
Hidup tak melulu bahagia. Senja mengalami hal yang di namakan patah hati. Bukan hanya sekali tapi dua kali. Pertama tak sesakit ini, mungkin karena saat Vano menyakitinya. Ia masih punya target kuliah, dan nilai yang dikejar hingga sakit yang Vano beri tak ubahnya seperti digigit lebah. Namun dengan Saga lain, Senja menyerahkan semuanya hati, tubuh, pikiran, jiwa dan raga. Kenyataan kalau hati Saga bukan miliknya cukup mematahkan semangat hidupnya. Seketika dunianya yang berporos pada Saga di paksa runtuh. Cinta memang lekat dengan patah hati, jangan jatuh cinta jika tak siap di lukai.
"Senja, makan dulu." Bujuk Troy yang masih sibuk mengetuk pintu. Saat kini iaΒ tak ingin makan, namun karena rasa segannya Senja bergegas membuka pintu dan bergabung untuk makan di meja makan.
"Aku mau berangkat ke kantor. Kamu makan aja, tadi aku udah sarapan duluan," Pamit Troy yang kini sudah mengambil sepatunya. Sedang Senja masih duduk memegang sendok tanpa mau menyuap nasi goreng yang Dara telah masakkan.
"Kamu gak nafsu makan? Nasi gorengnya gak enak? Aku bisa ganti kok dengan makanan lain," Tawar Dara. Troy sudah berpesan jika apa pun mau Senja, Dara tak boleh membantah atau menolak.
Senja terpaksa menyendokkan makanannya ke mulut. "Nasi gorengnya enak kok." Namun nasi goreng membangkitkan kenangannya bersama Saga, nasi goreng adalah masakan yang ia masak untuk pertama kali saat jadi istri seorang Saga Manggala. Kenangan indah serta manisnya memenuhi otak Senja yang sempit tanpa sadar membuat Air matanya menetes. Ia baru paham jika semua yang Saga lakukan padanya adalah sebuah kepalsuan.
"Kok kamu malah nangis?," Tanya Dara sambil menyodorkan wadah tisu. "Apa terjadi sesuatu?"
"Gak ada apa-apa." Suara derit kursi terdengar, nampaknya Senja masih ingin bersembunyi di dalam kamar. Dara membiarkan adik Troy itu pergi untuk menenangkan diri. Dara pernah berada di posisi itu, posisi dimana tetap ingin sendiri. Posisi tak ingin membagi rahasianya dengan siapa pun.
ππππππππ
Saga kalang kabut, sedari tadi mencari keberadaan Fara di kampus namun nihil. Gadis yang hanya memiliki tinggi 160cm itu tak terlihat. Padahal harusnya Farah ada kelas hari ini. Ia yakin kalau Senja pergi ke rumah sahabatnya, karena saat ke rumah Helen tadi Senja tak ada di sana.
"Senja, kamu dimana?" Gumamnya lirih. Saga seperti orang yang nampakΒ
putus asa. Dan satu tempat lagi yang ia perlu kunjungi yaitu cafe, tempat istrinya bekerja. Dengan tergesa-gesa Saga menstater motor sportnya. Semoga Senja ada di cafe. Saga cuma perlu minta maaf dan mengajak istrinya kembali pulang.
Nyatanya hati yang telah tersakiti akan sulit mrmberi pengampunan bahkan mungkin Senja tak akan mau melihat wajahnya nanti.
ππππππππ
"Masih gak mau makan?" tanya Troy kepada orang di seberang telepon.
"Dia malah masuk kamar dan nangis lagi."
"Kamu gak bisa ngorek info apapun dari dia?" Troy memukul setir ketika mendapatkan jawaban tidak dari Dara.Β "Masak gituh aja gak bisa!! Begok loe, gak becus loe!!," Hardiknya kasar, meski di dalam telepon. Dara tetap saja sakit hati.
"Kita baru ketemu satu kali, gak mungkin Stella mau cerita tentang masalahnya. Kalau kamu kepo dengan masalah adik kamu. Kenapa kamu gak tanya sendiri?" Dengan tak sopan Dara memutus panggilan Troy sepihak. Dara sebal menerima umpatan kasar.
Troy sebenarnya kesal diputus panggilannya namun ia sadar jika seseorang sudah menunggunya di luar mobil. "Sorry, kamu nunggunya lama."
"Kak Troy mau ajak aku kemana?," Tanya Fara malu-malu. Pasalnya untuk pertama kalinya orang yang ia sukai, mengajaknya pergi. Mereka akan kencan kemana ya? Pantai, restoran mewah, Mal, atau ke tempat yang lebih romantis. Membayangkannya saja membuat senyum Fara terbit selalu.
__ADS_1
"Ikut kakak sekarang, kakak ingin kamu ketemu seseorang." Bolehkah Fara berlari ke pelukan Troy sekarang juga tapi dia masih punya harga diri jadi Fara tak akan melakukannya. Menemui seseorang? Kira-kira siapa itu, apa ibu atau ayah Troy bisa jadi keduanya. Ah senangnya, ternyata gayung bersambut. Cintanya dibalas dan tak kandas.
Sepanjang perjalanan menuju tempat yang ingin mereka kunjungi. Fara banyak berceloteh dan melempar candaan garing sedang Troy yang sopan banyak diam dan tersenyum. Bicara satu arah dan hanya di tanggapi sebuah senyuman saja sukses membuat hati Fara berbunga-bunga serta angannya membumbung tinggi ke langit.
Fara mengerutkan dahi saat mobil Troy masuk ke sebuah jajaran apartemen mewah. Secepat inikah mereka akan bertindak terlalu jauh, apa benar Farah akan di pertemukan dengan keluarga Troy yang tentunya kalangan atas serta kaya. Setiap bunyi dentingan lift membuat jantungnya berdebar dengan kencang. Hari bahagianya telah tiba. Mereka harus berhenti di lantai 7 dan berjalan menuju sebuah apartemen bernomer 76.
Fara mengubah ekspresi senangnya menjadi jutek saat tahu yang membuka pintu apartemen itu seorang perempuan muda dan cantik. Tak cuma cantik tapi sempurna, kulitnya seputih pualam, matanya besar, bulu matanya lentik, rambutnya lurus hitam panjang sampai di belakang punggung. Positif thingking Fara, mungkin ini adik Troy.
"Gimana Ra?"
"Gak ada kemajuan, dia masih di kamar." Mendengar nada bicara mereka yang layaknya orang biasa bukan saudara. Farah harus menyela.
"Sebenarnya kenapa sih, aku kakak ajak kemari?" Troy hampir saja melupakan kehadiran Farah yang sengaja ia jemput tadi.
"Begini, kemarin kakak gak sengaja ketemu Senja yang kabur dari rumah. Dia gak mau pulang dan gak punya tujuan jadinya aku bawa kemari," Jelasnya supaya paham. "Aku gak bermaksud kepo atau mencampuri urusan orang lain. Tolong kamu cari tahu Senja kenapa. Dari kemarin dia cuma sembunyi di kamar dan gak mau makan." Troy tak usah memohon. Bagaimana pun juga Senja adalah sahabat terbaiknya. Lantas kenapa saat kabur Senja tak menghubunginya saja, malah bersembunyi di sini.
Tok... tok.... tok... tok....
"Senja... ini gue Fara." Di kira pintu akan langsung terbuka nyatanya cukup lama Farah berdiri dan mengetuk lagi. Namun pintu kayu itu juga tak mau bergeming.
Ceklek
"Loe kenapa?" Tanya Farah yang kini malah terkejut melihat penampilan Senja yang bisa di katakan miris. Kantung mata menebal dan menghitam, jangan lupakan bekas air mata yang belum lama surut. Berapa lama sahabatnya itu menangis?
Di tanya seperti itu Senja langsung memeluk Farah dengan erat. Ia butuh seseorang juga untuk berbagi cerita. "Saga.., " Gumamnya lirih sambil terus menangis.
"Kalian kenapa?" Farah
yang tak kuat menopang berat badan Senja, menggiring sahabatnya untuk duduk di ranjang. "Cerita sama gue."
"Loe ingat foto yang lo kasih ke gue?"
"Jadi beneran Saga selingkuh?"
"Enggak, bukan begitu ceritanya," Senja menghembuskan nafas supaya lebih tenang. Untuk sejenak air matanya bisa dikendalikan. "Nadine itu cinta pertama Saga dan suami gue masih cinta sama dia sampai sekarang." Mengungkapkan apa yang ada di hati tidak semudah yang di jabarkan. Senja seperti menekan sesak nafas dan menahan pahitnya empedu.
"Sampai sekarang? Terus posisi loe dimana, arti loe buat Saga apaan selama ini?" Senja mulai menangis lagi, agak histeris dan keras. Troy yang mendengar suara sang adik layaknya sayatan miris akan berdiri tapi Dara menahannya agar tak beranjak dari kursi.
__ADS_1
"Sikapnya sama gue palsu, gak tulus. Dia bersikap baik, karena jadiin janji pernikahan kita sebagai barang taruhan." Fara terjingkat kaget, taruhan tentang apa kini? Saga menjadikan pernikahan mereka sebagai sebuah permainan. Saga emang kekanakan, berandalan dan juga hidupnya berantakan tapi mempermainkan ikatan pernikahan rasanya keterlaluan. Pernikahan yang menurut Senja sesuatu yang sakral dan cinta di antara hubungan itu cukup mengikat keduanya namun ternyata rasa di satu pihak berat sebelah.
"Gue hancur saat tahu Saga gak pernah ada hati sama gue. Kenapa dia sok baik, ngelakuin hal yang terlalu jauh sama gue. a
Apa sedikit pun tak ada rasa sayang dia sama gue, minim sebagai manusia?" Ucapnya begitu lirih sembari kepalanya kian tertunduk. Fara paham kini, jadi Senja tak mudah dan juga mana ada seorang istri yang akan tahan jika di hati suaminya ada nama wanita lain.
"Loe Perempuan istimewa, loe berhak bahagia dan dicintai." Fara memeluk tubuh sahabatnya yang sudah tak kuat menahan air mata dan derita. Dibiarkannya bahunya basah.
Fara kenal Senja lama. Seorang Perempuan berpikir rasional dan setia. Kini logikanya harus tergadai dengan kenyataan yangΒ ada. Dimana hidup yang ia anggap sempurna hanyalah sebuah kepalsuan. Seorang laki-laki yang ia kira mengulurkan tangan untuk Senja, kenyataannya mendorong Senja masuk ke dalam lembah patah hati.
Fara hanya bisa mengelus surau hitamnya, andai Saga ada di depan matanya. Sudah di pastikan Farah akan mencakar-cakarnya dan memberikan pukulan bertubi-tubi agar lelaki itu merasakan sakit juga.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Arthur hampir saja menjatuhkan tutup gelas saat melihat kehadiran Saga di cafenya. Memang pemuda itu biasa datang karena mengantarkan Senja itu pun hanya di depan bukan masuk ke dalam.
"Ada urusan apa kamu kemari?," Tanya Arthur baik-baik. Seperti biasa Saga itu anak tengil bergaya sok. Masuk ke tempat orang tetap saja gayanya sok jagoan.
"Dimana Senja?"
"Belum datang dia, jadwalnya kan masih jam 2." Jawabnya santai tanpa tahu kalau keadaan rumah tangga karyawannya sedang di guncang prahara. Saga berpikir sejenak, mungkinkah Senja ke sini untuk bekerja. Tak ada salahnya kan kalau menunggu.
"Ya udah loe tunggu aja sambil duduk. Mau pesen apa?" Saga cuma diam. "Tenang, gratis kok."
"Thanks tapi gak usah." Ia
memilih tempat duduk di dekat jendela. Mengantisipasi kalau-kalau Senja akan datang. Namun Baru saja duduk berapa menit, Arthur menepuk bahunya pelan hingga lehernya memutar untuk menoleh.
"Senja telepon gue katanya dia ijin gak masuk dua hari."
"Serius?" Saga tak percaya begitu saja. "HP Senja gak bisa di hubungi."
"Mana gue tahu, dia tadi telepon gue sendiri." Yang minta ijin buka Senja tapi Troy. Namun Arthur paham pasti ada sesuatu yang terjadi dengan sepasang suami istri ini. Entah apa, Arthur rasa bukan urusannya juga.
Saga harus menelan pil pahit ketika menghubungi Senja hanya operator telepon yang menjawab. Kemana istrinya pergi, dari gelagat Arthur dia tak tahu apa yang terjadi. Saga beranjak pergi tanpa pamit, memang tidak sopan tapi dari pada waktunya terbuang habis lebih baik mencari istrinya di tempat lain.
πππππππ
__ADS_1