Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 21


__ADS_3

Senja seperti biasa bangun pukul 5 pagi. Ia merentangkan otot tangan lalu menengok ke samping. Ternyata suaminya semalam pulang dan tidur menemaninya. Ngomong-ngomong suaminya kemarin malam pulang jam berapa ya? Kok tidak membangunkannya. Sudahlah yang terpenting Saga kini sudah ada.


Senja pelan-pelan turun dari ranjang. Ia bergegas mandi lalu mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh. Ketika mengucap salam,Β  Senja tertegun melihat suaminya sudah duduk sambil tersenyum tapi masih tak mau beranjak dari kasur.


"Kok Shalat gak ngajak-ngajak aku sih?"


"Kamu tidurnya lelap banget. Semalam pulang jam berapa?" Tanyanya sambil melipat mukena dan sajadah.


"Aku pulang jam 11an," jawab Saga lalu menarik nafas panjang sambil menyugar rambutnya yang masih acak-acakan. "Maaf kemarin aku lupa jemput kamu karena ada kerjaan mendadak."


"Gak apa-apa, aku mau masak ke bawah. Kamu buruan mandi terus Shalat." Perintah Senja lembut. Ia bukan tipe perempuan yang meributkan hal kecil. Tidak dijemput bukan berarti kiamat kan.


"Morning kissnya mana?"


"Ih kamu kalau udah minta cium gak mau berhenti! Aku mau masak buat sarapan dulu." Senja pergi sembari mengulum senyum malu-malu. Saga memang manja sekali tapi untunglah suaminya kini menyayangi dirinya.


Sedang Saga yang melihat punggung Senja hilang di balik pintu langsung sendu. Sampai kapan dia diserang keraguan yang amat smagat besar. Senja begitu baik dan telaten jadi istri. Tak seharusnya hati Saga yang diperjuangkannya untuk bersama Senja goyah. Hanya karena seseorang dari masa lalunya telah kembali.


🌽🌽🌽🌽🌽🌡🌡🌡🌡🌡🌡🌡🌡


"Ga, Makan jangan tergesa-gesa." Tegur Senja lembut pada suaminya sembari mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.


"Aku buru-buru, ada urusan ama temen." Senja terdiam sejenak. Dahinya timbul kerutan karena mendadak ingin tahu urusan sang suami sampai mengerutkan kening.


"Udah aku berangkat dulu."


Saga dengan secepat kilat mencium dahi istrinya sembari berlalu namun ketika hendak meninggalkan ruangan, ia berbalik lagi.


"Aku nanti gak bisa jemput kamu, kamu pulang sendiri ya?" Seperti biasaΒ  Senja mengangguk paham.


"Eh kamu boleh balik nebeng bos kamu, tapi cuma hari ini aja. Kalau pulang malam-malam sendirian kan bahaya juga!!"


Senja heran, sikap suaminya terbilang aneh. Saga tak cemburu pada Arthur. Apa pria itu mulai bersikap dewasa, tak egois dan mulai peduli padanya. Senja lega kalau suaminya berubah ke arah lebih baik. Tapi apa yang memicu perubahan Saga jadi secepat itu.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸπŸπŸ


"Sorry aku telat ya?"


Senyum lebar seorang perempuan menyambut kedatangan Saga di depan pintu. Ia mempersilahkan laki-laki itu masuk lalu meletakkan beberapa tangkai bunga ke dalam vas.


"Enggak, ini malah kepagian. Mau minum atau sarapan?" Tawar perempuan itu. Saga tak pernah bosa memandang wajah ayunya yang tak lekang oleh waktu. Kenapa hatinya masih kuat bertalu-talu jika bersama Nadine. Ia kemarin sampai tak menjemput Senja karena sibuk mengantar Nadine ke sana ke mari.


"Udah tadi di rumah".

__ADS_1


"Aku lupa sekarang adikku ini udah ada istri buat ngurusin dia."


"Nadine...." Perempuan yang dipanggil Nadine hanya berdecak sebal.


"Aku benci kalau kamu panggil nama aja, aku lebih tua dari kamu Saga!" Pelototnya pura-pura marah.


"Kenapa sensi banget kalau aku bahas istri kamu. Siapa namanya?Β  Tante pernah bilang tapi aku lupa."


"Namanya Senja."


"Kamu jadi beli barang-barang keperluan rumah? Kamu beneran pindah? Ninggalin suami kamu?" Nadine mendesah lalu memijit pangkal hidungnya. Pandangannya yang tadi secetah mentari beruabh sendu seperti mendung kelabu.


"Bukan, aku cuma gak mau Romi terlalu dominan terhadap hidupku. Aku mau balik ke Indonesia karena di USA aku gak ada kerjaan, sedang Romi terlalu sibuk dan menikmati dunianya." Saga mengerti.


Nadine suka sekali traveling, fotografi dan melukis. Sedangkan pernikahan tentu mengikat pergerakan Nadine untuk menyalurkan kesenangannya. Harusnya dulu Saga bertahan dan keras kepala, agar Nadine tak menikah dengan kakak Devano. Kalau ujungnya Nadine tak bahagia dan malah menderita.


"Makanya kamu pindah ke sini tanpa dia. Apa kalian bakal bercerai?" Nadine menggeleng keras. Ia tak suka perceraian. Nadine cuma butuh sebentar saja bernafas tanpa sang suami. Lagi pula dia masih sangat mencintai Romi. Kepergiannya untuk sedikit menurunkan ego Romi, agar mau mengalah padanya


"Gak sejauh itu, aku ke sini untuk menenangkan diri. Tolong jangan bahas soal Romi lagi." Mohon Nadine dan Saga merasa bersalah. Apa dalam hati kecilnya berharap Nadine bercerai, kembali single dan ia punya kesempatan lebar untuk bersama perempuan ini namun hatinya tak seperti dulu yang masih memuja Nadine dengan sangat. Ada bagian milik Senja yang mungkin menggeser Nadine pelan-pelan tapi tetap saja getaran hati Saga untuk Nadine yang masih menggema kuat tak bisa pria itu acuhkan.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Senja melirik malas ke arah meja bernomor 10, di sana ada Devano. Mau apa pemuda itu sebenarnya. Bukankah kemarin sudah jelas kalau Senja itu istri dari temannya. Mereka kan sudah bertemu di bengkel. Apa lelaki itu tak putus asa kah mengajak Senja balikan?


"Iya tapi aku bukan pengecut. Aku mau ke sana, mau tanya mau dia apa!!"


Senja tak gentar, menghadapi Devano nyalinya jadi besar. Memang apa yang bisa Devano lakukan, laki-laki itu tak akan ia biarkan merusak kebahagiaannya. Cukup masa SMAnyaΒ  di isi dengan kesedihan, sakit hati serta olokan menyakitkan.


Langkah Senja begitu keras dan mantap, membawa catatan dengan sebuah pena sebagai pelengkap. Dua benda itu ia sodorkan kepada sang mantan.


"Mau pesan apa? Aku catat sekarang."


"Aku bakal pesan tapi aku juga mau bicara sama kamu."


"Tak perlu, kita cuma masa lalu. Apa yang perlu kita bahas?" Tak ada. Devano hanya buang-buang waktu.


"Duduk dulu, ada yang aku mau bahas. Ini bukan tentang kita tapi suamimu." jelasnya tegas. Senja curiga kalau yang dibahas Saga berarti mungkin Devano akan mengumbar kejelekan sang suami.


"Ada apa sama Saga?"


"Duduklah dulu!!" Kali ini Senja mengalah, mengambil tempat duduk di hadapan sang mantan.


"Seberapa jauh kamu kenal Saga?"pertanyaan pertama yang Devano ajukan dan sebagai seorang istri tentu Senja akan mudah sekali menjawabnya.

__ADS_1


"Aku tahu apa yang di sukai dan apa yang tidak Saga suka. Aku tahu tentang orang tuanya, aku tahu kebiasaan buruknya juga."


Devano tertawa miris. Jelas Senja tahu segalanya tentang Saga. Mereka berbagi ranjang, atap dan waktu bersama. Mengingat itu sudut hatinya merasakan nyeri luar biasa. Devano gila kalau sampai mengharapkan istri dari sepupunya sendiri.


"Tentang masa lalunya? Mantan atau kisah cinta pertamanya? "


"Itu aku tahu, dia masih pacaran dengan Marischa? Saga sudah menjelaskan kalau dia hanya menjaga Icha tak lebih." Senja paham sekarang. Devano ingin memanasinya dengan bercerita tentang kedekatan Icha dan Saga. Tapi itu berita sudah basi, suaminya kini sedang berusaha menjaga jarak dengan Icha.


"Bukan tentang Icha tapi kakak tiri Icha yaitu Nadine." Nadine? Nama yang tak pernah ia dengar atau Saga sebut. Siapa perempuan itu kalau cuma salah satu mantan. Senja tak usah khawatir kan. Masa depan Saga ditakdirkan bersamanya kini.


"Siapa Nadine?" Devano tersenyum culas. Senja tak tahu menahu siapa pria yang ia nikahi itu.


"Dia kakak iparku, sekaligus kakak tiri Icha. Dia juga cinta pertama Saga." Cinta pertama? Kata itu begitu menggema di telinga. Senja paham jika cinta pertama bagi seseorang bekasnya tak akan cepat hilang. Cinta pertama ibarat penyakit kambuhan, yang akan bangkit kalau ada pemicunya. Lalu apa hubungannya, Nadine sudah menikah.


"Lalu? Dia sudah menikah, masalahnya dimana?"


"Nadine kembali tapi tak dengan suaminya. Hubungan Nadine dan kakakku merenggang. Kamu tahu Saga kini mungkin sedang menghibur Nadine." Senja bersikap sesantai mungkin. Ia tak menunjukkan kecemburuannya sama sekali. Ia tak mau pria ini merasa menang bisa menggoyahkan kepercayaannya. Tapi jujur hatinya juga merasa sedikit gelisah.


"Hubungan mereka cuma masa lalu."


"Tapi Saga masih mencintainya," Jawaban Devano begitu menohokΒ  hati Senja. Tantu ia tak akan percaya dengan ucapan pria yang pernah mematahkan hatinya ini. Devano hanya berusaha memisahkan dirinya dengan sang suami. Ibarat kata Devano itu hanya bicara menurut asumsinya saja tanpa fakta.


"Kau ingin memisahkan aku dan juga suamiku? Sayangnya hasutannmu itu basi!"


"Bukan, aku ingin matamu terbuka. Bahwa suamimu itu tak mencintaimu, dia masih mencintai Nadine!!"


Senja malah berdiri dengan angkuh, ia menarik kursinya mundur. "Dia menyentuhku namun di hatinya masih milik perempuan lain!!" Mata Senja yang indah itu kini membelalak akan keluar. Dari mana Devano tahu hal sedalam itu. Hubungan intim hanya jadi rahasia dirinya dan juga Saga.


"Kamu jangan bicara sembarangan!!"


"Saga menceritakan semua ke aku, malam dimana kalian berhubungan dan dia harus mengungsi ke apartemen kuselama 5 hari demi menghindarimu!!"


Senja langsung lemas, Devano tahu segalanya tentang hubungan dirinya dengan Saga. Ia terpaksa kembali duduk. Sedekat apa mereka berdua, mereka bukan hanya bersahabat biasa bukan.


"Dia masih mencintai Nadine, percaya lah padaku. Dia hanya menjadikanmu pelarian karena kamu adalah istrinya, seseorang yang harus dia jaga dan bahagiakan."


"Kamu bohong!!"


Senja tak percaya namun hatinya kenapa malah mengiyakan.


"Kamu lebih tahu Senja. Apa kamu pernah merasa bahwa suamimu itu juga mencintaimu?"


Kali ini Senja diam sambil meremas celemeknya. Ia tak pernah tahu tentang Saga, bagaimana hubungannya dulu, bagaimana mantannya dulu. Ia hanya percaya bahwa sekarang bahagianya dengan keluarga barunya tanpa tahu apakah cinta Saga telah tumbuh atau malah layu. Senja di ambang kebimbangan, dirinya percaya diri jika suaminya mencintainya namun hati kecilnya seolah mengejek. Bahwa yang selama ini Saga lakukan hanya kepura-puraan semata.

__ADS_1


🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳


__ADS_2