
Senja tak henti melebarkan bibir sambil menenteng map skripsinya. Ia berjalan sepanjang koridor kampus, mengumbar senyum lalu menyapa beberapa orang yang ia kenal. Senja tak pernah membayangkan jika saat ini akan terjadi, saat-saat yang ia tunggu setelah berjuang selama 4 tahun.
"Fara!!" Teriaknya nyaring lalu mendekap tubuh Farah dari belakang.
"Ya ampun ada apain sih? Loe bikin gue kesedek minuman!!" Semprotnya agak marah. Senja memeluk tubuhnya yang sedang duduk meminum segelas es teh manis.
"Akhirnya skripsi gue di acc, gue wisuda akhir tahun." Mata Fara tak kalah berbinar. IaΒ malah memeluk balik sahabatnya dengan lumayan keras sambil menghentak-hentak tubuh Senja yang kurus.
"Selamat-selamat, gue ikut senang!!"
"Lepas Fara, sakit!!"
Pelukan Fara lepas, namun perempuan berambut panjang dan berkulit putih itu langsung murung teringat sesuatu. "Kalau loe wisuda, gue sama siapa?"
"Yah loe juga harus rajin-rajin cari referensi dan cepet lulus!!" Fara memajukan bibir, dikira nyusun skripsi kayak nyusun lego. Ada buku panduan terus jadi. "Jangan main-main terus!!"
"Siapa yang main, gue ngampus terus."
"Iya tapi cuma nongkrong di kantin doang, gak masuk kelas," cibir Senja.
Fara merenung sebentar, benar yang Sahabatnya ucap. Ia harus serius menjalani hidup, tak main-main di usianya sekarang. Bagaimana bisa menjalankan misi mendapatkan Troy jika kuliah saja tak lulus.
"Loe sekarang, jarang main ke Cafe? Kenapa duit jajan loe habis keseringan main ke sana?"
Farah menggeser duduknya agak menjauh. Ada alasan lain kenapa ia tak main ke tempat itu lagi. Semua karena pesta pertunangan Troy. Farah tak sengaja mabuk di sana lalu mencium Arthur. Bagaimana ia bisa mengunjungi tempat kerja Senja setelah ciuman tak sengaja itu. Mau di taruh dimana mukanya kalau nanti bertemu Arthur. Sialan memang.
Senja mengguncang bahu Farah karena tahu jika sahabatnya itu tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. "Kenapa loe jarang main ke Cafe?"
"Yah loe bener, main ke cafe gak bermanfaat dan cuma buang-buang uang. Gue harus serius belajar, gak ngluyur dengan tujuan gak jelas. Lagi pula Troy udah tunangan, tujuan gue ke sana gak ada lagi." Benar juga yang di katakan Farah namun Senja mencium ada yang ganjal dari sahabatnya ini. Fara bukan tipe orang yang berhenti berjuang sebelum titik darah penghabisan.
"Oh gituh ya? Gimana kalau loe kerja di cafe juga. Kayaknya di sana lagi butuh karyawan dari pada loe ngeluyur."
Farah dengan cepat mengibaskan kedua tangannya di depan dada. "Enggak... enggak.. gue mau konsentrasi belajar biar cepet lulus. Kerja bikin capek, gue kan gak tahan banting kayak loe!!" Dengan cepat Farah menyedot minumannya. Kelihatan kalau dia panik pas masalah Cafe di bahas. Kerja di sana sama saja cari mati dengan bertemu Arthur tiap hari.
Senja memperhatikan sikap Farah yang aneh, cuma bisa mengerutkan dahi namun tak baik berperasangka atau menerka-nerka. Ia memilih berjalan ke stan kantin memesan makanan serta minuman untuk makan siang. Tak semua yang Fara rasakan harus diungkap walau keduanya sering curhat.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Gimana caranya bicara jujur sama Senja?" Tanya Troy kepada Arthur yang tengah memilih biji kopi. Jangan tanya ke barista itu, dia tak punya adik perempuan. Ia minim berhubungan dengan kaum hawa jadi Arthur tak punya pengalaman memulai obrolan atau mengatakan cinta. Kemarin juga ciuman dengan Fara yang terjadi karena tak sengaja. Dia saja masih bingung mau minta maaf bagaimana.
"Akan lebih baik sih kalau nyokap loe yang ngomong. Senja mana bisa percaya begitu aja. Loe sih kemarin bikin dia takut." Troy mengubah posisi duduknya. Ia jengah melihat Arthur yang sedang memasukkan biji kopi tanpa benar-benar merespon curahan hatinya.
"Mana mungkin mamah mau ngomong sama Senja kalau gue kakaknya. Mamah merasa lebih baik kalau kita malah gak kenal satu sama lain".
__ADS_1
Troy menatap Arthur yang sedang menghirup biji kopi. Kawannya itu terlihat begitu nyaman dengan profesinya sebagai seorang barista. Kalau di pikir-pikir, sebenarnya cita-cita Troy apa ya? Selain jadi pewaris, dia tak punya keinginan lain. Arthur bahagia cuma dengan membuat kue dan menemukan rasa baru. Lalu apa yang membuat Troy bisa bahagia.
"Yah biarkan emak dengan pikirannya. Setidaknya kalau Senja gak tahu loe kakaknya, bersikap baik Troy sama dia dan juga lindungi dia diem-diem." Arthur tahu keinginan Troy untuk di akui sangatlah besar namun temannya itu harus menahan diri agar tak membuat karyawannya malah jadi takut.
"Eh Senja datang." Arthur melihat bayangan istri Saga itu dari kaca jendela transparan depan Cafe.
"Inget ya jangan takutin dia lagi".
Troy segera membenahi cara duduk dan kemejanya yang kusut. Ia memasang mimik wajah seramah mungkin agar terkesan baik di depan adik kandungnya.
"Siang Senja." Sapa keduanya bersamaan.
"Siang kak Arthur, Kak Troy!!"
Senja tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang manis. Troy tertegun sejenak, ekor matanya mengikuti kemana arah adiknya pergi. Rasanya masih seperti mimpi, adiknya ada di depan mata namun sulit dijangkau.
"Eh mau kemana loe?" Tanya Arthur yang kini sudah menekan bahu Troy untuk duduk. Karena tahu Troy pada akhirnya akan melangkah mengikuti Senja ke belakang.
"Gue mau ke Senja." Benarkan dugaannya.
"Udah gue bilangin jangan bikin SenjaΒ takut. Duduk aja di sini. Lagian dia di sana lagi ganti baju. Loe mau di kira tukang ngintip?" Troy menggeleng dan bergidik ngeri, dia bukan laki-laki rendahan macam itu.
Tak berapa lama Senja datang dengan menggunakan seragam pelayan. Gadis itu sudah rapi dan siap melayani pelanggan. Ia tersenyum sambil mengambil celemek di dapur tak lupa mengambil catatan dan pena di atas meja dekat alat pembuat kopi.
"Lumayan sih, soalnya ini Jumat lagi ada diskon." Jawab Arthur yang kini menyenggol satu kaki Troy agar sahabatnya sadar tak memandangi Senja terus-terusan.
"Aku... aku ke sini karena lagi ada perlu dengan Arthur, " jawab Troy terbata namun sepertinya ucapannya telat karena kini ada seorang pelanggan yang sudah datang.
"Aku kerja dulu ya Kak!!" Pamit Senja.
"Adik gue gak loe suruh kerja rodi kan? Dia gak loe susahin kan?"
"Ya ampun, adik loe karyawan gue kalau loe lupa!"
"Kasihan lihat adik gue capek-capek senyum sama bawa nampan. Apa gue pindah bagian aja ya?" Troy kan juga penanam modal di sini 50 persen. Dia juga punya kuasa untuk memindahkan posisi karyawan. Ia tak tega jika adiknya bekerja terlalu keras.
"Terus loe mau Senja dimana?"
"Gantiin loe misal!!" Jawabnya seenaknya dan langsung mendapat pelototan Arthur.
"Terus gue loe mau taruh mana?"
"Loe bisa konsentrasi jadi barista atau loe bisa belajar masak menu baru. Itu kan keahlian loe. Gue gak mau loe jadi mengabaikan dua pekerjaan yang loe idam-idamkan sejak kecil. Sampai dulu waktu TK bela-belain nyolong rok kakak loe kan?" Arthur langsung melempar Troy dengan serbet lap sisa kopi. Arthur memang suka main masak-memasak tapi itu dulu waktu masih kecil. Lagi pula tak akan janggal jika tiba-tiba Senja menggantikan posisinya. Ia tak mau disangka nepotisme atau berat sebelah.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Senja beberapa kali melihat ke arah layar ponsel pipihnya. Padahal ini sudah lebih dari pukul 9 malam namun suaminya belum tiba juga. Kemana Saga ? Apa dia lupa menjemputnya? Tapi tadi kan Saga janji sendiri kalau akan menjemput. Senja mencoba menghubungi namun ponsel Saga tak aktif. Apa suaminya ketiduran?
"Sendirian Senja, belum pulang juga?" Senja kaget sampai hampir menjatuhkan ponsel saat mendengar suara seorang laki-laki menyapa.
"Kak Troy." Senja terlalu peka. Ia tahu jikaΒ seharian ini Troy selalu berada di sekitarnya. Kemarin pria ini mabuk dan membuatnya ngeri kini Troy malah berdiri di sampingnya. Apa mau laki-laki itu sebenarnya. "Iya sendirian Kak, jemputan aku belum datang."
Sedang Troy hanya tersenyum masam. Ia paham yang di maksud jemputan pastilah si brengsek Saga . Kenapa laki-laki itu belum datang menjemput adiknya juga. Awas saja jika Saga sampai menelantarakn atau menyia-nyiakan sanga adik. Akan Troy patahkan lehernya.
"Mau pulang bareng kakak gak?"
"Enggak usah Kak, entar ngerepotin." Tolak Senja halus sedang Troy saja sudah sangat khawatir karena malm semakin larut dan gelap. Jalanan jika malam pasti bahaya untuk anak perempuan.
"Senja pulang bareng kita ya?" Kini Arthur yang meminta, ia paham jika Senja masih sedikit canggung berhadapan dengan Troy.
"Kak Arthur aku bisa pulan sendirian kok."
Namanya juga Arthur, ia tak lega jika tak memaksa. Di apitnya lengan Senja agar bersamanya masuk ke dalam mobil milik Troy. "Udah kalau ada orang niatnya baik, pamali nolak loh!!" Akhirnya dengan paksaan Senja menurut. Harusnya Arthur kan di depan malah dia sengaja duduk di belakang sambil tidur. Membiarkan kedua kakak adik ini saling bicara.
"Maafin kakak, kakak udah bikin kamu takut." Senja yang mendapatkan ucapan maaf hanya bisa menengok kaget. "Kemarin karena hang over, kakak jadi agak aneh kan?"
"Iya, kakak aneh kayak ngikutin aku terus. Kakak kemarin mabuk?"
"Iya maaf. Kakak bikin kamu gak nyaman ya?"
"Sedikit sih tapi gak apa-apa, udah lalu juga." Selanjutnya perjalanan mereka hanya di isi sebuah pembicara ringan. Seputar apa kesibukan Senja, dimana ia tinggal sekarang dan juga status gadis itu yang menjadi mahasiswa dan akan segera lulus. Setelah memakan waktu hampir 20 menit. Mereka sampai di bengkel milik Saga.
"Kamu tinggal di sini?"
"Iya kak, ikut suami." Senja lalu menepuk jidatnya karena kelupaan memberi tahu Troy.
"Aku lupa cerita kalau aku udah nikah." Troy hanya membeo, menyembunyikan rasa kesalnya. Dia tahu kalau ini adalah basecamp anak buah Saga.
"Aku udah tahu, Arthur udah bilang."
"Hati-hati di jalan ya kak!!" Ucap Senja sambil melambaikan tangan dan Troy langsung menekan gasnya.
Troy melihat Arthur yang menutupi tubuhnya dengan jaket melalui kaca spion. "Bangun loe, jangan pura-pura tidur!!" Arthur membuka jaketnya kemudian tertawa.
"Akting gue bagus kan?" Kalau gue gak pura-pura tidur. Mana bisa loe ngomong sama Senja. "
"Iya, iya... sekarang loe pindah depan. Gue bukan supir!!" Arthur mencebik kesal. Troy itu ternyata masih sama angkuhnya. Bilang terima kasih saja tidak.
__ADS_1
ππππππππππππππ