
Hari ini Cahya kembali di daftarkan di kampus lama nya di kota, ia kembali bertemu dengan teman-teman lama nya. tidak lupa dengan mentari yang kini sudah mulai masuk ke sekolah dasar.
Cahya mencoba memulai lembaran baru setelah kejadian lalu di Setu Bodas, kini asih mencoba terjun ke dunia karier, dia membantu sang papa mengelola perusahaan nya.
Tok tok tok ...
"masuk saja"
Teriak Cahya yang tetap fokus memainkan laptop di atas ranjang
Tok Tok Tok..
dengan santai Cahya menghampiri pintu dan membuka nya, namun tidak mendapati siapapun di depan nya.
"mentari.. Adek.. Kamu mau ngerjain mbak ya?"
Teriak Cahya pelan
Cahya mengedarkan pandangannya namun tetap tidak mendapati siapapun disana, lantas Cahya kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu nya.
Tok Tok Tok...
"akh.. Adek, jangan jahil deh.. Mbak lagi ngerjain tugas tahu"
Teriak Cahya
kini suara ketukan itu berubah menjadi sebuah gedoran yang amat kencang, hal itu membuat Cahya sedikit takut hingga iya beringsut ke pojok ranjang kasur.
"CAH AYU"
suara seseorang menggema di telinga Cahya, seperti suara seorang nenek tua.
"CAH AYU... khee khee khee"
"AAKKHHH...."
Teriak Cahya menggema seisi ruangan kamar.
"Cahya.. Cahya.."
"Akhh.. Jangan ganggu aku.. Pergi!!"
"Cahya.. Ini ibu mbak, ini ibu.!!"
Ucap asih sambil terus memeluk erat tubuh Cahya.
"Ibu..."
Panggil Cahya yang menangis dalam pelukan sang ibu.
"Ada apa asih?"
Tanya Rohim yang berdiri menatap heran pada anak dan cucu nya.
asih menggelengkan kepalanya memberi isyarat bahwa diri nya pun tidak tahu apa yang baru saja terjadi pada Cahya.
"sudah ya.. Ada ibu disini"
Ucap asih untuk menenangkan anak nya
asih membaringkan tubuh Cahya di atas ranjang, lantas menyelimuti nya dengan selimut bad cover.
"Bu.. Cahya takut Bu"
Ucap Cahya lirih
"tenang sayang, jangan takut. Ada ibu disini"
sahut asih sambil mengelus lembut rambut Cahya
Asih terus memeluk erat putri nya hingga Cahya memejamkan mata nya.
Sinar fajar menerpa wajah nan ayu, Cahya.
termenung sekejap, mencoba mengingat kembali teror yang menghantui Cahya semalam. Hingga ia bergidik ngeri kala mengingat nya.
lantas Cahya bergegas membersihkan tubuhnya.
"hey.. sayang, sini sarapan dulu."
__ADS_1
Ajak asih
"Cahya, kakek sudah menyiapkan mobil untuk mu. Jadi kamu bisa mengemudi mobil sendiri ke kampus"
Ucap Rohim sambil tersenyum
"serius, kek.?"
Tanya Cahya berbinar
"serius dong"
jawab Rohim
...****************...
Intan seorang diri menanam benih-benih sayur mayur dll, bahkan dia menanam beberapa benih bunga mawar, melati dan anggrek.
"cantik.. Persis seperti eyang mu"
Intan amat terkejut kala melihat seorang nenek tua berambut putih acak-acakan tengah berdiri tepat di belakang intan.
"Mbah siapa?"
Tanya intan dengan lembut.
"kamu cocok menjadi penerus nya"
Ucap nenek tua itu sambil mengelus lembut pipi intan.
"ma-maksud Mbah, apa ya.?"
Tanya intan yang semakin bingung.
"intan.. Kamu sudah menanam benih-benih yang kemarin di beli?"
"Iya sudah aku menanam nya baru saja selesai"
Jawab intan sambil melemparkan senyum ke Tara
Lantas intan kembali menengok ke arah nenek tua tadi, namun sosok nenek tua itu tidak lagi ada di tempat dimana nenek itu tadi berdiri.
"apa Mbah tadi sudah pergi? Tapi.. Apa secepat itu pergi nya?"
Gumam intan dalam hati.
"intan.. kamu mencari apa?"
Tanya Tara keheranan dengan sikap intan
"tadi ada nenek-nenek tua, yang tiba-tiba datang dan berbicara kalau aku cocok jadi penerus nya. Tapi, aku gak paham apa yang di maksud nenek-nenek tadi."
jelas intan
"nenek-nenek? Lantas, kemana nenek-nenek itu.?"
Tanya Tara sambil menaikkan kedua alisnya
"tadi ada disini, tapi setelah kamu datang tiba-tiba saja dia pergi."
Jawab nya
"yasudah, lupakan saja. Ini aku bawa makanan untuk mu, dari ibu ku."
Ucap Tara
...****************...
dalam perjalanan tampak Cahya mengemudi mobil dengan santai, namun secara tiba-tiba sesuatu membuyarkan fokus nya.
Ekor mata nya menangkap sosok nenek tua dari kaca spion, sosok nenek itu tengah tersenyum menyeringai menatap tajam ke arah Cahya, sontak membuat Cahya terkejut dan menginjak pedal rem secara mendadak.
perlahan ia menggerakkan kepala nya ke arah belakang, namun sosok nenek tua itu tidak ada.
degup jantung nya berdetak kencang, Cahya memijat pelan pelipisnya.
ia masih belum bisa mencerna dengan baik, siapa sebenarnya sosok nenek tua yang selalu meneror nya dimana-mana.
"Guys.. Gw sudah dapat lokasi yang menjadi tempat kita KKN nanti"
__ADS_1
Ucap Maura salah seorang teman Cahya.
"oh ya? Dimana, Ra.?"
Tanya Nabila yang merupakan teman Cahya juga.
"Desa Setu Bodas di Jawa Tengah, daerah yang pernah di singgahi Cahya. kata Yogi tempat nya masih asri banget bil"
Jawab Maura yang nampak tersenyum senang.
"Setu Bodas"
Sahut Cahya sedikit membulatkan matanya
"Iya..!!!"
Jawab Maura singkat
"Ahh.. Gak.. Gak.. Gw gak mau kesana lagi"
Ucap Cahya
Teman-teman Cahya tidak mengetahui tragedi apa yang menimpa Cahya sewaktu di Setu Bodas lalu.
"ahh.. Pokok nya kita akan tetap kesana, dan besok gw sama Zein yang akan survey lokasi nya.!!"
Jawab Yogi teman satu kelompok Cahya yang akan KKN.
"terserah loe deh"
Jawab Cahya ketus, lantas berlenggang pergi meninggalkan teman-temannya.
"Cahya kenapa ya?"
Ucap Zein menatap heran pada tingkah laku Cahya
...****************...
Cahya mencoba menghampiri sang ibu yang tengah duduk santai di kursi teras rumah.
"Bu.."
Panggil Cahya sambil tersenyum
"hey.. sini duduk sama ibu!!"
Ajak asih
"Bu.. empat hari lagi aku akan melaksanakan KKN"
Ucap Cahya
"lantas, sudah dapat belum lokasi nya.?'
"Sudah Bu, lokasi KKN kita di desa Setu Bodas Bu."
Jawab Cahya, lantas membuat asih amat terkejut mendengar nya.
"Setu Bodas? Apa gak bisa cari lokasi lain, mbak.?"
Tanya asih dengan mimik wajah yang panik
"teman-teman ku hanya ingin ke desa itu, Bu."
"Tara.. Iya, ibu akan meminta bantuan Tara untuk menjaga kamu selama disana."
Jawab asih yang nampak ada kelegaan di wajah nya.
"kok Tara, sih..."
Gumam Cahya dalam hati
"mbak, yang lalu biarlah berlalu. Lupakan semua tragedi saat itu, lagi pula kan semua sudah di bereskan oleh eyang Harjo dan juga tara. Ibu juga akan meminta Tara untuk menjaga kamu selama disana, lagipula kan disana ada eyang Mereka tidak akan luput mengawasi mu, mbak.!!"
Ucap asih sambil mengelus lembut punggung Cahya.
Cahya hanya membalas nya dengan anggukan.
"benar kata ibu. Disana juga masih ada sanak saudara ku, eyang Harjo, eyang Hartini dan juga mbak intan. hitung-hitung aku menjenguk mereka"
__ADS_1
Gumam Cahya dalam hati