
"Cahya...!!"
Ucap Tara dengan tatapan berbinar.
"Alhamdulillah.."
Sahut Hartini.
"Yogi... Mana Maura? Kenapa dia tidak ada disini?"
Ucap Cahya penuh tanya.
"Ma-maura.. Dia.."
Yogi tak mampu meneruskan pembicaraan nya, ia khawatir kalau teman-temannya akan sangat terpukul.
"Mbak Maura tewas di serang siluman serigala itu Mbak."
Sahut Kanaya yang meneruskan pembicaraan Yogi.
"A-apaa? Ma-maura.. Tewas?"
Ucap Cahya terbata-bata dengan tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.
"(Maafin gua ya Ra. Gua yang sudah bawa loe ke dalam masalah ini..)"
Gumam Cahya dalam hati.
Kini mereka berkumpul di teras rumah Harjo, dan berencana ingin pulang ke kota esok hari.
Tampak Hartini ke dalam dari dalam, membawa sebuah nampan yang berisi teko air yang masih mengeluarkan asap tipis dan sepiring umbi-umbian rebus.
Cahya mendapati Tara tengah menatap diri nya tanpa berkedip, Lantas Cahya membalas nya dengan senyuman yang manis terukir di bibirnya, dan hal itu membuat Tara salah tingkah.
"Eyang, Tara.. Terimakasih ya sudah menolong aku dan teman-teman aku, dan maaf kalau aku harus melibatkan kalian untuk yang kedua kali. Malah mungkin aku akan melibatkan kalian untuk yang tiga kali, aku ingin menyelamatkan Eyang Karlina."
Ucap Cahya lirih.
"Tidak masalah, nduk. Biar bagaimanapun kamu ini kan cucu ku juga, jika kamu ingin masuk ke istana keraton itu minta lah bantuan Tara.!!"
Jawab Harjo dengan santai sembari menghisap tembakau.
****************
Suara ayam jago membangunkan Cahya yang nampak masih terbaring di atas ranjang, sedangkan Nabila sudah rapih dengan pakaian nya yang siap kembali pulang ke kota.
"Emang sekarang jam berapa bil? Kok loe sudah rapih saja?"
Tanya Cahya sembari mengucek-ngucek mata nya.
"Iihh.. Ini sudah jam delapan tahu, sudah sana cepetan bersih-bersih!! Gua pengen cepat-cepat pulang Ca, gua sudah kangen banget sama orang tua gua.!!"
Sahut Nabila sembari menarik pelan tangan Cahya, agar Cahya lekas bangun dan bersiap.
"Iya.. Iya.. Ini gua mandi sekarang"
Jawab Cahya dengan wajah yang meledek.
Cahya bergegas menuju kamar mandi yang ada di halaman belakang, nampak nya Hartini sedang memasak disana.
__ADS_1
"Eyang Tini.. Eyang lagi masak apa??"
Tanya Cahya sembari melirik apa yang sedang di masak Hartini.
"Eyang lagi bikin kue, nanti kamu bawa yaa!! Oleh-oleh untuk ibu dan kakek-nenek mu.!!"
Jawab Hartini.
...****************...
Kini Cahya dan teman-temannya sudah bersiap berangkat kembali pulang ke kota, Cahya pun sudah amat rindu pada Asih, sejak baru tiba di Setu Bodas ia sama sekali belum menghubungi Ibu nya.
"Tara, aku pulang dulu ya!! Nanti setelah aku dapat izin dari Ibu, aku akan kembali kesini untuk menjalani misi kita. Kamu mau kan bantu aku??"
Ucap Cahya sembari mengembangkan senyuman.
"Iya.. Iya.. Aku pasti bantu kamu kok, aku tunggu kedatangan mu. Oh iya, titip salam untuk Bu'le Asih dan Mentari yaa!!"
Jawab Tara sembari membantu Cahya mengangkat barang-barang nya.
Kini mobil yang di tumpangi Cahya dan teman-temannya sudah menjauh dari rumah Harjo dan melewati gapura Desa Merpati.
Dalam perjalanan, mereka banyak-banyak mengucap syukur atas keselamatan yang Allah turunkan melalui Tara, namun mereka juga sangat menyayangkan atas kematian nya Maura.
"Emmpp.. Ca, apa benar loe akan kembali lagi ke Desa Merpati??"
Tanya Zein yang duduk di samping kemudi.
"Iya... Karena masih ada yang harus gua selesaikan!!"
"Kalau gitu, gua ikut ya Ca??"
"Enggak usah Zein, gua gak mau ngelibatin kalian lagi, Lagi pula gua sudah meminta Tara untuk ngebantu gua"
Belum sempat Zein meneruskan pembicaraan nya, namun Cahya sudah memotong pembicaraan nya.
"Enggak usah Zein. Gua bakal baik-baik saja kok, kan ada Tara yang akan ngejaga gua."
Mendengar ucapan Cahya barusan, Zein memilih untuk tidak menjawabnya lagi.
Mereka telah tiba di kota pada malam hari dan memutuskan untuk mengantar Cahya terlebih dahulu, kini mereka telah sampai di rumah Cahya.
Melihat suasana di rumah Cahya yang tengah mengadakan acara tahlilan, membuat Cahya sedikit menautkan kedua alisnya.
"Lagi ada acara apa Ca di rumah loe??"
Ucap Maura sembari terus menatap ke arah rumah Cahya.
"Gak tahu gua juga, yasudah ya.. Kalian semua istirahat ya..!!"
Jawab Cahya dari luar mobil.
Tampak Cahya mulai berjalan mendekati rumah nya, di dalam pikiran nya ia terus bertanya-tanya.
"Assalamualaikum"
Ucap Cahya memberi salam.
"Waalaikumsalam.."
__ADS_1
Jawab sekumpulan para tamu, dan seketika mereka menghentikan bacaan doa-doanya dan serentak menatap Cahya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Cahya terheran, mengapa semua para tamu menatap nya seperti itu.
"Cahya, Alhamdulillah kamu sudah pulang. Sini nak"
Jawab Nuriyah dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
"Nek.. Nenek sedang melangsungkan acara apa??"
Tanya Cahya dengan nada suara yang pelan.
Kini para tamu melanjutkan membaca bacaan doa-doa.
"Nanti akan nenek jelaskan setelah acara nya selesai"
Jawab Nuriyah lirih.
Cahya mengedarkan pandangannya sembari mengerutkan keningnya, sebab ia tidak mendapati ibu dan adik nya duduk di antara para tamu.
"Nek.. Ibu dan Mentari, kemana? Apa mereka sedang sibuk di dapur?"
Tanya Cahya dengan nada suara yang pelan.
Namun Nuriyah tidak menjawabnya, ia hanya meletakkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar Cahya tidak banyak bicara.
...****************...
Kini acara telah selesai, para tamu pun sudah pulang.
Cahya berlenggang pergi ke kamar ibu nya, namun hanya ada Mentari saja seorang diri. Melihat kakak nya sudah kembali dari Setu Bodas, mentari langsung menghampiri Cahya dan memeluknya.
Nampak sekali dari tatapan mata nya, seperti habis menangis.
"Adek kenapa, kok nangis? Dimana Ibu?"
Ucap Cahya sembari mengelus lembut punggung Mentari.
"Ibu.. Hiks hiks.. Mbak, Ibu... Mbak"
Ucap mentari sesenggukan.
"Ibu...? Ibu kenapa dek?"
Jawab Cahya yang semakin terheran melihat adik nya.
"Cahya.."
Panggil Nuriyah, lantas menuntun Cahya duduk di tepi ranjang kasur.
"Nek.. Ibu kemana? Kasihan Mentari, nangis manggil-manggil Ibu!!"
Ucap Cahya yang terus memeluk sang adik.
"Nak.. Ibu mu.. I-ibu mu.. Dia meninggal tepat tujuh hari yang lalu, nak."
Jawab Nuriyah dengan tatapan mata yang sendu.
Degh ! Seketika detak jantung Cahya berhenti sejenak.
__ADS_1
Bak di sambar petir di siang bolong, mendengar kabar kematian sang ibu. Terlebih lagi, saat Ibu nya menghembuskan nafas terakhirnya dia tidak ada di samping sang Ibu.
"A-apaa... Ibu meninggal..."