
Senja berpikir dewasa. Bayinya tak bersalah, kehadirannya bukan karena kecelakaan. Ia menikah lalu hamil, wajar bukan? Orang tak akan mencibirnya, ia punya surat legal. Hanya saja, tanpa seorang suami. Bagaimana anaknya nanti, karena jika Troy memiliki masa depan sendiri dan menikah maka anaknya kelak akan menuntut tahu siapa ayahnya yang sebenarnya.
"Loe capek? Kita istirahat dulu ya?" Minta Fara yang sudah di wanti-wanti Troy untuk menjaga sang adik. Senja menurut, ia duduk di salah satu bangku kampus. Mereka kini ada di kampus untuk mengurus segala tetel bengek, keperluan Senja untuk lulus. "Ada yang sakit?"
"Gue hamil bukan sakit parah." Fara meringis tak enak, perhatiannya kelewat lebay.
"Loe mau minum atau makan?"
"Kalau perlu apa-apa gue bakal jalan sendiri. Please Fara biasa aja..."
"Gue boleh tahu nggak, gimana perasaan loe pas tahu kalau hamil?"
"Campur aduk. Pertama gue sedih, rumah tangga gue carut karut. Gue malah hamil tapi kemudian karena Kak Troy gue seneng dan jadi sayang sama bayi ini." Senja mengelus perutnya yang masih rata. "Dia akan jadi pelita gue, saat gue mulai putus asa."
Fara paham, hal yang di lewati Senja amat berat namun masalah hadir untuk di hadapi bukan malah kita kabur. Untuk ke depannya, entah keputusan Senja berpisah itu benar atau tidak. Fara berpikir, sahabatnya butuh suami dan juga sosok Saga sebagai ayah.
"Ternyata loe ada di sini!" Sapa seseorang yang kehadirannya tak diinginkan keduanya.
"Ngapain sih loe, Cha!"
"Diem loe!" Icha menahan Farah supaya tak berdiri menantangnya. "Gue mau ngomong sama Senja bukan upik abunya."
Farah
marah, hinaan itu di tujukan padanya.
"Loe gak bisa ngomong gituh ke Fara, Cha!" Senja tak menyukai sikap Icha begitu sebaliknya. Icha sangat membenci perempuan ini. Perempuan yang telah berhasil menjadi nyonya Saga Manggala dan menghancurkan mimpi indahnya.
"Loe lagi sok banget jadi cewek. Pura-pura jadi sepupu Senja padahal Kalian dah merried. DasarΒ perempuan munafik, muka dua, sok baik, nyatanya lebih busuk dari yang gue pikir!!" Senja tak terima, Icha berhak marah tapi tidak dengan menghinanya. Senja berdiri, ia punya seorang kakak yang bisa melindunginya. Buat apa dia gentar atau bahkan takut dengan sosok Icha. Senja yang lemah dulu udah tamat.
"Loe udah tahu semuanya? Loe harusnya gak marah sama gue, pacar loe Saga bukan gue!!" balasnya santai, lalu melangkahΒ pergi sambil mengajak Fara namun Icha ternyata tak puas kalau belum membalas Senja dengan sebuah tamparan atau minim jambakan.
__ADS_1
"Loe, jangan kabur!! Kita belum selesai." Lengan Senja, Icha cengekram sampai meninggalkan bekas kemerahan. Senja meringis apalagi saat Icha dengan kasar melepasnya hingga tubuhnya oleng. Reflek ia melindungi perutnya.
"Loe gak boleh kasar, Senja lagi hamil!!" Peringat Fara tak kalah keras namun Icha cuek. "Loe harusnya malu setelah tahu semuanya, ternyata loe gak lebih dari seorang pelakor!"
Kata pelakor menggema, di otak Icha. Kata yang menjijikkan, dia bukan pelakor. Saga duluan jadi pacarnya namun status Senja lebih kuat. Gadis itu masih istri sah Saga sampai sekarang dan tengah mengandung anak pria itu.
"Tutup mulut loe!!"
"Dasar loe tuh ******, perebut suami orang. Bisa-bisanya loe malah gak tahu malu nglabrak Senja!!"
Plakk
Fara kena tampar, Icha tak bisa terima dirinya direndahkan apalagi di hina sebagai ******. Memang pakaiannya kurang bahan dan selalu seksi. Tapi Icha tak pernah menjual diri.
Plakk
Tamparan balasan dari Senja lebih perih. Ia tak terima sahabatnya di sakiti, walau pipi Icha sudah merah tapi ia masih bisa membalas.
Plakk
"Cha, yang salah gue bukan Senja. Yang nyembunyiin hubungan kita, gue. Kalau mau nampar, gue aja." Tamparan Icha tak ada apa-apanya tapi kenapa tangan serta hatinya sakit. Saga jelas-jelas melindungi istrinya. "Senja lagi hamil, gue mohon jangan loe lukai dia."
Entah kenapa Icha berubah jadi sentimentil. Rasa cintanya berubah membenci serta kesal. Sekuat tenaga, Icha layangkan pukulan bertubi-tubi pada dada Saga sambil menangis. "Iya, semua salah loe!! Salah loe!!"
Senja memalingkan wajah ketika melihat drama sepasang kekasih di depannya. "Ayo Fara, kita pergi saja!!" Ia melangkah sambil menggandeng tangan Fara. Ada lubang di hatinya ketika melihat suaminya lebih peduli pada Icha. Ada keinginan yang sangat tinggi, ingin di kejar namun Senja sadar siapa dia di banding Icha maupun Nadine.
Saga yang ingin menyusul istrinya tak bisa beranjak, Icha juga butuh dirinya. Ia menjadikan tubuhnya sebagai sandaran Icha. Saga harus menyelesaikan urusannya dengan Icha sampai tuntas sehingga tak ada dendam ataupun sakit hati.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Gimana Om?" tanya Troy pada orang yang sedang duduk tenang di kursi empuk. "Kalau Om setuju, maka saham milik papah akan sepenuhnya jadi hak Om, perusahaan akan mutlak jadi milik Om?"
__ADS_1
"Tapi Troy..."
"Bukannya Om, menikahkan Senja dengan Saga karena memang tak ingin saham perusahaan Om berpindah tangan?" Hermawan tampak berpikir keras, tawaran Troy menggiurkan. Menukar saham hanya dengan satu tanda tangan cerai dari putranya. Tapi tegakah ia memisahkan sepasang suami istri itu. Ah mereka kan tidak saling cinta, cerai malah menguntungkan. Apalagi putranya yang berandalan pasti akan senang.
"Iya tapi kamu gak apa-apa kalau adikmu jadi janda muda?" Troy malah tertawa keras. Janda, hanya sebuah predikat. Lebih baik adiknya hidup tanpa Saga. Senja berhak mendapatkan masa depan yang lebih cerah.
"Ck... jaman sekarang banyak perempuan yang jadi janda dan tidak masalah. Mereka tetap bisa melanjutkan hidup." Hermawan sempat ragu, namun sepertinya ucapan Troy cukup meyakinkan dirinya.
"Baiklah, Om akan bujuk Saga untuk menceraikan adik kamu."
"Saya tunggu kabar baiknya Om. Makasih atas waktunya." Troy berdiri setelah meminum segelas kopi. "Dan minumannya!!"
πππππππππ
Tubuh Wisnu yang renta, tergopoh-gopoh menuju lantai bawah setelah mendengar deru suara mobil Troy yang terparkir di bagasi. Wisnu tentu marah setelah mendengar informasi dari satu orang kepercayaannya kalau Troy diam-diam membuat perjanjian dengan Hermawan.
"Apa yang kami rencanakan Troy?" Troy yang ingin menunju kamarnya, berhenti berjalan. "Memberi semua saham milik ayahmu ke Hermawan tanpa persetujuan kakek. Apa kamu merasa berkuasa sekarang?"
Kepala Troy kian menunduk, bukan tak berani tapi itu menjaga emosi. "Aku ngelakuin semua demi Senja kek."
"Bodoh kamu!!" Tunjuk Wisnu pada cucu laki-lakinya. "Demi perempuan itu? Jangan anggap setelah kamu bisa ketemu adik dan mamahmu. Maka kamu bertindak seenaknya, menentang kakek dan juga bersikap sok pahlawan dengan melindungi mereka."
Telapak tangan Troy mengepal, jangan sampai sang kakek menghina Senja. "Senja adik Troy, apapun yang terjadi sama dia akan jadi tanggung jawab aku."
"Adik kamu sudah mati sepuluh tahun lalu. Itu yang mesti kamu tahu!!"
"Senja hidup, dan selama adik Troy bernafas. Aku akan melindungi dia, termasuk dari kakek!!" Tantangnya tak gentar sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah pria yang telah membesarnya.
"Kamu....!!" Walau emosi Wisnu bisa mengalahkan anak muda namun tetap saja fisiknya renta. Ia memegang dada kirinya yang berdenyut sakit. Wisnu kecewa, anak yang di peliharanya denaan tangannya sendiri kini berani melawannya. Ia memejamkan mata lalu terjatuh pingsan.
"Kakek!!"
__ADS_1
πππππππππππ