
"Bagus Senja, skripsi kamu udah sampai bab 3," puji Pak Hardi, dosen pembimbingnya." Semoga tahun ini kamu bisa ikut wisuda."
"Amien Pak." Senja tersenyum.
Kesempatan menjemput gelar sarjana terbuka lebar. Ia akan memakai kebaya dan toga yang cantik. Rasanya tak sabar menanti hal itu terjadi. Senja akan bekerja lalu hidup mandiri. Namun pikiran itu segera musnha jika ingat kini statusnya bukan lagi single tapi wanita yang telah punya suami.
Saat Senja keluar ruangan dan berjalan dengan gembira. Ia sampai tak menghiraukan orang yang berlalu lalang sambil mencuri memandangi wajah manisnya. Tanpa Senja sadari seseorang yang paling ia tak ingin temui sudah menunggu di depan ruangan kelas.
"Apa kabar Senja?"
"Vano." Ia sedang malas berdebat, memilih berbalik pergi. Toh Senja tak mau jika moodnya yang baik akan berubah buruk. Melihat pria NASA lalunya sampai nekat datang ke kampusnya.
"Senja, tolong kamu berhenti sebentar. Aku mau ngomong sesuatu!!" Senja tak berhenti, ia malah mempercepat langkah malah setengah lari. Rayuan Vano harus ia hindari. Cukup sekali ia di sakiti jangan ada lagi yang kedua kali. Kata kembali untuk keduanya tak tepat. Karena Senja terlalu banyak menelan sakit hati. Ia sadar jika wajahnya tak terlalu cantik hanya otak pintar kelebihannya. Tapi janganlah dimanfaatkan juga.
"Aku minta maaf soal kesalahanku dulu!!" Dan ungkapan dengan suara keras itu membuat Senja berhenti seketika. Kata maaf sudah ia dengar lebih dari seratus kali tapi tak ada yang bisa menyembuhkan sakit hatinya.
"Aku udah memaafkan kamu, tapi melupakan perbuatanmu belum. Jadi aku mohon setelah ini sebaiknya kita gak usah ketemu." Senja memantapkan langkah untuk berbalik lalu berjalan cepat meninggalkan Vano. Pria itu cuma masa lalu kelamnya. Vano hanya kisah cinta pertama yang gagal, berakhir meninggalkan luka dan membuatnya jera untuk jatuh cinta lagi. Baginya buku lebih setia daripada cinta maka Stella lebih suka mengunjungi perpustakaan untuk melupakan sedikit kesakitannya. Dulu Vano pria paling tampan di sekolahnya. Semua gadis memuja Vano, Senja pun begitu. Sampai ia sadar bahwa kisah cinta indah hanya tertulis di novel. Nyatanya si tampan akan tetap memilih si cantik. Si kaya dengan si kaya dan Senja yang pintar hanya akan jadi pijakan, serta dimanfaatkan.
Stella berjalan dengan tergesa-gesa setelah insiden mengerikan bertemu dengan mantan. Sampai sapaan dari Saga yang berjalan berlawanan arah dengannya tak ia gubris.
Jadilah Saga seperti orang bodoh melambaikan tangan tanpa ditanggapi. Ia mengira jika sang istri tak mau kenal atau terlalu akrab ketika sedang di kampus.
"Haahhahahahah". Tawa menggema keluar dari kedua teman Saga, Angga dan Gio. Keduanya tertawa lucu melihat ketua geng mereka yang menggaruk kepala karena terlalu malu.
"Itu bini baru lo kan?"
"Katanya gak cantik kalau gak jadi pacar Saga tapi sama bininya dicuekin." Mereka berdua benar-benar puasย melihat perlakuan Senja. Sekali-kali Saga perlu diberi pelajaran agar kepercayaaan Diri yang setingkat dewa itu luntur dan tidak mengaku sok tampan terus.
"Katanya bisa dapetin cewek manapun, sama bini sendiri gak dianggap. Jangan-jangan lo belum ngicipin malam pertama ya?" Sialan tebakan kedua temannya itu bener, muka Saga langsung berubah merah padam. Boro- boro malam pertama, tidur seranjang aja enggak.
"Ah cewek kayak Senja itu jinak-jinak merpati, kalo di luar jual mahal," ujar Saga sok playboy, sok tahu isi hati perempuan. "Kasih gue waktu satu sampai dua bulan buat bikin bini gue jatuh cinta."
Kedua temannya itu melirik sebentar ke arah Saga , "Haha, Kayaknya Senja bukan cewek yang gampang didapetin deh."
"Halah semua cewek sama aja, dibaikin pasti juga bakal jatuh cinta. Berani taruhan?"
__ADS_1
"Hati bukan mainan."
"Bilang aja loe berdua takut. Kalo gue gak berhasil bikin Senja jatuh cinta. Omset bengkel motor sama cucian motor setahun buat kalian semua. Gimana?" Mereka berpikir. Boleh juga omset bengkel kan akhir-akhir ini lumayan. Bagi Saga pemasukan bengkel cuma uang receh.
"Deal ya?? Loe gak boleh bohong loh." Saga menerima tantangan kedua temannya membuat istrinya jatuh cinta dalam kurun waktu 2 bulan.
"Tapi ati-ati Ga, loe nanti yang malah cinta beneran sama bini loe."
"Ya anggap aja bonus kalo gue beneran cinta. Masak nikah gak ada cinta, hambar dong." Ucapan Saga seperti gurauan tapi mengandung makna tersirat. Jatuh cinta adalah hal yang gak mungkin bagi Saga karena hatinya sudah penuh dengan nama satu orang Wanita dan wanita itu tak mungkin Saga miliki. Wanita yang Saga cintai hampir sepanjang hidupnya, yang kini malah bahagia bersanding dengan pria lain.
"Eh tapi kalau gue berhasil bikin Senja jatuh cinta. Gue dapet apa?"
"Dapet anaklah." Perkataan Gio langsung mendapat teloyoran dari Saga. Dari semua temennya cuma Gio yang otaknya paling mesum.
"Kalo loe yang menang dibalik aja, loe dapet omset bengkel setahun."
"Nggak ah, kalo gue yang menang motor yang baru kalian rakit kemarin buat gue ya?".
Mendengar permintaan ketua genk mereka, kedua sahabatnya langsung melotot. Motor yang onderdilnya mereka cicil susah payah dan motor yang mereka dapat dari menabung setahun lebih.
"Hahaha takut lo? Itu sebanding sama omset bengkel. Deal ya? Jangan sampai kalian ingkar janji." Dengan terpaksa Gio dan Angga setuju. Motor lain bisa mereka rangkai, kalau omset setahun. Mereka bisa jalan sesukanya atau beli motor sederhana kalau mereka mau hemat. Namun keduanya melirik Saga yang menatap ke depan dengan serius. Apa mereka tak terasa keterlaluan, menaruhkan hati seseorang hanya demi materi semata.
********************
Atroya meneguk minuman beralkohol, ia mabuk. Setiap titik terendahnya,Troy selalu melampiaskan pada minuman keras. Kakeknya menginginkan Troy tampil sempurna tanpa cacat. Troy si pintar, Troy yang tak boleh kalah atau melakukan kesalahan, Troy yang terbaik. Jujur ia lelah, ia butuh sandaran. Dia juga hanya seorang manusia, butuh kasih sayang dan pelukan hangat seorang wanita.
Harapan dipeluk seorang wanita yang ia cinta Seketika musnah Ketika sang kakek berniat akan menjodohkannya, dengan Vivian. Anak rekan bisnis kakek. bukannya Troy tak kenal Vivi, ia kenal baik malah. Vivian hanya gadis manja yang hobi belanja dan clubbing. Tak cocok dengan cara pandang hidup yang dijalani Troy. Vivian jauh dari kata istri idaman
Di saat ia sedih seperti ini. Troy langsung ingat ibunya dan sangat merindukan sang adik Lala.
"Kenapa kalian tinggalin aku sendiri, Harusnya kalian juga bawa aku." Racau Troy sambil menangis memandangi foto usang milik keluarga yang utuh sebelum kecelakaan naas itu terjadi.
๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป
Langkah pertama yang di ambil Saga untuk mendekati Senja adalah mencari gadis itu ke semua tempat dirumah namun Nihil. Senja katanya temannya tadi sudah pulang tapi batang hidungnya pun tak nampak. Apa gadis itu mampir dulu ke suatu tempat.
__ADS_1
"Senja kemana sih?"
Saga tahu dimana Senja biasanya menghabiskan waktu jika berada di rumahnya. Langkah kakinya menuju ke dapur tapi belum sampai di sana. Saga sudah ketemu salah satu pengurus rumah tangga yang sedang membawa minuman dingin.
"Bibik tahu nggak dimana Senja?" Maunya Bilang istri saya tapi lidah Saga mendadak kelu.
"Di belakang sama nyonya."
"Ngapain?"
"Di suruh nyonya ngurusin kebun belakang."
"Hah? Buat apa?kan udah ada tukang kebun nya?" Pelayan Saga hanya menggedikkan bahu. Pingin ngadu sih kalo Senna disuruh nyabut rumput sama nyiram tanaman tapi diurungkan niatnyaย takut sama nyonya besar. Kasihan nona mudanya yang begitu rajin sering di suruh-suruh layaknya pembantu.
Senja selesai mencabut rumput di kebun, ia mengelap keringat yang menetes di dahinya. Ah ternyata kebun milik Saga lumayan besar. Untung hari sudah beranjak sore jadi panas matahari tak begitu terik.
"Senja, habis ini kamu tanam bibit tomat, cabe, sama kunyit. Kan lumayan biar ngirit bumbu dapur. Maklum sekarang apa-apa mahal!" Perintah Devi, mertuanya.
"Iya tante.. "
"Eh jangan lupa nanti sampah sama rumput bekasnyaย kamu buang ke bak sampah depan." Senja hanya mengangguk paham sedang Devi malah dengan santai duduk sambil meminum jus jeruknya. Anak itu perlu tahu tempatnya dimana. Enak aja numpang makan dan hidup gratis. Devi masih tak rela, Senja yang jadi menantunya dan anak kesayangannya harus mengalami pernikahan dini.
Padahal badan Senja lengket, capek dan kehausan. Inginnya menolak tapi tidak enak. Ia tak kuasa melawan ke angkuhan Ibu mertuanya ini. Selain dari kecil diajarkan tak boleh melawan orang tua. Bagaimana pun juga surga suaminya ada di kaki sang ibu mertua.
Saga sudah mengamati Senja dan mamahnya dari tadi dari balik pintu dapur. Istrinya orang macam apa ya? Sudah diperlakukan seperti pelayan tapi diam saja. Bahkan Sampai menanam sayuran, bukan gaya mamahnya ngirit bumbu dapur. Masuk dapur aja bisa dihitung pake jari dan gadis itu terlihat menyedihkan, tubuhnya basah karena keringat. Membuat Saga yang melihatnya miris dan sedikit kasihan. Tapi ia tak berniat bergerak dari tempatnya. Jujur ia menghindari konfrontasi dengan sang ibu.
"Ga, kamu sudah pulang ya?" Sapa Senja yang bertemu Saga yang sedang menyandarkan tubuhnya di depan pintu. "Mau aku ambilin makan? Tapi tunggu aku buang sampah dulu."
Hati kamu terbuat dari apa sih lagi capek-capeknya masih sempet nglayanin suami.
"Gak usah kamu dekil gituh terus bawa sampah. Gue suruh ambilin bibik aja". Sesungguhnya Saga tak bermaksud bicara seperti itu namun entah kenapa ia malah sebal dengan kebaikan dan perhatian yang Senja tunjukkan
"Ya udah, " jawaban lirih dari Senja membuat Saga jadi serba salah. Apa lagi melihat raut wajah istrinya yang sedih. Saga terjebak antara dua perempuan di rumahnya. Senja yang begitu penurut membuat hati kecilnya sakit. Kenapa ia mendapat gadis yang begitu lemah dan mudah menyerah. Saga takut jika hatinya lama kelamaan akan ikut mengalah.
๐น๐น๐น๐น๐บ๐น๐น๐น๐น๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
__ADS_1