Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Makam Keramat


__ADS_3

Kini Cahya dan empat orang kawan nya sudah bersiap menuju desa Setu Bodas, teman-teman Cahya semua pergi menggunakan mobil. Hanya Cahya yang menggunakan motor bersama Tara, tujuan mereka adalah berkunjung ke rumah pak Johar selaku kades di Setu Bodas.


Tepat di gapura desa Setu Bodas, ekor mata Cahya kembali menangkap sosok nenek-nenek tua itu tengah bertengger di samping kiri gapura desa Setu Bodas.


sosok nenek-nenek tua itu tersenyum menyeringai menampakkan deretan gigi nya yang runcing, rambut putih yang nampak acak-acakan.


"Ta-tara..."


Ucap Cahya terbata sembari menepuk pelan pundak Tara


"kenapa??"


Tanya Tara dengan santai


"i-itu Tara, itu sosok nenek-nenek tua yang sering meneror ku.!!!"


Seketika Tara menghentikan laju kendaraan nya, dan menoleh ke arah yang di tunjuk Cahya.


"mana..?? Gak ada apa-apa kok!!"


Tara tak dapat melihat sosok nenek-nenek yang di lihat Cahya.


Teman-teman Cahya di belakang menatap heran pada Cahya dan Tara yang berhenti mendadak.


"Cahya.. Kenapa berhenti??"


Teriak Yogi


"motor nya mogok kali, gi."


Sahut Maura


"Gak...gak ada apa-apa, kita lanjut lagi."


Teriak Cahya


mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah pak kades.


Kini mereka sampai di pak kades, rumah yang sederhana namun bangunan nya sudah berdiri kokoh dengan tembok, berbeda dengan rumah-rumah milik warga yang lain, bangunan nya masih terbuat dari bilik anyaman bambu.


Tok tok tok ...


"assalamualaikum.. pak kades!!"


Ucap Tara sambil mengetuk pintu rumah pak kades


"waalaikumsallam, tunggu sebentar."


Jawab seorang wanita yang merupakan istri pak kades


"Oh Tara... Mari, silahkan duduk.!!!"


ucap Neti mempersilahkan para tamu nya duduk di kursi teras.


"ada apa, Tara.?"


"begini Bu'de. Ini Cahya, beliau cucunya bapak Harjo. Kedatangan nya kesini mau meminta izin pada pak kades, karena beliau ingin melaksanakan KKN di desa ini. Apa pak kades ada dirumah, bu'de.??"


Jelas Tara


"ada.. Sebentar ya, sekalian bu'de ingin membuatkan minuman.!!!"

__ADS_1


Ucap Neti dengan nada lembut


"Cahya, bagaimana kalau kamu dan teman-teman kamu nginap di rumah intan selama kalian menjalani KKN. Kebetulan intan tinggal seorang diri di rumah bu'de Ratmi"


Ucap Tara memberi usul


"aku takut merepotkan mbak intan, biar nanti kami cari penginapan saja."


Jawab Cahya


"nanti aku yang bicarakan pada intan"


"wah... Ada tamu toh rupa nya"


ucap Johar selaku kepala desa


Cahya dan kawan-kawan nya lekas bangkit dari duduk nya dan menyalami pak kades.


"kamu cucu nya Raden hardito, ya.?


Sahut pak kades menunjuk ke arah Cahya


"hardito..."


Ucap Cahya mengerutkan keningnya, bahkan teman-teman nya Cahya saling melempar pandangan.


sebab, bukan hanya teman-teman nya yang baru pertama kali mendengar nama hardito. Cahya sendiri pun belum pernah mendengar nya, ia belum mengenal bahkan mengetahui tentang kakek dari bapak nya.


"i-iya pak kades, Cahya merupakan cucu pertama dari Raden hardito."


Cahya semakin bingung di buat nya, beberapa kali ia menatap dalam pada Tara berharap dapat jawaban dari nya.


"ahh.. Iya, ngomong-ngomong kedatangan kalian ke desa ini ada keperluan apa ya.?"


Cahya mulai menjelaskan maksud kedatangan dia dan kawan-kawan nya ke desa Setu Bodas, rencana kegiatan-kegiatan yang sudah di rancang pun dia jelaskan pada pak kades.


Pak kades menganggukkan kepalanya memberi isyarat bahwa dia paham apa yang di bicarakan Cahya.


"kalau begitu, mari.. Saya antar lihat lokasi mana saja yang bisa kalian telusuri untuk beberapa tugas kalian."


Ajak pak kades


kini mereka mulai menelusuri lokasi-lokasi yang akan menjadi target tempat KKN mereka.


jalan yang masih banyak bebatuan, pohon-pohon pisang dan pohon bambu masih terbilang banyak di Setu Bodas.


Saat mereka tengah berjalan menuju lokasi berikut nya, mereka melewati sebuah makam yang nisan nya di tutupi kain hitam dan makam Tersebut di lingkari sebuah kain berwarna kuning, makam itu berdampingan dengan pohon beringin yang sangat rindang.


makam yang di tutupi kain hitam itu telah menarik perhatian Cahya, ia amat penasaran dengan makam itu.


mengapa makan yang hanya satu itu, nisan nya di tutupi kain hitam dan makam nya pun di lingkari oleh seutas kain berwarna kuning.


"maaf pak kades, mengapa...?"


Belum sempat Cahya melanjutkan pembicaraannya namun sepertinya pak kades paham apa yang ingin Cahya tanyakan.


"Itu makam keramat, kalian sangat di larang untuk menjamah atau berbuat kacau di makam tersebut."


Jawab pak kades tanpa menoleh ke arah Cahya


"aneh banget, masa kuburan di tutupi kain hitam dan di lingkari oleh seutas kain kuning. Kaya police line aja"

__ADS_1


Celetuk Yogi sambil tersenyum kecut di ujung bibir nya.


Seketika pak kades menoleh ke arah Yogi dan menatap tanpa ekspresi.


bukan hanya pak kades, tara, Cahya dan teman-teman nya yang lain pun menoleh ke arah Yogi dan meletakkan jari telunjuk nya tepat di bibirnya.


"Yogi... Bisa gak sih loe diem"


Gertak Zein


"tau loe"


Sahut Maura


"Sudah.. Sudah.. bisa lanjutkan lagi pak kades?"


Ucap Cahya


Kini mereka sampai di sawah tepat di dekat rumah intan.


"di ujung dekat sungai sana, ada sebuah hutan. Kalian di larang masuk ke dalam hutan itu, atau kalian tidak bisa kembali lagi."


Ucap pak kades menunjuk ke arah hutan leweung larangan itu.


"kalau begitu, terimakasih ya pak kades sudah mengizinkan kami KKN disini.!!"


Ucap Cahya


"sama-sama, yang terpenting adalah jaga sikap kalian. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, jika kalian butuh bantuan bisa temui saya."


Jawab pak kades


"guys, kita kerumah kakak sepupu gua dulu ya. Itu rumah nya"


ajak Cahya sembari menunjuk ke arah rumah bu'de Ratmi.


"wihh... Gede banget rumah nya, Ca. Ngomong-ngomong Kakak loe cantik gak?"


ucap Yogi sembari menaik turunkan alis nya


"apaan sih loe.."


Sahut Maura sambil mencubit pelan lengan Yogi


"kalian berdua tuh bisa gak sih.. gak rusuh sehari aja"


Celetuk Nabila


Menanggapi tingkah teman-teman itu, Cahya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"itu intan..."


tunjuk Tara ke arah kebun singkong tepat di samping rumah Ratmi, rumah yang pernah di singgahi Cahya saat itu.


lantas Tara menarik pelan lengan Cahya, dan teman-teman nya mengekor di belakang Cahya.


"intan, lihat lah siapa yang datang.!!!"


intan langsung menoleh, namun dalam pandangan Cahya itu bukan intan melainkan wajah sosok nenek-nenek tua yang selalu meneror Cahya.


Sosok nenek-nenek itu menyeringai menampakkan deretan gigi nya yang hitam nan runcing, menatap tajam ke arah Cahya, kini sosok itu mengeluarkan cairan merah pekat dari rongga mulut nya, menimbulkan aroma amis yang menyekat.

__ADS_1


"AAKKHHH ...."


Teriak Cahya yang langsung menutup wajah nya dengan telapak tangan nya.


__ADS_2