!!"


Titah Harjo


Lantas Harjo berlenggang masuk ke dalam kamar nya.


...(Hai guys.. Semoga kalian yang membaca karya ku selalu di beri kesehatan🤲🤗 Jangan lupa Like dan komen nya guys😊😊 Selamat membaca 💞🙏)...

__ADS_1


__ADS_2