Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Memanggil Arwah Mbah Dodi


__ADS_3

"Lupakan dulu sejenak tentang itu, Eyang mendapatkan kabar bahwa Raden Mas Bara telah mencium aroma kehadiran darah keturunan nya Ndoro Lina di tanah Setu Bodas, tapi beliau tidak tahu bahwa dirimu lah darah keturunan nya Ndoro Lina. Jika kamu bersikukuh ingin menyelamatkan Eyang mu, berhati-hati lah, nduk.!!"


"Apaa?? Benar kah begitu? Tapi bagaimana dia bisa tahu?"


Tanya Cahya yang tercengang mendengar perkataan Harjo.


"Dari jin peliharaan nya, jin itu hanya bisa mencium aroma kehadiran mu."


Cahya menundukkan kepalanya, ia merasa tidak ada harapan untuk menyelamatkan Karlina.


"Jangan putus asa, aku akan membantu mu.!!"


Sahut Tara dengan mengembangkan senyuman agar Cahya kembali semangat untuk menumpas kejahatan, sembari menggenggam tangan Cahya.


Kini raut mata Cahya nampak berbinar setelah mendapatkan dukungan dari Tara, lelaki tampan dengan kumis tipis di atas bibir nya.


"Kalian berdiskusi lah, rancang segala rencana kalian dengan rapi. Jika ada kesulitan segera beritahu Eyang, Eyang siap membantu mu.!!"


Ucap Harjo sembari mengelus lembut ujung kepala Cahya.


"Terimakasih Eyang, terimakasih karena selalu ada untuk aku.!!"


Jawab Cahya dengan lirih.


...****************...


Setelah makan malam selesai, Cahya dan Tara nampak tengah santai duduk di teras rumah sembari berbincang ringan.


"Jadi apa rencana mau, Tara?."


Ucap Cahya sembari menatap bintang yang bersinar di langit malam.


"Kamu harus memanggil arwah Mbah Dodi, Ca.!!"


Perkataan Tara sontak membuat Cahya sedikit terkejut.


"Arwah Mbah Dodi? Kenapa harus arwah Mbah Dodi? Apa hubungan nya?"


Sahut Cahya dengan mimik wajah yang tegang.


"Arwah Mbah Dodi tau seluk-beluk istana keraton itu, sebab dia mantan pekerja di kebun Kanjeng Darma. Dia harus ikut serta mendampingi mu selama kita ada disana, agar kedatangan mu tak tercium oleh jin peliharaan nya Raden Mas Bara."


Jelas Tara dengan santai.


"Terus, bagaimana cara memanggil nya.??"

__ADS_1


"Aku akan meminta bantuan Ki Amos untuk membawa arwah Mbah Dodi kesini"


"Ki Amos? Siapa itu Ki Amos??"


Sahut Cahya sembari mengerutkan keningnya.


"Ki Amos adalah siluman monyet taklukan bapak ku, dia merupakan siluman penguasa Desa Merpati."


"Kalau begitu, lakukan lah.. Biar nanti aku yang berbicara langsung dengan arwah nya Mbah Dodi"


"Alangkah baik nya kita lakukan di dalam rumah, yukk masuk."


Lantas Cahya mengekor di belakang Tara dan langsung duduk di kursi ruang tamu yang terbuat dari rotan.


"Ki Amos.. Ki Amos.. Ki Amos.. Datang lah Ki, saya perlu bantuan Ki Amos!!"


Wushh wushh wushh


Suatu bayangan melesat dengan cepat dan berhenti tepat dihadapan Tara, alangkah terkejut nya Cahya melihat sosok monyet besar di depan nya.


"Enggak usah takut"


Ucap Tara yang menyadari gelagat nya Cahya.


Lantas Cahya menganggukkan kepala nya sembari menggenggam lengan Tara, hingga menimbulkan gejolak dalam dada nya.


Sahut Ki Amos tiba-tiba.


"Ehh.. Iya Ki, maaf.!! Iya, saya butuh bantuan Ki Amos, tolong cari arwah lelaki tua yang bernama Mbah Dodi di Desa Setu Bodas, dan bawa kesini."


Titah Tara.


"Baiklah tuan muda, jika saya sudah menemukan nya, langsung saya bawa ke hadapan tuan muda."


Ki Amos melesat pergi dengan sangat cepat.


"Bikin orang gagal fokus saja kamu"


Sahut Tara dengan jutek.


"Apaan sih... Kamu nya saja tuh yang baperan, malah aku yang di salahin."


Jawab Cahya yang langsung berlenggang pergi meninggalkan Tara seorang diri di ruang tamu.


Dalam dua jam, Ki Amos berhasil menemukan arwah Mbah Dodi dan membawanya ke hadapan Tara.

__ADS_1


"Tuan muda, ini Mbah Dodi yang di minta untuk di bawa ke hadapan tuan muda."


Ucap Ki Amos yang menunjuk pada sesosok kakek tua.


"Baiklah kalau gitu, tinggalkan kami berdua. Terimakasih Ki"


"Sama-sama tuan. Apakah masih ada yang harus saya bantu?"


"Untuk saat ini, sudah cukup.!!"


Seketika Ki Amos kembali melesat pergi dengan sangat cepat, dan Tara segera memberi tahu Cahya bahwa arwah Mbah Dodi sudah datang.


Kini Cahya dan Mbah Dodi saling berhadapan, Mbah Dodi tersenyum menatap Cahya.


"Bagaimana kabar mu, nduk?."


Tanya nya dengan lembut.


"Ba-baik Mbah. Maksud saya memanggil Mbah Dodi kesini, sebab saya ingin meminta bantuan Mbah Dodi agar ikut serta mendampingi saya masuk ke istana keraton buyut saya."


"Jadi kamu sudah mengetahui siapa itu Kanjeng Darma? Baiklah, saya akan terus di belakang mu selama kamu berada disana."


Cahya, Tara dan juga arwah Mbah Dodi, yang nampak sedang merancang suatu rencana yang sangat rapi.


Arwah Mbah Dodi pun menyarankan agar Cahya bisa mengembalikan tahta milik Karlina, mengembalikan apa yang menjadi bagian nya Karlina, dan Cahya pun mengiyakan saran dari nya.


"Sekarang kamu istirahat, ini sudah malam."


Titah Tara.


"Iya, baiklah. Tara.. Terimakasih untuk semua nya!!"


Cahya mengembangkan senyuman dan kembali membuat getaran yang bergejolak di dalam dada Tara.


"Sama-sama.."


Jawab nya singkat, lantas Tara berlenggang pergi masuk ke kamar nya.


(Bagaimana bisa aku menerima perjodohan itu, sedangkan hati ini memilih yang lain. Tapi jika aku menolak nya lagi untuk yang kedua kali, entah apa jadi nya perasaan bapak dan ibu nanti.) Gumam Tara dalam hati.


Di dalam kamar Cahya nampak tengah melaksanakan kewajiban nya. Ia berdoa memohon pertolongan dan perlindungan kepada sang Khaliq, agar semua nya berjalan dengan baik dan selalu dalam lindungan nya. Dan tidak lupa, ia juga mengirimkan doa untuk ibu nya.


...****************...


Maafkan author yang baru update lagi guys, maaf sudah membuat kalian selalu menunggu kelanjutan nya🙏🙏

__ADS_1


Terimakasih karena sudah menjadi pembaca yang setia untuk menanti kelanjutan nya🤗 Sehat terus yaa untuk kalian🤗 Selamat membaca.. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa guyss ☺️


__ADS_2