
Cahya membantu para pekerja memetik daun teh, sembari sesekali ia mengajak para pekerja berbicara ringan.
Kini Cahya berhadapan dengan kakek yang sudah amat tua, rambut yang seluruh nya sudah memutih, bahkan badan nya sudah membungkuk dan wajah yang pucat pasi.
"Mbah Dodi. Apa Mbah sudah lama bekerja di kebun Raden Bara??"
Tanya Cahya
"sudah nduk, sejak saya masih bujangan dan pada saat itu pun anak-anak Kanjeng Darma masih kecil-kecil."
Jawab nya sembari tersenyum
"oh gitu. Maaf Mbah, kalau boleh tahu. Siapa itu Kanjeng Darma? Orang tua nya Raden Bara, kah.??"
Tanya Cahya sambil terus memetik daun teh
"iya. Kanjeng Darma adalah ayah nya Raden Mas Bara, beliau merupakan bangsawan keraton di Desa Setu Bodas."
"Apakah anak Kanjeng Darma hanya Raden Bara saja, mbah.?"
"Tidak. Kanjeng Darma mempunyai dua anak laki-laki dan..."
Mbah Dodi menghentikan ucapannya sembari mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, seperti takut ada yang melihat dan mendengar nya.
"Dan apa, mbah.??"
Tanya Cahya dengan santai
"dan satu anak perempuan. Namun anak perempuan nya di kurung"
Jawab nya dengan nada suara yang sangat pelan
"di kurung? Kenapa??"
Tanya Cahya sambil mengerutkan dahinya
__ADS_1
"akibat keserakahan Raden Mas Bara, ia tega memfitnah Ndoro Lina dan membuat nya di usir dari istana keraton, demi menguasai harta warisan. Terlebih setelah wafat nya Kanjeng Darma dan Kanjeng Dewi, Raden Mas Bara semakin leluasa menguasai harta dan kekuasaan orang tua nya."
Jawab Mbah Dodi lirih
"(tega sekali mereka, memperlakukan eyang ku seperti itu.)"
Gumam Cahya dalam hati
"maaf Mbah, kata Mbah Dodi anak Kanjeng Darma ada tiga.? Lantas, yang satu nya juga ada disini?"
Tanya Cahya yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi di istana keraton milik buyut nya.
"Datang lah kerumah ku, jika kamu ingin mengetahui nya lebih dalam. Istri ku Mbah nur sudah lama menanti kedatangan mu di rumah."
Jawab nya membuat Cahya terkejut dan sedikit membulatkan matanya.
"Ca. Dari tadi gua perhatiin loe diem aja, kenapa sih.?
Tanya Zein sembari menepuk pundak Cahya.
Sontak saja membuat Cahya terkejut, lantas ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan kakek Dodi yang baru saja berbicara dengan nya.
"kakek? Kakek yang mana? Orang dari tadi loe sendirian Ca!!"
"(jangan-jangan yang tadi ngobrol sama gua barusan, itu arwah gentayangan??)"
Gumam Cahya dalam hati
"Ca. Loe kenapa sih? sudah, kita pulang saja yuk!!"
ajak Zein sembari menarik pelan tangan Cahya
ternyata Zein memperhatikan gelagat aneh Cahya, maka dari itu ia sesegera mungkin membawa Cahya kembali ke rumah intan. Namun Cahya bersih keras ingin ke rumah Tara terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah Intan.
"Kalau loe enggak mau temani gua ke rumah Tara, yasudah. Gua bisa sendirian kok, gua akan kembali ke rumah Mbak Intan sebelum waktu suruf."
__ADS_1
Jawab Cahya dengan lantang, lantas meninggalkan Zein seorang diri disana.
"loe tuh kenapa sih dari dulu enggak pernah peka? Gua itu khawatir Ca sama loe, gu-gua enggak mau terjadi apa-apa sama loe."
Ucap Zein yang mencoba menyusul langkah kaki Cahya
Mereka berjalan kaki menuju rumah pak'de Harjo, selama perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka.
sesampai nya mereka disana, terlihat bu'de Hartini tengah menampi beras di bale (bangku panjang yang terbuat dari potongan bambu) yang ada di depan.
"Assalamualaikum, eyang.!!"
Ucap Cahya sembari tersenyum
"waalaikumsallam, Cahya...!!"
Jawab bu'de Hartini yang langsung menghentikan aktivitas nya.
"Eyang Harjo ada, eyang.??"
Tanya Cahya yang kini duduk tepat di samping bu'de Hartini.
"Ada. Baru saja pulang dari kebun, masuk lah.. Ajak teman mu!!"
Jawab bu'de Hartini sembari mengajak Cahya dan Zein masuk ke dalam rumah.
Cahya dan Zein di persilahkan duduk di sebuah bangku yang terbuat dari rotan.
Kini semua berkumpul di ruang tamu, dan Cahya pun mulai menceritakan tentang keanehan Intan malam itu dan pertemuan nya dengan sosok Mbah Dodi.
"Kamu ingin mendahulukan yang mana? Sebab, kedua nya ada hubungannya dengan hal-hal berbau mistis. Namun saran eyang, lebih baik kamu dahulukan untuk berhadapan dengan Nyi Dasimah. Sebab, cepat atau Lambat dia akan mencelakai kamu dan teman-teman mu. Dan kamu harus tahu Cahya, kedatangan kamu kesini itu bagian dari rencana Nyi Dasimah. Dia akan menjadikan kamu dan teman-teman mu sebagai tumbal, akan tetapi setelah dia sudah mendapatkan pengganti Ratmi. Manusia yang siap bersekutu dengan Nyi Dasimah"
Jelas Pak'de Harjo yang sontak membuat Cahya terkejut
"Sebenarnya, siapa sosok yang bernama Nyi Dasimah itu, eyang.??"
__ADS_1
"Nyi Dasimah adalah manusia titisan iblis, ibu nya menikah dengan siluman serigala, lantas lahir lah Dasimah. Dan siluman serigala yang dahulu kita bunuh itu adalah bapak nya Dasimah, sebab itu lah Dasimah amat murka terhadap kita. Satu hal lagi yang perlu kamu tahu nduk, bahwa Dasimah telah membangkitkan kembali siluman laknat itu. Maafkan eyang, ini semua akibat kelalaian eyang yang lupa, bahwa Dasimah pun harus di bunuh."
Cahya menghela nafas panjang, dia benar-benar tidak habis pikir, mengapa ia harus berhadapan dengan persoalan yang amat rumit ini. Rasa benci terhadap alm Mardani, kini kian membenak di dalam hati. Sebab akibat perbuatan bapak nya lah yang membawa nya ke dalam lingkaran setan.