Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 16


__ADS_3

Senja masih tak menyerah membujuk Fara untuk datang ke pesta pertunangan Troy. Tapi Farah malah berjongkok sambil mulutnya di tekuk masam. Sakit hati boleh tapi jangan sampai hilang akal.


"Far, kita harus datang! Kak Arthur udah nungguin di luar. Gue gak enak sama dia." Senja menarik-narik tangan Farah untuk berdiri tapi kawannya itu masih enggan menurut. Ia ngotot berjongkok, malah seakan memaku tubuhnya dengan lantai. Fara layaknya anak kecil ngambek yang tak diberi ijin makan permen.


"Aku gak mau dateng, kamu gak ngrasain kan gimana perasaan aku. Coba misal Saga punya cewek lagi, sakit kan pasti?" Iya tentu sakit Senja sudah merasakannya. Tapi bukannya kita harus tetap melanjutkan hidup, meski hati kita lebam berdarah-darah. Tuhan masih memberikan oksigen untuk dihirup walau tuhan tak memberi obat penyembuh luka hati.


"Gue tahu, sakit rasanya! Tapi Troy bukan pacar loe, loe cuma ngidolain dia jadi loe percuma kalau ngambek apa lagi sampai nangis!!" Perkataan Senja memang agak kasar tapi cukup memukul Fara telak.


"Loe mau ikut apa nggak terserah!! Gue berangkat sekarang!!"


Belum sampai Senja melangkah, Farah sudah berdiri. Menahan dengan Menarik tangan sahabatnya. "Gue ikut!! Loe bener, gue yang berlebihan."


Senja tersenyum lega. Fara cepat sadarnya. Tak semua yang ada di dunia ini bisa kita gapai. Ada kalanya kita kecewa atau terluka namun percaya bahwa kekecewaan ataupun kegagalan akan mendewasakan kita. Cinta hadir silih berganti, tinggal mencari yang tepat untuk dipilih. Tapi sepertinya setelah malam kemarin cinta Senja jadi tak punya pilihan. Apa ada lelaki yang mau bersama Senja yang tak suci lagi.


πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰


Ballroom hotel Hyatt Jakarta di dekorasi warna merah hati, emas dan juga putih. Ada beberapa hiasan bunga yang di pajang di beberapa sudut ruangan. Tak lupa dengan pengawalan beberapa security di berbagai penjuru hotel. Nampaknya yang bertunangan bukanlah anak orang biasa. Dekorasi hotel begitu mewah dan megah. Bahkan tamu yang masuk harus membawa kertas undangan.


"Tahu gini, tadi gue dandan habis-habisan. Biar Troy nyesel gak milih gue."


"Farah...."


Mendengar percakapan kedua gadis muda yang sedari tadi duduk di belakangnya, Arthur menahan tawa. Ia baru tahu kalau Faradilla itu termasuk fans garis keras Troy. Gadis itu tak berhenti mengomel, mengatakan tak iklas dan tak memberi restu. Memang Fara itu siapa Troy, emaknya?


"Tenang aja, Troy di jodohin. Jadi pertunangannya kemungkinan batal suatu hari nanti."


Fara yang awalnya malas-malasan berjalan kini mempercepat langkahnya untuk menyamai Arthur. Mengorek informasi dari laki-laki itu. "Beneran? Kesempatan aku masih terbuka lebar dong?"


"Bukannya kesempatan kamu masih terbuka lebar selama janur kuning belum melengkung bisa di tikung?" Fara tergelak, tak menyangka selama ini menangisi hal yang sia-sia. Troy kan cyma bertunangan bukan menikah. Karena terlalu sibuk bercanda dengan Arthur. Mereka sampai melupakan keberadaan Senja yang tertinggal jauh ke belakang.


Bukan langkah Senja yang kurang lebar. Ia seperti melihat ibunya, Helen datang tapi setelah di telusuri kembali. Senja tak menemukan keberadaan ibunya. Apa ia yang salah lihat?.


Karena terlalu sibuk dengan lamunannya. Ia terperanjat kaget saat bahunya ditepuk oleh seseorang.


"Senja?"


"Papah?"


"Ngapain kamu di sini?" tanya Hermawan Aditya, sang mertua. Ia senang melihat Senja ketika hendak menuju aula utama. Tapi kenapa Hermawan tak melihat putranya di manapun ya? Apa Senja datang sendirian.

__ADS_1


"Yah karena Senja di undang sama Kak Troy. " Hermawan terbelalak kaget namun dengan cepat ia menyembunyikan keterkejutannya. Hermawan tak menyangka Troy akan mengenal Senja sebagai teman. Memang insting sebagai saudara tak akan bisa dipisahkan. Cepat atau lambat, mereka akan tahu malau mereka terikat hubungan darah dan saat itu tiba. Hermawan akan jadi penonton bagaimana hancurnya si tua bangka Wisnu.


"Kalau papah?"


"Papah kolega keluarga Troy makanya datang"


"Papah datang sendirian?"


"Nggak, papah kemari sama mamah." Itu pasti, kalau di undang ke suatu pesta pasti yang datang sepasang. Hanya Senja yang datang seorang diri tanpa suami. "Yuk, gabung sama kamu. "


Senja harus menolak, hubungannya dengan ibu mertuanya tak baik. Ia tak mau merusak acara. Lebih baik mencari Fara dan Arthur lalu bergabung dengan keduanya.


"Nggak kebetulan, aku udah di tunggu temen pah. Aku duluan. "


Langkah Senja mulai manjauh. Ia bahkan seperti tak siap jika mertuanya akan menanyakan kabar Saga. Hubungan keduanya saat ini sedang tak baik. Bahkan ia tak tahu kemana suaminya pergi setelah malam panas itu.


Troy merupakan ketua geng motor Redbulls turut mengundang beberapa leader geng motor yang ada di berbagai kawasan di Jakarta termasuk juga rivalnya, geng Snippers. Untuk menghargai etiket baik Troy. Saga datang bersama beberapa kawannya tapi melihat pesta ini begitu ramai dan penuh undangan. Ia jadi ingin segera pergi.


"Sebenarnya gue malas kesini, ngapain sih datang ke acaranya Troy? Pakai baju formal juga." Saga mulai menggerutu dan protes kepada kawan-kawannya yang membujuk keras supaya datang menghadiri acara pertunangan Troy. "Kan gue udah bilang, suruh Devano aja yang datang ke acara resmi macam ini."


"Yang di undang itu loe kalau yang datang Vano namanya kita cari perkara. Kesannya kita gak menghormati Troy. Jangan rusak suasana damai antar dua geng. Lagi pula gak ada salahnya, toh di sini ada banyak makanan gratis."


Acara apa intinya sudah dimulai. Saatnya Troy menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis Vivian Elizabeth Sutekja. Perempuan yang akan menjadi tunangannya entah berapa lama. Troy melirik sengit kepada kedua orang tua yang duduk bersisian dengan keduanya. Aura jelas terpancar tapi bukan dari wajah Troy.


"Aku doa'in tuh cincin glinding kemari dan aku yang nemu terus aku umpetin supaya mereka gak jadi tunangan!"


"Fara..." Ucap Arthur dan Senja secara bersamaan sedang Farah sudah tertawa jahat tapi seketika tawanya sirna dan tenggelam tatkala mendengar riuh tepuk tangan para tamu undangan.


"Kita ke kak Troy ngucapin selamat yuk." Ajak Senja semangat. Sedang Fara melirik tajam ke arah sang sahabat.


"Males," jawab Fara ketus.


"Nanti aja, tuh yang ngasih selamat antrinya panjang. Kita nyicip kue dulu."


"Dari tadi kak Arthur nyicip kue terus."


"Buat referensi cafe. Siapa tahu ada kue yang menarik bisa di jadiin menu."


"Heem, bener tuh Senja. Gue juga mau cari kue coklat. Katanya kan coklat bisa balikan mood gue yang ancurr!!" Senja akui coklat batangan menjadi teman setia dan pengobat patah hatinya saat Saga meninggalkan beberapa hari ini. "Gue cabutt cau...!!"

__ADS_1


Tawa Arthur meledak. Tak disangka sahabat dari Stella bisa selucu itu jika tengah patah hati. Dari mereka berangkat. Farah tak berhenti mengoceh dan menggerutu padahal kalau boleh jujur Troy saja sama sekali tak pernah melihat atau tertarik pada Farah. Membicarakan anak itu juga tak pernah.


"Temen kamu udah berapa lama ngefans sama Troy?"


"Dari dia masuk kampus, Farah ngefans berat sama Troy."


"Gak kebayang kalau Troy tahu. Anak itu bisa ketawa gak berhenti-berhenti. Jujur ya, Farah itu bukan tipe Troy." Bukan tipe Troy? Apa alasan Itu bisa membuat Farah berhenti mengharapkan Troy untuk jadi pacarnya. Setahu Senja , Farah bukan perempuan yang gampang menyerah. Bukannya cinta tak mengenal tipe.


"Lalu tipe kak Troy kayak gimana? Siapa tahu Fara bisa menuhi kriteria kak Troy?" Tak ada salahnya sedikit membantu kan.


"Emang bisa kamu rubah Farah jadi kayak kamu?"


"Hah?"


"Tipe Troy gak jauh-jauh dari kamu tapi tenang dia gak naksir kamu." Raut wajah Senja yang sempat tegang berubah tenang. Ia tadi memikirkan kemungkinan terburuk, kalau-kalau Troy menyukainya. Senja bisa dimusuhi Farah seumur hidup.


Sedang Saga yang malas mengambil makanan hanya berdiri memegang segelas sampaigne. Tak ia teguk hanya didiamkan. Bingung harus melakukan apa? Maju ke depan memberi selamat Troy, Saga malas. Makan seperti kawannya yang lain ia enggan, perutnya terasa kenyang.


"Ga, bini loe ada di sini?"


"Mana?" Mata liar Saga mencari keberadaan Senja namun nihil. Semua tamu wanita di sini terlihat sama. Berdandan dengan make up tebal dan mengenakkan gaun.


"Arah jam 2!!" Mata Senja terarah pada satu titik. Ia melihat seorang perempuan berpostur seperti istrinya sedang membawa piring kecil. "Yang pakai baju warna biru laut."


"Gue tahu!!"


"Dia sama cowok yang beberapa hari ini nganterin dia selama loe gak ada." Saga terperanjat kaget lalu matanya melihat wajah laki-laki yang ada di samping Senja. Itu Arthur, bos istrinya dan juga laki-laki yang membuatnya merasa cemburu. Cemburu? Benarkah yang ia rasakan. Ia kesal ketika menatap Senja yang tertawa lebar atau berinteraksi dengan Arthur. Mereka terlihat serasi. Serasi? Tidak tentu saja tidak. Senja itu istrinya, miliknya. Karena hatinya di lingkupi rasa kesal, Saga dengan tergesa-gesa meminum segelas sampaigne dengan sekali teguk.


"Apa mereka deket?" tanya Saga dengan nada bicara sedikit membentak.


"Eh? Tanyanya slow aja kali." Saga tak bisa tenang bila melihat miliknya di usik. Dengan kasar ia mencengkeram kerah kemeja Angga.


"Mereka seberapa dekat??" Teriaknya lagi. Kali ini lebih keras sampai beberapa orang melihat ke arah mereka.


"Gue... gak tahu, mungkin deket banget. Soalnya Senja selalu di anter sama tuh cowok." Emosi Saga sudah naik ke kepala. Ia menghempaskan tubuh Angga dengan kasar. Sialan dia kecolongan. Senja cuma ia tinggal beberapa hari tapi celah itu dimanfaatkan Arthur untuk mendekati wanitanya.


Mata Saga tajam seperti silet yang akan membelah tubuh Arthur. Ia jelas tak suka Senja dekat dengan laki-laki manapun. Senja itu istrinya, istri yang ia nikahi beberapa bulan lalu. Ia tak rela jika secuil tubuh Senja ada yang menyentuh. Setelah mereka melalui malam yang panas, Saga mengklaim bahwa jiwa dan raga Senja hanya miliknya, hanya punyanya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2