
Dara membawa nampan berisi tiga minuman untuk tamunya. Keheningan masih mendominasi, para tamu duduk di kursi panjang sedang Senja yang di dampingi Fara memilih duduk berlawanan sisi. Dara tak mau ikut campur, tugasnya hanya mengawasi. Karena entah kenapa Dara merasa dua tamu yang baru saja datang dapat membuat Senja jadi terguncang emosinya.
"Kenapa kalian ke sini?" Akhirnya Senja membuka mulut. Walau kata yang dia lontarkan bernada ketus.
"Sorry, gue yang bawa mereka. Katanya mereka mau meluruskan sesuatu," ujar Fara yang langsung mendapat lirikan tajam dari sang sahabat.
"Jangan salahin Fara karena gue yang maksa minta di temuin sama loe. Gue sama Nadine mau ngomong." penjelasan apa yang Devano ingin sampaikan. Senja tak tahu harus bersikap bagaimana, membenci Nadine rasanya tak perlu karena kenyataannya perempuan ini tidak membalas perasaan Saga. Yang Senja dapat lakukan hanya bersikap ketus, tak bersahabat. Karena penjelasan apa pun hanya mendatangkan sebuah luka.
"Bener kamu pergi dari rumah dan meninggalkan Saga?" tanya Nadine langsung. Ternyata Saga telah mengadu pada perempuan ini, bukannya mereka akrab dan bersahabat karib. Mengingat itu Senja ingin tertawa.
"Itu benar, apa Saga yang bilang? Dia curhat apa saja tentang rumah tangga kami?" Sayangnya Nadine menggeleng lemah.
"Bukan, aku tahu dari anak di bengkel. Kalau boleh tahu apa yang membuat kalian bertengkar dan kamu memutuskan untuk pergi?"
"Kamu tanya sendiri saja sama Saga !!" Devano serta Fara membola matanya ketika orang yang mereka kenal lembut ternyata bisa bersikap ketus dan berdecih kesal.
"Kita gak pernah ketemu lagi. Dia sibuk nyari kamu."
"Jadi sebelum aku pergi, kalian sering bertemu?" Senja menanyakan pertanyaan yang jawabannya akan membuatnya sedih.
"Senja, hubungan kami sebatas saudara. Jadi kamu jangan salah paham."
Dahi Senja berkerut membentuk beberapa lipatan. Dia tak salah paham, mulut Saga mengatakan kalau pria itu masih menaruh hati pada Nadine. Yah kejujuran yang membuat hatinya seketika remuk.
"Aku gak salah paham. Saga masih suka sama kamu!"
Nadine tahu kenyataan ini namun dirinya tetap menyangkal.
"Dia udah gak suka sama aku. Dia cinta sama kamu tapi dia belum menyadari perasaannya," ucapan Nadine semacam bualan atau penghiburan untuk hari Senja namun sayangnya tak tersentuh sama sekali.
"Jangan berusaha menghibur aku dengan mengarang sebuah cerita. Cinta gak akan terasa mudah. Aku orang baru dalam hidup Saga, mana mungkin bisa menggantikan kamu orang yang telah lama ada di hatinya." Nadine tak membual atau mengarang ia mengenal Saga dari kecil. Perasaan pria itu untuk Nadine bukan cinta. Saga hanya punya rasa kagum dan juga membutuhkan karena dulu Nadine selalu ada untuknya.
__ADS_1
"Aku kenal Saga lama. Dia mencintai kamu tapi dia belum menyadarinya. Dia menceritakan kamu dengan semangat serta mata yang di penuhi cinta. Benar-benar cinta bukan rasa butuh atau kagum semata. Percaya sama aku, dia cinta sama kamu." Senja berdiri karena merasa kesal. Ternyata perempuan di depannya ini rela membual demi adik tersayangnya.
"Kalau Saga cinta sama aku, dia gak akan jadiin hidup aku bahan taruhan." Nadine terkaget sampai mundur ke bahu sofa. Ia melihat ke arah Devano, ada yang laki-laki ini belum jelaskan. Sedang Devano yang dari tadi berperan sebagai pendengar, tak mau ikut campur kini semakin tak berani melihat ke arah sang kakak ipar.
"Taruhan apa?" Senja tertawa sumbang, Nadine tak mengerti apapun berperan bagai ibu peri baik hendak menyelamatkan penjahat.
"Kamu gak tahu apapun!!" Senja tak tahan, dia bergegas melangkah pergi masuk ke kamar dengan membanting pintu. Mengorek kesalahan Saga sama dengan membunuhnya perlahan. Kehadiran Nadine tak menjelaskan apapun. Ia jadi semakin yakin kalau suaminya memang menyukai perempuan itu. Nadine begitu baik mau ke sini, menghadapi Senja yang kesal dengan wajah tenang dan permohonan dengan kata-kata santun nan manis.
Dara yang sejak tadi ada di dapur kini keluar ke ruang tamu. "Sebaiknya kalian pulang, kalian menggangu Senja!!"
Mereka bertiga tak berniat menentang Dara sebelum ponsel Devano yang terletak pada kantong celana berdering nyaring.
"Iya hallo?"
"-----"
"Apa?"
"Gue ke sana segera!!" Wajah Devano terlihat panik, sebenarnya kabar apa yang di dengarnya sehingga memasang wajah pucat pasi. "Panggilin Senja ada hal yang penting gue mesti bilang!!"
"Ada apa sebenarnya?"
"Troy sama Saga duel, di arena Tarung. Kita mesti cepat ke sana. Bujuk sekalian Senja supaya ikut" Tak berpikr dua kali kalau itu menyangkut kesalamatn Troy, Dara langsung bergegas menemui Senja.
🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏
Saga bukan hanya satu, dua kali menghadapi Troy. Jadi ia tahu gerakan apa yang akan kakak iparnya itu tinjukan padanya. Namun kali ini Troy berbeda, dia menyerang Saga dengan tenaga berkali-kali lipat karena di kuasai emosi.
Troy merasa harus menghancurkan Saga, meremukkan tulang leader genk snipper itu sampai tak terbentuk. Saga harus merasakan sakit hati yang Senja dapat. Tak ada pengampunan apalagi belas kasihan. Troy menyerang dengan membabi buta sedang Saga meninju dengan teratur serta mengenai beberapa titik vital milik Troy. Troy memang dewa di arena balap namun ia harus mengakui bahwa kalah teknik dengan Saga apabila berkelahi. Tapi di dalam kamus hidup Troy kata kalah tak ada. Kalau dirinya terdesak cara apapun akan dirinya lakukan untuk menang.
"Gue gak akan biarin loe menang dan bisa ketemu adik gue," ucapnya sebelum meninju rahang Saga hingga sudut bibir suami Senja itu berdarah.
__ADS_1
"Dan gue gak akan nyerah untuk ketemu sama istri gue!!" Saga membalas pukulan Troy dengan tendangan di perut laki-laki itu hingga tubuh tegap Troy tersungkur ke tanah.
Para anak snippers dan red bulls membentuk lingkaran mengelilingi mereka sambi bersorak-sorai serta bertepuk tangan. Dua anak genk motor itu sudah di wanti-wanti agar tak ikut campur. Mereka berkelahi masalah pribadi bukan masalah kelompok. Sedang Gio dan Angga hanya menatap miris ke arah sang sahabat yang sedang bertarung dengan sengit.
"Sampai di sini apa Saga belum sadar sama perasaannya?" ujar Angga lesu.
"Cuma mau ketemu Senja dia sampai berkorban nyawa. Gak mungkin kalau gak cinta." Gio sama dengan yang lain hanya bisa jadi penonton dalam hati. Dia yakin Saga akan menang.
Pertarungan itu berjalan imbang namun sepertinya Troy agak kehabisan tenaga karena terlalu sering mengeluarkan pukulan membabi-buta. Saga berada di atas angin karena hampir bisa menumbangkan Troy. Ia hanya butuh membuat Troy pingsan dan menyerah. Dengan sekuat tenaga ia membenturkan kepalanya yang keras dengan kepala milik Troy. Troy langsung jatuh kesakitan, sedang Saga juga terserang limbung dan pening hebat tapi masih bisa berdiri.
Di tengah kesakitan yang menderanya, Troy masih berpikir licik untuk melakukan kecurangan. Di ambilnya tanah lalu dilemparkannya tepat ke mata Saga hingga sang musuh menutup matanya dengan tangan karena perih. Kesempatan ini tak di sia-siakan Troy, dia berdiri memberi pukulan bertubi-tubi pada Saga sebelum mengeluarkan rantai besi yang di sembunyikan pada belitan pinggangnya untuk menjerat leher lawannya.
"Mampus loe!!" Saga menahan cekikan Troy dengan susah payah. Ia tengah kesulitan bernafas, kakak Senja ini berniat sekali menuntaskan nyawanya.
Senja yang baru datang dan melihat secara langsung mereka bertarung, segera berlari menembus kerumunan untuk menghentikan tindakan anarkis sang kakak. "Berhenti Kak!! Lepasin Saga . Aku mohon!!" Senja menahan kedua tangan Troy sambil terus memohon dengan berlinang air mata.
"Nggak, ******** ini harus mati. Dia pantes dapatin ini!!"
"Lepas Kak, aku gak mau kakak jadi pembunuh. Berhenti Kak, tolong lepasin dia!!" Ia sama-sama mencintai dua orang ini, tak mau kehilangan mereka.
"Kakak rela jadi pembunuh demi kamu!!"
"Please Kak.... lepas!!" Senja berusaha melepas tangan kakaknya yang memegang rantai. Ia tak tega melihat Saga hampir kehabisan nafas karena cekikan rantai makin mengerat.
"Minggir Senja!!" Adik Troy malah menggeleng keras.
"Please... Kak... lepas...." mohonnya dengan sangat. Senja tak tahu harus berbuat apa lagi, dirinya kehabisan cara. Senja tiba-tiba merasakan pusing serta pandangannya buram oleh air mata.
Cekikan Troy di paksa lepas ketika melihat tubuh sang adik tiba-tiba terpejam dan jatuh ke tanah. Senja pingsan di tempat .
"Senja!"
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀