Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 33


__ADS_3

Saga lari tergopoh-gopoh, hendak masuk ke sebuah restoran. Tak ada angin ataupun hujan istrinya mengiriminya pesan mengajaknya bertemu empat mata. Ah tentu Saga tak akan sia-siakan kesempatan ini. Ia akan membujuk Senja agar mereka rujuk.


"Maaf, kamu lama nunggu?" Saga duduk tanpa dipersilakan. Saga cuma diam, melihat sebentar. Nampak kening suaminya menetes keringat.


"Enggak," jawabnya singkat.


Senja terlihat berbeda, lebih jutek dan juga tatapannya tak bersahabat. Istrinya itu berubah pasti, Saga sendiri yang mengubahnya. Senja yang lembut, penurut, sopan serta murah senyum kini tak ubahnya seonggok batu. Menegakkan bahu serta dagu, bersikap angkuh dan juga menjaga jarak.


"Aku sudah terima surat cerai kita. Aku gak mau tanda tangan karena gak mau kita pisah." Sudah ia duga. Pria ini begitu egois tak mencintainya tapi enggan melepasnya. Senja mengambil segelas jus stroberi, lalu meminumnya dengan sedotan. Sisi meja Saga kosong, karena memang Senja sengaja tak memesan apa pun untuk calon mantan suaminya.


"Alasannya?"


"Kamu hamil anak itu butuh ayah."


Alasan klasik, alasan yang terlalu biasa. Tak bercerai karena ada anak yang mesti mereka pikirkan.


"Kamu gak usah khawatir. Anakku bakal baik-baik saja walau ayah ibunya cerai. Aku juga tumbuh tanpa kasih sahang seorang ayah. "


"Tapi aku tetap gak mau kita cerai." Tanpa sadar Senja meremas ujung taplak meja. Bersama dengannya namun hatinya milik Nadine. Terasa serakah serta egois. Sayang Senja tak mau mengorbankan hatinya hanya demi predikat ayah bunda lengkap. Anaknya akan bahagia lalu bagaimana dengan dirinya. Hidup di sisi sang suami namun hanya menyanding raganya saja? "Membesarkan anak sama-sama." Semua impian yang indah namun berat jika dijalani dari pihaknya.


"Aku bisa mengurusinya sendiri, tanpa kamu. Kita bisa hidup bahagia hanya berdua," ujar Senja sambil membelai perut yang masih rata. Keputusannya sudah bulat. Berpisah adalah jalan terbaik. Untuk menyelamatkan hati serta jiwanya.


"Tapi enggak sama aku. Aku gak akan bisa hidup tanpa kalian apalagi tanpamu." Senja ingin menaikkan nada bicaranya tapi tertahan di tenggorokan. Jantungnya bertalu-talu ketika tangannya digenggam oleh sang suami. Apa maksud rayuan Saga ? Apa ini cuma kamuflase agar dia tetap bertahan. "Aku mencintaimu, mencintai kalian."


Mata Senja yang seindah purnama, melebar karena terlalu kaget. Saga mencintainya, cintanya bersambut tapi apakah ucapan pria ini dapat dipercaya? Dia menipu Senja mentah-mentah, hingga perempuan yang di beri kemampuan otak pintar itu bertekuk lutut menyerahkan segalanya. Senja tak mau disamakan dengan keledai. Yang bisa ditipu berulang-ulang.


"Cinta? Bukannya cinta kamu buat Nadine."


Saga tersenyum kecut, rambutnya yang mulai gondrong dirapikannya menyamping. "Aku kira juga begitu. Kehilangan kamu lebih menakutkan dari pada saat melihat Nadine nikah. Ditambah lagi surat cerai itu seketika membuat sendiku lumpuh layu. Aku gak mau kehilangan kamu. Ketika kamu dinyatakan hamil aku senang tapi juga bingung. Senang karena akhirnya ada yang membuat kamu akan mau kembali ke lelaki brengsek ini tapi juga bingung. Sampai usia segini hidupku berantakan. Aku takut membuat dua orang yang terpenting dalam hidupku jadi sengsara."

__ADS_1


Tanpa Senja sadari air matanya menetes. Ia tersenyum haru. Begitu ternyata pikiran Saga . Ia kira laki-laki itu ngotot tak mau bercerai karena menginginkan anak mereka. "Bodoh."


"Aku memang terlalu bodoh. Menampik rasa tertarikku padamu dan malah membuat taruhan konyol itu. Taruhan mendapatkanmu padahal itu keinginan hati kecilku sendiri. Aku sudah tertarik sama kamu tatkala ijab kobul diucapkan. Apalagi kamu baik, penurut dan juga selalu ada untukku."


Saga menangis, pria berandalan itu kini jadi cengeng.


"Terus karena aku terlalu baik dan penurut jadinya kamu tipu?"


"Selama kita nikah. Aku gak pernah bohong. Tapi maaf soal taruhan itu, Itu pengecualian. Yang jelas aku hanya mau bilang aku mencintai kamu, istriku."


Kenapa di sela tangisnya, Senja malah ingin tertawa. "Dasar gombal. Kamu kira aku bakal percaya sama kamu lagi." Rasanya hatinya tak rela saja jika luluh secepat itu dengan ungkapan cinta Saga. "Cinta kamu gak bisa dibuktikan juga."


"Kamu mau bukti apa? Aku siap lompat dari jembatan biar kamu percaya." Tawa Senja meledak keras. Lompat dari jembatan, apa untungnya untuk dirinya?


"Ck, aku gak mau di salahin kalau kamu sampai mati."


"Kamu takut kan aku mati?" Senja mendelik walau pipinya terlihat keluar ronanya.


"Aku beneran mati nih." Wanita yang tengah mengandung itu tak menanggapi. Dia langsung berdiri setelah meletakkan satu lembar uang bewarna merah. "Loh kamu mau pergi kemana?"


"Aku mau ke rumah sakit, jenguk kakek. Kamu mau mati kan? Ikut aku sekalian biar ketemu Kak Troy, biar dimampusin." Senja kira suaminya takut tapi nyatanya nyali Saga itu berkali-kali lipat lebih besar. Lelaki itu dengan pedenya mengekorinya dari belakang.


"Mau kemana kamu?"


"Ikut kamu lah. Ketemu Troy buat memperjelas semuanya."


"Jangan!" Senja bukannya takut kalau Saga babak belur. Hanya saja kalau mereka berkelahi di rumah sakit kan bikin malu dan bisa diusir keamanan.


Sedang Saga sudah tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berjajar rapi. "Aku mau jenguk kakek kamu juga." Senja balik badan, menahan dada Saga dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh!!" Saga tersenyum jahil, satu matanya mengerling nakal.


"Kamu takut aku akan di hajar kakakmu?"


"Terserah!!" Teriak Senja tak terima karena dikira masih peduli pada sang suami. Mendengar umpatan kesal dari Senja, Saga tertawa terbahak-bahak. Senja punya gengsi selangit namun ia tak menyerah. Istrinya itu naik mobil, dia bisa kan mengikutinya dengan motor.


Namun Senja dapat bernafas lega ketika sang kakak tak ada. Syukurlah perang tanding bisa di tunda dulu. Saga ternyata gigih, sampai berani mengikutinya ke ruangan Wisnu di rawat. "Kamu di luar aja."


"Aku kan mau jenguk, sekalian datang sebagai cucu mantu." Senja yang memegang engsel pintu, memundurkan kepalanya sambil mengernyit jijik. Cucu mantu? Itu bahkan akan jadi mantan.


"Ya udah tapi diem." Senja menempelkan telunjuknya di atas bibir di sertai pelototan galak. Saga merapikan pakaiannya sebelum bertemu Wisnu. Tapi baru saja keduanya masuk


"Ma... u apa ka... mu... ke sini!!" Astaga sudah stroke separuh badan tetap saja galak. Senja waspada karena tahu, kadar benci sang kakek pada ibunya dan juga dirinya.


"Kita mau jenguk kakek, " jawab Saga enteng.


"Gak... per... lu!!" Aduh ngomong aja udah ngumpulin nafas masih aja gengsi sambil membuang muka. "Per... gi... kalian!! Per... gi!!


Ke sini datang baik-baik kok perlakuan kakek Senja kasar. Untunglah Saga tak membawa buah tangan. "Pergi!!"


Sebuah baskom serta washlap melayang. Saga menjadi tameng untuk sang istri walau baskom itu tak mengenai mereka. Air dalam baskom yang mencemari lantai bahaya kan? Kalau karena itu Senja terpeleset dan jatuh bagaimana. "Kita bakal pergi kok, jangan khawatir!!"


"Ga..."


Saga benci Senja mode baik muncul di saat seperti ini. Mungkin kakeknya memang galak. Tapi gak segitunya juga harus melempar barang. Mereka masih manusia yang bisa diperingati dengan kata-kata.


"Kita pergi, biarin suster yang ngurus kakek kamu!!" Senja menurut ketika sang suami menyeretnya keluar ruangan. Dia lupa kakeknya itu belum menerima dirinya sebagai anggota keluarga.


"Ngapain juga kamu ke sini kalau cuma di usir. Kakek kamu kenapa? Gak terima kalau stroke?" Semuanya terlalu komplikated. Senja tak mau menceritakan masalahnya. Ia belum sepenuhnya percaya dengan orang yang di sisinya ini.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu juga. Minggir!" Ia menepis pelukan Saga ketika sudah sadar jarak mereka terlalu dekat. Senja bisa bersabar menghadapi sang kakek tapi sepertinya ini terakhir kalinya ia datang kemari.


🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏


__ADS_2