
Helen sudah bisa lebih tenang. Ia melakukan aktivitas seperti biasa walau dia belum masuk kerja. Helen banyak intropeksi diri, mungkin dia yang terlalu cepat memutuskan untuk menikah. Harusnya sebagai wanita yang pernah menikah, ia lebih teliti memilih calon suami. Baik di depan kita belum tentu juga hatinya baik. Tapi sudahlah nasi telah jadi bubur. Untung saja mereka batal menikah.
Helen putuskan nanti sore akan mengunjungi makam suaminya. Ia rindu pada Prasetya. Sambil menyapu halaman, Helen banyak merenung. keegoisannya menikahkan Senja jadi penyesalannya. Apakah putrinya akan baik-baik saja? Tapi melihat Saga yang bersikap baik, Helen yakin Senja bahagia.
"Mamah?" Helen mendongak. Ia begitu terkejut melihat laki-laki muda berdiri di depannya. Laki-laki itu wajahnya terlihat familiar. Garis rahangnya yang tegas, mengingatkan Helen dengan seseorang tapi siapa?
"Kamu siapa?" tanyanya bingung.
"Mamah, aku Atroya mah! Anak mamah." Helen terpaku sejenak ia sadar akan sesuatu. Atroya, nama yang diberikan Prasetya pada anak pertama mereka. Helen tertegun sejenak, yang ada di hadapannya ini adalah Atroya. Putra yang amat ia rindukan. Anak yang menjadi bunga di mimpi Helen. Ingin rasanya mendekap tubuh jangkung ini tapi teringat janjinya pada seseorang. Helen bergerak mundur, melempar sapunya ke sembarang arah lalu berlari masuk rumah.
"Mamah... mamah... mamah!!" Troy berteriak sambil mengejar ibunya. Ia tak tahu apa kesalahannya sehingga Helen menghindar. Apa Troy dianggap orang asing yang berbahaya?
Brakk
Helen menutup pintu rumah rapat-rapat. Ia ketakutan, ancaman seorang kakek Troy bukan main-main. Harusnya Helen berterima kasih karena Troy sudah dibesarkan dengan segala kemewahan dan tak kekurangan suatu apa pun. Helen tak ingin muluk-muluk, ia sudah sangat berterima kasih karena putra sulungnya tumbuh besar dan sangat tampan. Tak apa-apa jika Troy tak tahu kalau ibunya masih hidup.
"Mamah... mamah... buka mah!!" Troy mendobrak pintu rumah tapi pintu kayu itu tak bergeming sedikit pun. Sedang Helen yang berada di balik pintu meluruh, menangis membekap mulutnya sendiri. Ia ingin memeluk Troy, tapi di tahannya mati-matian.
Maaf-maaf, itu yang Helen gumamkan dalam hati. Ia bersalah pada Troy tapi apa daya kekuatannya terlalu lemah untuk melawan Wisnu, kakek Troy. Ia takut jika menerima kehadiran Troy maka tua bangka itu akan mengganggu anaknya yang lain, Senja.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Keluarga Adhitama sedang berkumpul bersama untuk makan malam. Senja dengan sabar dan cekatan mengambilkan piring untuk semua orang. Ia menyiapkan lauk, sayur dan juga nasi. Walau kadang diperlakukan bagai pembantu. Tapi untunglah Devi tak membahas pernikahan ibunya yang gagal.
"Senja, kapan wisuda kamu?" tanya Hermawan Adhitama. Senja terlihat serius sekali saat menyusun skripsi.
"Akhir tahun pah," jawabnya sopan sambil mengambil kursi untuk duduk di samping Saga .
" Setelah kamu lulus, papah punya rencana buat tempatin kamu di perusahaan. Gimana kamu mau?".
__ADS_1
"Papah..." Devi langsung protes. "Kan kita ada Saga, kenapa papah malah nunjuk Senja buat kerja di perusahaan kita?"
"Papah merekrut karyawan yang berkompeten dan cerdas. Bukan anak labil kayak Saga yang kuliah aja gak lulus-lulus. Sibuk sama balapan dan usaha bengkel yang gak punya masa depan".
"Bengkelku jelas pah. Jangan meragukan usaha Saga!" Hermawan yang meragukan kredibilitas putra semata wayangnya membuang muka, mencibir apa yang Saga katakan.
"Usaha kamu itu hasilnya apa? Gak ada, nihil. Yang ada papah tombok terus!"
"Kalau gituh Saga akan buktiin ke papah. Aku akan fokus ngurus bengkel. Aku akan tinggal di bengkel!!" Seketika Devi langsung meletakkan sendok dengan kasar. Mendengar kalau putranya akan keluar dari rumah.
"Eh... gak bisa! Saga gak boleh ninggalin rumah. Bengkel itu tempatnya kotor, entar dia makannya gimana? Nyamuknya banyak, dia pasti gak bisa tidur di sana!" Hermawan memutar matanya dengan malas. Ini kenapa Saga jadi anak tak mandiri karena Devi yang selalu memanjakannya.
"Iya, mana bisa Saga tinggal disana? Dia anak mama..." Hermawan memang sengaja mengatakan itu agar emosi Saga tersulut. Bukannya dia tak sayang putranya, Hermawan hanya ingin Saga mandiri. Mungkin dengan tinggal di bengkel, anak itu bisa merasakan bagaimana kerasnya hidup.
"Aku tetap pingin tinggal di bengkel, aku pingin membuktikan kalau bisa mandiri! Tapi aku juga minta sesuatu ke papah." Hermawan tersenyum, benar saja Saga terpancing.
"Bukan, aku minta Senja ikut sama aku." Ayah Saga langsung melotot. Ia berencana mendidik menantunya agar jadi penerusnya malah kini putranya sendiri dengan sengaja menjauhkan Senja dari jangkauannya.
"Papah minta Senja ke ibunya bukan untuk diajak hidup susah. Papah gak setuju. Kalau kamu merintis usaha dari nol. Jangan ajakin Senja buat hidup terkatung-katung kayak kamu." Devi dongkol. Kenapa suaminya malah lebih menyayangi anak orang dari pada Saga. Kalau Senja yang keluar dari rumah, Devi akan senang. Dia akan membuat sukuran 7 hari 7 malam.
"Saga 'kan suaminya pah. Kemanapun aku pergi, Senja harus ikut!" ucap Saga mantap tanpa disertai keraguan. Bagi Hermawan ini terasa janggal. Saga itu tak peduli jika istrinya akan tinggal dimana. Pada dasarnya pernikahan keduanya tanpa cinta. Apa ini cara Saga agar gadis itu ikut menderita.
"Pokoknya papah gak setuju."
"Tapi Saga bener pah, aku istrinya. Aku ikut kemana imamku pergi." Senja tak mau jadi barang perdebatan. Tinggal dimana pun tak masalah. Malah jika hidup di sini tapi tak ada Saga, terasa tak enak. Sebab ia yakin Devi akan semakin membenci dan berbuat keji.
"Tapi Senja ...."
"Udah pah, Senja udah milih sendiri. Dia gak mau jadi istri durhaka."
__ADS_1
Saga tersenyum menang. Ini memang rencananya, Senja harus keluar dari rumah ini. Bagaimana dia bisa dekat dengan istrinya dan segera memenangkan pertaruhan itu kalau mamahnya merecoki rumah tangganya setiap hari.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Troy menegak alkoholnya lagi. Ia tak habis pikir. Kenapa orang yang dikenalnya sebagai ibu yang sudah melahirkannya, enggan menemui dirinya. Ia bingung apa kesalahannya. Mana ada ibu yang tak menyayangi anaknya? Mana ada ibu yang tak peduli pada putranya?
Troy lelah, harapannya memiliki keluarganya lagi, tiba-tiba harus menguap ke udara. Ia putus asa. Mungkin memang benar, takdirnya adalah menjadi boneka sang kakek dan harus berjodoh dengan perempuan menyebalkan seperti Vivian.
"Tuan, minum lagi? Minum tak baik untuk kesehatan, " ujar Ismail yang melihat tuannya tengah memegang botol minuman.
"Kenapa dia lari? Kenapa dia harus menghindariku? Apa salahku? Aku hanya ingin memeluknya, memanggilnya mamah. Merasakan bagaimana punya ibu, setidaknya aku tak merasa sendiri."
"Ibu anda punya alasan untuk melakukan itu," jawab kepala pelayannya singkat. Troy malah terkekeh ngeri. Alasan apa yang dapat membenarkan perlakuan ibunya. Ibunya malah menutup pintu dan tak mau bertemu.
"Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya disayangi. Aku bahagia waktu tahu bahwa mamah masih hidup tapi hatiku harus sakit saat tahu dia tak menerimaku." Ismail memandang iba ke arah majikannya. Seorang anak hampir 15 tahun tak bertemu sang ibu. Betapa sedih hati Troy? Apalagi ia hanya tahu bahwa ibunya telah mati. Ismail berpikir keras bagaimana cara agar tuannya kembali semangat.
"Anda bukankah punya seorang adik perempuan?! " Kepala Troy yang awalnya ia pasrahkan ke meja bar kini mendongak mendengar kata 'adik'.
"Iya, apakah dia masih hidup? Kalau mamah masih hidup mungkin Lala juga."
"Iya, dia masih hidup dan tumbuh dengan sangat cantik." Troy mendekati Ismail. Menarik kerah kepala pelayan itu dengan tatapan murka dan gerakan sempoyongan.
"Dimana dia? Dimana Lala?" Paksanya agar Ismail mengaku. Tapi bukan namanya Ismail kalau tak bisa bersikap tenang. Padahal Troy semakin kencang meremas kerah kemejanya. Bau alkohol yang menyengat juga keluar dari mulut majikan mudanya.
"Dimana adikku, dimana dia? Kamu harus beri tahu aku, dimana aku bisa menemukan adikku!!" Ismail dengan tenang melepas cengkeraman pria muda yang ia telah asuh dari kecil itu. Lalu mendudukkan Troy kembali ke kursi mini bar.
"Saya akan memberi tahu dimana adik anda, asal anda mau bertunangan dengan nona Vivian." Troy malah ingin meludah tapi ia tahan dengan meneguk satu gelas vodka lagi.Β Bertunangan dengan seorang Vivian tidak terlalu buruk bukan? Tak apalah dia bertunangan dengan perempuan itu, belum tentu juga akan mereka akan menikah.
πππππππππππππ
__ADS_1