Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 10


__ADS_3

Senja sudah sembuh total dari kecelakaan yang ia alami bahkan kini juga mulai bekerja yang di sebuah cafe milik Arthur, teman Troy. Tentang Troy, entah kenapa kalau dekat dengannya. Senja merasa nyaman dan terlindungi. Bukan berarti ia mulai jatuh hati pada Troy, tentu tidak. Hanya saja, Senja seperti sejak lama kenal dengan pria itu.


Masalah Saga, Suaminya itu masih melindunginya juga dari sang ibu mertua. Senja jadi tak enak hati bila menjadi orang ketiga di dalam hubungan ibu dan anak. Bukannya surga suami ada di kaki ibunya? Surga istri ada di telapak kaki suaminya. Bagaimana bisa ia terlaksana jika hubungannya dengan ibu mertuanya masih buruk.


"Es teh manis satu dong mbak!"


"Farah tiap hari lo ke sini cuma mau pesen es teh manis doang sama numpang wifi-an." Faradilla hanya tersenyum menunjukkan giginya yang putih bersih. Cafe ini terlalu mahal untuk anak kantong kuliahan seperti dirinya tapi demi nama persahabatan. Semua itu tak masalah.


"Maklumin lah, namanya juga kantong anak kampus. Idola gue belum datang apa gimana?"


Senja mendengus selain numpang wifian, temannya yang satu ini juga suka sekali cuci mata. Lihat cogan, terutama Troy. Gadis ini berharap sekali kalau Troy akan meliriknya. Padahal Senja tahu banyak perempuan yang diam-diam mencuri pandang ke arah Troy apabila pria itu nongkrong di sini. Sayang pemilik cafe terlihat dingin dan galak kalau menyangkut perempuan genit dan cantik.


"Belum, paling nanti pas jam pulang kantor." Fara sedikit cemberut mendengar apa yang sahabatnya ucap. Kemudian dengan gerakan cepat ia melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya. Baru jam 2 bisa kering dia nungguin Troy muncul yah kalo datang kalau nggak bagaimana. Padahal sebentar lagi ia adaΒ  urusan dengan dosen.


"Lama banget sih, bisa kembung gue nungguin dia. Yang Paling murah di sini cuma es teh manis itu pun harganya 10rb."


"Mau gue kasih yang paling murah."


"Apaan?"


"Air keran, gratis gak usah bayar malah gue bonusin ember."


"Sialan loe!! Gue cabut dulu, ada urusan. Baik-baik ya, lo kerja di sini." ujar teman Senja itu sembari menepuk bahu temannya bermaksud untuk pamit. Meski kadang menyebalkan Fara selalu ada untuknya. Gadis itu selalu mengunjunginya kemari walau tujuannya juga sekaligus mendekati Troy.


"Itu tadi temen kamu?" tanya Arthur sang pemilik cafe yang sedang meracik kopi. Arthur Maleholo, pria usia 25 tahun, muda, tinggi, tampan, berkulit kaukasit dan tentu dengan senyum yang menawan, membuat siapa pun pasti langsung jatuh hati sekaligus teman Troy. Keduanya patungan untuk mendirikan cafe ini.


"Iya kak, kenapa apa ganggu?". Dan lagi-lagi Arthur hanya tersenyum menunjukkan senyumnya yang menawan. Kalau mungkin Senja belum punya Saga, dia yakin akan jadi fans pertama Arthur. Lelaki ini sangat diidam-idamkan para kaum hawa, lulusan universitas Italia di bidang kuliner dan seorang barista yang handal pula. Arthur sosok dewasa yang tak banyak bicara namun giat bekerja. Beruntungnya Senja selalu di kelilingi lelaki tampan.


"Nggak, Kasihan aja. Ke sini cuma minum. Sekali-kali kamu kasih menu kueΒ  yang baru saja ku buat. Yah itung-itung buat tester. Siapa tahu kue aku gak layak disantap." Selain sempurna secara fisik, Arthur dia juga baik. Benar-Benar Lelaki idaman, penggoyah iman.


"Kue yang kakak buat enak kok, gak mungkin gak bisa dimakan." Kemudian pria yang diam-diam Senja kagumi ini malah menyodorkan segelas kopi hitam.


"Minum tapi jangan diminum langsung. Hirup dulu aromanya lalu kamu cecap pakai ujung lidah. Baru dikulum dan rasakan." Senja mengikuti semua instruksi yang di perintahkan sang bos, menyecap rasa kopi dalam wadah gelas.


"Gimana rasanya?"


"Rasanya ya... pahit kayak kopi." Arthur yang mendengar jawaban gadis ini langsung lemas. Senja yang malah terbahak-bahak. Baginya semua kopi sama rasanya."Aku mana tahu rasa kopi Gimana, bagi aku sama semua."


"Taste kamu payah."


Senja tak peduli, ia malah mengambil nampan, mencacat pesanan pelanggan lagi dan meninggalkan Arthur yang menyeduh kopi kembali. Kata orang, kopi di cafe ini paling enak dan favorit pecinta kopi. Tapi baginya kopi di tempat kerjanya terlalu mahal. Senja bukan penikmat kopi jadi jika ia disuruh membayar beberapa puluh ribu Rupiah ditukar dengan segelas kopi dalam gelas bulat kecil, tentu ia keberatan.


"Mau pesan apa mas?" tanyanya pada seorang pelanggan laki-laki yang masih menutupi wajahnya dengan buku menu. Senja kembali ketika meja yang kodong sudah diduduki oleh seseorang.


"Senja?" Mata indah dan hitam Senja membesarkan pupil. Ia menatap penuh keterkejutan begitu melihat siapa laki laki yang jadi pengunjung cafe, yang menempati meja 7. Tak ia sangka setelah menghindar beberapa kali. Mereka akhirnya dipertemukan kembali.


"Devano?"


"Aku gak nyangka bisa ketemu kamu. Kamu kerja di sini??" Devano mengamati mantan kekasihnya itu yang berpakaian putih hitam. Mirip pegawai yang baru di training. Memang dia dan Senja sudah digariskan Tuhan berjodoh sehingga sekuat apa perempuan ini lari maka mereka akan di pertemukan jua" Kebetulan banget aku langganan cafe ini!!"


Kebetulan yang berubah jadi kesialan bagi Senja.


"Mau pesan apa?" tanyanya ketus membuat senyum Devano yang mengembang lebar seketika sirna. Senja masih sama, bersikap tak tamah kepadanya. Nampaknya sakit hati Senja dulu belumlah sembuh. Bukannya benci dan cinta itu berdekatan seperti dua sisi mata koin. Maka kesempatannya untuk mendapatkan Senja masih terbuka lebar kan.

__ADS_1


"Pesen, thai tea sama lava chocolate satu." Senja mencatatnya dengan teliti tanpa mau melihat pemesannya. Dia harus tetap bersikap profesional, walau jujur membenci Devano.


"Tunggu sebentar."


"Senja, bisa kita Bicara dulu?"


"Maaf, aku lagi kerja." Begitu punggung Senja berbalik raut muka muram, Devano tunjukkan. Tidak apa-apa kalau sekarang Senja menolak tapi ia akan berusaha lebih keras lagi untuk mendekatinya. Toh dia tahu tempat dimana Senja kerja. Harusnya dulu ia sadar bahwa Senja adalah perempuan yang tepat. Tapi nasi telah jadi bubur. Devano silau dengan kecantikan dan fisik semata.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


"Pulang malam lagi?" tanya Saga ketus saat Istrinya baru membuka pintu kamar. Saga tak pernah setuju jika istrinya kerja tapi Senja yang super keras kepala tetap nekat.


"Iya... aku tadi masuk siang karena dosen pembimbingku masuknya pagi. Kamu tumben di rumah?" Saga dengan cuek menanggapi pertanyaan suaminya, ia buru-buru mengambil handuk untuk mandi. Badannya lengket semua, setelah hampir 8 jam bekerja tanpa henti. Pengunjung cafe membludak karena Arthur menawarkan menu baru sebagai bonus gratisan.


"Kenapa bos loe itu suka nganterin pulang sih?"


"Hah??" Kenapa Saga baru menanyakannya sekarang, bukankah tiga hari ini, ia selalu diantar Arthur. Senja anggap kebaikan Arthur itu dalam taraf yang wajar. "Karena rumah kita searah dan kita kan tadi sama-sama nutup cafe."


"Bukannya dia naksir loe ya??" Senja yang hendak membuka pintu kamar mandi Seketika menghentikan niatnya. Pemikiran Saga kelewatan batas dan nalar. Arthur hanya menganggapnya sebagai bawahan atau junior yang harus banyak diajari.


"Kamu ngacoo kalau ngomong."


"Ngacoo?? Loe kurang peka jadi perempuan, dia naksir loe." Senja yang tak peduli dengan ucapan Saga, malah menutup pintu kamar mandi dengan keras. Membuat suaminya yang tepat berada di belakangnya sampai memegang hidungnya yang mancung karena terkena hantaman pintu.


Dengan kesal Saga hanya bisa menunggu sambil menggerutu. Berurusan dengan Icha itu lebih mudah karena si Icha itu punya tingkat sensitivitas yang tinggi, jadi gampang baper dan mudah di dekati kalau Senja. Saga menyumpahi otak pintar perempuan itu dan tingkat logikanya yang kelewat rumit. Selain tak mempan digombali, istrinya itu juga seorang yang perempuan yang tak terbaca.


Perempuan lain akan senang di beri ATM untuk bersenang-senang, tapi Senja lain. ATM yang isinya puluhan juta itu hanya buat jaga-jaga di saat darurat. Memang dia mau perang atau melahirkan anak?? Hah menyebalkan!! Bisa kalah dia taruhan dengan kawan - kawannya. Apalagi sekarang Senja sudah bekerja semakin sedikit saja waktu untuk Saga agar bisa mendekatinya.


"Kita belum selesai." Senja yang menggosok rambutnya dengan handuk. Hanya menatap Saga malas lalu membuang muka. Pembahasan mereka berdua pastilah tak jauh-jauh dari pekerjaannya.


"Kenapa lagi sih?? Mau berantem?? Aku capek van, mau tidur."


Saga sebagai lelaki tak suka bila di abaikan. Sebelum istrinya mencapai kasur. Ia tarik lengan Senja hingga gadia itu berbalik


"Gue mau hak gue??"


Senja sedikit menaikkan alisnya baru mencoba melepas cengkeraman tangan Saga. Otaknya mencerna lama apa yang dimaksud dengan hak.


"Gue minta loe layanin sebagai suami."


"Yakin?? Kamu gak lagi emosi kan mau minta itu?"


Dengan yakin Saga mulai melepas kaosnya, terlihat otot-otot perut lelaki itu yang terpahat sempurna. Senja sampai tak berkedip melihat pemandangan yang menggugah hasrat primitifnya itu.


"Yakin lah." Malah dengan berani Saga melepas ikat pinggangnya. Tentu sebagai perempuan, Senja mulai waspada. Tapi ia akan berusaha bernegosiasi. Hubungan mereka tak ada kejelasan dan ujungnya mau kemana. Janganlah menambah nyawa lain yang nantinya akan membuat keduanya terlihat dalam urusan rumit.


"Tunggu!!" Telapak tangan Senja menahan dada keras milik sang suami. "Kalau kita berhubungan badan. Kita harus diskusiin dulu masalah kontrasepsi, karena gak mungkin kita punya anak sebelum kita mapan. Aku masih harus skripsi dan kamu masih main-main sama kuliah, " ujarnya telak, karena hakikatnya semua ini akan kembali ke pihak perempuan. Dia akan banyak dirugikan, sudah melayani suami tanpa cinta. Senja juga harus hamil padahal usianya masih muda sekali. Belum lagi harus mengurus si kecil yang pastilah tumbuh kembangnya akan memakan biaya yang tak sedikit.


"Gue gak mau pake ******, kamu aja minum pil." Para pria tak pernah mau rugi, maunya enaknya saja. Kalau Senja mengkonsumsi pil sebelum memiliki anak katanya efeknya akan buruk. Belum lagi flek hitam akan muncul di wajahnya yang mulus tanpa jerawat. Senja tak mau tua sebelum waktunya.


"Kalau gituh, ituannya besok aja aku beli pilnya dulu."


"Gue udah gak tahan, besok loe beli pil darurat aja." Tapi dasarnya laki-laki, tak bisa menahan Hasratnya. Jadinya malah Saga kini sudah menindih tubuhnya, mencium bibir istrinya dengan penuh nafsu tapi ketika ciuman itu sampai di dada Senja. Ponsel Saga berdering kencang.

__ADS_1


"Oh shit, siapa yang telpon sih?"


"Angkat aja Siapa tahu penting." Jantung Senja yang berdegub sangat kencang ia raba. Debaran detaknya bertalu-talu, ia lega Saga tak melanjutkan pergulatan mereka. Ponsel pria itu menjadi penyelamatnya kali ini.


"Hallo,,, apa?? Iya gue kesana sekarang!!"


Dengan gerakan cepat Saga menyambar celana dan kaosnya kembali lalu memakainya kembali. Senja yang merasa akan di tinggal merasa lega sekaligus kehilangan apalagi kini Saga mengambil jaket kulit yang tersampir di dinding. Senja sudah tahu pasti Saga tidak akan pulang malam ini. Arena balapan yang suaminya pasti tuju.


"Gue pergi dulu, malam ini loe selamet." Saga hendak memegang handel pintu tapi kemudian berbalik lagi mengecup dahi istrinya dengan sayang. Kecupan itu membuat Senja melongo tak percaya. Hatinya menghangat mendapatkan perlakuan semanis itu. Apa mulai bisa membuka hati untuk laki-laki yang telah menjadi suaminya ini?


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Sialan, katanya kalian tawuran sama gengnya Troy. Mana??" Kawan-kawannya yang sedang membetulkan mesin motor mereka, tertawa terbahak-bahak. Jebakan mereka membuat Saga keluar rumah ternyata berhasil.


"Hehehe, kita cuma ngibul. Lah loe aneh akhir -akhir ini, gak ngumpul-ngumpul lagi. Kenapa apa dikekepin sama bini loe Gak boleh pergi -pergi," ledek Angga mewakili kata hati teman-temannya. Saga jarang ke markas sejak menikah.


"Syetan loe semua!!"


"Ga, Jangan ngambek kayak anak-anak dong." Tanpa mau mendengarkan alasan teman-teman gengnya. Saga pilih menenangkan diri. Mengambil jarak dari mereka lalu mengeluarkan sebatang rokok untuk dihisap. Rencananya melakukan malam pertama gagal, gara-gara keisengan teman-temannya.


"Hai, Ga. Kok sendirian aja??" sapa seorang pemuda sambil menepuk lengan Saga dengan keras.


"Eh loe No. Tumbenan lo ke sini, tugas tugas kampus udah lo kelarin." Devano yang mendengar pertanyaan dari Saga yang penuh nada sindiran dan cibiran hanya tersenyum sedikit. Ia terkenal sebagai anak pintar walau berada di dalam sebuah geng motor.


"Jangan mulai deh, bagi rokok loe sebatang." Saga menyodorkan wadah rokok yang ia pegang kepada Devano.


"Kirain mahasiswa kedokteran model loe gak mau nyebat. Doyan juga?? Gak batuk?" Devano tak memasukkan kata- kata Saga ke hati. Ia tahu saudara sepupunya itu cuma bercanda. Saga itu adalah anak dari kakak perempuan ibunya. Mereka saudara karena punya satu kakek yang sama.


"Kadang kita perlu keluar dari batasan yang kita punya Ga. Saat masalah yang sedang kita hadapi terlalu Berat." Devano hanya menatap lurus ke depan. Tatapannya kosong, matanya menyimpan banyak luka. Pikirannya dengan lancang terlempar ke beberapa hari lalu saat bertemu Senja. Ia sangat merindukan gadis itu sampai menjadi stalker. Diam-diam Devano mengawasi Senja saat bekerja.


"Paling masalah loe gak jauh-jauh dari cewek. Kita punya masalah yang sama. Loe tahu cara deketin cewek yang spesial." Dahi Devano berkerut tajam. Cewek spesial seperti apa? Semua tipe perempuan pernah Saga pacari


"Cewek pintar dan punya ideologi tinggi, payahnya lagi gue gak bisa ngebuat dia bergantung sama gue. Yang ada malah gue yang tergantung sama kehadiran dia."


Devano berhenti menyecap nikotinnya lalu berpikir sejenak. Sama seperti Senja yang awalnya membuat dia bosan dan jengah kini malah membuat Devano semakin bersalah dan ingin menggapainya kembali.


"Deketin dia pelan- pelan, kasih perhatian biasa tapi sederhana. Misal loe antar jemput dia ke kampus, jangan sekali-kali paksa dia karena hakikatnya cewek tetaplah cewek. Mereka minta kelembutan, minta perhatian kecil yang bahkan kita gak pernah kepikiran. Cewek pinter itu simple, kalau cinta bilang aja. Tapi sepintar-pintarnya cewek Mereka punya hati yang lembut, yang mungkin gampang luluh juga." Saga memang terlihat cuek tapi sebenarnya sedang mencerna kata per kata yang Devano ucap. Devano selain pintar dalam hal akademik juga pintar dalam memikat Wanita, walau ia dan Saga jelas berbeda tipe.


"Kalau loe ada masalah ma cewek yang mana?"


"Mantan. Gue ngajak balikan tapi dia gak mau. Gue banyak dosa sama dia. " Saga yang tadi diam sekarang malah tertawa kencang sekali. Mantan itu cuma masa lalu. Kenapa harus balikan kalau cari yang lain banyak tapi Saga ingat, bukannya dia masih belum bisa move on dari cinta pertamanya.


"Mantan yang mana??"


"Mantan yang bikin gue bisa masuk ke kampus kedokteran."


Seketika tawa Saga berhenti. Ia pernah mendengar kalau Devano dulu memanfaatkan keluguan seorang perempuan agar membuatkannya sebuah karya ilmiah dan karya ilmiah itu akhirnya menang. Karena kemenangan itu Devano bisa diterima di universitas unggulan, jurusan kedokteran lagi. Betapa brengseknya sepupunya itu.


"Pada akhirnya gue tahu dia yang terbaik tapi telat. Dia udah benci sama gue."


Suara riuh tawa yang mengema tadi kini berubah jadi hening. Mereka sama-sama terdiam. Apakah Mereka tahu masalah keduanya terletak pada wanita yang sama. Wanita yang Devano lepas Karena egonya kini Saga ingin dapatkan, tapi apakah Saga akan bisa membahagiakan Senja atau malah ia akan melukai hati gadis itu lebih dalam dari pada yang Devano telah lakukan.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2