Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 23


__ADS_3

"Bagusan yang mana ya?" Saga menggedikan bahu. Mana ia tahu mana alat lukis yang bagus atau tidak. Dia cuma mengekori Nadine dari tadi. Mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan di sebuah Mall.


"Ih percuma ngajakin kamu Ga, dari tadi gak bisa milihin buat aku!!" ungkap Nadine kesal dan menampik bahu Saga. Kalau begini tadi lebih baik mengajak Icha saja. Selera Saga itu payah bin terlalu jadul.


"Kamu pergi sama aku, istri kamu gak marah?"


"Senja santai banget orangnya, dia itu jarang marah." Nadine memilih sebuah kanvas halus berukuran tebal. Ia memang gemar melukis namun saat di Amerika, kesenangannya harus ia tahan karena suaminya tak pernah setuju jika dirinya menggoreskan cat air di atas kanvas. Romi selalu menyuruhnya untuk berdandan layaknya perempuan terhormat dan high class. Hidup Nadine seperti manekin hidup walau begitu ia tetap mencintai sang suami.


"Ceritain dong tentang istri kamu." Saga berpikir sejenak lalu mengetuk-ngetuk jarinya di dagu. Ia berpikir keras, menggali pikirannya tentang Senja. Sejujurnya ia tak tahu banyak, Saga tak pernah mendengar Senja mengeluh padahal bisa dikatakan hidup mereka tak mapan tapi nyaman.


"Dia manis juga penurut."


"Terus?"


"Dia pintar mengurus rumah juga aku. Dia juga udah skripsi padahal aku aja jarang masuk kuliah. Senja itu sabar dan dia kalau sedih bakal diam aja, dia juga care sama anak bengkel." Nadine mengamati mata Saga dengan seksama. Ada binar bahagia saat adik sepupunya itu menceritakan tentang sang istri. Saga sudah besar sekarang, dia tak akan menangis hanya karena jatuh dari sepeda, atau akan ngambek jika tidak di beri permen. Semuanya berubah, mereka telah tumbuh dewasa. Bayangan Saga memanggilnya kakak dan mengekor kemana dia pergi hanya jadi kenangan indah.


"Kamu mencintai dia?"


Saga memejamkan mata sejenak mencari jawaban di dalam hati. Sayangnya saat kini bersama Nadine hatinya gelisah. "Cinta gak di butuhkan dalam penyatuan Raga."


Karena sebal dengan jawabnya Saga yang nakal, Nadine memukul kepala orang yang telah ia anggap sebagai adiknya itu dengan wadah cat air. "Tapi menurut aku, kamu cinta sama Senja."


"Jangan bahas cinta, cinta itu bikin pusing. Udah selesai kan kita bayar ya sekarang?" Nadine berdecih, sampai kapan si Saga itu akan membohongi hati kecilnya. Saga begitu semangat ketika menceritakan tentang sang istri. Berarti apa yang di katakan tante Devi tak benar. Senja bukan gadis gila harta, buktinya perempuan itu mau susah hidup bersama Saga di bengkel yang kumuh.


🌻🌻🌻🌻


"Harusnya aku gak ngajak kamu ke toko baju." Gerutu Nadine yang melihat Saga menguap kebosanan, berdiri di dekat salah satu manekin. IaΒ bosan bila menemani seorang perempuan memilih pakaian. Baginya pakaian sama saja, apa yang perlu di pilih sih.


"Aku benci nunggu perempuan belanja!!"


"Harusnya aku ajak istri kamu aja ke sini!!" Kenapa Senja harus dibahas terus saat mereka hanya berdua. Saga merasa bersalah saja, semakin lama ia bersama Nadine semakin hatinya gelisah memikirkan Senja. Sedang apa istrinya itu ya? Saga tentu tak bermaksud berkhianat namun hatinya seakan mengejek.


Tanpa Nadine dan Saga sadari. Sedari tadi ada Farah yang melihat ke akraban keduanya dengan tatapan curiga. Siapa perempuan cantik yang di gandeng Saga itu ya? Apa pacar barunya? Saga memang siluman buaya.


"Ukuran baju istri kamu berapa?"


"Aku gak tahu."


"Keterlaluan banget sih kamu Ga. Kamu gak pernah apa beliin dia baju?" Nadine memandang sahabat masa kecilnya dengan sengit. Saga masih sama cuek dan dingin seperti dahulu. "Ini baju cocok pasti buat Senja." Ia mengangkat kemeja bewarna merah muda lalu melihat ukurannya. "M pasti muat kan?".


"Mungkin."

__ADS_1


Mata Fara semakin awas saja. Dari kejauhan ia nampak mengamati dengan seksama. Matanya tak buta, itu benar Saga suami sahabatnya. Berduaan dengan gadis dan se akrab itu. Farah mengambil foto mereka sebagai bukti dan akan ia adukan ke Senja.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Hari ini panas sekali, keluh Senja dalam hati sambil membawa satu kantong kresek sampah.


Mana bawaannya berat, ia beberapa kali menyeka keringat yang mengalir di dahi dan juga leher.


"Huft!!" Ucapnya kesenangan setelah bisa mengangkat kantong sampah yang lumayan berat untuk masuk ke tong besi depan cafe.


"Aaa...." Teriaknya karena seseorang datang menyeret lalu membekap mulutnya.


"Jangan berisik, diem!!"


"Fara!! Loe bikin gue jantungan, kenapa sih seret-seret gue?" Farah tak menjawab langsung, ia mengibaskan tangan karena kepanasan kemudian ia melepas tudung hodie hitam yang di pakainya.


"Jangan berisik!!" Fara mengawasi kanan-kiri jikalau si Arthur tiba-tiba muncul.


"Gue punya sesuatu buat loe!!"


Farah mengeluarkan ponsel, mengulirnya sebentar lalu menunjukkan gambar layarnya pada kawannya. "Gue udah bilang Saga itu playboy, ********, bisa-bisanya dia main ama perempuan lain. Dia punya loe tapi masih aja pacaran ama Icha."


"Itu Nadine, sepupu Saga."


Saga mengangguk sambil memejamkan mata, mereka bersaudara. Itu yang selalu ia rapalkan dipikiran. Kisah cinta mereka telah usai. "Dia istri dari kakak sepupu Saga."


"Oh begitu kirain mereka ada hubungan. Habis mereka bisa di bilang mesra. Revan kayak sayang banget ama itu perempuan." Senja berkata mereka bukan sepasang kekasih namun foto mereka tetap mengganggunya. Ia juga merasakan kalau Saga memandang Nadine penuh dengan perasaan. "Ya udah deh kalau mereka saudara. Gue kali yang terlalu parno."


"Senja..." panggil seseorang dari dalam Cafe. Farah yang tahu itu suara siapa, langsung memakai tudung hodienya kembali dan pergi tanpa berpamitan.


"Kamu di luar lama banget kenapa?"


"Itu..." Si Fara sudah tak terlihat lagi. Kenapa gadis itu kok ngilangnya cepet banget. "Tadi Fara ke sini tapi sekarang udah pergi."


"Mana?" Arthur mencari tapi bayangan Farah sekalipun, sudah raib tak terlihat. "Udah masuk aja, aku khawatir kamu di luar kelamaan."


Senja mengangguk setuju lalu di rengkuh Arthur bahunya untuk kembali bekerja. Pikirannya kini mulai tak tenang, membayangkan jika kini Saga tengah bersenang-senang dengan Nadine namun ia terlalu takut mengakui kalau dirinya galau atau merasa tak nyaman dengan kedekatan mereka. Senja takut akan dikira seorang istri yang posesif.


πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡


"Terima kasih kak Troy." Ucap Senja keluar dari mobil Ferrari milik Troy. Entah karena pikirannya agak kacau, ia menerima kebaikan Pria yang dia kira agak aneh ini. Tanpa pamit, melambaikan tangan, atau sekedar berkata hati-hati, Senja berjalan menunduk masuk bengkel. Seharian rasanya melelahkan sekali, bukan Raga yang lelah namun hati yang terlalu gundah akibat melihat foto Saga bersama Nadine tadi.

__ADS_1


"Loe keterlaluan, dua hari ini sama Nadine terus sampai lupa kalau ada Senja yang nungguin di rumah." Langkah Sdnja yang berada di ambang pintu seketika berhenti mendengar namanya disebut. Ia mendengarkan baik-baik apa yang Saga akan bahas bersama kawan-kawannya.


"Nadine baru pulang. Dia butuh gue, hubungan dia sama Romi lagi gak baik." Angga naik pitam, di kiranya Saga itu masih merasa singgel hingga bisa jadi ibu peri untuk Nadine.


"Itu urusannya Nadine ama suaminya. Bukan berarti loe gak peduli sama Senja, dia bini loe!!" Kini giliran Gio yang berbicara. Saga hanya diam duduk di sidang para sahabatnya.


"Loe tahu kan perasaan gue sama Nadine kayak gimana. Gue gak bisa mengabaikan dia gituh aja!! Di saat dia lagi down. Gue masih sayang sama Nadine." Mendengar ungkapan hati suamjn, tanpa sadar Senja meremas dadanya sendiri. Rasanya begitu sakit, pria yang kita titipi sebuah kepercayaan, kita titipi hati nyatanya hatinya sendiri bukan milik kita. Jelas Senja akan menangis, namun ia menguatkan diri. Lambat laun sayangnya Saga pada Nadine juga akan berkurang 'kan. Satu tangan Senja berpegang pada tembok pembatas untuk menguatkan diri. Berpikir jika mungkin saat ini suaminya tengah terbawa suasana.


"Brengsek loe!!" Maki Angga.


"Kita tahu loe cuma jadiin Senja barang taruhan, loe gak mau di kalahkan tapi sedikit aja loe harusnya bisa lebih cinta sama bini loe." Senja yang masih di tempatnya semula, menajamkan telinga. Ia yakin tak salah dengar. Mereka membahas taruhan, apa yang sebenarnya yang terjadi di dalam rumah tangganya. "Dia datang ke sini, hidup menderita sama loe. Harusnya loe punya empati, jaga perasaan Senja."


"Rasa cinta yang gue punya ke Senja gak mampu menyingkirkan Nadine di hati gue!!"


"Sekarang loe udah nikah, loe punya tanggung jawab. Memang sikap baik loe ke Senja didasari taruhan tapi loe ga ngerasa dia tulus sama loe!! Senja bini baik, gak pantas loe sakitin." Tangis Senja langsung luruh dan semakin deras. Jadi selama ini kebaikan Saga palsu, suaminya tidak mencintainya bahkan peduli pun tidak. Hatinya terlalu sakit hingga ia membekap mulutnya supaya tak sampai berteriak.


"Bukan begitu maksud gue tapi..." Bola mata Saga hampir jatuh ketika melihat Senja sudah berdiri di depan pintu dengan keadaan banjir air mata. Apa tadi istrinya sudah mendengar apa yang mereka bahas dan katakan. Oh shit


"Apa maksud kalian dengan taruhan?" Kedua teman Saga yang mendengar suara Senja pun menengok. Mereka mati kutu, paham jika rahasia mereka telah terbongkar. "Apa maksud yang kalian katakan!!" Teriaknya marah, siapa perempuan yang tak marah jika hidupnya yang ia kira bahagia hanya sebuah sandiwara.


"Senja itu semua gak benar!"


"Cukup, aku gak minta kamu bicara!!" Hardiknya pada sang suami. Merasa bahwa beberapa orang di sini masih enggan menjawab, Senja murka. "Taruhan apa yang kalian maksud? Kenapa menjadikan hidup saya sebagai permainan!! Jawab!!"


"Taruhan kalau dalam dua bulan Saga bisa bikin lo jatuh cinta dan berhasil milikin lo maka dia dapat motor yang kita rakit. Kalau Saga gak berhasil...."


"Gio...!!!" teriak Saga panik.


"Kita dapat omset bengkel selama setahun!!"


Plakk


Gio sukses di tampar. Senja diliputi emosi tinggi tak mau menerima penjelasan atau di sentuh siapa pun.Β  "Jangan pernah mendekat atau menyentuh saya!!" Saga yang bergerak mendekat, langsung mendapat sebuah rentangan tangan. Senja tiba-tiba merosot turun ke lantai lalu menangis tergugu karena miris akan nasib hidupnya sendiri. Tak ada yang berani mendekat, karena suara tangisan yang pilu itu melukai hati semua orang yang ada di sana.


"Maaf..."


Karena emosi Senja memaksa, melepas cincin pernikahannya dan melemparnya jauh. "Hubungan kita berakhir!!" Saga menganga tak percaya. "Dari awal kita hanya orang asing. Jadi sudah cukup hidup saya di permainkan!!"


Senja berdiri lalu menghapus air matanya dengan kasar. Di matanya hanya ada rasa benci untuk suaminya. Ia kemudian pergi berlari menjauh. Tak peduli jika Saga mengejar dan memanggil-manggil namanya. Hatinya hancur, kehidupan pernikahannya juga telah hancur.


Citttt....

__ADS_1


πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡


__ADS_2