Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Arwah Mbah Nur


__ADS_3

"Hal yang harus kamu tahu, nduk. Raden Mas Bara telah bersekutu dengan jin, jin itu di pelihara di dalam istana keraton, makanya tidak semua orang bisa masuk ke istana nya.


jin itu berada di gudang bawah tanah,Beliau bersekutu agar mendapatkan tahta dan kekuasaan. Terakhir kali Mbah bertemu dengan eyang mu, dia mengatakan bahwa ia ingin tahu sekali dimana keberadaan anak dan cucu nya, namun sejak hari itu.. Mbah sudah tidak lagi bertemu dengan eyang mu, entah dimana sekarang dia di sembunyikan."


Jelas nya lirih


"Bagaimana Mbah Nur bisa tahu selak beluk permasalahan-permasalahan di dalam istana keraton Kanjeng Darma??"


Tanya Cahya yang semakin penasaran.


"Dahulu nya, mbah seorang pelayan di istana keraton Kanjeng Darma. Namun Mbah di berhentikan oleh Raden Mas Bara, hanya karena Mbah sering memberi makan dan minum untuk Ndoro Lina, lantas Mbah di berhentikan oleh Raden Mas Bara."


Jawab nya dengan mata yang terus mengeluarkan cairan bening.


"Apa yang harus aku perbuat untuk menyelamatkan eyang ku, Mbah. Aku tidak punya banyak waktu disini, alasan aku ada disini karena sedang menjalani tugas kuliah aku, dan ada hal lain lagi yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu kalau ternyata nenek dari bapak ku, masih hidup."


Ucap nya lirih


"Setelah Ndoro Lina melahirkan bapak mu, dia di paksa pulang oleh Kanjeng Darma. Namun hanya Ndoro Lina saja yang di bawa pulang, sedangkan Raden Roro Mardani di tinggal bersama Raden Mas Dito. Kanjeng Darma terpaksa membawa pulang Ndoro Lina sebab ibu nya sakit karena terus memikirkan Ndoro Lina. Dan setelah ibu nya meninggal, Ndoro Lina semakin di siksa oleh Kanjeng Darma dan Raden Mas Bara. Kanjeng Darma seperti itu sebab di pengaruhi oleh Raden Mas Bara. Kau tahu nduk, Raden Mas Tito tidak menikah hingga sampai saat ini demi merawat sang adik. Hiks.. Hiks.. Selamatkan lah Ndoro Lina dan Raden Mas Tito, nduk..!!"


Ucap nya sembari menangis


"iya Mbah, aku janji. Aku akan menyelamatkan keluarga ku.!!"


Jawab Cahya sambil menyeka air mata.


"Satu lagi nduk, jangan sampai Raden Mas Bara mengetahui bahwa kamu adalah cucu nya Ndoro Lina. Itu bisa berbahaya buat kamu"


"Resiko nya apa jika Raden Bara mengetahui aku adalah cucu nya Eyang Karlina??"


Tanya Cahya keheranan


"Sudah. Nurut saja sama Mbah!!"


Tidak terasa hari sudah petang, Cahya bergegas pamit pulang sebelum teman-temannya sampai di rumah Intan.


Cahya berjanji pada Mbah Nur akan berkunjung lagi kesini bersama dengan teman nya.


Namun Cahya dalam perjalanan pulang, Cahya lupa arah pulang.


Sebab rumah Mbah Nur di tengah-tengah kebun sawit, ia tidak tahu kemana arah yang harus ia lewati.


"Aduh.. Tadi lewat mana yaa??"


Ucap Cahya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tampak lelaki paruh baya berjalan sembari membawa sebuah cangkul menatap heran pada Cahya.


Kini lelaki itu menghampiri Cahya.


"Kamu tersesat ya??"


Ucap lelaki paruh baya itu


"i-iya Pak'de.. Saya mahasiswi KKN di desa ini, dan saya tinggal di rumah nya Mbak Intan. Apa Pak'de mengenal nya??"


"Oh.. Intan cucu nya Bu'de Ratmi, ya..?"


"Iya. Benar Pak'de!!"


"saya pekerja nya Bu'de Ratmi. Mari saya antar pulang!!"


"wahh.. Kebetulan sekali, terimakasih ya Pak'de sudah berkenan mengantarkan saya pulang.!!"


"Sudah dua hari ada mahasiswa/i yang membantu di sawah milik Bu'de Ratmi. Apa mereka teman mu juga??"

__ADS_1


"Ahh.. Iya Pak'de, mereka teman-teman saya juga."


Jawab Cahya sembari tersenyum


"ngomong-ngomong.. Kamu ngapain ada di kebun sawit ini??"


"sa-saya habis menemui Mbah Nur, Pak'de. Ada keperluan sebentar"


"Mbah Nur??"


Ucap nya yang seketika menghentikan langkah nya.


"Iya.. Kenapa memang nya Pak'de??'


Tanya Cahya yang keheranan


"Bukan kah.. Mbah Nur baru meninggal dua hari lalu??"


"Meninggal??? ta-tapi tadi saya bertemu langsung kok dengan Mbah Nur!!"


Jawab Cahya


namun lelaki paruh baya itu hanya bergidik ngeri mendengar perkataan Cahya.


"(apa yang baru saja aku temui itu arwah juga?? Lantas yang aku makanan yang tadi di suguhkan itu apa??)"


Gumam Cahya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya


"sudah. Ayuk, cepetan jalan nya."


Jawab lelaki paruh baya itu sembari sesekali melirik ke arah belakang.


...****************...


Titah lelaki paruh baya itu


"Baiklah Pak'de, sekali lagi terimakasih ya Pak'de sudah mengantar saya pulang. Tidak tahu bagaimana kalau tadi saya tidak bertemu Pak'de"


Ucap Cahya lirih


"iya sama-sama"


Lantas lelaki paruh baya itu melangkah pergi meninggalkan Cahya di ujung jalan yang mengarah ke rumah Intan.


"Tunggu Pak'de.."


Panggil Cahya


"ada apa lagi??"


Jawab nya ketus


"saya harap, Pak'de tidak mengatakan hal ini kepada Mbak Intan.!!"


Ucap Cahya sedikit memohon


"iya baiklah"


Jawab nya dan melanjutkan langkah kaki nya meninggal Cahya.


Cahya bergegas pulang, khawatir teman-temannya lebih dulu sampai di rumah Intan.


Kini Cahya sampai di rumah Intan, ia bergegas masuk ke dalam, Cahya sedikit bernafas lega melihat bahwa teman-temannya belum pulang.


"(kemana Mbak Intan?? Kok rumah sepi banget yaa??)"

__ADS_1


Gumam Cahya dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah


Melihat kondisi rumah sangat sunyi, ia berlenggang masuk ke dalam kamar.


Dan kini Cahya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang kasur yang empuk.


"Tara gimana kabarnya ya?? Kira" lancar tidak ya dia ngejalani puasa mutih?? Kenapa ngejalani puasa mutih selama itu??"


Ucap Cahya dengan nada suara yang pelan.


Tok tok tok...


"Ca.. Loe di dalam??"


Ucap Zein dari luar pintu kamar


"iya. Ada apa Zein??"


Tanya Cahya sambil membuka pintu kamar


"gak apa-apa. Gua cuma mau mastiin saja kalau loe ada di kamar!!"


Jawab Zein sambil tersenyum


"Zein. Nanti malam gua mau ke ruang bawah tanah, temani gua ya.??"


Ucap Cahya sambil tersenyum


"mau ngapain?? Nggak. Loe lupa kalau Tara ngelarang loe bertindak sendirian??"


Jawab Zein sambil menggelengkan kepalanya


"Ya kan sama loe kesana nya. Loe yang jagain gua nanti"


Sahut Cahya sambil tersenyum


"Emang nekat nih orang!! Loe mau ngapain sih kesana??"


Tanya Zein yang amat penasaran


"Ya gua cuma mau lihat-lihat saja"


"Ah.. Yasudah lah. Loe sudah makan belum??"


Tanya Zein dengan mimik wajah bete.


"Belum...!!"


Jawab Cahya dengan manja


"Kita makan dulu yukk..!!"


Ajak Zein sambil menarik pelan lengan Cahya dan menuju ke dapur.


"Ca.. Loe tadi di cariin tuh sama Raden Bara!!"


Teriak Maura dari arah belakang Cahya


Seketika Cahya menoleh ke arah Zein untuk memastikan.


Lantas Zein menganggukkan kepalanya


"(mau ngapain ya Raden Bara cari aku?? atau jangan-jangan... Ahh.. Rasa nya tidak mungkin kalau dia mengetahui tentang aku)"


Gumam Cahya dalam hati

__ADS_1


__ADS_2