
Dito telah di fitnah mencuri harta pusaka milik kanjeng darma, tanpa pembuktian dan tanpa mendengar penjelasan dari Dito, kanjeng darma mengusir Dito.
Karlina mencoba untuk menengahi atas ke salah pahaman antara sang ayah dengan suami tercinta nya, namun karena pada saat itu kanjeng darma sedang tersulut emosi hingga Karlina pun di usir dari kerajaan keraton.
bahkan Karlina di hapus dari daftar ahli waris oleh kanjeng darma, tidak ingin mendengar apapun penjelasan dari Karlina dan Dito. Kanjeng darma telah mengusir nya secara hina.
Dito menceritakan semua nya pada sang kakak, ratmi. Dan Ratmi berinisiatif mengajak Dito kerja sama untuk mencari tumbal, ia menjanjikan akan memberikan separuh harta milik juragan Darso untuk dito dan Ratmi pun mengatakan akan meminta bantuan bu'de dasimah untuk membuat Dito jadi penguasa di istana keraton kanjeng darma, tawaran dari sang kakak telah menarik minat nya Dito.
Harjo dan Hartini telah sampai di desa inggit, desa dimana ia lahir dan di besarkan.
rumah yang terbuat dari bilik anyaman bambu itu sama sekali tidak ada perubahan sejak dahulu, namun bangunan bilik itu masih berdiri kokoh.
Di teras rumah mugini, tampak sumiarti sedang menampi beras. Ternyata ia menyadari kedatangan Harjo.
"ha-harjo.."
Lirih sumiarti dengan tatapan mata yang berbinar.
"assalamualaikum, Bu.!!"
Ucap Harjo dengan tatapan mata yang sendu
"waalaikumsallam. Nak, kenapa baru pulang? Dan kenapa adik-adik mu tidak ikut pulang?"
Tanya sumiarti sambil mengedarkan pandangannya.
"persilahkan lah anak mu masuk dulu, baru bertanya-tanya."
Sahut mugini dari dalam rumah nya.
"duh.. Gusti, ibu sampai lupa. Mari masuk nak"
Ajak sumiarti.
kini mereka duduk di bangku kayu yang nampak usang.
tampak sumiarti membawa dua gelas teh hangat dan sepiring ubi rebus yang masih mengeluarkan asap tipis.
"Bu, pak. Ini Hartini, istri saya. Maafkan saya pak, Bu. Sebab saat menikah dulu, kami tidak sempat mengabarkan atau sekedar meminta restu terlebih dahulu."
Ucap Harjo memperkenalkan istri tercinta nya kepada kedua orang tua nya.
"istri...?"
sahut sumiarti penuh tatapan berbinar.
"pak, Bu. Saya Hartini, istri nya mas Harjo."
Jawab Hartini
"Alhamdulillah, tidak apa nak. Ibu turut senang mendengar kabar ini!!"
"Jo, dimana adik-adik mu.? Mengapa mereka tak ikut pulang bersama mu? Apa sesuatu telah terjadi?"
Tanya mugini
Kini Harjo mulai menceritakan dari awal mereka datang hingga kini, mereka pun menceritakan tentang ratmi yang mendatangi hutan leweung larangan.
"hutan leweung larangan??"
Mugini nampak terkejut hingga membulatkan matanya.
"iya pak"
"bagaimana bisa dia mendatangi hutan angker itu?"
Tanya mugini
"mendengar dari pengakuan Ratmi, berawal ia di temui seorang nenek-nenek bernama bu'de dasimah."
"Dasimah..??"
Tanya mugini tampak terkejut
"apa bapak tahu sesuatu tentang hutan leweung larangan dan sosok bu'de dasimah itu?"
"dasimah merupakan wanita titisan iblis. pada saat bapak berusia 25 tahun terjadi pertarungan sengit antara bapak dengan dasimah. Sebab, wanita titisan iblis itu telah merenggut nyawa almh eyang mu. Eyang mu telah bersekutu di hutan leweung larangan"
Ucap mugini dengan tatapan mata penuh dendam
"lantas, bagaimana cara menghadapi wanita titisan iblis itu?"
Tanya Harjo penuh harap.
"untuk saat ini, terus awasi adik-adik mu saja. Untuk mengalahkan nya, harus memusnahkan sosok siluman serigala itu. Setelah nya, kamu harus membunuh orang yang bersekutu dengan nya. barulah kalian menghadapi wanita iblis itu."
ucap nya lirih
"maksud bapak, membunuh..."
...belum sempat Harjo melanjutkan pembicaraannya, ia amat terkejut dengan ucapan mugini....
...Harjo telah membantu Cahya menghadapi siluman serigala itu, bahkan Cahya telah melenyapkan eyang dan juga bapak nya sendiri....
__ADS_1
Namun Harjo melupakan, bahwa dia belum menghabisi Dasimah wanita yang merupakan titisan iblis itu. agar dia tidak lagi menjurumus kan yang lain untuk bersekutu dengan nya.
(part ini udah tamat ya guys.. Maaf kalau kepanjangan bab nya🙏 siapa nih yang udah kangen sama Cahya dan Tara? 😁)
...****************...
Cahya kembali ke kota menggunakan bus, sepanjang perjalanan dia hanya diam termenung menatap keluar jendela bus. Sebab, sesuatu telah mengganggu pikiran nya.
"akhh.. Apa-apaan sih, kenapa jadi mikirin dia."
gumam Cahya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Jarak dari desa Setu Bodas ke kota hampir 8 jam perjalanan, saat itu perjalanan sedang macet.
Cahya masih saja termenung dekat jendela bus. Namun, sesuatu telah memecahkan lamunan nya.
seorang nenek tua tengah berdiri di tepi jalan, nenek tua itu menatap tajam sambil tersenyum menyeringai ke arah Cahya.
Cahya mengerutkan keningnya, menatap heran ke arah nenek tua itu.
"aku... Seperti pernah melihat nenek itu, tapi dimana yaa.? Kenapa dia menatap tajam ke arah ku?"
Gumam Cahya dalam hati
"Cahya"
Asih memanggil sambil menggoyangkan pundak Cahya.
"ehh.. Iya Bu, kenapa?"
Jawab Cahya
"jangan banyak melamun, mbak. Siap-siap sebentar lagi kita sampai di terminal"
Ucap asih sambil tersenyum
kini mereka sampai di terminal jakarta, orang tua asih telah menunggu disana.
"kakek, nenek."
Teriak mentari sambil berlari ke arah orang tua asih.
"mentari.. Cahya.. Cucu nenek apa kabar?"
Ucap Nuriyah, yang merupakan ibu nya asih.
"baik nek"
"asih, apa suami mu tidak ikut kembali ke kota.?"
Tanya Rohim bapak nya asih.
"akan aku jelaskan saat dirumah nanti, pah."
Jawab asih
saat mereka ingin masuk ke dalam mobil, Cahya kembali melihat nenek tua yang dia lihat saat dalam perjalanan tadi.
lagi-lagi nenek tua itu tengah menatap tajam sambil tersenyum menyeringai ke arah Cahya. Melihat ekspresi nenek tua itu membuat bulu tengkuk Cahya semakin merinding.
kini mereka sampai di rumah orang tua asih, rumah yang sederhana namun cukup terbilang besar.
asih merupakan anak semata wayang Rohim dan Nuriyah.
asih mulai menceritakan apa yang terjadi pada nya dan anak-anak nya selama di desa Setu Bodas, Asih pun mengatakan bahwa Mardani telah tiada. Rohim amat terkejut dengan hal yang terjadi pada anak dan cucu-cucu nya disana.
...****************...
Intan memutuskan untuk menempati rumah eyang, sempat di larangan oleh pak'de Harjo.
namun intan bersikeras untuk kembali ke rumah itu.
"aku akan sering-sering mengunjungi mu disana"
Ucap Tara sambil tersenyum
"Le.. Antar intan kembali pulang ke rumah eyang nya, dan bantu lah intan membersihkan rumah itu."
Titah Hartini
"baik Bu" jawab Tara
"eyang, intan pamit pulang ke rumah eyang Ratmi ya. terimakasih atas semua nya, sampaikan salam untuk eyang Harjo. Intan juga akan sering-sering kesini"
Ucap intan lirih
"nduk.. Bagaimana pun kamu juga cucu kami, sudah sepatutnya kami menjaga kamu. Lantas, kapan kamu siap menerima lamaran Tara.? eyang dan eyang Harjo semakin lama semakin tua, nduk."
tanya Hartini sambil mengunyah kapur sirih.
"nanti intan akan beritahu jika intan sudah siap, eyang. Kita semua kan masih dalam masa berkabung atas kematian eyang Ratmi dan pak'le Mardani. Walaupun kematian nya di rencanakan demi kebaikan kita semua, namun tetap saja kita semua sedang masa berkabung, eyang."
Jawab intan dengan nada lembut
__ADS_1
"kami paham hal itu, aku akan selalu menunggu jawaban mu."
Sahut Tara
Bukan tentang kematian eyang nya dan juga pak'le nya, namun intan kini telah meragukan cinta Tara. intan merasa cinta nya Tara tidak sama saat sebelum bertemu Cahya, intan merasa bahwa Tara tidak lagi mencintai diri nya melainkan Tara mencintai adik sepupu nya.
Intan di antar Tara menggunakan sepeda motor, selama perjalanan mereka saling membisu.
"Cahya sudah sampai di rumah nenek nya belum ya?"
Gumam Tara dalam hati
kini mereka sampai di rumah bu'de Ratmi, yang merupakan rumah milik juragan Darso dahulu nya.
intan berencana akan membongkar rumah yang sempat di tempati Cahya kemarin.
rumah itu masih berdiri di atas tanah milik juragan Darso, intan berencana akan membongkar dan menjadikan nya perkebunan.
Hari semakin senja, rumah Ratmi telah selesai di bersihkan oleh Tara dan intan.
"intan.. Apa kamu yakin ingin menempati rumah ini?"
Tanya Tara, sebab ia merasa akan ada hal buruk terjadi disini.
intan hanya membalas dengan anggukan saja.
"kalau begitu, aku pulang ya. Besok pagi aku akan berkunjung lagi kesini"
ucap Tara sambil mengelus lembut ujung kepala intan.
"hati-hati di jalan"
Jawab intan sambil tersenyum
...****************...
"KAMU SUDAH LANCANG TELAH MEMBUNUH SILUMAN SERIGALA ITU, AKAN AKU BALAS KALIAN SEMUA. HIHIHI.."
"TIDAKKK...!!"
Teriak Cahya.
Cahya mengedarkan pandangannya ke segala arah, lantas meraih sebuah jam.
"jam 01.43, kenapa wajah sosok nenek-nenek itu mirip dengan nenek tua yang aku lihat tadi di beberapa tempat."
Gumam Cahya dalam hati sambil memijat pelipisnya.
"duhh... Apalagi ini? Semoga saja semua nya hanya kebetulan, dan semoga saja tadi hanya kembang tidur."
Ucap Cahya pelan
Lantas Cahya kembali terlelap dalam tidur nya, hingga sinar fajar menerpa wajah ayu Cahya.
Ia segera membersihkan tubuhnya, setelah selesai dia keluar kamar dan mencari keberadaan sang ibu.
"nah.. Cucu nenek yang satu ini sudah bangun. Sini nak, duduk dengan nenek."
Ajak Nuriyah
"ibu dan kakek kemana, nek.?"
"ibu mu ke pasar swalayan belanja beberapa kebutuhan dapur, dan kakek sedang mengantar ibu mu."
Ucap Nuriyah
...****************...
bangunan rumah yang di tempati Cahya kemarin, kini sudah mulai di bongkar bahkan sudah mulai rata dengan tanah.
"intan.."
"mas Tara..!!"
"gimana, sudah beres di bongkar.? Oh iya ini ada makanan dari ibu ku"
Ucap Tara sambil memberikan sebuah rantang makanan.
"terimakasih ya mas, dan maaf sudah merepotkan kamu terus."
jawab intan sambil tersenyum
intan mempersilahkan Tara masuk, rumah nya tak kalah megah dengan rumah yang sudah di bongkar itu.
Rumah yang saat ini di tempati oleh intan adalah satu-satunya rumah peninggalan eyang akung nya.
kini rumah nya sudah bersih dan rapi, bangunan rumah itu tidak ada yang berubah sama persis saat juragan Darso masih hidup.
intan mempersilahkan Tara duduk di sofa empuk berwarna merah merekah, tepat di hadapan Tara terpampang bingkai foto berukuran besar.
foto kebersamaan juragan Darso dan Ratmi saat sedang mengandung Atika, ibu nya intan.
(episode selanjutnya tentang kehidupan baru Cahya)
__ADS_1