Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 8


__ADS_3

Saga mulai mendekatkan diri pada Senja. Biasanya saat malam ia akan keluyuran sekarang Saga mencoba tidur di rumah. Ia heran kenapa sang istri betah banget matanya berada di depan laptop. Apa yang tengah Senja kerjakan. Saga penasaran.


"Nja, malem-malem masih kerjain tugas aja?? Gak niat buat pahala gituh, nyenengin suami." Tubuh Senja menegang. Apa itu hal yang menyenangkan suami dan dapat pahala kalau bukan. Ah Senja lebih baik pura-pura tuli. Ia menguatkan hati kalau malam pertama mereka, janganlah sampai terjadi.


"Nja....". panggil Saga lembut yang membuat bulu kuduk istrinya berdiri. Saga membuatnya heran. Kadang bersikap baik, kadang bersikap cuek kadang pula bersikap jahat. Kepribadian yang tak mudah ditebak. Saga yang asli terletak di bagian mana?


"Nja... kalau dipanggil suami nyahut dong!! Ambilin gue minum, gue haus." Tuh kan balik lagi jadi kasar.


Senja bergegas mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral di dalam galon. Lalu menyodorkannya pada sang suami yang ada di atas ranjang mereka. "Ini airnya." Senja iniย  kembali mengerjakan skripsi tapi Saga malah menahan tangannya agar tak pergi.


"Temenin gue tidur disini aja." pintanya sambil menepuk ranjang kosong di sebelahnya. Ini langkah pertama yang diambil Saga untuk mendekati istrinya. Semakin cepat Senja bertekuk lutut semakin cepat dia menang. Hadiah taruhan bukan hal yang utama, harga dirinya sebagai penakluk wanita yang dipertaruhkan disini. Saga yang tak pernah ditolak, merasa terbanting apalagi cuma karena seorang Senja yang penampilannya secara kasat mata jauh dari dirinya.


"Kerjaanku belum selesai."


"Bawa aja laptopnya ke sini. Lo bisa kan kerjainnya di sini sama gue." Pada hakikatnya semua gadis tak bisa dikasar apalagi dibentak. Mereka ingin diperintah dengan lembut. Betul kan pemikirannya, Senja mengambil laptop dan duduk di sampingnya.


"Loe nulis apa sih serius amat?" tanya Saga yah kini sudah memiringkan kepala, bersandar pada bahu sang istri.. Bahu Senja dibuat sandaran kepala selain merasa risih di sentuh. Jarak keduanya terlalu dekat


"Saga... Kepala kamu berat.." di hempaskan kepala suaminya supaya menjauh. Dasar istri kaku, diajak romantisan gak bisa. Umpat Saga sembari menatap sebelahnya jengah. Bagaimana pendekatannya mau mendatangkan kemajuan kalau Senja itu tipe perempuan malu-malu batu.


"Gue pusing, pinjam bahu Lo buat senderan. Biasanya kalau kepala gue pusing, suka dipijitin mamah." Ah Saga si anak mami. "Sekarang kan aku punya istri jadi gak mau minta ke mamah lagi."


Maksudnya apa? Senja yang ganti mijitin begitu? "Tapi kan aku lagi ada kerjaan, Ga."


"Ngerjain apa?? Sampai bab berapa?" Saga melirik ke arah layar laptop yang berisi tulisan kecil-kecil. Ah ternyata bahan skripsi Senja sudah sejauh ini. Ia kalah cepat. Senja bukan perempuan santai seperti dirinya. Senja punya target hidup sedang Saga malah bersantai-santai dengan masa mudanya.


"Ngapain sih cepet-cepet lulus? Punya target apaan sih?" Saga nyatanya usil, ia menscroll layar laptop hendak mencari tahu. Materi skripsinya Senja matang sekali. Tersusun rapi dengan kata-kata pilihan tepat. Saga harusnya mencontohnya bukan malah mengganggu.


"Singkirin tangan kamu, Ga. Materi aku bisa ilang. " Karena mendapat respon menyebalkan, Saga yang merasa kurang diperhatikan malah menyingkirkan laptop Senja dari pangkuan gadis itu lalu menggantikannya dengan kepalanya.


"Saga!!"


"Pijitin, kepala gue pusing."


"Tapi skripsi aku....."


"Dosa gede bantah kata suami." Peringatan Saga membuat Senja tak berkutik. Pasalnya ia paham betul soal agama. Jadinya menurut saja, semakin cepat Saga tertidur semakin ia bisa melanjutkan Pekerjaannya. Senja pikir sekarang kan ia jarang kuliah, apa sebaiknya iaย bekerja saja?? Dari pada waktunya terbuang sia-sia. Mungkin Senja akan minta tolong kepada Farah supaya dicarikan pekerjaan yang cocok. Lagi pula seharian di rumah Saga kan sama saja ia juga kerja, tapi kerja rodi.


๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข๐Ÿข


Jam dinding baru menunjukkan pukul 5 pagi saat Saga membuka sedikit matanya. Ternyata pijitan sang istri enak juga. Ingat Senja, dia jadi menepuk ranjang sebelah dan ternyata kosong. Senja kemana?


Matanya membuka sempurna, ia mencari sosok istrinya. Mata sayu Saga yang belum sepenuhnya sadar menangkap pemandangan yang indah. Seorang perempuan itu tengah bersujud sambil mengenakan mukena. Hati Saga bergetar hebat. Ia si brengsek yang tak pernah ibadah bahkan lupa surat al fatehah. Mendapatkan istri solehah. Apa pantas?

__ADS_1


Saat Senja selesai menunaikan shalat subuh dan mengucapkan salam. Saga sudah duduk bersila di sampingnya. "Kok shalat gak ngajak-ngajak? Gue kan pingin jadi imam!"


"Besok aku bangunin kamu, habis aku gak pernah lihat kamu shalat." Sindir Senja telak. Saga juga lupa kapan terakhir dia shalat wajib. Eh Jumat kemarin ia juga shalat berjamaah di masjid kampus 'kan.


"Balik tidur yuk, masih pagi juga." Jadi Saga enak, dia kan anak emas mamah Devi. Lah Senja cuma anak mantu, di sini statusnya hanya numpang hidup. Gak boleh berbuat seenaknya. Kalau dia tidur lagi, bisa di siram pakai air sebaskom.


"Aku mau mandi terus bantuin bibik di bawah."


"Ngapain sih bantuin bibik? Kan kita udah gaji dia." Saga gak pernah susah dari kecil mana dia tahu nasibnya Senja. Laki-laki itu gak punya respek sama orang miskin. Maklum udah terakhir kaya. Saga mungkin memegang sapu saja tak kan bisa.


"Gak bisa gituh! Kita juga mesti bisa ngurus diri kita sendiri. Lagi pula aku mesti kenak omel tante kalau aku gak bantuin bibik."


Mamah lagi?? Bagaimana pun Senja itu istrinya bukan pembantu. Tapi membela istrinya sama saja menambah sang ibu membenci gadis ini. Sebaiknya Saga diam dulu. Mamanya cuma menyuruh tak snapai menyinggung atau mencaci maki. Tapi sampai kapan dia akan diam saja. Bagaimana pun Senja sudah menjadi istrinya. Ia wajib membela bila ada yang menyakiti termasuk mamanya sendiri.


"Tapi Nja..."


"Udah kamu lanjut aja kalau mau tidur, aku seneng kok bisa bantu-bantu. Udah sekarang aku mau siap-siap dulu. Kalau nanti sarapannya siap aku bangunin."


Jujur Saga tak nyaman melihat mamahnya menjajah Senja. Keadaan Saga yang sekarang ini bukan salah Senja. Ia menikah karena tak ingin dipenjaraย  bukankah papahnya sendiri yang mengajukan lamaran ke ibu gadis ini. Sudah meminta anak gadis orang dari rumah ibunya sekarang bukan memuliakan dia sebagai menantu tapi memperlakukannya seolah pembantu.


๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ๐Ÿผ


Ting... tong... ting... tong


Ceklek.


"Saga-nya ada bik? Icha mau bareng kuliah. Nebeng maksudnya." Senja hanya diam menilai penampilan gadis itu. Cantik sih tapi sayang pakaiannya tak pantas dipake ke kampus. "Eh kamu siapa?"


Giliran Icha yang memindai penampilan Senja. Gadis yang ada di hadapannya ini siapa? Kalau pembantu mana mungkin secantik dan masih muda. Mungkin saudara pembantu atau saudara Saga. Masak bodoh, yang penting Icha sekarang harus ketemu Saga.


"Aku...."


"Eh Icha. Baru datang? Ayo gabung sarapan sama kita-kita." Ajak Devi menarik pergelangan tangan Icha, lalu mengabaikan menantunya yang berdiri memegang erat handel pintu. Jangan sampai Icha tahu kalau Saga sudah menikah. Bisa hancur hubungan pertamanannya dengan Dania, mamah Icha.


"Senja kamu siapin piring tambahan buat Icha."


"Iya tante."


Senja sedikit sakit hati tapi ia bisa apa? Bukannya Senja sudah biasa diperlakukan sebagai pelayan. Ia menunduk lesu, mengikuti keduanya berjalan ke arah ruang makan.


Senja ingat, gadis itu yang pernah ia lihat di arena balap, yang bergelayut manja pada lengan suaminya. Kalau tidak salah, dia Marischa. Alasan suaminya menganggap enteng hubungan mereka. Pastilah karena hatinya masih bertaut dengan Icha yang maha sempurna. Mau kemana ujung pernikahan mereka kalau Saga masih berstatus sebagai pacar Marischa. Bisa tidak gadia berambut pirang itu disebut pelakor walau nyatanya ia adalah orang ketiga diantara keduanya.


"Itu siapa sih Tan?" tanya Icha penasaran. Kalau pembantu mana mungkin memanggil ibu Saga dengan panggilan tante.

__ADS_1


"Itu, ponakan Om kamu dari kampung, ponakan jauh. Yah numpang di sini sambil bantu-bantu, Kuliah juga." Devi gak mungkin bilang dia mantunya, bisa hancur reputasi putra semata wayangnya di depan Icha. Icha itu mantu idaman banget, udah cantik, kaya sama fashionable, cocok Sama Saga yang ganteng. Cocok dengannya yang sosialita. Bukan gadis usang seperti Senja, yang bisanya cuma belajar, masak di dapur dan bantu bersih-bersih.


"Cha, ngapain loe pagi-pagi udah setor muka ke sini? Mau numpang sarapan??ย  Nyokap loe gak masak karena Kukunya takut patah?" tanya Saga ketika melihat Icha sudah duduk rapi di hadapannya. Saga tengah menyantap nasi gorengnya. Karena makan sambil bicara, banyak nasi yang keluar dari mulutnya. Walau menjijikan di mata Icha, Saga masih terlihat tampan.


"Aku mau nebeng kamu Ga, bisa kan??"


"Bisa, tapi gue pake motor. Emang bisa loe ngangkang Padahal pake rok pendek." Saga sebal jika motor kesayangannya si green di naikki Icha. Kekasih pujaannya itu pasti akan ngambek jika joknya di tempeli rok apalagi celana dalam.


"Yah kamu ngalah dong kuliah pake mobil."


Dan si Icha tabiatnya tak berubah dari kecil. Suka maksa dan semena-mena beda sama dia tapi sudahlah Revan harus melupakan perempuan itu. Toh tak baik mengingat-ingat yang sudah lalu. Cintanya dan si dia memang tak berjodoh.


"Siapa yang numpang. Kenapa gue harus ngalah??" Saga menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Enak banget si Icha bangke ini ngomong. Dia tamu tapi juga yang ngatur. Emang dimana-mana cewek selalu bener, tapi Saga bukanlah komplotan bucin.


Tahu Saga mulai kesal. Icha melirik ke arah Devi, minta dibantu. Kalau ibu ratu sudah bertitah, mana berani Saga membantah.


"Ga, kamu pake mobil aja. Biar sama sama enak. Kalau naik motor entar kalian bisa masuk angin." Lah Saga pake jaket, si Icha Kenapa juga pake baju kurang kain.


"Nggak mau, mamah aja yang nganterin dia ngampus." Dengan kesal Saga meletakkan sendoknya. Nafsu makannya udah hilang. Ia tak mau menurut. Memakai mobil, Saga jadi tak gesit saat memebelah kemacetan.


Sedang Senja dapur sibuk menyiapkan bekalnya, mengisi air mineral di dalam botol dan membungkusnya dengan wadah plastik. Baru kemudian ia masukkan ke tas. Makanan di rumah ini terlalu enak untuk dilewatkan.


"Non Senja emang gak Dikasih uang jajan?? Kok bawa bekal?" tanya Mbok Nah yang baru selesai mencuci perkakas masak tadi. Menatap Senja, ia jadi ingat putrinya yang ada di kampung. Yang selalu bilang baik-baik saja dan dikasih uang cukup. Padahal walau di kampung, biaya sekolah tetap saja mahal.


"Kan bawa bekal sendiri lebih sehat". Mbok Nah tersenyum. Gadis baik, tapi sayang harus jadi menantu nyonyanya. Mbok Nah yang ingat menyimpang sesuatu segera membuka kulkas. Mengambil sebuah puding coklat dari sana. Besok-besok ia akan buatkan makanan enak untuk istri tuan mudanya. Selain rajin membantunya di dapur,. Senja juga gadis yang pengertian dan baik hati.


"Ini bonus dari mbok, mbok udah buat susah-susah gak ada yang makan."


"Makasih" Senja dengan senang hati menerimanya. Memasukkan benda itu ke tas. Lumayan bekalnya hari ini bisa ia bagi dengan Fara. Tanpa mereka sadari Saga melihat interaksi keduanya dengan tatapan kasihan. Bahkan pelayan di rumah ini saja begitu menyayangi Senja. Masak ibunya tak bisa memperlakukan istrinya dengan baik. Saga juga iba, ia bisa bersenang-senang dengan credit cardย dengan limit lumayan besar sedang Senja harus hemat. Pantaskah ia jadi seorang imam dalam rumah tangga. Sepertinya kini Saga mulai menghayati perannya.


"Ini." Saga menghadang langkah istrinya dengan menyodorkan sebuah kartu ATM.


"Jangan nolak loe bisa gunain ini buat kebutuhan loe, password nya entar aku WA." Senja masih tak bergeming sebelum tangannya menerima kartu bewarna emas itu. Bukannya ia akan menggunakannya tapi untuk berjaga-jaga saja kalau ada keadaan yang darurat dan sangat membutuhkan uang.


"Makasih." ucapnya sedikit tak enak.


"Loe mau kemana?? Gue anterin deh."


"Gak usah, aku naik angkot aja. Aku mau ambil motor di rumah mamah."


Sebuah penolakan halus tapi Saga tak kalah kerasnya.


"Gue anterin deh sekalian ketemu mertua, mau silahturahmi." Sebenarnya Senja enggan untuk diantar tapi ya sudahlah kalau Saga memaksa. Daripada naik angkot juga akan lama sampainya. Karena harus berganti kendaraan umum itu sampai dua kali. Belum lagi Senja nanti juga harus berjalan kaki menuju depan komplek.

__ADS_1


๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ


__ADS_2