
"ma-maksud Mbak, a-apa??"
Tanya Cahya terbata-bata dengan deru nafas yang begitu cepat.
"Maaf. Maksud mbak, bagaimana dengan kegiatan kamu hari ini.?"
Jawab Intan dengan lembut, seketika saja dia berubah drastis. Yang baru saja menyeramkan, kini kembali berubah menjadi lemah lembut.
"(Apa yang terjadi pada diri mu, Mbak. Aku harap, kamu tidak salah mengambil langkah.!!)"
gumam Cahya dalam hati
"sedikit melelahkan, Mbak."
Jawab Cahya sambil tersenyum tipis
kini Intan mulai menyuapi sup sedikit demi sedikit, hingga sup itu habis.
Selepas itu, Intan berlenggang pergi keluar meninggalkan Cahya seorang diri di dalam kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hai Ca.. Gimana keadaan loe? Sudah enakkan?"
Tanya Nabila sembari tersenyum manis menatap Cahya
"Alhamdulillah, Bil. Sudah Enakkan, tapi.. Kalau boleh, besok gua izin tidak ikut kegiatan ya. tidak apa-apa kan?"
Jawab Cahya yang tengah duduk di tepi ranjang
"tidak apa-apa kok Ca"
Sahut Zein sambil tersenyum
"Iya, lebih baik loe istirahat saja dulu. Dari pada nanti loe kelelahan terus pingsan, bikin kita repot lagi."
Ucap Yogi dengan ketus
"hehehe.. Maaf iya kalau gua banyak ngerepotin kalian"
Sahut Cahya
"apa sih?? Kita ini kan satu tim, sudah sebaiknya kita saling menjaga satu sama lain."
Ucap Nabila
"Yogi, Maura Kemana.?"
Tanya Cahya
"Maura lagi bikin laporan di kamar nya"
Jawab Yogi
"Besok, Maura sama Zein membantu di perkebunan Raden Bara ya."
Titah Cahya
"iya. Yasudah yuk, kita keluar. Biar Cahya istirahat "
Ucap Zein
Lantas Zein dan Nabila berlenggang pergi keluar dari kamar Cahya dan meninggalkan nya seorang diri.
Cahya teringat saat membuntuti sosok yang sangat mirip dengan Intan dan rasa penasaran nya pun semakin menggebu-gebu.
Rencana demi rencana kini ia susun sedemikian rupa. Dia sangat ingin memulai rencana nya dengan menyelidiki apa yang ada di ruang bawah tanah, dan setelah itu dia pun ingin sekali mencari tahu siapa sosok Mbah Dodi yang sebenarnya.
Cahya berkata jujur pada Tara, bahwa besok dia ingin mencari rumah kediaman Mbah Nur.
Cahya amat penasaran dengan sosok Mbah Dodi, sebab sosok Mbah Dodi sangat mengetahui selak beluk keluarga Kanjeng Darma.
Sinar mentari pagi telah menerpa wajah nan ayu Cahya.
Kini teman-teman Cahya sudah pergi berangkat ke lokasi yang sudah di tugaskan masing-masing.
Barulah Cahya bersiap pergi keluar, ia ingin mencari dimana rumah kediaman Mbah Nur.
Di kebun sayur mayur, tampak Intan tengah duduk termenung di gubuk tua yang terhubung ke ruang bawah tanah.
Entah kenapa kini Cahya mulai takut jika harus berhadapan langsung dengan Intan.
__ADS_1
"Mbak... Aku berangkat ya!!"
Teriak Cahya pelan
Intan hanya menganggukkan kepalanya dengan ekspresi wajah datar.
Cahya merasa heran hingga mengerutkan keningnya, bergidik ngeri melihat tingkah aneh Intan yang berubah drastis.
Terkadang ia lemah lembut, namun terkadang juga tingkah nya menakutkan.
Cahya mencoba bertanya-tanya pada penduduk sekitar, adakah yang mengenal Mbah Nur.
"Mbah Nur yang mana ya, mbak.??"
Ucap salah seorang warga yang sedang menampi beras.
"Yang suami nya, nama nya Mbah Dodi. Apa mbak kenal?"
tanya Cahya sekali lagi
"Mbah Dodi?? Duh.. Saya kurang tahu Mbak"
Jawab nya
"yasudah kalau gitu, terimakasih ya mbak.!!"
Sahut Cahya
"iya mbak, sama-sama.!!"
Cahya kembali berjalan menelusuri setiap sudut Desa Setu Bodas, hingga akhirnya ada seorang gadis kecil menghampiri Cahya.
Cahya merasa tidak asing dengan wajah gadis kecil itu, namun ia tidak bisa mengingat nya.
"Bagaimana kabar mu, Mbak.??
Ucap gadis kecil dengan wajah yang sedikit pucat.
"Baik. Ka-kamu siapa ya? Apa kita pernah saling bertemu sebelum nya?"
Tanya Cahya sambil tersenyum
"Kita memang pernah saling bertemu saat itu, apa kau melupakan nya?"
"Ahh.. Iya, mungkin aku lupa. Kalau begitu, aku permisi dulu ya.!!"
Ucap Cahya
"Apa kamu mencari rumah Mbah Nur??"
Sahut gadis kecil itu
Seketika Cahya kembali menoleh ke arah gadis kecil tersebut, semakin dia kebingungan oleh nya. Bagaimana bisa gadis kecil itu tahu, jika Cahya sedang mencari rumah Mbah Nur.
"Kamu tahu rumah Mbah Nur??"
Tanya Cahya
"Ikuti aku"
Jawab nya
Tidak ada percakapan di antara mereka selama perjalanan menuju rumah Mbah Nur.
Dan kini gadis kecil itu membawa nya ke sebuah rumah yang sudah sangat tua.
Tidak ada rumah lain selain rumah tua itu, rumah tua tersebut di kelilingi pohon-pohon yang rindang.
Rumah yang nampak tak ter'urus, halaman nya sangat kotor dedaunan kering berserakan dimana-mana, kayu-kayu penyangga rumah tua itu sudah sangat rapuh.
benar-benar sudah tidak layak di tempati.
"Ini rumah nya. Aku hanya bisa mengantar kamu sampai sini, dan aku hanya akan datang kembali saat kamu benar-benar kesulitan."
Ucap gadis kecil itu
Cahya maju beberapa langkah mendekati rumah tua tersebut, dan Cahya kembali menoleh ke arah dimana gadis kecil itu berdiri. Ia ingin mengucapkan terimakasih, karena sudah mengantar nya ke rumah Mbah Nur.
Sontak saja Cahya terkejut, manakala gadis kecil tadi sudah tidak ada di tempat ia berdiri barusan.
"Cepet banget lari nya!!"
__ADS_1
Ucap Cahya pelan, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Cahya kembali mendekati pintu rumah tua tersebut dan mengetuk nya.
Tok tok tok !!
"Assalamualaikum.."
Ucap Cahya memberi salam
"waalaikumsallam, tunggu sebentar.!!"
Jawab seseorang dari dalam rumah tua itu
Kriet..
Pintu rumah yang sudah reot terdengar berbunyi saat seseorang di dalam membuka nya.
"Cari siapa ya??"
Ucap seorang nenek-nenek yang sudah sangat tua, tubuhnya yang membungkuk, mata yang mulai memutih. Entah, bisa melihat Cahya dengan jelas atau tidak. Nenek tua itu nampak tengah mengunyah kapur sirih.
"Maaf Mbah, apa benar ini dengan Mbah Nur.??"
Tanya Cahya dengan lembut
"benar, kamu siapa ya.?"
Jawab nenek tua itu sembari menyipitkan matanya yang terus menatap Cahya.
"Saya Cahya, Mbah. Boleh saya berbicara sebentar dengan Mbah Nur"
"boleh.. Mari, silahkan masuk..!!"
Jawab nya sembari mempersilahkan Cahya masuk.
Kini Cahya duduk di bale yang cukup lebar.
Rumah yang benar-benar sudah sangat tua, bahkan terbilang tidak terawat. Sebab, sarang laba-laba ada dimana-mana, debu-debu halus menyelimuti seluruh perabotan kuno di dalam rumah tua itu.
Mbah Nur kembali datang membawa sepiring ubi rebus dan segelas air putih.
"Maaf ya, nduk. Mbah hanya bisa menyajikan seadanya"
Ucap nya sembari terus mengunyah kapur sirih
"tidak apa-apa, Mbah."
"Kalau boleh tahu, kedatangan kamu kesini ada perlu apa ya, nduk."
"Maaf Mbah, apa benar Mbah nur ini istri dari Mbah Dodi.??"
Tanya Cahya dengan lembut
"Iya betul"
"Jadi.. Kemarin aku sempat bertemu dengan Mbah Dodi di perkebunan Raden Mas Bara, Mbah.!!"
Mbah Nur nampak seperti orang terkejut saat mendengar Cahya mengatakan kalau dia bertemu dengan suami nya.
"Kamu bertemu dengan Mbah Dodi, nduk.?? Apa yang beliau katakan?"
Cahya mulai menceritakan dari awal percakapan nya dengan Mbah Dodi, hingga tiba-tiba sosok Mbah Dodi menghilang bak tertiup angin.
"Aku di minta agar menemui Mbah Nur, jika ingin mengetahui lebih banyak tentang keluarga Kanjeng Darma."
"Mbah Dodi sudah meninggal dua puluh tahun lalu, nduk."
Ucap nya lirih
Degh !
"(jadi benar, yang kemarin berbicara dengan aku adalah arwah.)"
gumam Cahya dalam hati
"Kamu... Anak nya Raden Roro Mardani??"
"iya Mbah, saya anak nya bapak Mardani. Dari mana Mbah Nur tahu bisa tahu??"
Jawab Cahya sembari mengerutkan keningnya
__ADS_1
"Eyang mu, ndoro Lina meminta Mbah untuk mencari keberadaan anak dan cucu nya. Selamatkan beliau, nduk. Kasihan eyang mu, hikss.. Hikss.."
"Lantas dimana keberadaan eyang Lina, dan bagaimana cara untuk menyelamatkan nya??"