Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Ajian Waringin Sungsang


__ADS_3

"Lantas, bagaimana cara menghadapi wanita iblis itu, eyang.!!"


Tanya Cahya lirih


"Tara... Dia yang akan menghadapi wanita iblis itu itu, namun sebelum nya Tara harus mendalami ajian Waringin sungsang."


Jelas Harjo


"Ajian Waringin Sungsang??"


Sahut Cahya yang nampak kebingungan


"tapi.. Pak, mendalami Ajiian Waringin Sungsang kan memakan waktu yang cukup lama.!!"


Ucap Tara sedikit keberatan, sebab Cahya dan kawan-kawan pun sudah berada di ujung malapetaka.


"apa itu Ajian Waringin Sungsang, eyang.??"


Tanya Cahya yang benar-benar tidak paham apa yang di maksud dengan Harjo.


"Ajian Waringin sungsang merupakan salah satu ilmu kadigdayan kejawen tingkat tinggi yang pada jaman dahulu hanya di miliki oleh orang-orang linuwuh saja. Ajian Waringin Sungsang memiliki efek yang sangat dahsyat karena orang yang terkena ajian ini akan terserap energi kesakitan nya, dan akan lumpuh tak berdaya. Ajian Waringin Sungsang adalah sebuah ajian yang paling dahsyat dalam ilmu kanuragan, yang mematikan."


Cahya menganggukkan kepalanya memberi isyarat bahwa kini dia paham apa yang di bicarakan Eyang Harjo.


"Bukan kah bapak sudah menguasai ajian Waringin sungsang??"


Sahut Hartini


"iya. Tapi kan bapak ini sudah tua, Bu. Tenaga nya sudah tidak seperti dulu lagi, Tara lah yang akan mewarisi Ajian Waringin Sungsang."


Jawab Harjo lirih


"baiklah, saya siap mendalami Ajian tersebut, Pak."


Ucap Tara


"kalau begitu, nanti malam kamu harus mandi kembang tujuh rupa terlebih dahulu, dan mulai besok kamu sudah harus menjalani puasa mutih selama 21 hari. Selama kamu menjalani puasa mutih, akan banyak gangguan dan godaan yang mencoba mengacaukan kamu, kamu harus bisa melawan gangguan dan godaan yang datang yang akan datang. Sebenarnya, hati mu bersih Le' makanya bapak memilih kamu untuk mewarisi Ajian Waringin Sungsang.!!"


Jawab Harjo


Tidak terasa waktu hampir senja, kini Cahya dan Zein pamit pulang pada Harjo dan Hartini.


"Cahya... Tunggu.!!"


Panggil Tara


"Ada apa??"


sahut Cahya


"aku mau melakukan ini semua demi kamu!!"


jawab Tara sembari menggenggam tangan Cahya


"demi aku?? Apa alasan kamu melakukan nya demi aku?"


Tanya Cahya lirih


"a-aku.. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, ingat ya..!! Selama tidak ada aku di samping kamu, jangan bertindak sendirian."


Jawab nya terbata-bata


"hanya itu saja alasan nya??"


tanya Cahya sembari mengerutkan keningnya


"Zein.. Saya titip Cahya ya, jaga dan selalu awasi dia selama saya menjalani puasa mutih.!!"


Zein hanya membalas dengan senyuman sembari menganggukkan kepalanya.


"Sudah yuk, Ca. Hari sudah hampir senja"

__ADS_1


Ajak Zein


Lantas Cahya berlenggang pergi meninggalkan Tara begitu saja tanpa pamit lagi.


Sebenarnya Zein masih belum bisa mencerna dengan baik, apa yang tadi di bicarakan oleh Harjo.


Pesan terakhir yang di sampaikan oleh Harjo adalah tidak boleh mengatakan kepada siapapun termasuk Intan, tentang Tara yang akan mendalami Ajian Waringin Sungsang untuk mengalahkan Nyi Dasimah.


Sebab Harjo telah menaruh curiga pada Intan, bahwa Intan lah yang akan menggantikan Ratmi untuk bersekutu dengan wanita iblis itu.


Dan Harjo pun berpesan agar selalu waspada terhadap gerak-gerik Intan.


Selama perjalanan pulang, Cahya hanya diam termenung. Memikirkan apa yang di katakan Tara tadi, apa alasan dia melakukan itu demi Cahya? Apakah benar bahwa Tara menaruh hati untuk Cahya?.


Kini mereka sampai di rumah Intan, tampak di halaman depan Intan tengah berdiri menatap Cahya yang baru saja datang, tanpa ekspresi sedikit pun.


"Baru pulang??"


Tanya Intan sambil tersenyum


"iya mbak, aku masuk dulu ya.!! Mau istirahat"


Jawab Cahya


"permisi mbak.. kami ingin istirahat dulu ke dalam"


Sahut Zein


Cahya melepas penat nya dengan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap sendu langit-langit kamar, sedikit menyesali karena sudah menginjakan kaki di Desa Setu Bodas.


Bugh !!


Bugh bugh...


Suara gedoran yang amat kencang berasal dari dalam lemari jati yang sangat mewah.


Cahya bangkit dari kasur nya dan mencoba untuk mendekati lemari tersebut.


Suara gedoran itu semakin lama semakin kencang, hingga membuat bulu tengkuk Cahya berdiri.


Kini Cahya berdiri tepat di depan lemari jati itu, dan perlahan sedikit membuka pintu lemari tersebut.


Hening.. Suara gedoran dari dalam lemari tersebut kini sudah hilang.


Namun ekor mata Cahya menangkap sosok yang amat menyeramkan.


Seorang nenek tua tengah tersenyum menyeringai menampakkan deretan gigi nya yang runcing, kini sosok itu mengeluarkan cairan merah pekat dari mulut nya.


"MATI. KAMU SEMUA AKAN MATI.. Khe Khe Khe.."


Ucap sosok mengerikan itu dengan nada suara yang berat.


Tidak tahan dengan apa yang Cahya lihat, seketika saja Cahya jatuh pingsan.


"Ca.. Bangun Ca, Cahya.. Bangun!!!"


Ucap Nabila sembari menepuk pelan pipi Cahya


"Cahya kenapa sih??"


Ucap Maura dan Yogi nampak heran melihat kondisi Cahya yang tak sadarkan diri.


"Lemah banget sih, si Cahya. Dikit-dikit pingsan.. Dikit-dikit pingsan.."


Celetuk Yogi sambil menyunggingkan senyum di ujung bibir nya.


"Diam loe"


Gertak Zein dengan nada suara tinggi


"Sudah.. Sudah.. Maura, tolong panggilkan Mbak Intan ya. Bilangin, kalau Cahya pingsan.!!"

__ADS_1


Ucap Nabila yang mencoba menghentikan perdebatan antara Zein dengan Yogi.


Yogi pun ikut Maura keluar dari kamar Cahya.


"Zein, apa loe tahu sesuatu? Kenapa Cahya akhir-akhir ini sering pingsan?"


tanya Nabila pada Zein yang berharap mendapatkan jawaban.


"e-enggak.. Gua gak tahu kenapa Cahya sering pingsan!! mungkin karena dia kelelahan kali"


jawab Zein terbata-bata


"iya. Mungkin kali ya!!"


Sahut Nabila


Intan sedikit berlari masuk ke dalam kamar Cahya dengan wajah yang terlihat panik.


"Cahya..!! Ini Cahya kenapa lagi? Nabila..Zein..? Apa yang terjadi dengan Cahya?"


Ucap Intan yang penuh tanya


"kami tidak tahu apa yang terjadi dengan Cahya, Mbak. Saat aku masuk ke kamar nya, aku mendapati Cahya sudah tidak sadarkan diri.!!"


Jawab Nabila lirih


"Aku akan membuatkan minuman hangat dulu untuk Cahya"


Ucap Intan yang berlenggang pergi ke dapur


15 menit kemudian Intan kembali ke kamar Cahya dengan membawa segelas air teh dan semangkuk sup yang masih mengeluarkan asap tipis.


Nabila dan Zein yang sedari tadi menemani Cahya terus mengoleskan minyak angin ke hidung nya Cahya.


Kini perlahan Cahya membuka mata dan menatap sekitar nya, lantas ia menghembuskan nafas panjang.


"Ca.. Loe sudah bangun? Loe gak apa-apa kan Ca??"


ucap Nabila penuh tanya


"Bil, biar Cahya istirahat dulu."


Ucap Zein memberi isyarat agar Nabila Syakieb tidak banyak melemparkan pertanyaan.


"gua gak apa-apa kok, Bil."


Sahut Cahya sambil tersenyum tipis


"maaf mbak, kalau boleh biar saya saja yang menyuapi Cahya.!!!"


Pinta Zein


"tidak usah.. Kalian istirahat saja, biar mbak yang mengurus Cahya"


jawab Intan tersenyum


"kalau gitu, gua keluar dulu ya Ca. Nanti setelah makan malam gua kesini lagi"


Sahut Nabila sembari mengelus lembut punggung rambut Cahya


Nabilla dan Zein berlenggang keluar dari kamar Cahya.


Kini hanya tinggal Cahya dan Intan di dalam kamar nya.


"Informasi apa yang sudah kamu dapat hari ini??"


Ucap Intan dengan nada suara berat sembari tersenyum menyeringai menatap Cahya.


Degh !!


Cahya amat terkejut mendengar perkataan Intan barusan, Intan mengetahui bahwa Cahya sudah mendapatkan beberapa informasi tentang Nyi Dasimah dan tentang ratmi Intan yang akan di jadikan sebagai pengganti Ratmi.

__ADS_1


__ADS_2