Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 13


__ADS_3

Troy melempar sebuah undangan ke atas meja bar milik Arthur. Karena suara lemparan itu begitu keras. Arthur sampai terjingkat kagetΒ kemudian memungut kertas undangan bewarna putih dan bertali emas itu lalu membacanya dengan seksama.


"Loe jadi tunangan sama Vivian? Loe betah bakal hidup sama cewek gulali itu?" tanya Arthur dengan nada heran. Vivian memang terkenal di kalangan mereka dengan sebutan perempuan gulali, karena rambutnya sering berganti warna dan kebiasaannya buruknya yang hobi menempeli para laki-laki.


"Gue bukan nikah cuma tunangan. Gue gak hidup seatap sama dia." Ketika pelayan datang menyodorkan buku menu. Troy memesan minuman dan makanan. Ia mengedarkan pandangan ke arah seluruh penjuru ruangan cafe untuk mencari keberadaan seseorang. "Senja mana?"


"Ambil libur. Katanya ada urusan penting. Loe suka sama dia?" Tanya Arthur dengan pandangan penasaran. "Loe sering tanyain dia tapi kenapa loe malah tunangan sama orang lain?"


"Gue tertarik sama Senja tapi gak naksir. Ada sesuatu yang membuat gue selalu care sama dia. Entahlah rasa apa itu tapi waktu dekat dia, pinginnya ngelindungin dan gak ngelepas Senja dari pandangan gue tanpa rasa berdebar-debar." Arthur gagal paham dengan apa yang di katakan Troy. Pingin melindungi dan lihatΒ  tapi gak punya rasa apa-apa terus perasaannya itu dinamai dengan apa?


"Apa loe yang malah naksir dia? Gue lihat loe sering senyum-senyum waktu deketan sama Senja?"


" Awalnya iya. Habis Senja itu manis, baik dan naif tapi rasa itu harus gue musnahin waktu loe selalu ngasih perhatian lebih ke dia."


"Udah gue bilang, gue gak naksir."


"Tapi ada saingan berat gue sih buat deketin Senja." Troy yang sedang memotong kue tiba-tiba meletakkan kembali garpunya. Saingan berat, ternyata Senja banyak yang naksir.


"Saingan, siapa?"


"Devano, anak Snippers. Dia sering ke sini buat deketin Senja walau di cuekin. Bahkan gue pernah lihat anak itu awaain Senja dari luar cafe"


Mendengar kata Snippers, Troy mengepalkan tangannya erat-erat. Ia benci dengan genk motor yang di pimpinΒ Saga itu. Mereka sudah menjadi musuh abadi sejak kematian Leon, sahabatnya.


"Berani banget mereka ke sini. Apa gak tahu kalau di sini daerah kekuasaan Red Devils?"


"Ini cafe bukan arena balap, siapa aja boleh datang yang pentingΒ mereka sanggup bayar. Kita udah pensiun dari geng-geng'an. Gue jalanin bisnis kuliner." Arthur kesal jika bisnis di campur dengan urusan pribadi." Bukankah Troy sudah menyerahkan kepemimpinan Red devils pada Galih setelah tawuran terakhir mereka yang berakhir di kantor Polisi. Lelaki ini bilang tidak naksir Senja tapi kenapa Troy harus marah?


"Kalau Devano datang. Dia jangan loe kasih masuk." Tuh kan katanya gak naksir Senja tapi nglarang-nglarang Devano buat ke sini. Arthur tak bisa mengusir pelanggan. Bagi pedagang seperti dirinya, pelanggan adalah raja. Jadi mereka harus memberikan pelayanan sebaik mungkin. Senja saja santai menanggapi jika anak Snippers itu datang berkunjung.


"Loe lupa cafe ini juga punya gue jadi loe gak boleh seenaknya ngatur-ngatur." Arthur memang penanam modal 50 persennya jadi Troy dengan sifat otoriternya tidak bisa seenaknya. Lagi pula Arthur yang menjalankannya bisnis ini. Arthur yang menghasilkan keuntungan sedang Troy hanya bekerja di balik layar. Arthur lebih unggul dalam hal mengolah cafe.


"Sialan!!"


🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌

__ADS_1


"Uhuk... uhuk... uhuk..."


Senja membersihkan lantai dua bengkel suaminya. Tempat ini lumayan kotor, maklum penghuni sebelumnya adalah para laki-laki yang minim menjaga kebersihan. Beruntung ruangannya cukup luas bisa di pakai untuk tidur, duduk atau sekedar belajar. Kalau kamar mandi ada di bawah, bersandingan dengan kamar mandi bengkel. Memang tempat ini tak senyaman rumah Saga tapi Senja akan hidup damai, tak mendengar Devi mengoceh tiap hari.


"Loe yakin gak perlu gue panggilin jasa tukang bersih-bersih?" Tawaran Saga begitu menggiurkan tapi SenjaΒ  menolaknya karena mereka harus belajar mandiri, hidup sendiri. Belajar bekerjasama dan menguatkan satu sama lain. Selain itu keduanya mulai sekarang harus bisa mengatur keuangan.


"Gak usah, kamu bisa bantuin aku buat bersih-bersih kan? Angkat barang-barang." Lagi pula kalau mereka menyewa jasa tukang bersih-bersih akan memakan waktu dan menghabiskan uang. Memang uang Saga di ATM masih utuh belum tersentuh tapi itu uang hanya digunakan saat darurat saja dan saat ini bukanlah saat genting sehingga uang itu harus diambil.


"Oke, siap istriku yang cantik." Senja yang di bilang istri cantik, pipinya langsung bersemu merah. Ia tak menyangka akan mendapat pujian seperti itu,


"Eh iya, gue nanti ijin sebentar ya? Mau ke toko alat elektronik beli TV sama AC sekalian."


"Ga, jangan hambur-hamburin uang. Beli aja yang kita butuh." Saga mendengus pelan. Yang tak bisa ia sesuaikan saat hidup satu atap dengan Senja adalah cara hidup hemat gadis itu. Kata orang hemat pangkal kaya tapi buat apa toh Saga sudah kaya. Hemat baginya malah menyiksa diri.


"Gue butuh AC karena gak tahan panas. Gue juga butuh tv buat hiburan." Senja hanya bisa menunduk sesaat. Dia lupa kehidupan dia dan Saga bagai bumi dan langit. Bisakah mereka berbagi kehidupan bersama?


"Terserah kamu, Ga!"


"Aku ke bawah dulu, kayaknya makanan kita udah nyampah."


"Woy, kardus makanan gue loe mau bawa kemana?" tanyanya dengan nada agak tinggi pada dua temannya, Angga dan Tomi.


"Makanan pala loe, mata loe buta kali van! Nih baca baik-baik." Angga menunjukkan kardus yang di angkatnya. Saga membaca pelan-pelan tulisan yang terdapat di luar kardus. Sialan, ini kardus onderdil. "Mau loe makan nih besi? Gue kasih dengan senang hati."


Saga hanya menggaruk kepalanya kemudian ia mengambil gunting untuk membantu temannya membuka lakban pembungkus kardus . "Kirain orderan makanan gue." Saga dengan telaten mengeluarkan onderdil. Meneliti barang itu dengan seksama. Apakah sama dengan yang mereka pesan.


"Loe jadi pindah ke sini?" tanya Angga bingung. Tadi ketika dia membuka bengkel. Pintu bengkel sudah terbuka, ia kira ada maling. Ternyata ada Saga dengan Senja yang sibuk bersih-bersih di lantai atas.


"Jadi, loe gak lihat gue keringatan kayak gini."


"Apa tindakan loe gak kejauhan. Loe ajak Senja tinggal di bengkel. Gak kasihan?Bengkel tempatnya kotor dan juga berisik. Kalau semua ini cuma buat menangin taruhan apa loe gak kelewatan?"


"Keterlaluan gimana? Istri ikut kemana suaminya pergi. Senja tinggal di lantai dua, nggak di bengkel. Loe tahu kan gue pantang kalah taruhan." Angga tersenyum kecut. Saga si maha kuasa dengan setinggi harga diri dan egonya. Tak terima jika dikalahkan pantas saja dia jadi ketua genk Snippers.


"Loe pasti menang, gue yakin tapi hati loe yang bakal kalah." Saga lupa bahwa Tuhan maha pembolak-balik hati manusia. Dia berkuasa atas segalanya, "Gimana kalau loe malah jatuh cinta sama Senja."

__ADS_1


Di nasehati seperti itu, Saga malah tertawa terbahak-bahak."Jatuh cinta? Loe tahu gue cintanya sama siapa?dan itu gak mungkin terjadi," ungkapnya takabur, karena terlalu percaya diri. Cintanya sudah mati, cinta yang ia pupuk dari kecil. Gadis yang ia kagumi dan cintai dari ia kecil sudah meninggalkannya, mengkhianatinya memilih bersama laki-laki lain. Lebih mengerikan lagi gadis itu tak menganggapnya sebagai laki-laki tapi hanya seorang adik.... adik.


🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍


Senja baru saja akan mengangkat sendok sebelum Fara datang membawa semangkuk bubur ayam dan segelas teh manis untuk bergabung makan siang dengannya di meja yang sama.


"Makan siang sama loe kayak gini bentar lagi jadi hal yang langka!" Ucapnya dengan nada suara yang dibuat sesedih mungkin.


"Kenapa?"


"Karena loe mau lulus dan gue belum lulus-lulus. Loe jadi kan wisuda akhir tahun?" Senja hanya tersenyum menanggapi muka kawannya yang di tekuk masam. Ia akan lulus lebih dulu lalu mencari kerja yang bagus.


"Jadi! Makanya loe cepet-cepet susulin gue. Yah siapa tahu kita bisa lulus barengan." Hal yang mustahil, Fara tahu kalau kekuatan otaknya dengan Senja berbanding terbalik. Ketika ia melihat huruf-huruf lambang kimia dan angka dengan rumus. Kepala Fara rasanya sakit seperti di pukul palu.


"Gak mungkin deh kayaknya. Dosen pembimbing gue itu sensi banget sama gue. Skripsi, baru sampai bab 1 muluk. Gak ada peningkatannya." Dengan kesal Fara mengaduk-aduk buburnya. Ia ingat kenapa dosen pembimbingnya bisa tak suka dengannya, karena Fara dulu sengaja mengerjai dosen itu dengan mengempiskan ban motornya.


"Jangan pesimis donk! Semangat!!"


"Loe beneran sekarang pindah ke bengkel Saga ?" Senja mengangguk malu-malu. Rasanya bagai mimpi hubungannya dengan Saga bisa sejauh ini. Ia sempat pesimis saat awal pernikahan mereka. Saga yang sering kabur-kaburan dan dia yang bersitegang dengan mertuanya. Senja kini yakin kalau ke depannya kehidupan rumah tangganya akan baik-baik saja.


"Cie... cie... pake malu segala. Kalian romantis, makan sepiring berdua, tinggal di gubuk derita, jauh dari orang tua." Dengan kesal Senja mencubit dengan gemas lengan Fara. Jangan samakan hidupnya dengan lagu. Nyatanya bengkel Saga lebuh baik dari gubuk derita.


"Hidup gue bukan lagu kali ah!"


Tapi obrolan mereka berdua harus terhenti ketika mendengar segerombolan anak sedang bercanda sambil tertawa keras agak jauh jaraknya dengan keduanya. Mata Senja menyipit mengamati segerombolan orang yang dikenalnya dengan baik.


"Itu kan suami loe dan Icha. Kalau gue jadi loe udah gue tarik palanya Icha sampai botak. Gile laki orang di gelendoti. Udah kayak lem aja tuh Icha."


"Dia gak tahu kalau Saga udah nikah."


"Whatt??" Tanggapan Fara bahkan lebih heboh dari respon Senja. Ternyata terlalu berharap kepada manusia itu tak baik. Selama ini kebaikan dan perhatian Saga Β sepertinya Senja salah tafsir. Mereka tetaplah dua orang asing yang saling berbagi atap dan ranjang. Terlalu percaya diri juga tak baik, ia kira Saga mempunyai perasaan spesial padanya. Nyatanya kini ia harus menelan pil pahit. Marischa, wanita itu masih pemilik sah hati Saga. Statusnya memang istri tapi hanya di atas kertas. Icha, kekasih suaminya dan dia tak ubahnya hanya pendatang atau malah orang ketiga dalam hubungan mereka. Sepertinya Senja akan mengalami patah hati untuk kedua kalinya.


Sedang Saga yang tak sadar jika di lihat oleh sang istri. Membiarkan Icha bergelayut manja kepadanya. Icha hanya teman masa kecil dan titipan seseorang. Kadang juga ia merasa risih jika Icha mengekorinya kemana-mana atau mengaku-aku sebagai kekasih Saga tapi mau bagaimana lagi. Dia sudah melarang Icha untuk melakukannya tetap saja IchanyaΒ  keras kepala. Icha bilang mereka berjodoh dan sudah di takdirkan Tuhan untuk bersama. Saga tak sanggup membayangkan reaksi Icha kalau tahu dia sudah menikah.


πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰

__ADS_1


__ADS_2