Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 26


__ADS_3

Devano mengawasi bengkel tempat anak Snipers biasanya berkumpul. Sudah lama ia tak kemari semenjak dirinya tahu kalau Senja itu milik Saga, lebih tepatnya istrinya. Butuh waktu yang lama untuk mengembalikan hatinya yang remuk menjadi siap ketika bertemu mereka .


Devano tersenyum miris, beginikah rasanya jadi Senja dulu? Devano merasa terkena karma. Seperti biasaΒ  ia memikirkan mobilnya pada sebuah pohon besar depan bengkel. Dengan pelan dan tak bertenaga. Ia menuju bengkel namun saat menyebrang jalan, Devano bertemu dengan seseorang.


"Nadine?" Panggilnya tak percaya.


"Vano!!,"


"Kamu kok bisa ke sini?" Nadine hanya tersenyum tak enak sambil meremas jarinya sendiri. Selama ini ia belum pernah sekalipun pulang ke rumah atau mengunjungi mertuanya.


"Ceritanya panjang." Nadine jujur agak sulit menjelaskan. "Loe ke sini mau nongkrong?"


"Iya. Loe sendiri?" Melihat Nadine berada di bengkel, perasaannya jadi tak enak.


"Gue mau ngasih makanan buat Saga." Mereka masih menjalin hubungan rupanya, Nadine dan Saga. Dulu keduanya tak terpisahkan, tentu bukan sebagai pasangan. Devano tahu rasa cinta Saga bertepuk sebelah tangan. Hanya saja cinta pertama susah di lupakan dan gawatnya Saga masih menyimpan rasa cintanya untuk Nadine hingga kini. Devano mengikuti langkah Nadine masuk bengkel. Saat mereka masuk hawa canggung kental sekali. Anak-anak Snipers yang biasanya santai berubah agak murung.


"Saga ada?" Mereka yang ditanya hanya diam dan saling pandang.


"Gak ada, " Jawab Gio ketus sambil terus mengotak-atik motor dengan obeng.


"Kemana dia?" Gio tiba-tiba membanting obeng yang ia gunakan untuk membuka mesin.


"Din, sampai kapan sih loe datang ke Saga dan bikin keyakinannya oleng?" Semua yang di sana memandang Gio tak percaya, apalagi Devano yang juga terkejut. Gio sekasar dan sekeras itu saat bicara dengan perempuan.


"Maksudnya apa ya? Gue gak ngerti apa yang kalian omongin." Nyatanya Nadine memang tak pernah tahu, apa yang menjadikan keadaan begitu genting. Memang apa yang terjadi dengan Saga.


"Loe jadi cewek harusnya peka dong!!"


"Yo..," Angga memperingatkan.


"Apaan sih loe, biar gue bilangin ama mbak-mbak kurang peka ini. Kehadiran dia bikin rumah tangga Saga hancur. Dia datang sebagai temen atau musuh dalam selimut?"


"Jaga ucapan loe, gue gak ngerti apa yang kalian maksud. Gue datang sebagai saudara Saga. Jangan mikir negatif pakai pikiran loe yang sempit itu." Nadine sejak dulu selalu bersama Saga dan tak pernah jadi masalah. Kalau rumah tangga Saga merasa terganggu atau Senja merasa cemburu, itu masalah Senja sendiri yang punya pikiran terlalu picik. Nadine hadir sebelum Senja ada di hidup Saga.


"Dine, loe pernah sadar gak selama ini Saga suka sama loe, dia cinta sama loe!!"


"Itu cuma masa lalu, cinta monyet!!" Gio berdecih sambil berkacak pinggang.


"Pikiran loe yang terlalu sempit. Loe gak ngerasa kalau Saga kelewat baik sama loe karena dia masih suka sama loe. Apa emang loe yang sengaja manfaatin kebaikan Saga biar bisa nemenin loe kemana aja dan lupa sama istrinya. Kalau itu yang loe mau loe berhasil, selamat Senja sama Saga sekarang udah pisah." Nadine tertegun begitu juga Devano. Ini merupakan kabar baik atau buruk untuknya ya? Di hati kecil Vano berharap kalau Senja akan kembali ke pelukannya.

__ADS_1


"Jangan sok gak tahu gituh mukanya. Loe datang gak mungkin gak ngrencanain apa pun." Gio yang di liputi rasa marah, tak peduli jika Nadine akan tersakiti dengan perkataannya.


"Gue gak tahu kalau kedatangan gue bisa ngerusak rumah tangga Revan, gue gak seperti yang loe pikir." Nadine berbalik pergi setelah meletakkan bungkus makanan yang ia bawa. Lebih baik beranjak dari pada mendengar fitnahan keji. Pikirannya berkecambuk antara percaya atau tidak dengan perkataan teman Saga. Saga mencintainya, dan meninggalkan Senja untuk dirinya. Nadine merasa jahat, karena kehadirannya mendatangkan bencana pada rumah tangga orang lain.


Devano masih berdiri, mengorek informasi di sini lebih baik dari pada harus mengejar kakak iparnya. Harusnya sebagai perempuan Nadine lebih perasa dan peka. Cinta di mata Saga begitu nyata masak tak terlihat. "Apa bener Senja pergi dari rumah gara-gara Saga masih suka sama Nadine?"


"Gak semua yang di omongin Gio bener, Senja pergi sebenarnya karena dia tahu taruhan itu." Dahi Vano berkerut berkali-kali lipat.


"Taruhan apa?"


"Taruhan Saga dapatin Senja selama dua bulan." Tangan Devano refleks mengepal dan memukul lemari penyimpanan oli.


"Brengsek!!" Devano ingat Saga pernah menceritakan tentang taruhan itu. Vano tak tahu jika Senja adalah istri Saga kalau dia tahu sudah Vano remukan rahang sepupunya saat mengatakannya. Jelas saja ia marah, Devano berusaha mengiklaskan Senja dengan Saga agar bahagia bukan malah dikecewakan.


"Iya Saga emang brengsek, bininya baik banget malah dia masih mengharap cintanya Nadine. Senja minggat, bagus itu dari pada sakit hati, " Ucap Gio menimpali.


"Dimana Saga sekarang?" Tanya Vano dengan raut muka marah, tangannya sudah gatal memberi pelajaran.


"Pamitnya cari Senja tapi gue gak yakin dia nyari beneran." Devano tak peduli lagi, ia berbalik pergi untuk mencari keberadaan si keparat itu namun setelah sampai di depan mobilnya. Ia termangu, di saat keadaan kacau seperti ini harusnya ia tak mengurusi Saga . Harusnya ia mencari Senja, memberi gadis itu obat patah hati dan hiburan.


Vano tahu di saat Senja menderita dan sakit hati ada harapan untuk mereka agar bersama lagi. Setelah di pikir-pikir ia harusnya bersyukur Senja meninggalkan Saga karena kehadiran Nadine.


🐭🐭🐭🐭🐭🐭🐭🐭🐭🐭


"Ahhhhhh......!!!!"


Troy akan menghancurkan kepala Saga dengan tangannya sendiri. Air mata adiknya harus di bayar dengan nyawa laki-laki itu. Tapi sebelum semua keinginan Troy terwujud, ia harus menemui seseorang terlebih dahulu untuk mengungkap semua. Senja harus tahu kalau mereka bersaudara.


"Troy." Troy yang emosi menahan pintu rumah sang mamah. Tak peduli jika wanita paruh baya itu tengah kesusahan atau kesakitan sekali pun.


Brakk


Pintu terdorong, dan Helen terjengkang di balik pintu. "Mau apa kamu ke sini? Bukannya semua sudah jelas."


"Aku mau mamah jelaskan semua ke Senja kalau aku kakaknya!!" Perintahnya arogan, walau Helen ibunya sendiri Troy tak menaruh hormat lagi. Helen kesusahan berdiri namun Troy menguatkan hati agar tak berbelas kasihan.


"Buat apa? Biarkan adik kamu bahagia dengan rumah tangganya."


"Bahagia?" Troy tertawa miris, ia tergelak sampai mau menangis. "Bahagia apa yang mamah maksud? Bahagia mana yang katanya mamah janjikan? Mamah kira uang bisa membeli bahagia dan tawa?"

__ADS_1


"Apa maksud kamu? Tentu saja Senja bahagia dengan keluarga barunya."


"Dia sekarang nangis, dia gak bahagia, dia sedih, suami yang mamah pilihkan ternyata gak mencintainya, keluarga yang mamah agungkan ternyata gak menerima dia. Apa mamah tahu adik aku hidup sama suaminya di bengkel kecil bukan rumah besar yang mamah bayangkan!!" Mata Helen yang indah itu membulat tak percaya. Troy hanya mengarang, anak perempuannya tak akan mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Herman sudah berjanji akan memberi putrinya apa pun dan tentu bahagia juga ada di dalamnya.


"Kamu bohong, kamu kira mamah akan percaya dengan apa yang kamu katakan!!" Troy yang kepalang emosi langsung menarik tangan mamanya dengan kasar. Ia menyeret ibu kandungnya masuk mobil tak peduli jalan Helen sudah terseok-seok sampai lupa memakai alas kaki .


"Mau kamu bawa kemana mamah? Lepas Troy, kamu gak bisa semena-mena sama mamah. Bagaimana pun juga mamah tetap mamah kamu!!" Ancaman mamanya hanya angin lalu. Troy seolah tak peduli dengan teriakan atau amukan sang ibu. Biar ia di panggil anak durhaka, nyatanya sebelum ia berlaku semena-mena. Ibunya terlebih dulu seenaknya memisahkan dirinya dengan sang adik. Membuat ia tumbuh tanpa kasih dan cinta, hatinya jadi beku dan tak berperasaan. Di dalam otaknya cuma memikirkan bagaimana caranya supaya menang dan juga memiliki kedudukan tinggi.


Mobil Troy akhirnya masuk dan berhenti di sebuah basement apartemen. Helen menarik nafas lega dan tak berteriak lagi. "Mamah gak mau tahu keadaan Senja. ?"


Tanyanya saat sudah keluar mobil dan berjalan menuju lift.


"Apa maksud kamu?"


"Ikut aja ama Troy kalau mamah ingin tahu." Dengan terpaksa, Helen mengikuti langkah Troy walau ia malu melihat penampilannya yang berantakan dan tanpa alas kaki di kotak lift. Helen layaknya gembel yang bersanding dengan seorang eksekutif muda. Dia jadi ingat waktu pertama kali bertemu Prasetya. Kalau di pikir-pikir kesalahannya hanya satu mencintai pria yang salah dan memilih hidup bersama dengannya walau perbedaan mereka begitu banyak.


Ting


Lift berhenti, memaksanya untuk melangkah mengikuti sang putra. Troy pantas tak suka padanya, anaknya benar sebelum seorang anak durhaka, orang tua terlebih dulu melukai mereka.


Ceklek


Dara heran ketika melihat Troy datang dengan seorang wanita paruh baya. "Senja masih di kamar kan?"


"Enggak, dia ada di meja makan." Setelah mendapat jawaban, Dara di lewati begitu saja. Helen makin penasaran dengan pasti yang terjadi dengan putrinya, kenapa Senja bisa menginap di tempat putranya dan siapa perempuan muda di depan pintu tadi. Segala pertanyaan bersarang di pikiran tanpa bisa di utarakan. Helen takut mendapatkan jawaban yang bisa membuatnya terkena serangan jantung.


"Senja?" Yang merasa di panggil menengok.


"Mamah?" Entah kenapa Senja yang Helen temui begitu berbeda. Anak perempuannya terlihat pucat, sayu dan kurus. Apa yang terjadi, kenapa perasaannya jadi was-was. Hatinya yakin Senja dalam masalah. "Mamah kok bisa kok ke sini?"


"Mamah harus ngomong yang sebenarnya."


"Gak sekarang Troy"


"Troy gak mau mamah alesan lagi." Mamah? Senja heran, Kenapa Troy memanggilnya ibunya juga mamah.


"Ada apa mah? Kenapa kak Troy manggil mamah itu juga mamah?


"Senja sebenarnya..."

__ADS_1


Semua pasti terungkap, Helen harus mengakui dengan mulutnya sendiri. Kalau mereka bersaudara. Tapi bagaimana dengan Wisnu, kakek Troy. Apa pengakuan Helen tak membuat si tua murka.


🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏


__ADS_2