Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Asal-Usul Keluarga Mardani 9


__ADS_3

"mbak sari, mbak.. aku pulang"


teriak ratmi dari luar gerbang.


"mas, itu ratmi sudah pulang.!!"


ucap Hartini kepada suami nya dengan wajah penuh senyum lega.


"ra-ratmi.."


ucap Harjo lirih, dengan mimik wajah yang berbinar.


Hartini gegas membuka pintu gerbang.


"ka-kamu.. mbak Hartini, kan.? dimana mas Harjo??"


ratmi lantas berlari menuju teras rumah milik juragan Darso, mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"ratmi..."


Harjo memanggil Dengan bulir-bulir air mata yang mulai menetes.


"mas.. kenapa mas Harjo baru mengunjungi aku? kenapa mas? aku tersiksa berada disini"


ucap ratmi yang terus mengguncangkan pundak kakak nya itu, nampak raut wajah kecewa.


"maaf ratmi, maafkan mas. hiks.. hiks.."


"tapi kali ini, mas Darso akan tunduk kepada ku"


sontak membuat semua orang terkejut. pasalnya, dugaan mereka pasti benar. bahwa ratmi telah melakukan sesuatu di hutan itu.


"ka-kamu dari mana saja selama tujuh hari ini?"


tanya Harjo untuk memastikan.


"dari hutan leweung larangan, mas. untuk menemui bu'de dasimah Susana, karena dia bisa mendapatkan apa yang aku inginkan."


jawab ratmi dengan nada suara berat.


Plakk..


Harjo mendaratkan tangan nya di pipi ratmi.


"hentikan semua nya, sebelum kamu semakin terjerumus semakin dalam."


tegas Harjo.


"TIDAK. tinggalkan rumah ini sekarang juga, dan jangan lagi kunjungi aku kesini."


ucap ratmi dengan tatapan yang menyalang.


tanpa berbicara lagi, Harjo berserta Hartini meninggalkan kediaman rumah juragan Darso.


sari menatap ratmi penuh ketakutan. sebab, sari merasa ratmi sangat berubah. seperti bukan ratmi saat dulu, lemah lembut dengan tutur kata yang sopan.


kini tatapan ratmi berpindah pada sari, menatap dalam dengan senyum di ujung bibir nya. lalu mendekati sari.


degup jantung sari berdetak tak kencang.


"ra-ratmi.."


ucap sari lirih


"mbak, kamu orang baik. aku gak akan menyakiti kamu."


ucap ratmi dengan nada berat, sambil mengelus rambut yang tersanggul rapih.

__ADS_1


lantas ratmi berlenggang masuk ke dalam kamar nya, saat ia sudah berada dalam kamar, ia mendapati ranjang keramat itu ada di dalam kamar nya.


bukan nya ketakutan, namun ratmi tersenyum menyeringai.


waktu sudah mulai senja, nampak sebuah mobil sedan hitam milik juragan Darso datang memasuki halaman rumah.


seorang lelaki tampak keluar dari dalam mobil, lelaki itu nampak kusut, dengan rambut yang acak-acakan, mimik wajah yang pucat.


"ratmi.. ratmi, kamu dimana ratmi.?"


"mas darso? ada dengan mu, mas.??"


tanya sari terheran dengan kondisi suami nya yang nampak berbeda.


"dimana ratmi??"


"a-ada di kamar nya, mas."


ucap sari sambil menunjuk ke arah kamar ratmi.


"mas darso"


ratmi memanggil Dengan nada suara lembut.


"dek ratmi.. mas rindu sekali pada mu dek, mas tidak bisa tidur nyenyak sebab terus memikirkan mu."


sari menatap heran suami nya itu, sangat berubah. ia lebih lembut terhadap ratmi.


"istirahatlah, mas. aku buatkan minum dulu."


ucap sari.


"tidak, biar aku saja yang membuat nya."


titah ratmi.


...****************...


"Pergi kalian dari istana keraton ini, jangan pernah datang lagi kesini."


teriak nya sambil menatap sinis, seorang laki-laki berusia tiga puluh dua tahun, ia merupakan kakak laki-laki Karlina.


nampak nya Karlina dan Dito telah di usir dari istana keraton milik kanjeng darma.


sambil menatap penuh dendam, Dito menggandeng sang istri karlina untuk meninggalkan kediaman nya.


Karlina tampak menggendong seorang bayi laki-laki yang terus saja menangis.


"lantas kita mau kemana, mas?"


tanya Karlina yang terus menangis.


"kita kerumahnya pak'de Darso dulu sementara, kebetulan disana ada mbak ratmi. kan??"


jawab Dito sambil tersenyum dengan tatapan yang sendu.


para pekerja di kebun teh milik juragan Darso, menatap heran pada Karlina yang terus saja menangis.


namun, mereka para pekerja kebun. segan untuk menanyakannya.


kini Dito dan juga Karlina sampai di kediaman juragan Darso.


"permisi, mas. mbak ratmi nya, ada.?"


tanya Dito kepada penjaga gerbang.


"ada.. silahkan masuk Raden Dito."

__ADS_1


mempersilahkan mereka masuk.


"silahkan duduk, den. biar saya panggilkan dulu."


ucap pelayan rumah juragan Darso.


"mas, apa kita akan di terima disini.?"


tanya Karlina merasa ragu. sebab, ia tahu betul watak juragan Darso.


seorang pelayan tadi membawa dua gelas teh hangat.


"Dito.. ada apa dengan kalian?"


tanya ratmi sambil mengerutkan dahi nya. ia sedikit terheran melihat ada beberapa tas besar.


"ka-kamu di usir kanjeng darma, mbak."


ratmi membulatkan matanya, ternyata selama ini bukan hanya diri nya saja yang tertindas. namun, Dito pun merasakan.


"yasudah, kalau gitu biar kalian disini saja dulu."


titah ratmi


"tapi.. mbak, bagaimana dengan pak'de Darso? apa beliau mengizinkan?"


tanya Dito.


"kalian tenang saja, mas Darso pasti akan mengizinkan kalian tinggal disini. dia akan nurut semua omongan ku"


jawab ratmi yang tersenyum di ujung bibir nya.


"bukan kah pak'de Darso..."


Karlina menghentikan ucapannya saat melihat Dito yang meletakkan jari telunjuk di bibir nya.


namun lagi-lagi ratmi hanya tersenyum di ujung bibir, melihat hal itu.


...****************...


"pak, sudah hampir dua tahun anak-anak belum juga pulang."


ucap sumiarti yang sudah amat rindu terhadap anak-anak nya itu.


"gak perlu khawatir, Harjo pasti menjaga adik-adik nya dengan baik."


jawab mugini sambil mengelus lembut punggung istri nya.


"tapi, perasaan ku selalu tidak enak tentang anak-anak kita, pak."


"itu hanya perasaan mu saja, Bu."


jawab mugini meyakinkan istri nya, padahal diri nya sendiri pun merasa telah terjadi sesuatu pada anak-anak nya.


...****************...


"apa yang harus aku katakan pada bapak dan ibu nanti"


ucap Harjo lirih


"tapi alangkah baiknya kita harus memberi tahu bapak dan ibu, tentang ratmi dan Dito, mas."


"Hartini benar, Jo."


ucap sari yang tiba-tiba datang dan membuat terkejut kedua pasangan suami istri itu.


"nyonya sari..."

__ADS_1


__ADS_2