
Senja didera kebimbangan. Kembali atau berpisah. Bukan dirinya takut hidup sendiri namun ia takut menjadi beban Troy. Semenjak kakeknya di rumah sakit, Troy sibuk di kantor sekaligus mengurus kakek Wisnu sendirian. Senja merasa tak enak saja, masalahnya dengan Saga yang bisa diselesaikan sendiri kini ikut merecoki otak Troy yang makin penat dijejali masalah itu.
"Kak Troy udah tidur?"
"Udah, dia tidur di kamar. Kayaknya dia capek banget deh." ujar Dara sambil menuangkan segelas air. Ia berharap Senja agak tahu diri agar tak merengek atau membebani Troy dengan masalah rumah tangganya atau anak yang dikandungnya.
"Pasti. Kakek masih sakit. Sedang aku gak bisa bantu apa pun." Syukurlah Senja termasuk adik yang pengertian.
"Yah dari dulu kan emang Troy cuma sama kakeknya aja. Kenapa sih kakek Troy benci banget sama mamah kamu dan juga... kamu." Senja juga tak tahu penyebabnya apa. Mamanya pernah berkata kalau kakeknya membenci Helen karena dia miskin. Apa hanya itu Atau ada hal yang lain.
"Aku gak tahu pastinya. Mungkin karena mamah itu miskin." Deg,,, jantung Dara berdecak kencang. Miskin? Lalu apakabar dirinya yang hanya budak Troy dan anak seorang *******? Dara tak ada berharganya di mata keluarga Troy.
"Miskin? Orang tua kalian gak sederejat begitu? Apa itu penting. Menilai seseorang dari asal muasal dan juga hartanya?"
"Sebagian orang menganggap itu penting." Dan keluarga Troy salah satunya. Bagaimana dengan impian Dara menikah dan menjadi nyonya Troy. Akankah gagal? Ah tentu tidak, jika Troy menerimanya pasti sangat kakek dengan terpaksa mau. Apalagi tua bangka itu sudah stroke sekarang.
"Apa kamu dan Kak Troy punya hubungan yang serius?"
Di tanya seperti itu. Dara malah tersipu malu-malu. "Doakan saja ya!"
"Pasti." Senja tersenyum tulus namun dia juga khawatir kalau keinginan Dara itu tak akan terwujud. Pasalnya kakaknya juga tak pernah bersikap hangat pada Dara. Atau sekedar memperjelas hubungan keduanya.
ππππππππππππππ
πππππππππππππ
"Ga, kamu gak boleh gegabah mengambil keputusan." Kemarin mamanya yang bertandang kini sang kepala keluarga. Kenapa kedua orang tuanya begitu ngotot memintanya untuk menceraikan Senja. "Kalau masalah anak. Itu gampang. Kita bisa ngambil dia setelah lahir."
"Papah sadar ngomong kek gituh? Papah punya anak juga. Apa jadinya kalau aku dulu cuma di asuh papah dan gak punya mamah." Hermawan diam seribu bahasa. Anggap saja ia egois. Tawaran saham itu begitu menggiurkan. Hingga ia rela mendepak sang menantu yang tengah hamil.
"Seratus persen saham perusahaan kita akan jadi milik kita. Kamu gak usah membagikan dengan siapa pun." Itulah tujuan awal pernikahannya dengan Senja. Agar saham perusahaan yang ayahnya pegang tak berpindah ahli waris. Namun ayahnya terlalu serakah. Ingin memiliki semuanya sendiri. "Papah tahu kamu udah gak betah kan dengan pernikahan ini!"
__ADS_1
"Papah salah, demi apapun aku akan mempertahankan Senja dan anakku. Lebih baik papah bawa pergi surat cerai itu!!" Hermawan mengambil berkas surat perceraian di atas meja lalu menyimpannya di tas.
"Kamu bodoh Ga, cepat atau lambat. Senja yang minta sendiri. Itu artinya dia gak mau sama kamu lagi!!"
"Terserah papah. Selama aku hidup dan bernafas. Aku akan berjuang agar Senja merubah pendiriannya!!" Hermawan lelah dan putus asa membujuk Saga . Anaknya itu begitu keras kepala dan juga sukar menurut. Ia pergi dengan tangan kosong. Biarlah semuanya Hermawan serahkan pada Tuhan. Toh pada akhirnya keduanya akan tetap bercerai.
πππππππππππππ
Senja sudah mengurus segala persiapan wisudanyaΒ bulan Desember nanti. Setelah ini ia akan dapat ijazah dan bisa bekerja agar menghidupi anaknya kelak. Tak sabar rasanya ingin melihat sang anak lahir. Senja mengelus lembut perutnya sambil menselonjorkan kaki. Bayinya yang akan menemaninya sampai tua, memberinya cinta dan juga sebaliknya.
Ting.. tong.... ting.... tong
Bel apartemennya berbunyi. Sepertinya sang kakak pulang lebih awal. Dengan tak sabaran Senja membuka pintu.
Ceklek
"Saga?" Dahinya mengerut bingung saat melihat sang suami yang datang. Saga yang biasanya memakai jaket kulit kini rapi dengan kemeja biru serta celana jeans bewarna krem. "Mau apa kamu ke sini?"
"Mau nemuin kamu sekalian ngajakin makan di luar."
"Aku gak takut!"
"Tapi aku gak mau bikin keributan." Ancam Senja untuk mengusir kedatangan sang suami. Namun tengokan Dara yang ada di belakangnya memperumit keadaan.
"Eh ada Saga. Kok gak disuruh masuk sih!" Dara membuka pintu lebar-lebar. Mempersilakan suami Senja untuk duduk di dalam.
"Aku di sini gak lama-lama. Mau ajak Senja keluar." Dara tersenyum penuh arti lalu menarik tangan Senja untuk masuk kamar.
"Kalau gituh tungguin bentar ya!" Senja menggerutu, sejak kapan Dara jadi sekutu Saga .
"Ngapain sih kamu sok baik ama Saga?" ujar Senja ketika masuk kamar. Dara malah sibuk mengambil baju di dalam almari.
__ADS_1
"Bukan sok baik. Jarang ada laki-laki kayak Saga mau berusaha walau di tolak terus!!" Senja melipat tangan di depan dada sambil berdecak sebal. Ia biarkan Dara mengobrak-abrik lemarinya. "Pergi keluar, refreshing, jangan cemberut terus!!"
Dara menyodorkan sebuah dress selutut berlengan tulip, bermotif bunga aster bewarna ungu lembut kepada Senja. "Gue gak mau pergi!!"
"Otak loe perlu pencerahan. Jalan-jalan keluar, menghirup udara segar. Paling nggak loe lakuin semua itu demi anak loe. Jangan keras kepala deh." Karena jujur saja Dara yang ingin sekali diperhatikan atau disayang ketika hamil malah mendapat ucapan ketus serta tatapan tajam dari Troy. Dengan terpaksa dan berat hati Senja berganti pakaian. Dara benar, anaknya butuh sang ayah. Selamanya ia tak bisa memelihara sakit hati. "Kalau soal Troy biar gue yang urus."
ππππππππππππππ
Sebelum makan mereka pergi jalan-jalan ke taman dan juga ke suatu tempat yang mengejutkan Senja ketika sampai. "Ke rumah sakit?"
"Iya, aku mau lihat perkembangan anak kita." Senja memejamkan mata. Ia lupa, belum pernah sekali pun memeriksakan sang anak pada dokter kandungan. Untung saja sang suami mengingatkan. "Gak apa-apa kan setelah ini baru kita makan?"
"Gak apa-apa." Bolehkah kali ini Senja merasa terharu karena perhatian sang suami. Ia merasa tak apa kalau cinta Saga bukan untuknya, asal anaknya mendapat kasih sayang penuh dari sang ayah.
"Usia kandungannya udah masukΒ delapan minggu. Lihat kantung janin sudah terbentuk. Janinnya sehat, tekanan darah ibunya normal. Masih sering mual atau muntah?" tanya dokter kandungan yang tengah menangani Senja.
"Alhamdulillah selama hamil gak pernah ngalamin itu. Pas hamil juga gak sadar, sebelum akhirnya pingsan." Dokter perempuan itu hanya mengulum senyum tipis lalu menyuruh sang asisten membersihkan perut Senja.
"Saya hanya akan memberi vitamin. Saya sarankan istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi, jangan stres dan kontrol lagi ke sini sebulan lagi."
Saga menerima resep vitamin yang dokter berikan lalu tersenyum penuh arti kepada sang istri. Ia akan mempertahankan Senja bagaimanapun caranya. Ibu dan bayinya harus selalu berada di sampingnya serta selalu dalam pantauannya.
"Aku kopi foto USGnya satu buat kamu, satu buat aku." ujar Senja. Mereka kini sudah makan di sebuah restoran yang letaknya dekat dengan rumah sakit.
"Aku bakal simpan ini di dompet." Saga merasa kecewa saja. Kenapa foto USG ada dua, ia berharap hubungan mereka tak berakhir. Ia masih ingin bertahan. "Apa hubungan kita gak bisa di pertahanin lagi?"
Senja diam. Kadang mendapat perhatian ekstra seperti ini hatinya jadi tamak. Selama cinta belum terucap dan terbukti. Tak ada hubungan yang harus dijalin kembali. Mungkin Senja terlalu sakit hati hingga menghukum Saga selama ini. "Aku gak tahu tapi aku butuhΒ waktu dan jarak. Mungkin dengan berpisah. Kita bisa jadi dewasa. Ini bukan soal bentuk tanggung jawab lagi. Atau soal anak yang ada di perutku. Pikirkan semua ini dari sisiku, apakah adil untukku?"
"Kamu mau apa? Mau aku berlutut atau memohon di hadapan semua orang? Akan aku lakukan asal kamu kembali." Senja dengan was-was menatap sekelilingnya. Jangan sampai mereka bermain drama maaf-memaafkan yang memalukan.
"Aku ingin memulai semuanya dari awal. Kita hidup hanya bertiga, hanya ada kamu, aku dan anak kita." Hanya kita? Terasa fatamorgana namun Senja melihat keyakinan yang pekat di mata sang suami. "Atau kita bisa pergi dari sini, meninggalkan semuanya."
__ADS_1
Senja terasa meragu, tawaran Saga menggiurkan tapi sebelumnya ia pernah mencoba hidup hanya berdua dan hasilnya hanya kecewa. Akankah hatinya kembali terbujuk atau meragu saja? Senja bukan takut hidup melarat, hanya saja selain cinta ia butuh juga kesetiaan.
ππππππΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ