Saga Dan Senja

Saga Dan Senja
Bab 17


__ADS_3

Senja tak tahu harus melakukan apa saat satu tangannya sudah di genggam Saga dan di tarik untuk pergi dari pesta. Sebenarnya tadi Arthur ingin menghalangi Saga tapi ia cegah, karena Senja tak mau kalau Saga akan berkelahi dengan Arthur. Lagi pula kalau Arthur membantunya, siapa yang akan menemani Fara dan mengantarkan gadis itu pulang.


"Masuk!" Saga membukakan pintu mobil untuk Senja. Ia dengan sedikit kasar mendorong tubuh istrinya agar masuk mobil. Tak tahukah Saga kalau Senja kesal diperlakukan kasar dan layaknya tahanan. Tak berapa lama menyalahkan mesin mobil dengan tergesa-gesa. Kakinya menekan pedal keras-keras. Ia terbawa emosi sampai membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Senja tak bergeming, harusnya di saat seperti ini ia berteriak ketakutan atau menghentikan Saga. Tapi Senja terlalu gengsi jika membuka mulut. Ia memilih diam, nyawanya diserahkannya pada Tuhan.


Entah apa yang terjadi pada Saga, mobil yang mereka naiki mendadak menepi di pinggir jalan raya. Keheningan menyelimuti keduanya sampai Saga tak tahan sendiri. Ia berteriak sambil mengacak-acak rambutnya.


"Ada yang mau loe jelasin ke gue?"


"Gak ada." Jawab Senja dingin.


"Soal hubungan loe sama bos loe?"


"Gak ada." Jawabnya lagi lebih dingin dan makin ketus. Senja mencoba menahan amarah. Ditinggalkan tiba-tiba lalu diseret dari pesta teman. Seharusnya dia yang marah bukan malah sebaliknya


"Gak ada? Tapi kalian jalan bareng!!" Saga berteriak marah.


"Itu pertanyaan pertama kamu setelah kamu ngilang selama 5 hari?" Kali ini wanita yang telah menikah itu geram dan mulai menuntut penjelasan. "Kamu gak terima aku jalan sama laki-laki lain?"


"Nja..." Panggil Saga lebih lembut. Sedang air mata Senja sudah berada di ujung pelupuk mata siap untuk menetes ke pipi.


"5 hari, Ga." Lima jarinya, ia rentangkan tepat d depan wajah suaminya. "Kamu gak pulang, gak ada kabar. Apa salah aku ke kamu?" Tangis Senja yang sekuat tenaga ia tahan, luruh. "Kamu ninggalin aku setelah kita ngakuin... itu."


"Sorry." Revan hendak memeluk tubuh Stella tapi sang pemilik raga memilih mundur sampai mentok ke pintu. Ia menepis uluran tangan suaminya.


"Maaf untuk apa? Untuk menghilang selama 5 hari atau kamu nyesel kita udah tidur bareng?"


"Gak gituh Nja..."


"Aku anggap permintaan maaf kamu untuk kesalahan kamu yang kedua." Dengan kasar Senja menghapus air matanya. Tak ada gunanya menangisi hal yang sudah berlalu. Dengan nekat ia membuka pintu mobil lalu segera melangkah pergi mencegat taksi yang lewat.


"Senja tunggu,,,!!"


Saga mengejar istrinya yang saat ini tengah diliputi emosi yang tak stabil. Ia menyingkirkan ego serta gengsinya. Saga dengan sekuat tenaga memeluk tubuh Senja dari belakang. Ia tak mau istri yang telah dihindarinya kabur pergi.


"Sorry karena aku udah ninggalin kamu dan untuk hal yang kedua aku gak menyesali perbuatan kita malam itu." Senja memberontak sekuat tenaga tapi apa daya kekuatannya sebagai perempuan tak seberapa. Ia menangis semakin kencang dalam dekapan Saga.

__ADS_1


Teringat malam panas itu, harga dirinya seakan tercabik-cabik. Senja ditinggalkan setelah memberikan mahkotanya.


"Kamu jahat Ga, ninggalin aku. Kamu buang aku setelah kamu pakai!!"


"Nggak gitu maksudku, aku butuh waktu untuk berpikir. Semuanya terlalu rumit, aku butuh meyakinkan diriku sendiri. Perasaan apa yang aku punya buat kamu dan..." Saga menahan istrinya, membalik tubuh kurus Senja untuk menghadap ke arahnya. Menangkup kedua pipinya yang tirus. "Aku sayang sama kamu, aku marah kalau lihat kamu sama laki-laki lain, aku gak pernah rela kamu di sentuh sama Arthur."


"Terus kamu dengan Icha?"


"Icha? Dari dulu aku gak punya hubungan apapun sama dia. Memang sih dia dari kecil deket sama aku."


Tapi ketika Senja hendak protes karena menurutnya hubungan Saga dan Icha yang terlalu intim jika di katakan tak punya hubungan apa pun. Bibir Saga sudah mendarat ke bibirnya. Melumatnya lembut, menekannya lebih dalam. "Bantu aku, bantu aku buat jalanin rumah tangga kita. Bantu aku supaya kita bisa bertahan dan saling setia sampai akhir hayat."


Senja hanya bisa menangis haru. Anggap saja ia bodoh mau memaafkan Saga dengan semudah ini. Senja mengangguk yakin, ia akan berusaha selalu menggenggam tangan suaminya dan tak akan pernah dia lepas.


Sedang Saga , entah karena terlalu terbawa emosi. Ia menjanjikan istrinya sebuah komitmen sementara hatinya masih belum utuh untuk Senja tapi sudahlah seiring berjalannya waktu ia akan berusaha mengubah rasa sayang ini jadi cinta. Menyingkirkan nama perempuan mana pun dan menempatkan Senja penuh menyesaki hatinya. Saga berjanji pernikahan mereka setelah ini akan di hiasi tawa dan komitmen untuk saling bersama.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Troy menunggu orang yang menjanjikannya sebuah informasi datang padanya. Jarinya saling mengetuk di atas meja, tanda dirinya cemas dan juga tak sabaran. Tak perlu menunggu waktu lama orang yang di nantinya datang sembari membawa sebuah map coklat muda .


"Sesuai janji paman, ini." Ismail menyerahkan sebuah map coklat bertali merah. Berisi kertas-kertas informasi dan sebuah foto.


"Ini apa, paman?"


"Informasi tentang adik kamu serta fotonya." Dengan tergesa-gesa Troy membuka. Karena tak sabaran memutar talinya. Ia menariknya kasar hingga pengait talinya lepas.


Dadanya berdebar-debar tatkala membaca satu demi satu huruf yang tertulis. 'Senja Hasta , lahir 12 Juni 1999, kuliah di tempatnya kuliah. Troy berhenti membaca keterangan itu sejenak, dia berpikir apa Senja adiknya sama dengan Senja yang ia kenal. Tapi ketika membaca status adiknya yang sudah menikah. Troy mengerutkan dahi, bagaimana sang adik bisa menikah semuda ini. Apa kehidupan ibu dan adiknya begitu susah. Tentu Senja yang ia kenal berbeda dengan adiknya, Senj kan singgel.


Tapi matanya yang setajam elang membulat ketika melihat lembar terakhir. Lembar foto Senja Hasta, adiknya, gadis yang ia kenal dan ternyata mereka orang yang sama. Tangannya bergetar hebat, pantas saja ia punya perasaan aneh bila melihat gadis itu. Perasaan ingin melindungi yang kental sekali. Namun Troy berpikir sangat keras ketika tahu bahwa status Senja ternyata telah memiliki suami.


"Dia sudah menikah?" tanyanya pada Ismail yang masih setia berdiri.


"Sudah." Ismail menahan semua yang ingin ia katakan. Jika Troy bertanya baru ia jawab.


"Kenapa dia menikah dengan usia semuda ini?"

__ADS_1


"Perjodohan, dia di jodohkan dengan salah satu anak sahabat papahmu. Tentu kakekmu tahu, karena Hermawan Adhitama meminta ijin kakekmu dahulu untuk menikahkan adikmu dengan anaknya?"


"Keluarga Adhitama? Apa pernikahan ini sebuah kesepakatan bisnis?"


"Bisa di katakan begitu." Tenggorokan Ismail terasa kering saat menjawabnya


Ia tahu ekspresi Troy mulai berubah jadi lebih kejam. Pemuda yang dia asuhnya dari kecil itu siap meledakkan amarah.


"Aaaaa....." Troy berteriak mengamuk, membanting vas bunga dan mengobrak-abrik seluruh isi kamarnya. Terutama trofi-trofi kejuaraan yang sering ia dapatkan. Troy lampiaskan semua kekesalannya. Tak cukup bagi kakeknya kalau hanya hidupnya saja yang diambil. Kenapa juga harus hidup Senja yang juga direnggut!


Tentang Senja, Troy harus menemuinya. Ia bingung bagaimana menghadapi adiknya nanti. Apa tak apa jika ia menubruk lalu memeluknya erat. Demi Tuhan ia rindu saudara perempuannya itu. Namun Troy sadar, adiknya kini telah memiliki pasangan hidup.


Tentang keluarga Adhitama, Troy berpikir sejenak. Bukankah itu keluarga Saga, ketua geng Snippers. Tapi keluarga itu tak hanya memiliki satu putra saja, kan?


"Kamu tahu siapa suami adikku?"


"Saga Manggala Adhitama, putra tunggal Hermawan Adhitama." Seketika rahang Troy yang keras bertambah keras. Tangannya terkepal menghantam dinding. Ia berteriak lebih lantang dari tadi. Dari semua kenyataan yang ada, inilah yang paling menghantam kepalanya. Adiknya bersuamikan ******** itu. ******** berandal yang tak jelas masa depannya. ******** yang hanya peduli pada arena balap dan perkelahian semata. Awas saja, kalau sampai dia menyakiti atau membuat adiknya menangis. Troy tak akan segan-segan memecahkan kepala Revan.


πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜πŸ‘˜


Senja bangun, ia meraba tempat di sampingnya. Ada Saga yang tidur tengkurap tanpa busana. Pemandangan yang menyenangkan pada pagi hari.


Senja membelai punggung Saga yang tak tertutup apa pun. Belaian itu mampu membuat sang pemilik tubuh mengerang dan matanya terjaga namun masih nyaman memejam.


"Jangan mancing, sayang."


"Aku gak mimpi kan? Lihat kamu di sini, gak ninggalin aku lagi." Dengan gemas, Saga menarik tubuh istro untuk mendekat. Berkali-kali ia mencium puncak hidung Senja yang mancung.


"Nggak, aku ada di sini buat kamu dan nggak akan pergi." Senja tersenyum lalu menyerukkan kepalanya pada dada Saga. Jantung milik suaminya berdetak begitu kencang, semoga detakan itu hanya untuknya.


"Jam berapa ini?"


"Kenapa, kamu mau kuliah pagi?"


Saga menggeleng, "Kita gak kesiangan kan? Buat morning sex?" Pipi Senja sudah berubah merona merah. Tapi saat ia ingin menolak, Saga sudah menyerangnya dengan ciuman yang bertubi-tubi. Menekan bahunya untuk tak bergerak ke manapun.

__ADS_1


Sentuhan serta cumbuan saga membuat dirinya melayang sampai ke awang-awang. Meluluh lantahkan kesadarannya, yang Senja tahu mereka hanya saling memagut dan menggerakkan tubuh bagian bawahnya berirama. Ketika hentakkan tubuh di atasnya semakin cepat. Senja kehilangan arah. Ia akan meledak menjadi puing-puing.


__ADS_2