Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 37


__ADS_3

Dara menarik nafas, menyiapkan diri laluΒ  banyak berdoa. Ia berjalan mondar-mandir dan penuh was-was. Troy itu kalau ngamuk menakutkan bahkan mungkin sampai bisa memukulnya. Bel berbunyi, ini sudah jam 5 sore. Biasanya pria itu akan pulang jam segini.


"Troy?" Dara berlaku baik, ia meraih tas Troy lalu menyuruh laki-laki itu masuk dan membuka alas kaki. "Kamu udah makan? Mau aku siapin air panas?"


"Mana Stella?" Dara kira perhatiannya bisa mengalihkan pikiran pria ini dari sang adik.


"Begini..." lambat laun juga akan ketahuan, tapi lebih baik Dara mengarang cerita. "Stella kabur dari apartemen. Dia di bawa Revan."


Tentu saja Dara takut. Ia bilang dengan nada yang di buat lirih Nan lembut namun tetap saja amarah Troy tak sapat di antisipasi. Pria itu malah mencengkeram lengannya keras menuntut sebuah alasan logis. "Gimana adik gue bisa kabur? Ada dua bodyguard yang gue suruh jaga!!"


"Aku gak tahu. Tapi dia yang rela pergi sama suaminya atas kemauan sendiri!!" Bukannya Troy tenang, ia malah melepas setengah melempar tubuh Dara hingga terjatuh ke lantai.


"Kalau sampai ketahuan kamu yang bantu adikku pergi. Maka aku gak segan-segan bikin perhitungan sama kamu!!" Ancamnya yang dapat membuat tubuh Dara bergetar hebat. Ia jelas ketakutan, Troy mungkin akan mencincangnya jika sampai pria itu tahu. Dara ada di balik kepergian Stella.


🐱🐱🐱🐱🐱🐱🐱🐱🐱🐱🐱🐱🐱


Selama perjalanan Senja lebih banyak tidur. Wanita hamil itu tak tahu dan tak peduli mereka akan sampai dimana dan akan tinggal dimana setelah kabur. Fajar menyingsing, mobil Saga mulai menepi di suatu tempat. "Sayang, kita udah sampai."


Saga menepuk pipi istrinya dengan lembut. Perlahan Senja terjaga, agak menyipit kala melihat cahaya semburat jingga matahari pagi. "Kita dimana?"


"Kita udah ada di depan rumah yang mau kita sewa."


"Kita sekarang dimana? Maksud aku, kamu bilang kan di luar kota. Luar kota mana?"

__ADS_1


"Kita ada di kota Semarang." Senja tertegun. Matanya yang enggan terjaga sempurna kini melebar karena saking terkejutnya.


"Udah jauh dari Jakarta?"


"Heem..." Saga meregangkan otot. Untung jalan tol sudah di bangun jadinya perjalanan Jakarta-Semarang tak memakan waktu lama. "Aku hubungi pemilik rumahnya dulu."


Senja turun dari mobil mengamati sebuah rumah yang cukup sederhana dan berada tepat di sebuah pinggiran jalan Raya. Rumah yang amat kecil bila di bandingkan rumah Saga yangΒ  ada di Jakarta. Ah suaminya, apakah betah tinggal di sini?


"Maaf mas, saya baru nyuci tadi. Gak tahu kalau masnya udah datang." Seorang ibu paruh baya, berjalan mendekati mereka sambil membawa kunci rumah. Senja tahu mungkin ini pemilik rumah yang mereka sewa.


"Gak apa-apa buk. Kenalkan saya Saga dan ini istri saya Senja." Ibu pemilik rumah menyalami keduanya.


"Saya Ratmi, pemilik rumah. Dulu ini rumah punya anak saya. Tapi kan mereka udah pindah karena dapat kerja di Kalimantan. Kalau ada apa-apa ke sana aja." Tunjuknya pada sebuah rumah sekaligus toko kelontong. "Itu rumah saya mas."


"Iya buk." Sepasang suami istri itu pun masuk rumah yang akan mereka tempati setahun ke depan. Rumah mungil yang nanti akan di hiasi banyak tawa karena kehadiran si kecil yang tengah meringkuk dalam rahim sang bunda.


Setengah tahun mereka lewati bersama. Berada di dalam kota yang jauh dari Jakarta. Susah senang mereka lalui, walau lebih banyak susahnya. Memulai kehidupan jauh dari sanak saudara serta kawan, tidaklah semudah yang ada di angan.


Saga memulai usaha kecilnya, sendiri kemudian tiga bulan lalu menambah satu karyawan. Kandungan Senja kini juga sudah melampaui angka tujuh bulan. Tinggal menunggu si kecil lahir ke dunia ini.


"Aku udah hubungi Fara. Ijazahku akan di kirim via paket kilat." Saga yang sedang makan malam, tiba-tiba kehilangan nafsu makan. Ia lupa jika harusnya istrinya wisuda bulan Desember kemarin.


"Maaf ya. Gara-gara aku ngajak kabur kamu. Kamu gak bisa wisuda." Senja hanya mengulas senyum sambil mengelus perutnya yang buncit.

__ADS_1


"Ah gak apa-apa. Ijazahku juga udah keluar." Ia tak bilang saja kalau yang mengurus administrasinya itu sang mamah, Helen. Keuangan mereka belumlah stabil walau tak kritis juga. Untunglah suaminya tak menanyakan soal pembayaran.


"Kamu gak berencana kerja kan setelah lahiran?"


Senja menggigit bibir bawahnya. Ia sebenarnya mau membahas ini. "Aku mau kerja setelah lahiran. Kita tahu kalau ada anak kebutuhan kita banyak. Lagi pula Bude Ratmi katanya mau ngasuh anak kita nanti."


Saga mengeratkan pegangan pada sendok. Ia tak setuju jika istrinya bekerja lalu Meninggalkan bayinya yang masih merah dan membutuhkan pasokan ASI. "Aku gak setuju kalau kamu kerja."


"Tapi kebutuhan kita ke depannya akan tambah banyak. Bukannya aku meragukan kemampuan kamu untuk memenuhi kebutuhan kita. Kenyataannya ekonomi kita belum stabil. Kita aja masih ngumpulin uang buat lahiran." Tidak cuma itu selama ini Senja juga memeriksakan kehamilannya hanya ke bidan desa. "Kamu jangan mementingkan ego. Aku tahu kamu kepala rumah tangga, wajib nafkahin aku tapi gak ada salahnya kan aku bantu-bantu."


"Terserah!! Kamu mau ambil keputusan gimana." Saga pasrah. Ia merasa tak begitu berguna sebagai suami. Saga juga minder, secara pendidikan Senja lebih tinggi. Andai dulu ia serius kuliah pastinya sekarang ia sudah dapat ijazah S1 dan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak serta bergaji mencukupi.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Saga panik ketika tengah malah istrinya mengalami kontraksi. Maklum lah mereka hanya berdua saja di kota ini. Tak ada yang merebisa mintai tolong kecuali Ratmi. Ibu pemilik rumah. Senja di antar ke bidan dengan naik mobil pick up. Selama di perjalanan, Senja banyak meringis kesakitan dan terus menyebut mamanya.


"Mas, apa gak sebaiknya menghubungi mamanya mbak Senja atau masih hubungi keluarganya." Ragu menyergap. Selama ini Helen dan Senja tak putus kontak. Tapi ia benar-benar takut jika Troy tahu, dan memaksa membawa sang istri pergi.


"Iya bik, mungkin besok mamanya baru datang," jawabnya bohong. Senja sudah sampai di pembukaan sepuluh dan siap untuk melahirkan. Saga menunggu di luar Karena tak tega mendengar Senja berteriak dan mengerang kesakitan. Andai bisa, ia mau menggantikan sang istri di dalam sana.


"Oek... oek... oek..."


Suara tangis kencang seorang bayi menggema. Saga tahu anaknya telah lahir dengan selamat. Ia sendiri tak tahu jenis kelaminnya apa. Laki-laki atau pun perempuan muda, ia rasa sama saja.

__ADS_1


"Pak anaknya laki-laki. Di adzani dulu ya pak?" Saga menangis haru tatkala menerima bayi merah yang terbungkus kain. Anaknya laki-laki, anak pertamanya biah cintanya bersama Senja. Ia dan sang istri telah sepakat. Bila laki-laki, mereka akan memberinya nama Regan. Nama sederhana namun dalam artinya.


🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2