
Troy dan Saga cuma dapat menunggu di luar ruangan. Mereka tidak membawa Senja ke rumah sakit tapi ke sebuah klinik terdekat dengan lokasi pertempuran mereka tadi. Sepertinya kini dua orang itu sama-sama meredam amarah dan ego, keadaan Senja lebih dulu diutamakan dan jauh lebih penting.
"Keluarga pasien?" Tanya seorang dokter perempuan yang baru keluar dari ruangan Senja dirawat.
"Saya dok." Saga dan Troy sama-sama maju mambuat sang dokter mengerutkan kening. Selain bingung, dokter itu juga terkejut mendapati keadaan dua pria di hadapannya yang sama-sama babak belur.
"Saya kakaknya dok."
"Saya suaminya." Dokter itu lalu mengulas senyum. Kedua orang ini memang benar-benar keluarga dari si pasien yang terbaring di dalam.
"Begini pak." Troy dan Saga bersamaanΒ mendekat. "Nyonya Senja terkena anemia, kurang nutrisi dan juga dehidrasi ringan."
"Apa itu parah dokter?"
"Oh tentu tidak, saya akan memberinya obat penambah darah. Nyonya Senja juga harus makan yang bergizi serta minum air putih yang banyak." Mereka yang di himbau hanya mengangguk dan diam namun tangan Saga terasa hangat ketika sang dokter menjabatnya. "Saya ucapkan selamat untuk anda pak, sepertinya Nyonya Senja sedang mengandung. Untuk memastikan bisa di lakukan USG. Di klinik kami juga menyediakan dokter kandungan." Mata Saga terbelalak kaget, begitu pun Troy. Telinganya mendadak tuli, informasi yang ia dapat tentu tak benar. Ada kemungkinan kalau yang baru saja dokter sampaikan adalah salah. Devano, Nadine, Icha, Angga, Gio, Arthur, Fara dan juga Dara sama terkejutnya. Senja hamil.
"Gimana keadaan istri saya sekarang dok?" tanya Saga dengan jantung yang berdetak kencang. Senja hamil, mereka akan punya seorang bayi atau anak. Saga tak pernah menyangka bahwa langkahnya akan sejauh ini mendengar istrinya hamil tentu dirinya senang namun di samping itu ada kegundahan yangΒ mendera hatinya.
"Kebetulan Nyonya Senja sudah sadar dan bisa di temui." Setelah dokter itu berjalan pergi, ketegangan antara dua kubu kini naik lagi. Saga yang ingin menemui sang istri di tarik Troy menjauhi ruangan.
"Troy lepasin gue, gue mau ketemu Senja!!"
"Udah gue bilang loe gak boleh ketemu Adik gue. Loe udah kalah dan mulai saat ini loe gak boleh nunjukin muka loe di depan Senja kagi!!" Ancaman Troy bukan bualan semata. Saga cenderung nekat, ia tetap saja ingin masuk. Dengan terpaksa Troy menggunakan kekerasan sehingga membuat yang lainnyaΒ terpaksa bergerak melerai keduanya.
"Kalian berhenti, ini rumah sakit!" Cegah Arthur mencoba memegangi Troy.
"Troy, Senja lebih butuh loe sekarang." Troy mundur, Dara benar Troy harus menjaga Senja dan juga ponakannya.
"Awas loe!! Jangan berani temui adik gue lagi!!" Ancam Troy sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu ruang rawat. Sedang Saga yang telah kalah, tubuhnya lemas di topang Gio dan juga Angga. Saga tahu jalannya menemui buah hati serta istrinya ke depan tentu akan sulit. Troy tak akan mau melepas sang adik perempuan untuk dirinya yang brengsek.
"Kakak?" Begitu mendengar sang adik memanggil. Troy langsung memeluk Senja.
"Maafin kakak... bikin kamu kayak gini."
__ADS_1
"Bukan salah kakak." Namun beberapa detik kemudian tangis Senja pecah di dekapan kokoh sang kakak laki-laki. "Aku hamil kak."
"Kakak tahu."
"Aku mesti gimana?"
Troy melepas pelukannya lalu menangkup wajah sang adik dengan dua telapak tangan. "Tenang aja, ada kakak. Kakak akan jaga kamu sama bayi kamu."
"Aku takut kak, aku bingung harus gimana. Aku akan jadi ibu dan punya anak tapi... aku gak akan punya.... suami."
"Hey lihat kakak." Mata Senja yang berair melihat ke arah mata yang warnanya sama dengan dirinya. "Kakak akan jadi semua yang kamu butuhkan. Tanpa Saga, bayi kamu tetap akan punya ayah. Kakak yang akan jadi ayah buat bayi kamu, kakak yang akan melindungi kamu. Jadi jangan pernah takut atau khawatir."
Senja menangguk cepat, ia tahu Troy memang bisa di andalkan tapi tetap saja hatinya kosong. Ia ingin Saga ada di sisinya sekarang,mengatakan kalau bahagia juga dengan kehamilan Senja namun kenyataannya Saga menemuinya saja tidak. Suaminya itu pasti terpukul sekali mengetahui dirinya hamil, bayinya akan mengganggu kebersamaannya dengan Nadine.
πππππππππππππ
Saga mati rasa ketika Nadine mencoba mengobati luka di wajahnya. Luka lebam dan berdarah-darah ini tak ada apa-apanya di banding luka yang di tanggung Senja. Demi Tuhan istrinya itu selain sakit hati juga kini tengah hamil. Saga mendesah ketika diingatkan jika sebentar lagi akan di panggil ayah. Ada satu nyawa yang perlu ia pikirkan masa depannya.
"Saga udah nikah." Jawab Nadine ketus. Hubungannya dengan Icha itu buruk. Icha berstatus adik tiri yang merebut semuanya dari Nadine. "Dia udah nikah sama Senja kalau itu yang loe mau tahu."
"Loe bohong kan, jangan ngelawak di saat seperti ini." Icha malah tertawa lepas.
"Nadine gak bohong, Saga udah nikah sama Senja." Tawa Icha di paksa berhenti ketika mendengar tambahan informasi dari Angga.
"Senja? Senja sepupu Saga bukan istrinya!!" Bantahnya tak terima.
"Maaf Cha, dia istri gue!" Suara Saga seperti kilat petir yang menyambar telinga. Icha merasa di bohongi mentah-mentah oleh Saga dan juga ibunya. Perasaannya merasa campur aduk dan di permainkan. Icha menyukai Saga sejak kecil namun cintanya bertepuk sebelah tangan karena Nadine. Setelah Nadine menikah pun Saga tak pernah melihat ke arahnya. Laki-laki itu, ia paksa menjadi kekasihnya. Saga tak pernah berkata iya saat dirinya menyatakan cinta tapi membiarkan Icha selalu ada di sekelilingnya.
"Sejak kapan loe nikah? Bilang semuanya bohong!!" Icha itu anak manja dan egois. Dia bisa sangat emosional menghadapi hal kecil apalagi mendengar kalau lelaki yang di cintanya sejak duluΒ ternyata sudah menikah.
"Sejak setengah tahun lalu." Tangis Icha pecah, ia merasa di tipu oleh semua orang. Ia tak pernah bisa mengalahkan Nadine, dan kini Icha merasa seperti itu pecundang. Dengan berlinang air mata, ia memilih mengambil tas lalu pergi. Ingin marah atau meminta penjelasan pada Saga rasanya Percuma. Laki-laki itu dari awal tak pernah membalas cintanya.
"Biar gue kejar tuh anak manja," ujar Nadine. Walau sepintas perempuan itu terlihat bermusuhan dengan Icha namun Nadine tetap menyayangi Icha sebagai saudara. Ia tak mau Icha kenapa-kenapa saat pikirannya di dera tengah kalut.
__ADS_1
Sekarang giliran Devano yang mendekat ke arah Saga menggantikan posisi Nadine. Devano kuliah di jurusan kedokteran, setidaknya mengobati luka Revan adalah hal sepele. "Besok Icha juga udah baikan." Hiburnya pada sang sepupu. Pikiran Saga terlalu banyak beban jika ditambah lagi harus memikirkan perasaan si anak cengeng itu.
"Gue gak bermaksud bikin Icha sedih, gue cuma jujur."
"Gue tahu kok," jawab Devano dengan lesu. "Gue juga mau jujur sama loe."
Ada keheningan menyelimuti ruangan. Angga dan Gio yang setia duduk di sebelah sisi kursi hanya diam tak mau menyahut atau ikut campur terlalu jauh. Temannya butuh di dukung bukan disalahkan. "Gue pernah cerita kan tentang mantan gue yang gue udah sakitin dan manfaatin."
"Iya, kenapa? Loe udah berhasil balikan sama dia?" Devano menggeleng lemah.
"Dia udah nikah sama orang lain." Mulut Saga membulat, ia turut prihatin dengan kisah cinta sang sepupu. "Tapi gue gak apa-apa. Karena gue tahu perempuan itu dapat seseorang yang jauh lebih baik dari pada gue."
"Loe juga pasti akan bahagia suatu hari nanti."
"Loe gak mau tanya siapa perempuan yang dulu pernah gue suruh bikin karya ilmiah lalu gue tinggalin dia buat Silvi yang cantik dan populer." Saga pusing jika harus berteka-teki. Mukanya nyeri, lehernya sakit dan beberapa tulang iganya sepertinya perlu diperiksa lebih dalam.
"Siapa? Emang gue kenal?"
"Cewek itu Senja, Ga." Mendengar informasi yang baru ia dapatkan. Rasanya semua ngilu di tubuhnya langsung nyeri bersamaan. Saga sampai mundur, menjaga jarak. "Cewek yang gue sakitin dulu Senja." Saga tak tahu harus merespon apa. Dia hanya bisa diam sebab mau memukuli atau memberi hukuman Devano tak mungkin selain anggotan badannya masih sakit semua, kejadian itu juga sudah lampau.
"Waktu Senja pergi karena loe sakitin rasanya kayak dejavu. Gue duluanΒ nyakitin dia tapi mungkin lukanya sekarang kayaknya lebih berat dari pada dulu."
Semua yang di sana hanya diam walau dalam hati mengiyakan apa yang Devano ucap. "Gue pernah berpikir, akan ngambil Senja dari loe waktu lihat dia ternyata loe sakitin dan hidupnya loe anggap barang taruhan."
"Apa loe bilang?"
Tiba-tiba Saga melotot marah. Sepupunya pernah punya pikiran busuk untuk merebut Senja.
"Tapi itu dulu sebelum gue lihat loe babak belur, Loe rela di hajar Troy. Gue sadar kalau loe cinta banget sama Senja." Saga kemudian nampak menunduk, dia banyak merenung. Apa benar kalau hatinya sudah bertaut pada istrinya itu. Selama beberapa hari ini, ia kelabakan mencari keberadaan Senja. Saga seperti orang gila saat dapat informasi kalau Senja pulang yah walau hanya untuk mengambil barang serta mengajukan perpisahan. "Gue rela merelakan Senja buat loe. Ga, perjuangin bini loe. Ambil Senja dari Troy, ajakin bini loe pulang. Gue tahu Senja bakal bahagia hidup sama loe."
"Pasti. Gue bakal bawa Senja pulang." Meski istrinya mengajukan perpisahan. Tapi Saga akan tetap berjuang, meluluhkan hati Senja. Walau taruhannya nyawa sekali pun. Ada anaknya yang berhak bahagia dengan mendapat keluarga lengkap.
πππππππππππ
__ADS_1