Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Keanehan intan


__ADS_3

Di tepi jendela, tampak Cahya tengah menatap sendu keindahan langit-langit malam.


Ada kerinduan yang teramat berat dalam hati Cahya, rindu akan kehadiran sosok bapak nya yang amat dia cintai, namun ada kebencian juga terhadap bapak nya yang telah melibatkan Cahya, ibu dan adik nya dalam hal-hal mistis seperti ini. Bukan hanya itu, Cahya pun tengah memikirkan hal apa lagi yang akan terjadi pada diri nya selama di Desa Setu Bodas.


"kira-kira Tara udah tidur belum ya??"


Gumam Cahya dalam hati sembari tersenyum tipis


Namun sesuatu telah memecahkan lamunan nya, manakala ia melihat Intan yang tengah berjalan mengendap-endap menuju gubuk tua itu.


"Mbak Intan!!"


Ucap Cahya dengan nada suara pelan


"mau ngapain dia malam-malam begini ke gubuk itu??"


Gumam Cahya penuh tanda tanya


Lantas Cahya bergegas bangkit dari duduknya, berjalan dengan sedikit berlari menyusul Intan diam-diam, hingga kini ia sampai di gubuk tua yang sudah reot itu.


Intan seperti orang yang tengah menyelinap ke dalam rumah orang, gelagat aneh nya telah membuat Cahya amat penasaran.


Kini Cahya pun mengikuti Intan masuk ke ruangan bawah tanah, hingga kini Intan berada di ujung lorong bawah tanah.


"Ca.. Loe ngapain??"


Ucap seseorang sembari menepuk pelan bahu Cahya.


"Zein. I-itu tadi gua... Loh??"


Cahya menghentikan ucapannya sembari membulatkan matanya, manakala ia tidak lagi mendapati Intan berada disana.


"tadi apa?? sudah yuk.. kita balik!!"


Ucap Zein sembari menarik pelan lengan Cahya


"ta-tapi Zein..."


sahut Cahya yang terus melirik ke arah tempat dimana tadi Intan berada.


Tepat di depan pintu utama, tampak Intan tengah berkacak pinggang menatap sinis ke arah Cahya dan Zein.


"m-mbak Intan.."


Ucap Cahya terbata-bata


"dari mana kalian malam-malam begini??"


Sahut Intan dengan ketus

__ADS_1


"kami habis cari angin mbak"


Jawab Zein dengan santai


"ada apa ini??"


Ucap Tara yang datang dari arah dalam rumah


"itu.. Mereka pacaran malam-malam, sudah di bilangin tidak boleh keluar saat malam hari."


Jawab Intan penuh dengan tatapan sinis, lantas ia berlenggang masuk ke dalam rumah.


Tara terus menatap tangan Cahya yang tengah di genggam erat oleh Zein, kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah mata Cahya, berharap mendapatkan jawaban dari nya.


"tadi aku..."


Belum sempat Cahya melanjutkan pembicaraannya namun Tara memotong nya.


"Besok lagi ngobrol nya, sekarang tidur."


Jawab Tara tanpa ekspresi.


Kini sinar matahari pagi sudah membentang menyinari keindahan Desa Setu Bodas, Cahya dan teman-temannya tengah menikmati sarapan pagi yang telah di siapkan Intan. Pagi-pagi sekali Intan sudah pergi, ia tidak mengatakan kemana ia akan pergi.


"Tara...!!"


"Heemm"


Jawab Tara tanpa menoleh ke arah Cahya


"semalam aku..."


Belum sempat Cahya melanjutkan pembicaraannya namun lagi-lagi Tara memotong nya.


"Iya... Aku tahu kalian pacaran kan??"


Jawaban Tara membuat Cahya mengerutkan dahinya, sembari tersenyum tipis.


"Pacaran?? Kamu ngira kalau aku pacaran sama Zein??"


Tanya Cahya sambil tersenyum-senyum


namun Tara tidak menjawab pertanyaan Cahya, malah ia bangkit dari duduknya.


Dengan cepat Cahya meraih dan menggenggam tangan Tara.


"Tunggu. Ada yang ingin aku katakan pada mu!! Semalam aku melihat Mbak Intan masuk ke ruang bawah tanah, tempat dimana ibu ku di kurung waktu itu, tapi cara dia masuk kesana seperti orang yang tengah menyelinap!! Karena aku penasaran dengan tingkah aneh Mbak Intan, aku ikuti dia masuk ke ruang bawah tanah. Tapi saat Mbak Intan berhenti di ujung lorong, tiba-tiba saja Zein datang dari arah belakang aku, dan seketika Mbak Intan menghilang. Hal yang membuat aku terkejut adalah saat aku kembali kerumah dan mendapati Mbak Intan tengah berkacak pinggang di depan pintu, lantas siapa yang aku ikuti saat masuk ke ruang bawah tanah.!!"


Ucap Cahya menceritakan keanehan malam tadi.

__ADS_1


Tara menyimak dengan baik pembicaraan Cahya barusan.


"Nanti kita akan selidiki, ada apa sebenarnya di ruang bawah tanah itu.?? Oh iya, Cahya. Bukan kah hari ini kamu akan membantu warga mengurus perkebunan teh milik Raden Mas Bara??"


"Iya. Kenapa memang nya??"


Tanya sambil menaikkan kedua alisnya


"Raden Mas Bara adalah kakak dari eyang mu, bu'le Karlina. Ibu nya pak Mardani!!"


"Itu artinya, mereka juga sanak saudara ku.??"


Jawab Cahya sedikit membulatkan matanya


"Iya. Dan dulu bapak ku pernah bilang, bahwa bu'le Karlina masih hidup, namun di sembunyikan oleh keluarga nya buyut mu Kanjeng Darma, bapak dari bu'le Karlina.!!"


Ucap Tara yang lagi-lagi membuat Cahya terkejut


"Kenapa mereka menyembunyikan eyang ku?? Kenapa mereka tega memisahkan bapak ku dengan ibu nya??"


Jawab Cahya penuh tanya


"itulah, mengapa bapak ku meminta agar kamu menemui nya.!!"


Sahut Tara


"baiklah, besok aku akan kesana."


Jawab Cahya sambil menganggukan kepalanya


Kini Cahya dan Zein berjalan kaki menuju perkebunan teh milik Raden Mas Bara, sesampai nya mereka disana, tampak lelaki paruh baya yang memakai pakaian khas keraton Jawa, dan tiga orang pengawal di belakang nya yang tengah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat datang saya ucapkan kepada mahasiswa/i KKN. Perkenalkan, saya Raden Mas Bara pemilik kebun teh ini."


Ucap Bara sembari menjulurkan tangannya.


"Terimakasih atas sambutan nya, Raden Bara. Saya Cahya dan ini teman saya Zein!!"


Jawab Cahya yang memperkenalkan diri nya dan juga Zein


kini Raden Bara menjelaskan secara detail apa saja yang harus mereka lakukan di perkebunan nya, guna untuk membantu para pekerja nya.


"Sudah paham??"


Tanya Raden Bara


"sudah, den."


Jawab Cahya sambil menganggukan kepalanya

__ADS_1


__ADS_2