
Saga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Senja. Kemarin mereka masih baik-baik saja, bercanda , bercengkerama bersama bahkan mereka makan sambil suap-suapan. Kini istrinya jadi aneh hanya diam dan murung. Lalu menyahut singkat jika diajak Saga bicara.
Saga beberapa kali melirik ke arah sampingnya. Senja sedang mengambil alat-alat perlengkapan rumah tangga untuk memenuhi tempat tinggal mereka. Ada piring, gelas, sendok, centong nasi, panci, wajan dan juga barang-barang lainnya.Β Tetapi gadis itu menganggapnya mahluk tak berwujud. Diajak bicara pun tidak, diliriknya pun enggan. Istrinya itu berubah jadi seperti awal mereka bertemu.
"Kamu kenapa sariawan atau belum makan?" tanyanya baik-baik untuk memecahkan suasana yang canggung tapi bukannya Senja menghentikan langkah. Ia malah sok sibuk menimbang-nimbang harga barang. Mana yang perlu di beli atau tidak.
"Gak apa-apa." Tuh kan di jawab seperlunya.
"Kenapa kamu diemin aku? Kalau ada masalah ngomong donk!!" Senja terkejut dengan nada suara Saga yang meninggi. Ia sampai menjatuhkan serbet yang mau di belinya.
"Kamu yang kenapa?" Malah bertanya balik.
Tapi bukan namanya Senja kalau gentar. Ia melanjutkan acaranya memilih barang. Tak memperdulikan Saga tapi ia terhentak saat merasakan satu lengannya di tarik dengan sangat kuat.
"Kamu kenapa? Aku salah apa sama kamu!!" Mata yang biasa memandang Saga penuh keteduhan kini mulai merah dan ujungnya tergenang air mata yang siap tumpah.
"Aku bilang aku gak apa-apa. Aku baik-baik aja. Yang kenapa-kenapa itu kamu!! Kenapa kamu bersikap sok baik sama aku, kenapa sok peduli!!"
Mulut Saga menganga lebar kemudian tertutup dengan kernyitan dahi. Apa Senja sudah tahu soal taruhan itu? Tapi tak mungkin. Teman -temannya bukan seseorang bermulut ember. Tenang Saga, tenangin diri loe. Loe gak boleh emosi.
"Sorry kalau ucapan gue ganggu loe!! Gue gak sok, gue emang peduli sama loe. Karena loe istri gue, udah tanggung jawab gue care sama loe!!" Harusnya Senja senang tapi entah kenapa mendengar kalau Saga hanya menganggapnya sebuah tanggung jawab. Sudut hatinya nyeri, ngilu merasakan kalau dirinya tidaklah lebih berharga dari sebuah barang. Memang Senja mau apa? Cinta? Saga punya seorang kekasih yang ia cintai. Mungkin di hati suaminya tak ada ruang lagi untuk menerimanya.
Tak mau pertengkaran mereka semakin menjadi-jadi. Senja menarik trolli belanjaannya ke arah kasir. Ia tak mau jika emosinya sampai tersulut dan meledak. Karena fatal akibatnya, seluruh isi hatinya bisa ia tumpahkan. Kadang mengungkapkann isi hati memang baik tapi ada kalanya kita simpan untuk diri kita sendiri.
Sedang Saga yang berada di belakangnya hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Keterdiaman Senja membuatnya bingung sekaligus gelisah. Istrinya perempuan yang sulit di tebak jalan pikirannya. Ia bukan Icha yang akan hilang kemarahannya hanya karena di sodorkan sebuah hadiah.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Di rumah Senja merasa tak nyaman. Di cafe tempat kerjanya, apalagi. Ia harus menghadapi Vano yang menunggunya di meja nomer 12. Kenapa laki-laki itu tak bosan mengganggunya, apa yang ia mau?
"Nja, kalau kamu gak nyaman biar aku suruh keamanan buat usir dia pergi". tanya Arthur ketika melihatnya ragu-ragu membawa nampan pesanan ber nomer 12.
"Nggak kak, masalah buat di hadapi. Lagi pula dia juga pelanggan kita". Arthur tahu Senja itu dewasa. Awalnya ia merasa khawatir kini tak lagi. Pemilik Cafe, tempat Senja mencari nafkah itu mempercayai kalau Stella mampu menghadapi masalahnya.
Atas dasar profesionalitas kerja. Ia mulai melangkahkan kaki. Senja tak akan takut, Devano harus dihadapi karena dihindari pun percuma. Laki-laki kurang ajar itu akan terus-menerus mengganggu hidupnya yang kini telah tenang.
"Vano, ini pesanan kamu!" Ia meletakkan Taro milkshake dan juga Greentea lava cake tepat di atas meja yang Devano tempati. Tak ada pandangan ramah atau ucapan manis. Selayaknya pelayan melayani pengunjung. Senja hanya melakukan ap yang diperlukan.
__ADS_1
" Terima kasih." Dengan tenang Senja malah mengambil duduk di depannya. Hal yang tak pernah Devano duga.
"Aku emang kurang sopan ganggu kamu makan! Tapi kamu hampir tiap hari dan betah nongkrong di sini. Kamu pasti punya tujuan kan?" Devano yang sedang menyedot Milkshake nya tersenyum. Senyum hangat yang pernah Senja lihat sekitar 5 tahun lalu. Senyum yang menghiasi masa putih abu-abunya. Tapi sayang pemilik senyum itu yang menghancurkan hatinya untuk pertama kali. Cinta memang erat sekali dengan patah hati. Tapi setelah melakukan kesalahan besar, pria ini masih mengharapkan kembali. Bukannya itu keterlaluan?
"Kamu sadar kalau aku tiap hari ke sini? Aku memang sengaja ngelakuin itu karena aku mau minta maaf."
"Kesalahan kamu udah aku maafin dari dulu."
Namun yang namanya Devano seperti tak tahu aturan dan juga tak tahu diri. Tangannya bergeser menyentuh tangan Senja yang di tekuk di atas meja.
"Aku juga mau kita balikan."
Mendengar kata 'balikan' yang tak ada di dalam kamus hidupnya. Dengan kasar Senja menarik tangannya.
"Aku gak bisa karena aku udah punya pacar." Bahkan lebih parah, ia sekarang telah jadi istri orang.
"Kamu bohong!!" Kenapa Devano di kasih tahu malah nyolot sih. "Di mata kamu masih ada cinta untuk aku!!"
Mata yang mana? Jelas-jelas mata Senja menyiratkan rasa ketidak sukaan. Api asmara mereka sudah padam beberapa tahun lalu. Devano sendiri juga penyebabnya.
"Aku gak bohong. Cinta aku hilang saat kamu berhasil menipuku, membutakanku. Sehingga cinta mati sama kamu. Aku bahkan rela membuatkan kamu sebuah karya ilmiah hingga kamu bisa diterima di fakultas kedokteran di universitas yang bonafid." Senja menghela nafas panjang. Ingatan pahitnya berputar cepat ke arah beberapa tahun lalu ketika tawa anak perempuan yang tidak percaya jika ia menjadi pacar most wanted sekolah. Dan parahnya Devano malah menyangkal, sehingga Senja mendapat malu dan juga sakit hati. "Cinta aku udah hilang saat kamu menggandeng Silvi perempuan paling cantik di sekolah di depan mataku!!" Dadanya turun naik menceritakan kisah pilu cinta pertamanya. Devano, laki-laki yang berhasil membuatnya patah hati dan jatuh cinta, secara bersamaan. Dengan entengnya dia mengatakan kalau ingin balikan setelah semua luka, kenangan buruk, dan juga pengkhianatannya.
Devano cuma bisa diam menunduk, menyesali perbuatannya. Ingatannya memaksanya kembali ke masa lalu. Dimana sebagian anak malah tertawa keras saat Senja menghampirinya, lalu mengatakan kalau mereka pacaran. Gadis itu saat dulu begitu lugu, menganggap cinta yang Devano miliki begitu tulus. Bodohnya ia malah mencampakkan gadis sebaik Senja. "Jadi mulai sekarang jangan ganggu aku. Permisi!!"
Senja memantapkan hati untuk tak menengok ke belakang. Penyesalan Devano sudah terlambat. Kini hidupnya telah tersusun rapi lagi. Jangan sampai pemuda itu datang kembali dan memporak-porandakannya lagi. Andai Devano bersikap selayaknya orang asing kepadanya. Pura-pura tak mengenal, maka hal itu akan terlihat lebih baik.
Hatinya sudah lama sembuh tapi ke depannya Senja akan berhati-hati. Jangan sampai hatinya kembali patah. Karena Senja yakin pertama kali patah, ia cuma sakit nyeri tapi kalau kedua kalinya, Senja tak akan yakin akan bisa bertahan.
π³π³π³π³π³π³π³π³π³π³π³π³π³π³
"Makasih kak, udah nganterin aku sampai rumah," ucapnya kepada Arthur yang ada di kursi pengemudi. Arthur heran bukannya ini bengkel anak Snippers? Apa Stella ada hubungan saudara dengan salah satu anak Snippers.
"Kak...."
"Eh.. Kamu tinggal di sini. Kamu ngkost apa ini tempat saudara kamu?" Senja diam sejenak, bingung menjawab pertanyaan bosnya. "Maaf kalau aku kepo, kemarin kan kamu tinggal di rumah mewah kok sekarang pindah ke sebuah bengkel?"
"Oh itu... Aku tinggal sama saudara. Di sini kan lebih deket dari kampus!" Alasan yang logis menurut Arthur. Merasa tak khawatir lagi, Arthur pamit pergi dan Senjamelambaikan tangan sebelum mobil pria itu berakhir di tikunagn jalan.
__ADS_1
Senja tak tahu harus bagaimana membalas kebaikan Arthur. Ia hanya dapat bekerja dengan rajin, tidak telat atau pun sering membolos. Setidaknya ia sedikit meringankan beban Arthur di cafe.
"Pulang malam?" tanya Saga yang kini sudah berada di ambang pintu. "Katanya kerja? Tapi terus di anter pulang sama cowok. Kerja di mana loe?"
Senja kaget suara suaminya terkesan kasar, keras dengan nada bentakan disertai tatapanΒ tajam sembari melipat tangannya di depan dada. Saga selayaknya keamanan mal yang menangkap seorang pencuri.
"Aku kebagian tugas nutup toko. Karena aku gak bawa motor jadi sekalian aku nebeng!" jawabnya santai . Walau hatinya sudah bergemuruh takut. Senja tahu jika Saga mungkin marah karena dia pulang kemalaman.
"Kenapa loe gak telepon gue buat jemput?" Senja menghembuskan nafas jengkel. Memang Saga akan peduli. Oh ia lupa Saga punya kewajiban untuk menjaganya. Senja 'kan cuma sebuah beban tanggung jawab.
"Kita punya kehidupan sendiri jadi aku rasa kita punya urusan yang gak bisa di campurin satu sama lain!!" Tak ada gunanya terus berdebat. Setelah mengucapkan kata dengan ketus. Senja meninggalkan suaminya untuk naik ke lantai atas untuk istirahat. Mereka memang suami istri tapi hanya di atas buku nikah, selebihnya kehidupannya miliknya dan kehidupan Saga milik suaminya sendiri. Tapi impiannya untuk rebahan dulu, sirna sudah ketika merasakan punggungnya di dorong masuk ke dalam kamar.
"Loe kenapa ngomong seolah-olah kita orang asing? Loe jadi ketus dan cuek sama gue!" Tuduh Saga sambil menunjuk-nunjuk tepat ke arah wajahnya.
"Ga, aku capek pulang kerja. Aku gak mau kita berantem!"
"Gue mau tahu kenapa loe bilang urusan kita gak bisa di campuri satu sama lain?"
"Emang gituh kan? Kita cuma orang asing. Yang terikat sama buku nikah. Kamu punya kehidupan sendiri begitu pun aku!" Senja mengatakan sebuah kebenaran tapi kenapa hatinya mendadak sakit. "Kamu punya Icha dan aku juga punya seseorang!!"
"Kenapa loe ngomong gitu? Loe gak suka gue deket sama Icha!" Senja menggeleng. Ia membohongi hati kecilnya sendiri.
"Nggak. itu hak kamu untuk cinta sama siapa pun!"
"Terus aku bakal ngijinin kamu sama bos kamu itu?" Saga menatap nyalang. Mata Elangnya mengunci Senja agar tak bergerak. "Aku suami kamu. Aku gak pernah kasih ijin kamu jalan sama cowok lain!!"
"Kamu egois!!"
"Yah aku emang egois!!" Saga dengan mata yang sarat akan emosi mendekat ke arah istrinya. "Tapi kamu lebih egois." Kemudian Senja merasakan bibirnya di tabrak oleh bibir kenyal milik sang suami. Mulanya bibir mereka cuma ******* ringan tapi kemudian menjadi lumatan-lumatan penuh nafsu. Lidah Saga mencoba menerobos masuk dan mulai bermain di dalam rongga mulut Senja. Setelah puas Saga melepaskan bibirnya. Nafas mereka saling terengah-engah mencari oksigen. Saga menatap mata istrinya lekat-lekat sebelum menyatukan kepala mereka. "Kamu lebih egois, kamu tahu rasanya jadi aku yang kamu cuekin, diemin dan gak ngrasa kamu butuhin? Setelah kamu hukum aku dengan keterdiaman kamu. Kamu malah jalan sama cowok lain, hmm? Aku kayak suami yang gak guna."
"Ga... maksud aku gak gituh!!"
Kepala Senja di hantam ketidak warasan ketika Saga kembali ******* bibirnya. Menggiring tubuhnya ke ranjang busa yang baru saja mereka beli. Saga mengukung Senja di bawah tubuhnya yang besar. "Kamu bilang kita punya kehidupan sendiri. Gimana kalau aku pingin masuk dan ikut campur ke kehidupan kamu?"
Senja bingung mesti menjawab apa. Namun Saga bergerak lebih gesit. Di ciumnya lagi bibir istrinya lalu melumatnya tanpa jeda. Bibir Senja begitu manis dan juga membuatnya candu.
Sedang sang istri yang berada di bawah tubuhnya. Merasa aneh, tubuhnya bergetar hebat, badannya mendadak suhunya naik. Ia tak pernah mendapatkan sentuhan seintim ini tapi kenapa rasanya begitu nyaman dan enak. Ia ingin mendapatkan lebih.. lebih dan lebih...
__ADS_1
Tanpa sadar keduanya sudah tak memakai pakaian sehelai pun. Kulit mereka bergesek tanpa batas atau lapis. Saga menyatukan tubuh bawahnya dengan pelan dan tertahan. Ketika merasakan Senja meringis kesakitan. Ah mereka sama-sama baru menyatukan tubuh untuk pertama kali. Harusnya malam pertama mereka ini di hiasi suasana romantis dan bukannya saling bersiteru, menonjolkan emosi. Walau cinta belumlah ada tapi cukup 'kan dengan hanya saling memiliki?
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ