Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 11


__ADS_3

Troy kira perjodohannya dengan Vivian hanya isapan jempol belaka tapi ternyata kakeknya sudah menyiapkan pertunangannya dengan gadis itu jauh-jauh hari. Mulut Troy bisa mengatakan iya tapi hatinya tidak. Ia tak mencintai Vivian bahkan gadis mana pun. Yang bisa Troy lakukan hanya melampiaskan Kekesalannya pada barang-barang dan alkohol. Troy muak dengan hidup yang dijalaninya. Ia ingin bebas melakukan apa saja atas keinginannya sendiri bukan hidup bagai robot selalu terlihat sempurna di depan sang kakek padahal jiwanya menangis pilu.


"Tuan muda, anda kenapa?" tanya Ismail, kepala pelayan di rumah Troy. Pria paruh baya yang selalu melayaninya.


"Paman, Apa ini juga hidup yang ayah yang jalani?" Pria paruh baya yang berumur hampir setengah abad itu nampak mengerutkan dahi tapi tak bergeming dari tempatnya. Hidup Tuan muda Prasetya lebih enak karena Nyonya besar pada saat itu masih hidup.


"Maksut tuan?"


"Hidup serba diatur. Hidup bagai bidak catur dengan kakek sebagai pemainnya. Pantas ayah pergi ninggalin kakek kalau aku ada di posisi ayah, aku juga akan pergi." Ismail termenung sejenak, lalu menghembuskan nafas berkali-kali. Ini alasan kenapa tuan Wisnu selalu ditinggalkan. Pria tua itu selalu berpikir berhal atas hidup anak cucunya.


"Bagaimana anda bisa egois, meninggalkan orang yang telah membesarkan anda?"


"Dia tidak membesarkanku, tapi memeliharaku, membentukku jadi apa yang dia mau bahkan kakek lupa kalau aku hanya manusia biasa yang punya hati dan keinginan," ungkap Troy dengan nada yang putus asa.


"Apa aku ikut ayah, mamah dan Lala meninggalkan dunia ini. Biar kakek senang bisa menikmati hartanya sendiri."


"Tuan kenapa bicara seperti itu? Nanti tuan besar bisa sedih."


"Apa gunanya aku hidup kalau aku tak bahagia. Sebanyak apa harta yang aku miliki tak bisa membuatku bebas dari aturan kakek. Harusnya aku ikut mati saja bersama keluargaku yang lain. Aku ingin mati, aku sudah tak tahan, tak ada alasan lagi yang bisa membuatku hidup." Troy terus meracau dengan sebotol alkohol di tangannya. Ismail yang melihat tuan muda yang diasuhnya dari kecil hancur, ia pula ikut sedih. Tuan besar tega sekali memperlakukan cucunya seperti ini. Ismail tahu Troy diasuh tak dengan kasih sayang tapi dengan bentakan dan cambukan dari Tuan Wisnu. Agar Troy jadi anak penurut tapi singa yang di ikat terlalu kencang bukankah malah semakin ingin melepaskan diri.


"Kalau anda memiliki alasan untuk bertahan hidup. Apakah Anda akan dengan rela dan ikhlas menerima nona Vivian?" Troy malah tertawa terbahak-bahak. Alasan apa yang Ismail punya membuatnya bisa kuat menjalani hidup.


"Mari ikut dengan saya tuan muda, tapi sebelum itu. Anda sebaiknya mandi dan memperbaiki dandanan anda saat ini." Ismail melihat penampilan Troy yang sangat kacau, bau alkohol yang menyengat, meskipun tuannya tampan tapi tetap saja penampilannya tak sedap dipandang.


Troy tak ingin menuruti Ismail tapi entah kenapa ia malah menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Hatinya berkata apa yang akan pria paruh baya itu tunjukkan benar-benar penting.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Hari ini hari bahagia untuk mamah Senja. Helen dan Adam akan melaksanakan ijab kabul. Helen yang memakai kebaya putih sedang didandani. Senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Baru kali ini Senja melihat mamahnya begitu bahagia. Ia bertugas di garda depan untuk menyalami tamu yang datang mengucapkan selamat. Pernikahan kedua ibunya dilakukan sederhana, cuma mengundang tetangga dan kerabat dekat.


"Kamu senang dengan pernikahan mamah kamu?" tanya Saga yang


menemani Senja. Ia tak tahu harus menjawab apa tapi yang penting kini adalah kebahagiaan sang ibu. Masalah pihaknya yang kurang setuju. Senja 'kan sudah keluar rumah dan jadi istri Saga. Kegenitan Adam tak ada pengaruhnya sama sekali.


"Ada alasan aku harus gak bahagia?" tanyanya balik sewot. Hari ini Senja juga begitu cantik dengan make up natural dan memakai kebaya biru laut. Saga tak bosan melihat wajah istrinya yang selalu memancarkan keteduhan


"Ituh orang yang sebentar lagi jadi ayah kamu udah datang." Mereka serempak berjalan ke depan, menyambut rombongan Adam masuk ke halaman rumah. "Kamu tenang aja selama ada aku, dia gak akan berani macam-macam atau deketin kamu." Senja malah tersipu malu sekaligus tersenyum geli.


"Kamu apaan sih!! Aku panggil mamah dulu udah selesai dandan apa belum?" Senja bergegas Naik membawa Helen turun dan Saga dengan muka ditekuk masam menyambut calon ayah mertuanya. Sekedar basa-basi busuk ia menjabat tangan Adam dengan meremasnya keras. Sekalian memberi peringatan keras pada om-om tua bangka ini supaya tak berbuat macam-macam kepada istrinya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Mata Troy mengawasi sebuah rumah sederhana yang dihiasi janur kuning dan berbagai macam bunga mawar melalui kaca jendela hitam mobil. Tampak dari luar, rumah ini sedang mengadakan pesta pernikahan. Lantas kenapa kepala pelayannya membawanya ke rumah yang begitu sederhana ini.


"Ini rumah siapa?" tanyanya pada Ismail yang masih berada di posisi kemudi sedang Troy yang mencoba membuka pintu malah di kunci otomatis olehnya.


"Sebaiknya kita tunggu beberapa saat lagi, tuan turunnya."


"Sebenarnya ini rumah siapa? Kenapa kamu bawa aku kemari? Kamu ingin menunjukkan apa?" tanya Troy beruntun. Ismail tahu Troy sudah tak sabar mendengar penjelasnya. Tapi tunggu waktu yang tepat. Troy berwatak tak sabaran, jika Ismail berniat melepaskannya sekarang. Sudah pasti anak muda ini akan membuat kekacauan di acara pernikahan orang lain.


"Rumah ini, rumah ibu anda. Nyonya Helen." Mata indah Troy langsung membulat karena terkejut. Dengan tidak sabaran mencoba membuka pintu. "Tunggu tuan!! Ini hanya rumahnya, itu pun pasti rumah ini sudah jadi milik orang lain." Seketika raut muka Troy berubah sendu. Ia memilih menyandarkan punggungnya kembali ke jok mobil. Sudah puluhan tahun, mamanya juga telah tiada. Pasti rumahnya telah dijual.


"Lalu tujuan kamu antar aku ke mari untuk apa?"


"Tuan akan tahu sebentar lagi. Saat kita turun nanti. Tapi tuan janji kita hanya akan jadi penonton." Troy semakin bingung dengan apa yang Ismail ucap tapi apa ada pilihan lain selain menurut pada pria tua yang penuh teka-teki ini.


"Baiklah, buka pintunya. Mari kita tonton. Apa ada yang menarik?" Di rasa tuannya kini telah jinak. Ismail membuka pintu mobil. Troy dengan perlahan berjalan masuk.


Saat akan sampai di depan pintu rumah. Tubuh Troy seperti disenggol seorang perempuan yang membawa anak kecil. Ia hampir terjatuh, kalau tak berpegangan pada pilar.


" HENTIKAN PERNIKAHAN INI!!" Teriak seorang perempuan setengah baya yang tengah menggendong seorang anak berusia 4 tahunan. "ADAM MASIH SUAMI SAYA, PERNIKAHAN INI TIDAK SAH!! "


Semua tamu undangan di sana terkejut. Acara ijab kabul yang sakral berubah jadi riuh, banyak tamu tamu yang hadir mulai berbisik sambil bergunjing. Ada yang mengaku masih istri sah Adam di saat laki-laki itu akan mengucapkan ijab kabul.


"Aku bisa jelasin ini di rumah! Jangan buat kacau di sini!!" Adam kewalahan. Wanita yang tengah sakit hati tentu akan berubah jadi monster betina. Yang tega mencabik, menjambak, memukul bahkan menendang kelereng. Pernikahan pertamanya karena ketidak sengajaan. Adam tidur dengan pelayan rumahnya hingga harus bertanggung jawab.


"Nggak,... nggak....!! Kita harus selesaikan sekarang di sini!! Dan kamu." Tunjuk wanita itu pada Helen. "Kenapa kamu mau dinikahi pria beristri? Apa tidak ada pria lain lebih layak sehingga kamu menggoda suami saya? Hah?" Helen yang masih duduk di samping Adam hanya bisa menunduk sambil menangis. Ia tak menyangka kalau hari bahagianya akan berubah jadi bencana. Pria ini mengaku single bahkan kartu identitasnya pun berstatus single. Waktu mengurus surat nikah kemarin juga tak ditemukan halangan apa pun.


Troy yang berada diambang pintu hanya bisa berdiri. Menatap sang mempelai wanita. Ingatannya bekerja keras, mengingat wanita paruh baya cantik yang sedang menunduk menerima hinaan dan cacian. Ia samar-samar mengenali wanita yang di sanggul rapi dan di hiasi bunga melati. Walau rupa wanita itu tak sama dan bertambah tua. Wajah itu sangat Troy kenal walau banyak kerutan yang menghiasi kecantikannya. "Mamah."


Saat langkahnya ingin maju, tangan Ismail menahannya. "Anda tidak boleh ke sana!! Kita sudah sepakat kalau anda hanya akan jadi penonton."


"Itu mamah."


"Tapi anda sudah janji hanya akan jadi penonton."


"Tapi bagaimana seorang anak akan diam saja melihat ibunya dihina-hina. " Tahu Troy di luar kendali, Ismail sedikit menyeretnya untuk masuk mobil tentu saja Troy melawan sekuat tenaga. Tapi Ismail terlalu kuat. Selain pelayan, pria itu merangkap bodyguard untuk sang kakek.


"Kita ke rumah sini tanpa sepengetahuan kakek anda. Apakah anda tak bertanya mengapa anda dipisahkan dari adik dan ibu anda bahkan tuan Wisnu mengatakan kalau mereka sudah meninggal."


Troy sadar ada kakeknya yang masih berkuasa. Ia tak bisa bertemu dengan sang ibu, kalau sampai tua bangka itu tahu ia bertemu Helen maka tidak akan ada yang menjamin keselamatan keluarganya. Yang bisa Troy lakukan hanya pergi. Biar nanti ia temui mamahnya sendiri kalau suasananya sudah tenang.


🐼🐼🐼🐼

__ADS_1


Senja yang berada di belakang terkejut mendengar suara orang-orang ribut. Ia bergegas ke depan untuk melihat keadaan sang ibu. Tapi ia lebih terbelalak lagi saat menyaksikan Helen di hina oleh seorang perempuan yang lengannya ditahan Adam. Senja sibuk menyiapkan hidangan sehingga tak melihat ibunya yang melaksanakan ijab kabul.


"Ada apa ini?" tanyanya bingung ketika melihat mamahnya yang menangis terisak-isak, "Apa yang anda perbuat kepada mamah saya?"


"Mamah kamu yang salah, dia udah rebut Adam dari saya. Saya masih istrinya, istri sah nya." Kini Senja tahu Adam memang lelaki paling brengsek. Bisa-bisanya ia menikah dengan mamah Senja tapi masih berstatus sebagai suami orang, "Dasar pelakor. Jangan pura-pura sok sedih kamu, sok nangis!! Padahal kamu perempuan culas perebut suami orang."


"Cukup... cukup... cukup.. silahkan anda bawa pergi laki-laki ******** ini!! Dan Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah saya lagi!! Ingat mamah saya nggak tahu kalau Adam masih punya istri karena si biadab ini mengaku seorang bujang." Senja berusaha membantu sang ibu untuk berdiri, tak perduli dengan berbagai pandangan orang. Yang paling penting ibunya harus ia amankan bahkan Senja lupa kalau keluarga Saga juga turut hadir.


"Saya Saga , mewakili keluarga Senja minta maaf atas kekacauan ini. Para tamu silahkan menikmati hidangan yang telah disediakan dan tolong mempelai pria alias om Adam segera meninggalkan rumah ini sebelum saya mengusir anda dengan cara tak terhormat." Rahang Adam mengeras. Berani-beraninya anak ingusan ini mengusirnya, melawannya tapi Adam terpaksa harus pergi karena istrinya datang dan mengacau di tempat ini.


"Ga, kita pulang aja!! Keluarganya Senja bikin malu. Dasar janda gatel sok kecantikan. Ternyata dia pelakor." hina Devi bersungut-sungut. Ia tak tahan bila berada di rumah besannya lama-lama. Secara tak langsung, ia turut menanggung malu atas kekacauan ini. "Untung kolega mamah gak ada yang diundang, kalau ada bisa hancur reputasi mamah."


"Mah, ini semua cuma salah paham. Harusnya kita bersyukur besan kita gak jadi dapat suami yang bejat." Tuhan masih sayang pada ibu Senja hingga tak mendapatkan Adam sebagai suaminya. Tapi ucapan Hermawan malah menambah dongkol di dalam hati sang istri. Devi mengira jika suaminya masih menaruh hati pada Helen.


"Belain aja terus janda gatel itu. Mamah mau pulang aja. Ga, kamu ikut mamah pulang kan?"


"Nggak, Saga suami Senja sekarang. Keluarga Senja jadi tanggung jawab aku." Devi kembali ingin nyinyir tapi tangan suaminya menutup mulut Devi dan menariknya pulang. Tindakan Saga sudah benar dan sesuai jalur. Helen tak punya anak lelaki, jadilah Saga sekarang yang berperan sebagai kepala keluarga di keluarga Helen.


πŸ”πŸ”πŸ”πŸ”


Helen sudah tidur karena lelah menangis bahkan Helen masih memakai kebayanya walau sanggul rapinya telah dicopot. Senja mengelus rambut ibunya dengan sayang, ia sedih sekaligus lega. Mamahnya harus mengetahui kebusukan Adam dengan cara memalukan tapi tak apalah dari pada setelah jadi istri Adam, ibunya baru tahu dan malah sulit lepas.


Karena lelah, Senja keluar kamar ingin mengambil air minum di dapur. Senja lupa bagaimana acara resepsi tadi. Apakah batal atau tetap lanjut.


"Bikinin gue minum sekalian." Senja terkejut ketika hendak menuangkan teh tawar.


"Saga? Kamu Nggak pulang?"


"Mana bisa pulang. Kalau tamunya banyak tapi yang punya hajatan malah sembunyi di kamar."


"Maaf, udah ngrepotin kamu." Saga melihat ke arah Senja yang masih memakai baju kebaya walau riasannya sebagian sudah luntur banyaj. Wajah istrinya yang manis nampak lesu, sedih dan kelelahan. Semua kejadian tadi begitu mendadak. Hari bahagia berubah menjadi neraka.


"Eh?"


Senja terkejut, suaminya tiba-tiba saja merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya. Rasanya begitu nyaman dan hangat. Di. Saat seperti ini Senja memang membutuhkan pelukan dan support.


"Kamu gak butuh makan atau minum. Kamu butuh seseorang buat bersandar dan itu aku, suami kamu!! Kalau ingin nangis. Nangis aja!"


Senja tak peduli lagi dengan rasa malunya. Ia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Saga. Ia butuh seseorang untuk diandalkan, ia juga ingin merasakan cinta, ia ingin bahagia. Apa Saga bisa membahagiakannya, tapi Senja lupa di samping kebahagiaannya ada juga kesedihan dan kecewa yang menyertainya.


🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑

__ADS_1


__ADS_2