
Saga tak tahu apa yang ia rasakan kini. Senangkah? Menyesalkah? Sedihkah? Yang jelas semuanya terasa tercampur aduk. Ia benar melakukannya. Senja itu istrinya tapi ini semua juga salah. Karena terbawa emosi dan merasa bahwa Senja jadi semakin menjauhinya. Saga kalap sampai melakukan hal di luar batas.
Khilaf tapi ia melakukannya dengan sadar. Saga tak mabuk, ia secara sadar bercinta dengan istrinya. Bisa dikatakan bercinta kalau mereka sendiri tidak saling mencintai lalu disebut apa perbuatan mereka semalam. Saga ingat dia yang memulai tapi kenapa Senja tak menolaknya. Mereka dengan tololnya sama-sama terhanyut dan mengulang pergulatan mereka sampai beberapa kali.
Kini Saga menatap tubuh telanjang istrinya yang hanya terbungkus selimut. Tubuh Senja benar-benar indah, tubuh ramping itu di hiasi beberapa tanda kiss mark di leher, punggung dan juga dada.
Saga panik saat melihat Senja menggeliat akan bangun. Untunglah dia tak sampai terjaga tapi naas selimut yang Senja pakai melorot mempertontonkan tubuhnya yang telanjang. Melihat pemandangan yang indah itu, hasrat Saga terbit kembali. Dengan secepat kilat ia meraih selimut untuk Membungkus tubuh istrinya. Tak mau pikirannya meninggalkan poros warasnya lagi. Saga segera bergegas pergi ke kamar mandi. Mengguyur kepalanya dengan air dingin.
Sedang Senja yang baru bangun, menggeliat. Merentangkan otot-ototnya yang kaku. Ia merasakan tubuh bagian bawahnya nyeri. Ingatan adegan dewasa semalam memenuhi otaknya membuat pipinya bersemu merah. Ia kemudian melihat bercak darah yang tercetak di atas tempat tidur. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Antara senang dan juga kecewa karena tak menemukan Saga di dalam kamar.
Senja yang awalnya bangun akhirnya menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjang kembali. Ia merasa di campakkan setelah di pakai. Senja dengan bodohnya terhanyut dengan sikap lembut suaminya kemarin malam. Ia terisak-isak, menutupi matanya dengan telapak tangan. Logikanya terlalu berharap kalau hubungan dalam pernikahannya akan mengalami kemajuan.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
"Gue nginep di tempat loe, ya?" Pinta Saga kepada Devano. Kebetulan mereka bertemu di warung tenda tempat biasa makan anak-anak Snippers.
"Kenapa? Loe di usir sama bonyok? Bukannya loe bisa nginep di bengkel!!" Saga tak bisa ke bengkel. Karena di sana sumber masalahnya berasal. Orang yang ingin di hindarinya ada di tempat itu.
"Nggak nyaman gue di sana, anak-anak pada berisik. Janji deh kalau nginep di tempat loe. Gue gak akan ganggu loe belajar!!" Devano ambigu kalau Saga tak akan mengganggunya. Tapi dari pada dia kesepian di Apartemen kan bagus kalau ada temen.
"Oke deh, gue WA ntar passwordnya." Karena terlalu senang Saga memeluk tubuh Vano dan mendaratkan kecupan di pipinya beberapa kali.
"Eh najiss loh. Jauhan sono!! Ntar kita di kira maho!!" Devano dengan kesalnya menjauhkan wajah sepupunya dengan telapak tangan. Tapi bukannya pelukanย mengendur Saga malah semakin memeluknya erat seperti hendak meremukkan tulang.
๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป
Farah yang melihat temannya mengantarkan pesannya, menajamkan mata kemudian dahinya berlipat-lipat karena berkerut. Apa mata Farah ada yang salah, dia melihat Senja tak seceria biasanya.
"Loe kenapa? Kok mukanya di tekuk asem?"
Senja kemudian mengambil duduk si depan Fara, apa sebegitu terlihatnya dia putus asa? "Gue begok!!" Satu kata yang mampu membuat Fara masuk ke dalam pikirannya yang bingung. "Harusnya gue gak semurahan itu!"
"Loe ngomong apaain sih?Gue bingung, sumpah gue gak ngerti!!" Kali ini benar-benar Senja membuatnya bingung sekaligus takut. Ketika air mataย tumpah dan wajah ayunya di telungkupkan di atas meja. Kepalanya bergetar, menandakan tangis gadis ini luruh sambil memukul dadanya sendiri.
"Hey.. hey... what's wrong with u?" Karena tak mendapatkan sebuah jawaban. Farah mengguncang-guncang tubuh sahabatnya. "Senja, dont make me afraid, please!!"
"Gue tidur sama Saga." Farah hanya diam. Ia tak paham, bukankah hubungan intim wajar di lakukan suami istri. "Dan begitu dia dapat yang dia mau, he leave me. Three days he's gone and leave me alone!!"
__ADS_1
"Brengsek, jerk banget tuh si Saga ."
"Bukan, gue yang *****. Gue yang terlalu murahan. Gue kira dia punya perasaan lebih!!"
"Loe gak salah, dia emang brengsek. Dia gak seharusnya giniin loe. Loe gak murahan, loe istrinya wajar kali kalau menyerahkan diri ke suami." Dengan penuh kelembutan dan perhatian. Farah mengelus-elus punggung tangan milik Senja. Memberikan ketenangan batin. "Dia bakal nyesel udah perlakuin loe kayak gini. Dan loe bukan Stella yang bodoh!!"
Ketika mereka tengah ngobrol berdua. Troy yang kini hanya memakai hodie dan celana santai, menghampiri mereka.
"Hai, Senja!?"
"Kak Troy!" Farah cengo mengamati Troy yang kini terlihat berkali lipat lebih tampan. Sedang Senja yang tak mau Troy berpikir macam-macam. Menghapus air matanya dengan cepat.
"Ada apa kak?"
"Oh ini, aku mau ngasih undangan sama kalian. Undangan pertunangan aku, sabtu malam besok. Jangan lupa datang ya?" Senyum yang di miliki Farah seketika lenyap. Digantikan dengan ekspresi kecewa sekaligus nelangsa.
"Pasti kak!" Senja yang menyahut sementara Farah hanya diam meratapi sakit hatinya. Kesadarannya belum juga terjaga karena terlalu mendramatisirย hatinya yang patah.
"Aku ke Arthur dulu. Dia ada di dalam kan?"
"Iya kak, ada kok!!" Beberapa menit setelah Troy pergi, tangis Fara pecah. Bukan tangis tergugu tapi tangis yang meraung-raung. Mirip seorang gadis kecil yang kehilangan pita kesukaannya.
"Kok loe nangis kenceng banget sih?"
"Tabok muka gue. Ini mimpi kan cuma mimpi!!" Farah dengan penuh kekesalan dan kecewa merebut kartu undangan yang berada di tangan Senja lalu membolak-baliknya sebelum menghempaskan benda itu ke meja. "Nama Troy ada disini dan nama ceweknya bukan gue!! hua... hua.... hua..." Senja sampai menutup telinganya karena suara tangisan Farah semakin kencang. "Gue gak terima... gak terima...!! Gue gak mau dateng!!"
Karena tak mau menjadi pusat perhatian. Senja dengan gerakan cepat membungkam mulut Farah. "Diem Farah!! Loe bikin malu."
Tapi sayang gigi Farah yang tajam menggigit tangan kawannya.
"Auw.."
"Biarin gue nangis sepuas-puasnya!! Hiks... hiks... hiks.. Loe tadi juga nangis gue dengerin!!" Entah mengapa melihat Farah yang menangis seperti anak balita. Kesedihan Senja hilang. Ia tak begitu meratapi kepergian Suaminya. Mungkin Saga tak pulang selama 3 hari karena ia butuh berpikir dan menenangkan diri.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Devano menutup laptopnya. Tugas kampusnya sudah selesai. Kemudian laki-laki yang biasa di panggil Vano itu meregangkan otot-otot nya sesekali menguap ngantuk. Ia menengok gelas kopinya, ternyata isinya kosong. Dengan malas Vano berjalan menuju dapur tapi kemudian langkahnya terpaksa berhenti melihat pintu balkon terbuka dan ada kepulan asap yang keluar dari sana.
__ADS_1
"Loe nyebat Ga? Bagi rokoknya donk!" Saga menyodorkan sebungkus rokok yang ia letakkan di pagar pembatas balkon.
"Gue kira loe bakal marah-marah kalau gue nyebat di Apartemen!!"
"Gak, gue juga suka nyebat di sini! Btw loe ada masalah, loe udah nginep disini 3 hari. Bukannya gue mau ngusir, cuma gue penasaran masalah apa yang buat loe sampai ngungsi!! Gue kenal loe dari lama dan ini bukan gaya loe!!" Jelas Saga tak tersinggung. Wajar kalau Devano bertanya.
"Loe pinter. Emang gue punya masalah!!" Saga menaruh rokok yang ia hisap keย asbak. Saat ini ia memang butuh seseorang untuk menampung segala keluh kesahnya. "Loe percaya kalau gue bilang gue udah..... nikah."
"Uhuk... uhuk... uhuk... serius loe?" Saga hanya menganggukkan kepala.
"Gimana bisa? Loe sama Icha kegep terus kalian di nikahin paksa?"
"Hah? Gue nikah bukan sama Icha tapi gue di jodohin!"
Mulut Devano menganga lebar, rahangnya hampir lepas mendengar penuturan leadernya. Saga seorang berandalan di arena balap dan juga kampus sudah menikah. Pasti para gadis akan menangis.
"Loe bisa kan gue percaya?"
"Bisa lah. Loe kira gue kayak perempuan. Mulutnya ada dua!!"
"Gue kira pernikahan ini bakalan mudah kalau bosan kita bisa pisah. Tapi apa yang gue anggap mudah nyatanya nggak gituh. Istri gue cewek yang terlalu manis dan baik. Gue terbiasa sama dia akhirnya gue ngelakuin hal yang paling *****. Gue tidurin dia, gue ambil ke gadisannya."
"Lah bukannya dia istri loe. Kalian nglakuin itu kan lumrah malah dapat pahala!! Kenapa loe nya malah kabur?"
"Masalahnya gue ragu sama perasaan gue. Yah bisa di bilang gue belum cinta sama istri gue. Gue bingung, kalau dia di deketin laki-laki lain, gue marah. Dia cuek gue pusing sendiri."
"Itu tandanya loe ada rasa sama bini loe walau gak segede rasa yang loe punya sama seseorang!!" Di singgung dengan kata 'seseorang'. Tangan Saga terkepal erat meremas pagar pembatas. Dia tahu seseorang yang di maksud temannya ini. "Loe berhak bahagia, buka pintu hati loe!!"
"Loe nasehatin aja diri loe sendiri. Loe aja belum bisa move on dari mantan pacar loe!!" Merasa di sindir Devano hanya tersenyum.
"Lah gue wajar mengharap dia yang belum jadi milik siapa-siapa. Loe? Masih ngarepin Nadine yang jelas-jelas sekarang nikah dan tinggal di USA sama abang gue!!"
"Jangan sebut lagi nama Nadine!!"
"Kenapa hati loe masih dag dig dug kalau ada yang sebut nama dia!!" Saga yang kesal memegang dadanya sendiri. Debaran itu masih ada walau tak sekencang dahulu.
"Bener-bener loe gak bisa move on. Loe brengsek, loe tidurin istri loe tapi di hati loe masih ada nama perempuan lain!!" Mendengar umpatan Devano, Saga jadi teringat kembali pada Senja. Apa kabar dia setelah Saga selama 3 hari? Apakah Senja membencinya? Apakah perempuan itu baik-baik saja setelah apa yang dirinya telah perbuat?
__ADS_1
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ