Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 27


__ADS_3

"Dia kakak kamu"


Tangis haru menggema di seluruh penjuru ruangan. Beberapa saat lalu keadaan masih tenang sebelum semua terungkap. Selama ini yang ada di benak Senja, dirinya hanya punya mamah dan papah yang telah tiada. Kenyataannya, dia punya seorang kakak laki-laki yang di besarkan oleh sang kakek.


Kenapa selama kini mamanya tak pernah cerita, membahas pun tidak. Senja tak ingin marah sebab dirinya tahu jika mamanya punya alasan kuat menyembunyikan rahasia sebesar ini. Troy langsung memeluk sang adik perempuan yang sangat dirindukannya. Baginya bertahan hidup untuk sekarang hanya demi Senja, satu-satunya saudara yang ia punya.


"Kakak!" Troy memeluk adiknya semakin erat. Panggilan yang selama ini ia nantikan akhirnya keluar dari mulut Senja. Tak ada yang lebih membahagiakan dari pada itu. Troy diterima dan disambut hangat.


"Aku gak tahu harus ngomong apa tapi aku bahagia karena aku punya kakak."


Troy di besarkan untuk jadi pemenang, sesakit apapun luka yang ia dapat. Tak pernah Troy menangis tapi air mata yang ia simpan lama di paksa turun. Troy menangis haru dan Dara yang menjadi penonton, ikut trenyuh. Si bayi besarnya yang kaku ini bisa juga menangis. Sedang Helen berdiri dengan mata sembab. Begitu kejamnya dirinya memisahkan sepasang adik kakak itu.


"Kenapa malah gak cerita kalau aku punya kakak?"


"Mamah gak bisa kasih tahu kalian. Karena kakek kalian, ayah dari ayah kalian mengancam akan menyakiti kamu dan mamah gak yakin kalau bisa memberikan kehidupan yang baik untuk Troy." Troy berdecih. Rasanya kehidupan baik yang selalu sang ibu ucap tak terjadi padanya. Hidupnya tak bahagia, ia di tuntut jadi pemenang, pemimpin dan tak boleh kalah. Troy di didik menggunakan rotan bukan belaian kasih sayang dari tangan seorang ibu. Jiwanya menjadi bengis dan tanpa belas kasihan sejak kecil.


"Alasan itu yang selalu mamah bilang padahal keputusan mamah udah nyakitin Troy. Troy merasa sendirian, gak punya keluarga lagi tapi sekarang lebih parah. Aku merasa dibuang, dan tidak diinginkan." Tak mudah memang memahami Troy. Senja tahu sang kakak tak pernah bermaksud menyakiti hati ibu mereka.


"Kakak," panggilnya lembut. "Mamah melakukan itu karena mungkin berpikir kalau itu yang terbaik buat kita dulu." Troy melengos, karena merasa semua orang berusaha membela sang ibu. Yang di matanya hanyalah seorang tersangka, penyebab penderitaan dan kesepiannya selama ini.


"Maafin mamah Troy. "Ketika tangan Helen terulur, Troy menepisnya. Bagi Troy ibunya sudah lama tiada semenjak Troy mencoba memeluk namun Helen malah tak mengakuinya sebagai anak. Anak durhaka karena para orang tua yang membuat salah dulu. Begitu yang ada dibenak Troy.


Troy beranjak pergi walau masih ingin berada dekat dengan sang adik. Keberadaan Helen membuatnya sesak. Rasa ingin disayang, dibelai, diperlakukan sebagai seorang putra terasa takut untuk ia cicipi. Troy berusaha menyelamatkan tangisnya di hadapan sang ibu, ia malu mengakui kalau sangat menyayangi orang yang telah melahirkannya itu .


"Troy!!" panggil Helen lantang tapi sang putra sudah beranjak keluar. Ingin mengejar rasanya tak pantas, mungkin putranya butuh sendiri.


"Udah tante." ujar Dara mencoba menenangkan. Diambilkannya sebuah kotak tisu dari meja untuk menghapus air mata Helen dan juga Senja.


"Troy orangnya agak keras, dari pada kita ngejar dia. Akhirnya cuma dapat bentakan atau akan jadi pelampiasan amarah."

__ADS_1


"Kamu siapa?"


"Saya Dara yang punya apartemen ini."


"Oh maaf kami menggangu kamu." Dara hanya mengembangkan senyum tipis. Apartemen ini memang miliknya tapi juga pemberian Troy.


"Enggak kok tante."


"Kamu sudah lama mengenal Troy?" Dara tersipu malu karena merasa kalau Helen bertanya layaknya mertua berbincang dengan menantu. Rupanya khayalan Dara terlalu melambung tinggi hingga lupa berpijak pada daratan.


"Cukup lama tante." Senja tahu arti senyuman dari Dara. Hubungan kakaknya dengan perempuan ini tentu istimewa. Ia bukan orang bodoh. Hampir setiap hari Troy selalu menginap, kemana kakaknya itu tidur? Tentu bukan di sofa, satu kamar di tiduri Senja tinggal satu kamar milik Dara. Dua orang berlawanan jenis tidur satu ruangan, tentunya bukan cuma tidur biasa.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Kamu yakin mau aku anter ke sana?" tanya Dara yang sudah duduk di mobil. Ia mengantarkan Helen pulang tentunya dengan Senja.


"Aku yakin," jawab Senja dingin


"Tak ada alasannya menghindar atau bersembunyi terus. Masalah harus dihadapi bukan malah kita berlari menjauh." Dara tak punya pilihan lain. Ia melanggar perintah Troy untuk menjaga adik pria itu. Dengan terpaksa Dara memutar kunci mobil, menyalakan mesin lalu menekan gas, membelah kepadatan jalan Raya.


Senja menyiapkan diri, dalam hati ia mantap masuk ke tempat tinggalnya ini namun ketika dihadapkan langsung. Tubuh Stella jadi gemetar, nyalinya mendadak gentar. Dengan lembut, Dara meraih buku tangannya.


"Aku temenin kamu masuk." Senja menganggukkan kepala, tanda dirinya memang butuh ditemani. Mereka keluar mobil lalu masuk berjalan ke arah bengkel Saga . Jam segini memang aktivitas bengkel sedang tak ramai tapi tetap saja ada penghuninya.


"Senja!!" pekik seseorang. Senja hanya diam tak mau menyahut. Lalu berjalan lurus menuju lantai atas.


"Maafin kami Nja." Angga menyusul jalan Senja yang agak cepat namun Dara menghadang langkahnya ketika Angga hendak naik tangga. "Tolong mbak menyingkir." Dara tak bergeming, sorot matanya begitu galak.


"Tunggu di sini aja mas, temen saya mau ngambil barang-barangnya terus pergi."

__ADS_1


"Tapi mbak..." Dara tetap berdiri tak berniat berpindah tempat. Sedang Senja di lantai atas, mengambil awut-awutan semua barang-barangnya. Mulai dari kertas skripsi, laptop, pakaian, cas, powerbank, sampai dengan alat make up yang jumlahnya tak seberapa. Ia masukkan semua barang ke dalam tas besar yang ia pinjam dari Dara. Setelah selesai. Ia menatap, meneliti setiap sudut kamarnya bersama sang suami.


Senja ingat bagaimana dulu merapikannya, membersihkannya, menata semua perabotan. Waktu itu dalam hatinya ia berharap memulai segalanya dari nol, kenyataannya hati Saga juga bernilai nol untuknya. Senja tak kuat lagi berlama-lama di sini, ia putuskan keluar kamar meninggalkan ruangan ini sebelum Saga datang. Alasan dirinya menghilang karena tak akan kuat bila melihat Saga meminta maaf atau bahkan memohon untuk kembali. Tapi kemudian Senja tersenyum pahit, pikirannya terlalu tinggi. Saga tentu senang penghalangnya bersama Nadine tak ada.


"Aku pergi, semua barangku udah aku ambil," pamitnya pada Angga, Gio, serta beberapa anak bengkel lainnya.


"Senja, kita mau minta maaf dan jelasin semua." Mata Senja memejam, hanya tangannya yang merentang ke udara. Pertanda dirinya tak menerima alasan apa pun. Penjelasan sepanjang apa pun percuma kalau kenyataannya hati Saga tak pernah untuknya.


"Cukup!! Aku cuma mau pergi." Dara maju membantu Senja membawakan barang. Namun langkah mereka menuju pintu terpaksa berhenti ketika melihat seorang laki-laki muda berdiri tergopoh-gopoh seperti habis berlari beratus-ratus kilo.


"Siapa yang ngijinin kamu pergi??" Senja hanya diam karena tak tahu mesti bagaimana. Kata yang keluar dari mulut Saga masih sangat berpengaruh.


"Kita mesti bicara!!"


Dara tahu kalau pria di hadapannya adalah suami Senja sekaligus musuh Troy. Fakta yang pasti sangat mengejutkan Dara, suami adik Troy adalah ketua gank Snipper.


"Kita mau bicara soal apa? Gak ada. Permainan kamu sama temen-temen kamu udah selesai." Senja enggan menurut kali ini, ia mantapkan hati untuk berjalan namun Saga tetap ngotot menahan.


"Banyak yang mesti kita omongin. Masalah perasaan aku dan juga taruhan itu." Senja tak tahu apa yang tengah ia rasakan. Hatinya sakit bagai di


sayat pisau, rasa sakit begitu nyata, rasa yang dengan cepat merambat ke mata dan memporak-porandakan pertahanannya.


"Yah bagi kamu pernikahan ini cuma mainan, hidup dan cinta seseorang cuma lawakan. Kenyataannya kamu bertaruh di atas perasaan seorang perempuan. Kamu mencintai Nadine. Harusnya kamu enggak berperan seolah-olah jadi suami baik kalau tujuannya hanya untuk mematahkan hati seseorang!!" Saga bisu, semua orang di sana hanya jadi penonton. Dara tahu kalau beberapa hari Senja banyak merenung serta melamun. Mungkin inilah puncak amarahnya. "Hanya karena taruhan kamu bertindak sejauh itu. Membuat seorang gadis jatuh cinta dan menyerahkan segalanya."


"Untuk taruhan itu aku minta maaf tapi untuk waktu dan kenangan kita aku merasa melakukan hal yang benar serta tulus dari hati. Bukan suatu kepura-puraan, aku menyukai kamu. Aku sadar hidup sama kamu adalah pilihan yang tepat." Saga maju hendak memeluk sang istri tapi dengan kuat Senja mendorongnya. Rasa suka tak akan pernah cukup. Senja merasakan cinta sepihak dan itu sakit.


"Kita gak akan bisa bertahan. Aku sudah ambil buku nikah kita. Aku akan urus semuanya." Senja pergi menjauh diikuti Dara. Di luar bengkel air matanya menetes dengan deras. Sedang Saga tak tahu harus mengusahakan apa lagi. Sang istri menutup telinga, tak mau mendengar, memasang wajah dingin tak bersahabat.


Agak lama otak Saga mencerna, mau di apakanΒ  buku nikah mereka tapi ketika sadar dan berlari pergi keluar. Mobil Senja telah pergi menjauh hilang di tikungan.

__ADS_1


🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳


__ADS_2