Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 24


__ADS_3

Troy meremas setirnya dengan jantung ngos-ngosan. Hampir saja ia menabrak seseorang kalau sajaΒ tak menginjak rem tepat waktu. Dengan perasaan panik, ia langsung membuka pintu mobil untuk keluar dan melihat siapa mantan korbannya.


"Senja!" Teriaknya lega dan kegirangan. Troy hampir menghabisi nyawa adik kandungnya sendiri. "Syukurlah, kamu gak apa-apa kan?"


"Kak, bawa aku pergi dari sini!!" ucap Senja lantang disertai air mata yang tak mau berhenti mengalir. Ia mengguncang lengan Troy agar mau membawanya pergi.


"Kamu kenapa?"


"Cepet bawa pergi aku dari sini!!" Teriaknya murka karena Saga sudah semakin dekat. Troy tak berpikir lama, langsung membawa Senja masuk mobilnya. Ia melihat dari kejauhan Saga berteriak dan juga bergegas datang tapi sayang mobil Troy melaju duluan.


Saga terlambat, mobil yang ia yakini membawa sang istri sudah berjalan.? Meninggalkannya berdiri di tepi jalan dengan raut muka putus asa. Dia memang menyayangi Nadine namun tetap saja tak menampik kehadiran Senja di hatinya. Saga cuma butuh waktu sedikit lagi, untuk bisa meyakinkan diri jika Senja adalah pilihan benar untuk masa depannya. Terlambat memang, istrinya sudah tahu tentang masalah taruhan itu. Semua kini rumit, bukan maksud Saga ingin serakah, hanya saja rasa cintanya untuk istrinya belumlah kuat atau dia sendiri yang tak sadar jika cinta itu sudah hadir dan mengakar kuat.


Troy cuma jadi patung. Karena tahu keadaan Senja tak memungkinkan mereka untuk mengobrol. Senja berlinang air mata sudah membuatnya menahan marah. Pasti si ******** Saga telah melakukan sesuatu kepada sang adik perempuan.


"Kamu mau aku antar kemana?"


Senja baru sadar, jika ia tak punya tempat yang di tuju. Kalau pulang ke rumah ibunya, tak mungkin. Ke tempat Fara? Senja tak siap mendengar ocehan sahabatnya, ia ingin sendirian untuk mencari ketenangan. "Aku.. aku gak tahu kak mau kemana, maaf udah ngerepotin kakak. Bisa turunin aku di pinggir jalan sana."


"Sebentar, kakak gak bisa turunin kamu sembarangan. Apalagi keadaan kamu lagi kalut. Kamu bisa berpikir dengan kepala dingin, kamu mau aku anter kemana? Ke rumah orang tua kamu misalnya?" Tawaran Troy tak mungkin Senja sanggupi, berkeluh kesah tentang rumah tangganya pada sang mamah sama dengan melemparkan bom atom.


"Aku gak bisa ke sana. Turuni aku di jalan aja kak!!"


"Kakak tetep gak bisa biarin kamu sendirian dalam keadaan kayak gini!!"


"Tapi aku gak tahu mesti kemana!!" Teriak Senja penuh emosional sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia putus asa karena tak tahu harus apa.


"Aku gak tahu harus kemana," ucapnya kembali lebih lirih diiringi isakan menyayat hati.


Kakak mana yang tak sedih dan juga marah ketika adiknya di beginikan namun untuk bertanya Senja kenapa lidahnya terasa kaku. Troy merasa tak punya hak untuk mengorek masalah pribadi milik sang adik perempuan karena mereka statusnya saat ini bukan siapa-siapa.


"Ya udah kamu ikut kakak dulu." Pikiran Senja terlalu kalut untuk menolak ajakan Troy. Dia hanya butuh sendirian sambil menangis sepuasnya. Pengakuan Saga tentang dirinya dan juga perasaan laki-laki terhadap Nadine. Mampu membuat Senja terpuruk, layaknya di timpal sebuah beton. Suaminya tak mencintainya, suaminya menginginkan perempuan lain, hidupnya hanya di jadikan bahan taruhan. Menyakitkan pasti, namun apa yang harus Senja lakukan kini? Untuk menuntut sebuah perpisahan, bukannya terlalu dini? Namun jika bertahan, apa yang akan mereka pertahankan.


πŸ¬πŸ¬πŸ¬πŸ¬πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰

__ADS_1


Ting... tong.. ting .. tong


Ceklek


"Troy!!" Teriak seorang wanita muda kesenangan namun dia tiba-tiba mengerutkan dahi saat melihat seorang gadis asing berada di samping Troy.


"Hey, Dara!! Sorry malam-malam gue ganggu. Bolehkan kita masuk dulu?" Dara membuka pintu apartemennya lebar-lebar lalu mempersilahkan keduanya masuk.


"Kalian mau minum apa?" Tawarnya ramah.


"Gak usah repot-repot. Di apartemen kamu masih ada satu kamar kan? Boleh gak temen aku nginep di sini." Dara agak sedikit aneh dengan sikap Troy. Namun mana mungkin dia menolak, ini kan juga apartemen milik Troy.


"Ada, kebetulan tadi aku bersihin. Temen kamu mau langsung tidur?" Senja mengangguk dan Dara langsung menunjukkan dimana letak kamar yang akan Senja gunakan untuk beristirahat.


Kamar yang Senja tempati begitu luas, bisa di katakan mewah maklum apartemen ini termasuk apartemen kelas elit. Ada sebuah tempat tidur, almari, televisi, dan juga meja rias.


"Jangan sungkan, anggap aja kamar sendiri ya." Senja mengangguk lemah lalu langsung duduk di ranjang.


"Kalau butuh sesuatu, kamu panggil aku aja." Kali ini Senja cuma diam. Dara tak mau mengusik teman Troy ini. Baginya bekas lelehan tangis serta mata Senja yang bengkak serta merah mampu menjelaskan segalanya jika orang ini sedang diterpa masalah.


Begitu Dara tak terlihat lagi, Senja menutup pintu kamar dan langsung membanting tubuhnya di ranjang, menumpahkan tangis sepuas-puasnya di sana. Hari ini semua kenyataan pahit terungkap, ia tak akan bisa merubah takdir atau garis hidupnya lagi, yang bisa Senja lakukan hanya meratapi dan mencari jalan terbaik setelah nanti pikirannya tenang.


"Itu tadi siapa?" tanya Dara pada Troy yang kini sedang di dapur mengambil air minum.


"Dia adik gue, adik kandung gue yang Gue pernah cerita kan sama loe?"


"Jadi dia gak mati, dia masih hidup?." Troy hanya mengangguk lalu membuka kulkas untuk mengambil es batu.


"Tapi sayang dia gak tahu kalau gue kakaknya. " Dara menatap Troy iba. Semua orang tahu Troy itu kuat, pintar, dan perfeksionis namun dia sebenarnya kesepian dan juga butuh dukungan. Seseorang yang selalu jadi pemenang memang agak egois dan juga jarang punya teman.


"Jangan tatap aku kayak gituh." Dara malah tersenyum masam. Troy paling benci jika di kasihani.


"Kamu mau di siapin makan?" Troy menggeleng.

__ADS_1


"Tapi ada makanan kan? Nanti biar Senja bisa makan kalau lapar."


"Jadi namanya Senja? Adik kamu itu kenapa matanya sembab? Kayak orang habis nangis."


"Aku gak tahu, itu yang harus kamu cari tahu. Biasanya perempuan mau ngomong sama sesamanya." Untuk hal itu Dara tak yakin, sebab ia dan Senja baru saja kenal. Tak mungkin gadis itu mau bercerita tentang masalahnya. "Dia mungkin bertengkar dengan suaminya."


"Semuda itu sudah menikah?"


"Bukankah kau mengenal **** saat berumur 18 tahun." Diingatkan dengan pengalaman **** pertamanya dengan Troy, Dara melengos. Andai Dara bukan seorang yatim piatu, andai kakak laki-lakinya tak meninggal, andai hidupnya tak miskin. Dara tak mungkin kini berada di dalam pelukan Troy, menjadi pemuas laki-laki itu. "Setidaknya Senja berhubungan intim di bawah lembaga pernikahan."


Ucapan Troy yang terakhir begitu menohok. Dara tak punya pilihan, dia bertahan hidup, bisa kuliah, bisa tidur beratapkan apartemen mewah, bisa memakai baju bagus dan kemana-mana dengan mobil. Itu semua di berikan Troy. Hidupnya memang bergantung pada laki-laki itu namun ia sebal kalau direndahkan. Dara sadar jika menikah atau jadi pasangan resmi Troy adalah hal yang mustahil. Sedari awal hubungan mereka hanya simbiosis mutualisme. Dara dapat uang dan Troy dapat kepuasan. Troy juga menekankan kalau dirinya tak sederajat dengan Dara yang keluar dari rahim seorang *******. Karena takdirnya anak seorang wanita ****** pasti berakhir jadi ****** juga.


"Apa kamu mau langsung pulang?"


Tanyanya seperti hendak mengusir.


"Kepalaku agak sedikit pening, aku sepertinya membutuhkan pijitan dan pelayanan ranjang." Dara mendengus sebal, di saat apartemennya sedang kedatangan tamu. Si brengsek Troy sempat-sempatnya memikirkan jatah. Namun Dara tak kuasa menolak saat tangan Troy merangkul bahunya untuk masuk kamar. Yang Dara sesali adalah sekian banyak makian, hinaan dari mulut Troy kenapa ia malah mencintai laki-laki ini.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Saga tak bisa tidur, ranjangnya begitu dingin. Biasanya ada Senja yang memeluknya hangat, menyambutnya bangun di pagi hari dengan senyuman. Saga yang bangun dengan hati hampa dan tatapan kosong. Kini malah tertunduk di atas ranjang sambil menangis tergugu. Ia ingat perbuatan semalam, ia menghancurkan hubungan mereka dalam sekejap. Tentu penyesalan selalu datang terlambat. Saga segera bergegas turun ke bawah karena teringat sesuatu.


Teman-teman Saga yang baru datang juga heran melihat kawannya kini sibuk mengobrak-abrik ruang tamu dengan penampilan yang bisa di bilang kacau.


"Loe cari apa?"


"Bantu gue cari cincin yang kemarin Senja lempar!"


Angga mendesah, haruskah ia mengaku kalau sudah menemukan cincin pernikahan temannya. Ia meraba cincin emas yang Angga simpan di kantong kemejanya. Berikan tidak ya, Angga ingin melihat Saga semakin tersiksa dan menyesal.


"Gue gak mau bantu!!" Celetuk Gio. "Kerjaan bengkel banyak, lagian jauh-jauh hari kita udah peringatin loe. Jangan main-main sama yang namanya pernikahan!!"


Angga yang ingin mengeluarkan cincin yang di simpanan namun tak jadi. Kesalahan Saga terlalu besar, ia membuat hati Senja yang begitu baik, remuk. Cincinnya Angga simpan dulu sampai ia rasa Saga patut dimaafkan.

__ADS_1


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ€πŸ„πŸ„πŸ„


__ADS_2