Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 9


__ADS_3

Saga masih menemani Senja duduk di bangku pinggir jalan. Ia tak tega bila meninggalkannya dalam keadaan kalut seperti ini. Baru saja Saga menemaninya untuk mengambil motor tapi kabar tak sedap harus didengar oleh sang istri. Ibu mertuanya, Helen akan menikah dengan om-om mesum bernama Adam dua minggu lagi.


"Mereka akan nikah sebentar lagi. Aku gak suka apa aku mesti hancurin kebahagiaan mamah??" gumamnya lirih tatapannya tertuju ke jalan kosong. Dalam benaknya pasti tak setuju tapi Senja hanya punya satu ibu, ia ingin ibunya juga Bahagia. Senja kira pernikahan mereka masih setengah tahun lagi. Di dalam setengah tahun itu, ia punya harapan jika Helen mungkin saja beruabh pikiran tapi keinginannya tinggal kenangan.


"Gimana ya Nja, gue gak tahu tapi jujur lebih baik." jawaban yang Benar meski kejujuran itu pahit harus kita ungkap. Tapi Saga ragu 90 persen. Senja tipikal perempuan yang tak terlalu banyak bicara dan sulit mengungkapkan sesuatu. Terbukti, selama ibunya berbuat semena-mena. Senja tak pernah mengadu kepadanya.


"Kamu kalau mau kuliah, kuliah aja. Aku gak apa-apa kok." Saga memang berat meninggalkan Senja di dalam keadaan kalut tapi mau gimana, ia juga punya urusan.


"Gue tinggal, kalau ada apa-apa hubungin gue."


Dia pamit pergi dan bergegas menaikki motor sportnya menuju bengkel. Karena hari ini Bengkelnya ramai, para pelanggan sudah menunggunya. Masalah kuliah kan bisa di nomer sekiankan. Mungkin karena itu Saga tak lulus-lulus.


Saga mendesah ketika melihat motor matinya yang terparkir. Daripada sibuk bergelung dengan pikirannya sendiri. Lebih baik pergi mencari pekerjaan atau kalau pun tak dapat. Ia bisa mampir ke kampus untuk duduk bersama Fara. Namun sekeras apa pun ia menyingkirkan pikirannya tentang pernikahan ibunya. Senja tetap pusing juga.


Karena tak konsentrasi saat mengendarai motor. Ia tak sadar ketika berbelok ke jalan Raya. Ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi, menyrempetnya dari arah samping.


Bukk


Kecelakaan pun tak terhindarkan.


"Auw..."


Senja jatuh. Kakinya, siku dan juga lututnya mencium aspal yang terjal penuh kerikil. Badannya tentu sakit tapi untungnya tak ada yang parah.


"Kamu, gak apa-apa ??" tanya seorang laki-laki asing yang menolongnya berdiri. Tapi bagaimana bisa bangkit kalau kakinya saja terasa sakit sekali.


"Auw..."


"Eh kaki kamu berdarah!! Kamu masih bisa berdiri??" tanya lelaki asing itu saat melihat wanita yang ditolongnya mengaduh kesakitan.


"Kayaknya gak cuma berdarah tapi juga kesleo. Gak bisa berdiri kan??"


Senja kaget lelakiย berperawakan tinggi itu malah mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba dan memasukkannya ke dalam mobil mewah.


"Sorry, biar motor kamu supirku yang urus." Dahi Senja mendadak berkerut. Orang di hadapannya terlihat bukan orang yang jahat.


''Aku yang nyerempet kamu , maksudnya supirku yang nyempet."


"Gak apa-apa kok, mungkin aku yang naik motor kurang ati-ati." Dia kan tadi yang memang ngelamun sambil naik motor.


"Nama aku Troy, kamu?"


"Senja."


Senja jadi ingat sesuatu. Bukannya dia ini atroya yang menjadi musuh bebuyutan Saga di area balap dan juga ifola sahabatnya Faradilla. Pantas Fara mengaguminya, aura pria ini begitu dewasa dan maskulin berbeda dengan suaminya.


"Kita ke klinik terdekat aja buat ngobatin lukaย kamu." Troy menempatkan diri di depan setir. Ia menggerakkan benda bulat itu agar mobilnya memutar arah untuk mencari klinik terdekat. Harusnya tadi ia menyetir sendiri tanpa bantuan sopir kakeknya kalau akhirnya cuma akan jadi begini.


๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ


"Auw.... aduh... dokter pelan..pelan." Senja mengaduh, karena dokter yang menanganinya menekan lukanya dengan kapas yang telah diberi alkohol. Perih dan nyeri sungguh ia rasa. Apalagi kini sang dokter perempuan malah menegakkan kakinya kemudian menggerekkan engkelnya.


"Auw!!" Teriaknya lebih keras dari tadi. Kakinya benar-benar sakit padahal cuma digerakkan sedikit.

__ADS_1


"Kaki kamu keseleo. Kamu harus istirahat seminggu di rumah. Saya akan beri salep dan balut kaki kamu dengan gyp. Gak apa-apa 'kan?"


Senja mengangguk. Kakinya kesleo, lalu bagaimana cara ia berjalan nanti.


"Yang di luar itu siapa Pacar kamu?" tanya sang dokter di sela-sela memberikannya perban putih. Senja heran saja. Apa ranah seorang dokter menanyakan urusan pribadi pasien.


"Bukan, itu orang yang nolong saya." Senja harus mengucapkan terima kasih, walau mobil Troy yang menariknya tadi. Bukan kesalahan pria itu juga sih, Senja yang mengendarai motor sembari melamun.


Sedang Troy menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas. Ia sendiri juga bingung kenapa berjalan mondar-mandir dengan raut muka khawatir. Troy tak pernahย  begitu perduli pada orang asing, apa lagi perempuan. Bahkan sampai mengantarkan gadis ini ke klinik. Padahal bisa saja ia pilih memberikan uang yang banyak lalu pergi.


Entah kenapa gadis yang bernama Senja begitu menarik perhatiannya, seperti mengingatkan Troy pada seseorang.


Ceklek


Gadis yang tengah dipikirkannya keluar dari ruangan klinik sembari berjalan bertatih-tatih. Dengan sigap Troy menghampiri untuk membantu. "Eh sini aku bantu jalan. Obatnya udah dikasih kan sama dokternya?"


tanyanya memastikan bahwa obat yang telah dibayarnya sudah diterima oleh Senja.


"Udah kok." Senja mulai menerima uluran tangan Troy. Tak ada perasaan canggung atau Jantung berdetak kencang. Malah rasanya telapak tangan besar pria itu nyaman dan hangat. Senja juga aneh pada dirinya sendiri. Sosok Troy membuatnya merasa aman dan merasa terlindungi.


"Aku antar kamu pulang ya?? Tapi sebelum pulang kita beli tongkat buat kamu. Oh... iya alamat rumah kamu mana??


"Rumah aku di perumahan Graha."


"Wah ternyata kamu orang kaya juga ya?? Kenapa tadi pas aku tabrak kamu pake motor?" tanya Troyย  lagi yang kini sudah duduk di kursi pengemudi. Ia juga bingung sendiri kenapa seolah-olah nyaman dengan adanya Senja di sampingnya. Ia yang biasanya pendiam jadi cerewet.


"Aku cuma numpang kok sama Saudara di sana." Lidahnya kelu jika harus menyebut numpang di rumah suami, bukan maksudnya mau memperkenalkan diri sebagai seorang single tapi Senja ingat mertuanya saja tak sudi memperkenalkan dirinya sebagai menantu.


Troy memberhentikan mobilnya di sebuah toko, untuk membeli tongkat. Sedang Senja hanya berdiam diri. Troy sudah memberinya obat, mengantarkan ke klinik. Kali ini apa tidak terlalu berlebihan jika pria itu memberinya sebuah tongkat sebagai alat bantu jalan. Senja cuma kesleo, setelah beberapa hari paling juga sembuh.


"Enggak, aku tadi naik motor mau cari kerja tapi kalau gak dapat baru aku mau mampir ke kampus."


Entah dorongan darimana Troy punya rasa empati yang begitu tinggi untuk membantu Senja. Biasanyaย ia cenderung masa bodoh dengan kesusahan orang lain apalagi mereka baru kenal. Troy biasa dimanfaatkan para perempuan, karena mereka tahu jika dirinya banyak memiliki uang tapi dengan Senja ia tak merasakan itu.


"Kalau kamu butuh pekerjaan. Kamu bisa ke sini. Kebetulan aku baru aja joinan bikin cafe sama temenku. Kamu butuh karyawan tambahan." Troy menyerahkan sebuah kartu nama bewarna biru dan walau sungkan Senja tetap menerimanya. "Tapi kamu ke sana kalau kakimu udah sembuh."


"Terima kasih. Maaf aku banyak ngerepotin."


"Aku cuma bisa ngelakuin itu sebagai ucapan permintaan maaf."


Senja tak tahu harus menjawab apa. Troy itu baik, kenapa juga suaminya sampai memusuhi pria ini? Karena tak mau ketahuan mengamati wajah Troy. Senja membuang pandangannya ke jendela. Pura-pura menikmati dan melihat-lihat tempat yang telah mereka lalui. Keduanya semakin dekat dengan perumahan Graha. Terlihat gerbang pintu bercat biru bertuliskan Graha nampak dari kejauhan.


"Berhenti di pos satpam aja ya??" Troy sedikit terkejut dengan permintaan Senja. Mengingat kaki Senja masih sakit dan pastinya akan sulit untuk berjalan nanti.


"Aku antar sampai ke rumah. Kakimu masih sakit, gimana jalannya nanti."


"Gak apa-apa aku bisa jalan sama tongkat. Lagian satpam di sini galak, kalau ada orang asing suka di interogasi." Jawabnya sebagai alasan lalu tersenyum manis ke arah Troy. Lelaki itu seperti mengalami de javu, ia pernah melihat senyum yang bisa menghangatkan sanubarinya itu. Sebelum Senja menarik tuas pintu, Troy menahan tangannya.


"Ini ada sedikit uang buat kamu." Dengan halus Senja mendorong mundur tangan Troy yang menggenggam uang. Ia sudah diobati, rasanya terlalu serakah jika harus menerima uang dari pria ini.


"Gak usah, aku sudah sangat berterima kasih kamu tolongin. Jangan bikin aku nggak enak dengan menerima uang kamu."


Kemudian Senja keluar dari mobil meninggalkan Troy dengan perasaan bingung. Kenapa saat berpisah dengan Senja membuatnya begitu sedih. Seperti ada yang sesuatu hilang. Senja sendiri berjalan pelan tanpa menoleh ke belakang. Tapi ketika ingat akan sesuatu Senja berbalik. Naas memang, mobil Troy sudah pergi. Lalu bagaimana motornya? Siapa yang mengurusnya kini?

__ADS_1


๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„๐ŸŽ„


Bukan pandangan khawatir yang didapat Senja saat pulang atau sedikit keterkejutan mengingat keadaannya yang tak baik-baik saja tapi sebuah cibiran bahkan sindiran dari Devi, ibu mertuanya. Wanita itu bersedekap sambil Mengamati penampilan Senja dari ujung kaki sampai kepala.


"Dari mana kamu? Pulang kok bawa tongkat gini!! Kamu kenapa??" tanyanya acuh tak acuh sambil mengikir kuku jarinya yang mulai memanjang.


"Senja habis jatuh dari motor." Jawabnya menunduk tanpa berani menatap ibu mertuanya.


"Hah?? Makanya Jangan sok-sokan mandiri naik motor kalau luka gini yang ngurus siapa?? Oh.... kamu mau bikin suamiย  sama anak saya khawatir. Biar kamu dapet perhatian dari mereka. Lagian kamu kecelakaan naik motor siapa? Perasaan kamu tadi berangkat aja bareng Saga."


"Senja ambil motor Di rumah mamah," jawabnya lirih.


Sebenarnya Senja ingin segera pergi dari pada mendengar ucapan mertuanya yang menusuk hati tapi merasa tak sopan kalau tiba-tiba permisi tanpa alasan. Ia kuatkan berdiri, menerma setiap kata-kata pedas. Bagaimana buruknya Devi, wanita ini tetaplah ibu Saga suaminya.


"Oh ini kecelakaan pasti akal-akalan kamu sama ibu kamu yang janda gatel itu supaya kamu dapat simpati dari Saga? Supaya anak saya kepincut sama kamu."


Senja jelas kaget. Kenapa nama ibunya dibawa-bawa. Devi boleh menghina sepuas hati tapi jangan pernah melibatkan ibu kandungnya. Helen membesarkannya dengan susah payah bahkan sampai mengesampingkan kebahagiaannya sendiri. Senja mendongakkan wajah, ia berani menatap mata Devi. Cukup sudah kesabarannya telah habis.


Brakk


Senja membanting tongkatnya. "Ibu saya bukan janda gatel. Saya sangat menghormati tante bahkan kalau pun tante mencaci maki saya, saya cuma akan diam tapi jangan ibu saya di bawa-bawa."


"Kamu!! Berani banget kamu nantang saya!!"


"Kenapa tante gak suka sama saya?? Apa salah saya?? Bukan keinginan saya jadi menantu tante, ayah Saga yang meminta saya kepada mamah. Saya sadar saya miskin, bukan mantu idaman tante. Saya sadar saya numpang makanya saya diam waktu tante perlakukan semena-mena. Tapi apakah terlahir miskin adalah sebuah kesalahan?"


Senja sudah tak tahan dengan cacian dan kebencian yang Devi berikan. Ia cuma perempuan biasa yang punya batas kesabaran. Hatinya sudah tak kuat menampung luka atau pun hinaan.


"Kamu!!"


Senja siap dipukul ketika telapak tangan Devi melayang ke pipi kanannya tapi saat ia memejamkan mata, siap menahan sakit. Pipinya tak merasakan apa pun. Ternyata ada seseorang yang menahan laju tamparan mertua Senja itu.


"Saga?"


"Cukup. Berhenti hina istri Saga."


"Kamu bela dia dari pada mamah?"


Saga sebenarnya tak berani melawan ibunya tapi Senja lebih berhak dibela. Ia mendengar semua cacian yang Devi tujukan pada Senja. Tak mau memperpanjang masalah. Ia memilih menggendong Senja masuk ke kamar mereka. Ia khawatir melihat kondisi Senja yang tak bisa berjalan dan penuh luka perban di tangan dan kaki. Walau Devi berteriak memanggil namanya di bawah tangga tapi kali ini ia harus tegas. Saga sudah cukup besar untuk bisa membedakan yang salah serta benar.


''Loe kok gak hubungi gue padahal Loe lagi Ketimpa musibah. Tadi kan gue udah bilang kalau ada apa-apa hubungi gue, Tahu gini gue gak akan ninggalin Loe tadi." ucapnya menggerutu sebal tapi Kenapa Senja sepatah pun tak menjawab pertanyaannya. Saga malah melihat pundak Senja naik turun terisak-isak. Gadis itu menangis. Saga berhenti bicara lalu berjongkok, menggenggam kedua tangan istrinya.


"Maaf, gara-gara aku. Kamu sama tante ribut." Saga bingung sendiri kenapa ada orang sebaik istrinya. Bukannya mengadu atau mengeluarkan semua rasa sakit hatinya. Perempuan ini malah meminta maaf. "Aku gak bermaksud buat nglawan tapi..."


"Iya gue tahu kok." Saga malah mengelus pipinya lembut hingga menimbulkan rona merah.


"Loe istirahat aja, minum obat."


"Kamu kok pulang cepet?"


"Gue tadi ke bengkel ngerjain motor. Eh tiba-tiba ada orang nganterin motor lo yang bentuknya penyok. Gue khawatir dong, tanya sama orang itu mana yang punya nih motor. Dia kasih tahu kalau lo kecelakaan. Gue khawatir langsung tancap gas ke TKP. Eh kata mereka loe dibawa ke klinik tapi pas sampai di sana kata dokternya lo baru aja dianter pulang. Gue langsung pulang aja ngebut naik motor. Eh sampai di rumah, gue lihat lo dibully mamah." Jelasnya tanpa berhenti dan membuat hati Senja langsung melambung tinggi.


"Makasih ya, Ga."

__ADS_1


"Udah jangan dipikirin. Loe istirahat dan jangan lupa minum obat." Pamitnya sambil menarik handle pintu. Kemudian senyum yang ditahan Senja sedari tadi mulai mengembang. Bolehkah Senja berharap akan mendapatkan bahagianya?? Menjalani pernikahan secara normal.


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2