Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Teror Pocong


__ADS_3

Cahya menghampiri Harjo yang sedang duduk di bale (bangku panjang yang terbuat dari potongan bambu) sembari memberi pakan ayam ternak nya.


"Eyang...!!"


Panggil Cahya sembari melemparkan senyuman.


"Sudah bangun, nduk.? Sini duduk..!!'


Ajak Harjo kepada Cahya.


Lantas Cahya ngambil posisi duduk di samping kiri Harjo.


"Bersabarlah sebentar lagi, nduk. Dalam beberapa hari lagi, Tara akan menyempurnakan ajian waringin sungsang yang sedang ia dalami."


Ucap Harjo sembari terus memberi pakan ayam.


"Tapi, Eyang.. Bagaimana dengan Zein, Nabila, dan juga mbak Intan.?? Dimana raga mereka di sembunyikan?"


Tanya Cahya penuh cemas.


"Tidak perlu khawatir, mereka akan baik-baik saja sampai bulan purnama tiba. Maka dari itu, sebelum bulan purnama tiba Tara sudah harus menyempurnakan ajian waringin sungsang."


"Oh iya.. Waktu itu Eyang bilang kalau Tara harus menjalani puasa mutih selama 21 hari?"


Tanya Cahya sembari mengerutkan keningnya.


"Sebab Tara sudah pernah menjalani puasa mutih sebelumnya, dan hatinya Tara pun bersih. Jadi, cukup menjalankan tujuh hari saja puasa mutih nya."


Jelas Harjo


...****************...

__ADS_1


"Akhh... Ampun.. Jangan siksa saya!! Hiks.. Hiks.."


Ucap Nabila memohon pada sesosok makhluk hitam yang tinggi besar, mata merah menyala, hingga taring yang runcing.


"Jangan.. Jangan siksa teman saya!!"


Sahut Zein yang juga memohon.


Nabila dan Zein di kurung, di sebuah pohon beringin besar yang di huni ratusan makhluk halus, tangan mereka di ikat menggunakan rantai yang cukup berat.


Genderuwo, kuntilanak, pocong, Wewe gombel, bahkan ada beberapa arwah-arwah korban tumbal yang juga di kurung di pohon beringin besar itu. makhluk-makhluk mengerikan itu berhasil membuat Nabila selalu histeris karena ketakutan.


Mereka di siksa habis-habisan oleh makhluk hitam legam dengan taring yang runcing. Namun, tidak dengan Intan.


Intan di perlakukan layaknya bak seorang putri kerajaan.


"Hiks.. Hiks.. Aku mau pulang Zein.. Hiks..!!"


"Iya.. Kita pasti pulang, kamu sabar dulu ya.!!"


Jawab Zein untuk menenangkan Nabila.


Dari kejauhan Intan menatap sendu melihat kondisi Nabila yang sedikit memperhatinkan, beberapa kali ia mencoba ingin menghampiri Nabila dan juga Zein.


...****************...


Malam sudah sangat larut dan Waktu sudah menunjukkan pukul 01.43, Cahya terbangun dari tidurnya. Sebab, mendengar sebuah ketukan dari pintu luar rumah.


"Cahya... Cahya.. Tolong Cahya... Tolong... Buka pintu nya...!!!"


Ucap seorang wanita yang tidak asing bagi Cahya, hanya saja kali ini suara nya terdengar sedikit berat.

__ADS_1


"Nabilla...!!"


Sahut Cahya pelan dengan mimik wajah yang berbinar, sembari bangkit dari ranjang kasur.


"Nabila.. Tunggu sebentar bil.."


Dengan sedikit berlari Cahya menghampiri pintu, namun saat tangan nya baru saja menyentuh handel pintu, seseorang menahannya.


"Jangan buka pintu nya..!!"


Ucap Harjo pelan


"Tapi... Di luar ada Nabila, Eyang."


"Kamu yakin itu teman mu? Apa kamu pikir, Nyi Dasimah dengan mudah nya melepaskan Sukma teman mu itu? selama ia belum mendapatkan dirimu untuk menjadikan kamu tumbal berikut nya, sukma teman-teman mu tidak akan di bebaskan.!!"


"Hahhh... Tapi itu jelas suara Nabila, eyang..'


Bantah Cahya.


"Kamu intip dari jendela, lantas lihat lah menggunakan cermin ini.."


Sahut Tara sambil memberikan sebuah cermin kecil.


Lantas Cahya membuka sedikit kain gorden berwarna putih polos tersebut.


"Aakkhh...."


Teriak Cahya pelan hingga jatuh terduduk kala melihat bayangan di cermin kecil tersebut bukanlah Nabila yang sesungguhnya, melainkan sesosok pocong yang tengah membenturkan kepalanya di pintu rumah Harjo.


"Jangan merusak pagar gaib yang telah eyang buat, nduk. Eyang membuat pagar gaib agar makhluk itu tidak bisa masuk ke dalam rumah ini dan membawa mu pergi."

__ADS_1


Sahut Harjo sembari memapah Cahya.


__ADS_2