
Saga jelas terpuruk, Senja merencanakan sebuah perceraian. Istrinya itu sudah membawa buku nikah mereka dan Saga tahu kalau mungkin Senja sakit hati dan tak melanjutkan bahtera pernikahan ini. Ia tak rela jika berpisah saja sudah mendatangkan penyesalan apalagi perceraian. Saga dengan lemas duduk di sofa, kepalanya ia remas dengan tangan lalu Saga menunduk untuk menyembunyikan matanya yang sembab.
"Senja beneran minta cerai?" tanya Gio entah pada siapa. Harusnya Saga peka kalau dirinya tengah dibicarakan. "Dia bawa buku nikah kalian kan?"
"Gue gak tahu. Gue pikir Senja cuma marah sementara terus setelah itu kita akan baik-baik saja." Angga dan Gio menatap iba ke arah sang leader. Senja itu sabar, lembut dan baik hati pasti kalau di sakitin sisi kejamnya akan bangkit. Ada yang pernah bilang 'jangan mengusik seseorang yang pendiam, karena amarah mereka lebih mengerikan'.
"Tapi gue kayak kenal sama perempuan yang sama Senja tadi. Wajahnya mirip seseorang," ucapan Angga mendapat hadiah tempelangan dari Rio.
"Temen lagi susah masih aja mikirin cewek."
"Gue serius, gue kayak kenal cewek tadi."
Gio melengos, ia tak ingin mendengarkan ucapan Angga yang tak bermutu tapi kemudian kepala Gio menoleh ketika mendengar pekikan Angga. "Gue inget. Dia Dara bukan, adiknya Leon?"
SeketikaΒ wajah Gio memucat, ia teringat kejadian beberapa tahun lalu.
"Dara?"
"Heem adiknya Almarhum Leon." Ingatan Gio di tarik ke masa lalu saat menggemari hobi balapan dan berakhir dengan kecelakaan fatal yang membuat kakinya cacat sementara.
"Leon yang mana?" Tanya Saga penasaran.
"Loe gak tahu. Leon anak Redbulls, ketua mereka sebelum Troy." Kemudian Saga menggedikkan bahu, pernah mendengar namanya sih tapi tak terlalu ingat. Sedang Gio terpaku di tempat, diam saja tanpa membuka suara. Karena kecelakaan itu dirinya tak pernah berani balapan lagi, hanya puas mengotak-atik motor. Gio trauma ketika merasakan sakit terjatuh serta melihat sendiri motor Leon yang terguling, terpental dan akhirnya terbakar hangus.
"Gue gak mau mikirin apapun. Gimana caranya supaya gue gak jadi cerai. Pernikahan gue sama Senja suci. Gue ngaku masih cinta sama Nadine tapi jelas gue pingin hidup sama Senja." Angga hanya sanggup jadi pendengar sedang Gio pikirannya melayang entah kemana. Mereka tak menyadari ketika seseorang datang dengan wajah serta rahang tegas, berdiri di depan pintu tanpa berniat masuk.
"Ehmm... ehmmm permisi."
Ketiganya menoleh tapi langsung terkejut. "Mau apa loe ke sini?"
"Berani banget loe ke sini?" Gio ingin maju berdiri, tapi tangan Saga menahannya.
"Kalau loe mau ngomongin soal balapan atau perang antar genk. Gue rasa ini bukan waktu yang tepat." Saga pusing memikirkan nasib rumah tangganya, kedatangan Troy terasa sia-sia.
__ADS_1
"Gue datang pakai jas dan juga sepatu. Apa loe kira gue bakal ngomongin balapan? Kalau loe lupa ketua Redbulls bukan gue saat ini." Saga mengenal baik Troy, di balik sikap bar-barnya. Laki-laki itu pandai berperan sebagai pria terhormat, si pintar dan juga kesayangan semua orang. "Ada yang pingin gue bahas, ini mengenai Senja."
Jelas saja Saga kaget tapi tak mau gegabah, ia mempersilahkan Troy duduk. "Kenapa mau bahas istri gue?"
"Karena seseorang yang loe anggap istri dan loe sakitin itu adalah adik perempuan gue." Saga jelas terkejut dengan informasi ini begitu pun Gio dan juga Angga.
"Apa? Gimana bisa Senja jadi adik loe?" Seingat Saga, Troy itu dari keluarga kaya dan terpandang sedang Senja berasal dari keluarga sederhana dan dibesarkan oleh seorang single parent.
"Apa gue perlu ceritain silsilah keluarga gue sama loe? Gue mau bahas adik gue yang udah loe sakitin dan permainin hidupnya." Saga mulai gugup, setahunya ayah Senja sudah meninggal secara tak langsung Troy adalah wali sah istrinya. Kenapa dari sekian juta laki-laki yang jadi kakak Senja adalah Troy. "Loe udah bikin adik gue sakit hati."
"Loe tahu sekarang Senja dimana?"
"Dia ada di tempat gue, loe gak perlu khawatir."
"Gue pingin keremu dia dan jelasin semuanya."
"Kalau untuk itu loe harus langkahin dulu mayat gue." Troy bersikap defensif, ia melindungi sang adik dari Saga. Tak ia biarkan Senja bisa bertemu dengan ******** ini.
"Troy, gue mohon. Gue masih pingin mempertahankan rumah tangga gue." Troy berdecih, ia menatap Saga dengan pandangan meremehkan.
"Gue gak pernah main-main saat nikahin adik loe." Troy tiba-tiba maju mencengkeram kerah kaos yang Saga pakai.
"Gak main-main? Loe pikir gue begok, gak tahu apa yang terjadi sama Senja. Loe bikin taruhan sama temen loe, loe cinta sama perempuan lain, adik gue sakit hati, loe bikin dia menderita sama pernikahan ini!!!" Teriaknya lantang dan merasa tak terima. Ketika dia hendak memukul, kedua teman Saga memegangi tangannya.
"Gue ngaku, gue salah. Ijinin gue ketemu sama Senja." Gio dan Angga melepas cekalannya. Ia tahu Saga berada di pihak yang salah. Troy tak kemari sebagai ketua genk tapi seorang kakak.
"Okey kalau itu mau loe. Tapi loe kalahain dulu gue. Gue tantang loe buat duel, satu lawan satu di arena tarung. Kalau loe berhasil ngalahin gue, loe bakalan gue kasih ijin buat ketemu Senja tapi kalau loe kalah, gue gak akan segan-segan mampusin loe!!" Ancamnya bengis. Troy terbawa emosi, ia tak akan pernah mengampuni siapa pun yang menyakiti adik perempuannya satu-satunya.
"Oke kalau itu mau loe."
"Gue tunggu loe besok di area tarung. Jangan sampai loe gak datang apalagi lari." Troy mengibas-ngibaskan kemejanya yang kotor karena di pegang tangan kotor anak bengkel. Dia berjalan keluar dengan sombong. Troy tak akan pernah kalah dalam hal apa pun, balapan maupun berkelahi.
π©π©π©π©π©π©π©π©π©π©π©π©π©π©
__ADS_1
Fara risih di kejar terus oleh laki-laki yang kini telah di belakangnya. Laki-laki brengsek, tak tahu diri serta tak tahu malu itu selalu menanyakan perihal Senja.
"Please... Ra, kasih tahu gue dimana Senja?"
"Buat apa? Status kalian cuma mantan. Jaga batasan loe, Senja itu udah jadi bini orang." Fara berkelit saat Devano duduk tepat di sampingnya. Ia bergeser semakin jauh.
"Itu gue juga tahu."
"Nah loe punya otak berarti. Ngapain nanya Senja terus?"
"Gue tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga Senja. Saga itu sepupu gue, mereka gak baik-baik aja untuk saat ini." Mata Fara yang sebesar bola pimpong itu melotot. Dunia sempit sekali, kenapa juga Senja bisa nikah sama sepupu mantannya.
"Sejauh apa yang loe tahu. Jangan bilang loe cuma ngarang?"
"Senja kabur dari rumah, gue juga taruhan itu, gue tahu siapa perempuan yang di cintai Saga." Fara buru-buru menutup mulut Devano. Jangan sampai mulut laki-laki ini bocor kemana-mana.
"Oke. Loe bisa diam kan?" Devano mengangguk. "Gue akan kasih tahu dimana Senja tinggal tapi gue yang anterin ke sana."
π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄πππ΄π΄
Senja membantu Dara menyiapkan makan malam. Dirinya mengupas bawang sambil melamun. Huh, lebih nyaman sebenarnya tinggal bersama ibunya tapi kakaknya Troy tak mengijinkan.
"Kamu sabar aja, Troy agak diktator sih."
"Sejak kapan kamu kenal kan Troy?" tanyanya pada Dara yang kini mencuci udang di bawah pancuran keran.
"Sejak aku SMP, dia temen abang aku." Mengingat kata abang, raut wajah Dara berubah sendu. Dulu ia tak kesepian lagi setelah ibunya meninggal karena kanker rahim, ada Leon yang selalu menemaninya. Yah ayah mereka memang sama tapi ibu mereka beda. Leon terlahir dari istri sah, sedang ibunya perempuan simpanan. Walau begitu Bunda, ibu Leon sangat baik padanya Leon pun juga. Hanya memang ayah mereka tak bisa menerima Dara hingga saat ini apalagi setelah Leon tiada. Jahat sekali Dara pernah berpikir saat Leon meninggal maka sang ayah akan berpindah menyayanginya namun pikirannya meleset. Ayah mereka lebih senang menikah lagi dan membentuk keluarga sendiri. Sedang bunda harus di bawa ke USA oleh Mentari, sang kakak tertua karena tak kuat terpuruk saat kehilangan Leon.
"Sudah lama sekali tentu ya?"
Ting... tong.. ting.. tong
Tengah asyik berbincang bel apartemen berbunyi. "Biar aku buka." Senja segera mencuci tangan lalu bergegas berjalan membuka pintu.
__ADS_1
"Fara!!" Pekiknya girang namun wajah sumringahnya langsung tertutup mendung. Melihat dua orang berlainan jenis di belakang Fara. Harusnya Senja mengintip dulu siapa yang datang sebelum membuka pintu.
ππππππππππππ