
Troy sekali lagi meneguhkan hatinya
kembali ke sini, ke rumah ibunya. Ia akan meminta penjelasan pada orang yang telah melahirkannya itu. Kalau pun Troy harus di tolak kembali. Ia akan tetap gigih berdiri di depan pintu sampai pintu rumah terbuka atau kalau perlu Troy akan mendobrak paksa.
Tok... tok... tok..
Troy menarik nafas. Ia menyiapkan diri jika ditolak atau sampai diusir kasar atau bahkan mendapatkan kata-kata pedas.
Ceklek
Benar saja, begitu pintu terbuat dari kayu terbuka. Helen yang mengetahui kalau Troy yang bertamu. Pintu itu siap di tutup oleh sang penghuni. "Mamah."
Troy menodong pintu itu dengan sekuat tenaga. Helen menahan pun percuma, tenaga wanita yang hampir memasuki usia 50 tahun itu tak sebanding dengan laki-laki muda seperti Troy. Ia menang, karena dengan tega mendorong Helen hingga tubuh ibunya itu oleng walau tak sampai jatuh.
"Mau apa kamu ke sini lagi?" tanya Helen dengan nada bicara tak menyenangkan. Inikah yang Troy dapatkan setelah penantiannya bertahun-tahun. Ia tersenyum sinis. Bukan rasa rindu yang ia terima tapi kata keras sarat akan penolakan.
"Mamah!!"
"Jangan panggil saya, mamah. Saya bukan mamah kamu. Saya gak kenal kamu siapa?" Hati Troy terasa remuk redam. Keinginan untuk didekap dan di akui sebagai anak sirna sudah. Perempuan yang di panggilnya sebagai mamah, tetap berkeras hati. Tak mau menerimanya.
"Saya tahu, mungkin kehadiran saya di rumah anda tak diinginkan. Saya hanya menanyakan kepada anda, selaku orang yang telah melahirkan saya." Jantung Helen teremas kencang. Ia tak ingin memperlakukan Troy selayaknya orang asing namun apa daya, keputusan awalnya tak berubah. Ia memilih Senja, memilih putrinya berarti harus melepas putranya.
"Kenapa anda memisahkan saya dengan adik satu-satunya yang saya punya, kenapa?"
Tanya Troy lirih dan penuh dengan nada memohon. Ibu mana yang tidak akan runtuh pertahanannya jika di hadapkan dengan putra kandungnya sendiri. Dengan sekuat tenaga Helen menggigit bibir bawahnya. Guna menahan tangisnya yang sudah berdesak-desakan mau luruh.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan. Adik siapa yang kamu maksud?" Namun rasa pengar akibat kesedihan yang menggumpal dada naik ke hidung. Air mata Helen seperti bom atom yang siap meledak, meluluh lantahkan pertahanannya. Matanya sudah berkaca-kaca. Tinggal menunggu hitungan detik Air matanya akan merajai pipi.
"Senja." Mata Helen membulat sekejap, saat nama putrinya di sebut namun ia teguhkan hati tetap kokoh berdiri memegang handle pintu. "Dia adik saya, adik yang saya anggap sudah tiada." Helen kuat menahan emosi namun tak dengan Troy. Ia menangis serta memohon sebuah belas kasihan dan kasih sayang. "Kenapa anda tega meninggalkan saya?"
Helen tetaplah seorang wanita, seorang ibu yang akan lemah jika melihat anaknya bersedih. Air matanya turun dengan sangat deras. "Karena itu pilihan, dimana saya harus meninggalkan satu untuk anak saya yang lain."
"Mamah."
Troy meraih tubuh yang terbalut kemeja maroon itu. Meski pelukannya tak kunjung di balas namun ia puas menghirup aroma tubuh sang mamah.
Harusnya Helen tetap berdiri kokoh namun apa daya hatinya terlalu cengeng. Ia menangis meraung-raung di pelukan anaknya. "Kenapa kamu harus kemari? Harusnya kamu udah bahagia, jadi pewaris, gak kekurangan apa pun dan mengharapkan kedatangan kami kembali".
"Mamah, Troy kangen. Troy gak mau diusir lagi."
__ADS_1
"Kamu harusnya menjauh, mamah gak bisa menjamin ketenangan dan keselamatan Senja kalau kamu ada bersama mamah." Semua hanya karena kakeknya. Tentu saja pria tua itu memisahkan anak dan ibunya, memanipulasi keadaan, mengatakan bahwa Troy yang hanya si tua itu punya. Membuat poros hidup Troy hanya padanya. Membuat adik dan kakak harus terpisah lama.
Troy mulai melepaskan depannya. Tubuhnya berjongkok turun, bersimpuh berlutut sambil memeluk kaki sang ibu. "Mamah, Troy mau sama mamah dan Senja. Bagi Troy harta gak ada apa-apa dengan kalian."
Helen mengangkat paksa bahu putranya agar berdiri selayaknya lelaki sejati. "Kamu laki-laki, kamu cucu laki-laki satu-satunya dari keluarga Mahatya. Harapan kakek ada di kamu. Dulu mamah nyerahin kamu biar kamu keurus dan sebagai penebusan kesalahan mamah karena merebut papah kamu dari kakekmu."
Troy menghapus air matanya kasar. "Troy bukan barang!! Apa mamah gak pernah berfikir kalau Troy butuh mamah bukan cuma Senja aja. Lalu sekarang dia juga mamah nikahin anak keluarga Adhitama, maksudnya apa?"
Helen sudah memberikan satu anaknya ke keluarga suaminya, kini ia juga memberikan putrinya untuk di pinang oleh orang lain. "Mamah gak ingin kalian menderita, hidup serba kekurangan."
"Lalu? Apa yang mamah lakukan pada kami sudah benar?" Awalnya Troy mencoba meraih sebuah cinta namun alasan Helen menjodohkan Senja dan meninggalkannya, membuat Troy menggeram marah karena tak terima. Harta tak membuat seseorang bahagia. Troy mengalaminya, bagaimana ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, Troy jadi keras dan tak berbelas kasihan. Hidupnya dipenuhi ego untuk selalu ingin jadi juara dan tak terkalahkan.
"Kamu gak tahu apa yang mamah dan Senja lalui, kami pernah kekurangan. Bahkan semenjak usia 7 tahun anak itu sudah harus mengurus dirinya sendiri sementara mamah kerja buat menghidupi kami berdua."
Troy memerah matanya, masa kecilnya memang dihiasi harta yang berlimpah namun masa kecilnya bagai neraka. Dia di latih jadi yang terkuat, dengan waktu yang amat disiplin tanpa kasih sayang. "Lalu? Karena hidup mamah yang kekurangan itu, mamah nyerahin Senja ke keluarga Adhitama, menikah sama Saga?"
"Setidaknya bersama mereka masa depan Senja cerah."
Troy menggelengkan kepala tak percaya. Baginya setiap.manusia memang masa depannya sendiri. Cerah dimana jika pernikahan dijadikan opsi. "Masa depan cerah? Itu yang mamah pilih untuk hidup kami?"
Langkah Troy mulai mundur ke belakang, Helen mencoba meraih tangan putranya. Namun Troy menepisnya. "Mamah selalu berpikir demi masa depan kami, tanpa mamah tahu apa yang telah Troy alami? Begitukah pemikiran mamah selama ini, menganggap kalau harta bisa membahagiakan. Mamah salah besar!"
Troy berbalik pergi tanpa pamit. Tak peduli jika ibunya menangis menggugu, terisak-isak. Helen tak menyesal menyerahkan Troy pada kakeknya, lalu menikahkan Senja juga. Harta memang tak bisa memberi kebahagiaan, tapi harta bisa menyediakan kenyamanan dan kemapanan hidup.
Helen pernah mengalami penderitaan karena kekurangan dan menikah tanpa restu, yang harus ditebusnya dengan kehilangan suami karena sebuah kecelakaan. Helen selamat waktu itu namun Prasetya harus meregang nyawa, Senja koma dan bangun dengan kehilangan ingatannya. Sedang Troy ia biarkan bersedih kehilangan seluruh anggota keluarganya atas permintaan si tua Wisnu. Helen tak mau jika kesusahan yang ia alami menimpa kedua anaknya. Keputusannya memang egois namun tak ada seorang ibu yang mau melihat anaknya hidup serba kekurangan.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
Senja berangkat kerja diantar oleh Saga. Ia tersenyum melambaikan tangan ke arah suaminya yang mengendarai motor sportnya pelan. lalu melemparkan sebuah ciuman jauh yang langsung Saga tangkap dan balas. Tanpa sepengetahuan keduanya, Arthur yang datang dari arah samping cuma bisa menggelengkan kepalanya. Iri sudah pasti, sebab dia kan masih single
"Orang yang lagi jatuh cinta dunia cuma ada dia, yang lain makhluk kasat mata."
Mendengar suara lelaki, Senja menengok. Tahu kemesraannya di pergoki, Senja cuma bisa tersenyum canggung sembari menunduk malu. "Kak Arthur bisa aja."
"Aku tadi mestinya nutup mata supaya gak ngiri sama kamu. Di anterin pacar?" tanya bos Senja itu ketika mereka sudah berjalan menuju pintu masuk. Senja bingung mau menjawab apa. Berstatus punya suami untuk anak seusianya terasa janggal dan aneh.
"Dia bukan pacar tapi suami. Maaf baru ngomong sekarang. " Arthur hanya mengulas senyum tipis. Walau kecewa Senja telah punya suami tapi apa daya, jodoh ada di tangan Tuhan.
"Gak apa-apa, tapi baguslah kamu jujur. Masuk sana, cepet kerja!!" ucapnya sambil menepuk bahu adik Troy itu.
__ADS_1
"Siap bos! "
Senja berjalan masuk ke dalam cafe meninggalkan Arthur yang masih menekuri perasaannya sendiri. Rasanya tak begitu sakit ataupun kecewa saat tahu gadis yang disukainya telah dimiliki pria lain. Arthur lebih dewasa dan berlapang dada namun sepertinya ia melupakan suatu hal.
Senja yang baru masuk meletakkan tasnya di loker lalu mengambil celemek untuk dikenakan. Saat mau ke dapur, ia mendengar suara orang muntah-muntah di kamar mandi. Senja mengerutkan kening, ketika mendapati Troy membungkukkan badan ke arah wastafel.
"Kak Troy kenapa?"
Troy terpaku sejenak mendengar suara khawatir dari perempuan yang ia sangat kenal. Senja berdiri di depan pintu sembari menatapnya khawatir.
"Senja..." gumamnya lirih.
Troy memandanginya penuh damba. Membuat wanita berusia dua puluh tahunan itu malah takut dan bergerak mundur. Senja memilih meninggalkan Troy menuju ke dapur untuk mengambil gelas bersih.
Namun Senja hampir krna serangan jantung ketika melihat Troy malah diam di sisinya. Berarti dari tadi pria ini mengikutinya. Keadaan Troy tak bisa dikatakan baik. Pemuda ini seperti habis minum banyak semalam.
"Kakak mau aku buatin sarapan atau minum susu?"
Troy cuma diam tak berucap sepatah kata pun. Ia terlalu menikmati wajah Senja yang sedari kemarin tak ia temui. Rasa rindu membuncah dengan sangat namun sayang untuk meraih atau menyentuh, Troy harus menahan diri.
"Kakak mau kamu buatin kopi sama sandwich telur setengah mateng." pintanya sambil menahan tangis haru.
Melihat ekspresi Troy yang semakin aneh. Senja mawas diri, ia mengambil jarak. Namun Troy tak mau beranjak dari sisinya. "Aku mau siapin pesenan kakak. Kakak bisa tunggu di meja sana." Tunjuknya pada meja dan kursi yang menghadap jendela.
"Kakak pingin makan di sini aja." Pengusiran halusnya ternyata gagal. Senja benar-benar takut, sebab sepertinya Troy masih terserang hang over akibat mabuk semalam.
"Troy kita ke depan." ajak Arthur memaksa walau mendapatkan pelototan tajam dari sang sahabat. "Nja, kamu buatin sandwich biar aku aja yang bikin kopinya."
"Ayo.." anaknya lirih sambil menyeret Troy keluar dari area dapur.
"Lepasin!!"
"Troy, loe bikin Senja takut."
"Gue kakaknya, Kenapa dia mesti takut sama gue?"
"Lihat diri loe, sisa mabok ama iler loe masih pada nempel." Arthur menyerahkan ponsel layar datarnya supaya Arthur bisa berkaca. "Lihat penampilan loe, parah!! Rambut loe awut-awutan, loe persis kayak orang gila".
"Brengsek."
__ADS_1
"Loe mandi dulu, habis mandi entar makan terus kita bicarain gimana ngasih tahu Senja kalau loe kakaknya". Troy kekeh enggan pergi mandi. Ia masih mau melihat wajah adiknya. Tapi Arthur benar. Penampilannya yang mirip zombi membuat siapa pun takut tak terkecuali Senja.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🥜🥜🌸🥜🥜🌸