
Cahya dan Maura menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang kasur yang empuk.
"Istirahat ya Ra"
Ucap Cahya dengan lembut sembari mengelus rambut Maura
Lantas Maura menganggukkan kepalanya.
Walaupun Cahya sudah memejamkan mata, namun dirinya masih terjaga.
Cahya masih belum bisa mencerna dengan baik tentang hal yang baru saja terjadi pada Nabila. Siapa dalang atas kejadian ini? Apakah Mbak Intan dalang nya?. Cahya berharap semoga Nabila baik-baik saja.
Kini Cahya membuka matanya sedikit dan melirik ke arah Maura, nampak Maura sudah terlelap dalam tidur nya.
Cahya merasa sedikit lega melihat Maura yang yang kini sudah tertidur.
"(Ya Allah.. Sudah lama aku meninggalkan kewajiban ku sebagai seorang muslim, alangkah baik nya aku menunaikan kewajiban ku terlebih dahulu deh.. Sebelum tidur)"
Gumam Cahya dalam hati, lantas ia bangkit dan bergegas mengambil wudhu.
"Loh.. Kok loe belum tidur?"
Tanya Zein yang nampak sedang menyeruput secangkir kopi yang masih mengeluarkan asap tipis.
"Iya. Gua mau sholat dulu, sudah lama gua enggak menjalani kewajiban gua sebagai seorang muslim. Terlebih lagi, di saat keadaan kacau seperti ini hanya Gusti Allah yang mampu menolong kita Zein."
Jawab Cahya lirih sembari menundukkan kepala
Zein tersenyum mendengar ucapan Cahya, sudah lama Zein menaruh hati pada gadis cantik berambut panjang yang selalu terurai itu. Namun Zein enggan mengatakan isi hati nya pada sang pujaan hati, dia takut jika ternyata cinta nya hanya bertepuk sebelah tangan.
Kini Cahya mulai melaksanakan kewajiban nya. namun saat baru saja Cahya membaca iftitah, tiba-tiba angin berhembus kencang dan entah angin dari mana datangnya.
Walaupun begitu, Cahya tetap khusyu dalam melaksanakan nya.
Tidak sampai di situ saja, jendela kamar yang sudah di tutup rapat kini terbuka dan tertutup dengan sendirinya.
Bruakk!
Bruakk! Bruakk!
Rupa nya kegaduhan itu membangunkan Maura dari tidur terlelap nya, dia amat terheran melihat hembusan angin yang begitu kencang.
"Ya ampun, Cahya. Kenapa jendela nya di buka sih??"
Ucap Maura yang berfikir kalau Cahya lah yang membuka jendela kamar, padahal jendela itu terbuka dengan sendirinya.
"Seperti nya akan turun hujan"
Ucap nya lagi sambik kembali menutup jendela kamar.
Setelah menutup nya rapat-rapat, Maura kembali naik ke atas ranjang kasur.
Namun seketika jendela itu terbuka dan tertutup lagi dengan sendirinya, padahal jelas-jelas Maura sudah mengunci jendela itu.
Maura menyadari akan hal ganjil, lantas ia mendekat ke Cahya yang tengah menunaikan ibadah.
"Ca...!!!"
__ADS_1
Ucap Maura yang terus menatap ke arah jendela kamar.
Degup jantung Maura berdetak tak karuan, hingga keringat mulai bercucuran membasahi pelipis nya.
Kini Cahya sudah selesai melaksanakan kewajiban nya, dan seketika pula angin yang berhembus kencang berhenti bersamaan dengan Cahya yang baru saja selesai sholat.
"Apaa yang baru saja kalian perbuat??"
Tanya Intan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Cahya, dengan tatapan nyalang.
"A-aku enggak berbuat apa-apa, aku hanya melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang muslim Mbak. Apa ada yang salah?"
Jawab Cahya yang penuh keheranan.
"Jangan melakukan itu dirumah ini"
Sahut Intan dengan mimik wajah datar.
Lantas ia berlenggang pergi meninggalkan kamar Cahya.
"Kenapa memang nya kalau aku sholat di rumah Mbak? apa itu mengganggu mu? Lagi pula, kau pun seharusnya menjalani apa yang sudah menjadi kewajiban kita Mbak."
Plaakkk !!
Satu tamparan mendarat di pipi Cahya. Sontak saja, membuat Cahya dan Maura terkejut hingga membulatkan matanya. Ia tak habis pikir dengan tingkah laku Intan yang kini berubah drastis.
"Jangan mengajari aku hal itu, PEMBUNUH."
Ucap nya dengan nada suara berat sembari menyunggingkan senyum di ujung bibir nya.
"Tunggu..!! Apa maksud Mbak? bukan kah semua itu atas dasar permintaan kalian!!"
Maura semakin di buat bingung dengan percakapan antara Cahya dan Intan. Maura mencoba menjadi penengah di antara mereka.
"Ca. Sabar Ca..!! Sudah Mbak, cukup.!!"
"Hei.. Gadis cantik!! Berhati-hatilah dengan teman mu itu, dia seorang PEMBUNUH. Hihi hihihi.."
Ucap Intan sembari tersenyum menyeringai dengan di sertai tawaan yang melengking.
Melihat tingkah Intan yang menyeramkan, Cahya dan Maura perlahan berjalan mundur sembari bergandengan tangan.
Kini Intan berlenggang pergi ke dari kamar Cahya, Maura segera menutup pintu kamar rapat-rapat.
"Ca. Kenapa tingkah Mbak Intan sangat menyeramkan, yaa..? Gua takut Ca. Kita cari penginapan lain saja yukk Ca, lama-lama gua takut banget ada disini."
Ucap Maura sembari bergidik ngeri.
"Dan lagi.. Tadi kenapa tiba-tiba angin sekencang itu? Aneh nya lagi, angin yang seperti badai itu seketika berhenti tepat saat loe selesai sholat. Gua yakin kalau ini..."
Belum sempat Maura melanjutkan pembicaraannya namun sudah di potong oleh Cahya.
"Hushh!! Jangan suka berpikiran yang aneh-aneh. Tunggu sampai kita menemukan Nabila, baru kita cari penginapan lain di desa ini."
Jawab Cahya sambil tersenyum
Lantas Cahya kembali mengajak Maura tidur, Sebab malam sudah hampir larut.
__ADS_1
Yogi tampak tertidur dengan nyenyak di kamar nya. begitu juga dengan Zein, ia teramat pulas hingga dia tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang sedang menatap nyalang ke arah nya.
...****************...
Pukul 04.55 Cahya terbangun dari tidurnya, ia kembali ingin menunaikan kewajiban nya.
Kejadian semalam kini terulang lagi, saat Cahya mulai membaca iftitah dan angin pun mulai berhembus kencang hingga membuat jendela kamar terbuka dan tertutup dengan sendirinya.
Di saat bersamaan, Intan menerobos masuk ke kamar Cahya dan berteriak kencang hingga membangunkan Maura.
"Hentikaaannnn....!!"
Teriak Intan dari ambang pintu kamar, sembari menatap tajam ke arah Cahya.
Dan seketika itu pula Cahya ambruk tidak sadarkan diri, lantas Intan tersenyum menyeringai melihat nya dan berlenggang pergi meninggalkan kamar Cahya tanpa rasa bersalah.
Sontak saja Maura terkejut melihat Cahya jatuh tak sadarkan diri.
"ZEINNN... Tolong..!! Zein.. Yogi.. Hiks..hiks.. Tolonggg!!"
Teriak Maura sembari menangis.
Sedikit berlari Zein dan Yogi datang menghampiri Maura.
"Cahya... Cahya kenapa Ra??"
Tanya Zein yang tampak panik melihat Cahya.
"Kita harus pergi dari sini. Ayukk Zein, Yogi, gotong Cahya kita harus pergi dari sini sekarang."
Titah Maura yang tak kalah panik.
"Loe gila ya?? Nabila saja belum ketemu, loe malah mau pergi dari sini."
Bentak Yogi
"Setidaknya kita cari tempat yang lebih aman Gi, gua mohon. Hiks..hiks.. Gua enggak mau disini lagi, gua takut Zein, Yogi.."
Ucap Maura lirih
"Maura. Sebenarnya apa yang terjadi??"
Tanya Zein yang amat penasaran.
"Nanti gua ceritain, tapi setelah kita pergi dari sini. Ayukk cepet Zein gendong Cahya"
Jawab Maura yang semakin panik.
Tanpa menjawab nya lagi, Zein bergegas menggendong tubuh Cahya lantas Maura dan Yogi mengekor di belakang Zein.
Namun saat mereka berada di depan pintu, tampak Intan tengah bertengger menatap nyalang dan menggenggam sebilah keris.
"Kalian pikir, dengan gampang nya kalian bisa pergi dari rumah ku."
Ucap Intan sembari menyunggingkan senyum di ujung bibir nya.
"Apa alasan Mbak Intan ingin menyakiti kami?? Oh.. Jangan-jangan Nabila hilang karena di culik sama Mbak??"
__ADS_1
Bentak Maura.
...(Jangan lupa tinggalkan like dan komen nya ya guys 🤗🤗 selamat membaca 💞💞)...