
Aku sampai di UKS. Namun belum sempat aku masuk, Ranti menghadangku di depan pintu. Dia terlihat marah.
“Ran, gue mau masuk. Jangan halangi gue.”
“Bukan gue yang menghalangi lo. Tapi cowok lo.”
“Gue minta maaf soal tadi. Sekarang yang penting gue ada di sini, kan? Denger, buat gue sahabat itu lebih penting.”
Ranti pun menyingkir. Aku berlari mendekati Malvin yang tengah berbaring. Tara duduk di sampingnya, terus menyeka darah Malvin yang masih terus mengalir.
“Tar, biar gue aja.”
“Nggak usah. Biar Tara aja.” Malvin menahan tangan Tara saat Tara hendak berdiri.
“Lo marah sama gue?”
“Enggak.” Malvin menjawab sambil memalingkan wajahnya.
Aku mendekat ke arah Malvin. Kuminta saputanganku yang dipakai Tara untuk membersihkan darah di hidung Malvin. Aku menggantikannya, meski sambil memalingkan wajah karena aku tidak berani melihat darah yang terus mengucur itu. Namun Malvin langsung memegang tanganku.
“Lo takut darah, kan? Lo keluar aja.”
“Enggak. Gue bakalan tanggung jawab. Maaf ya udah...”
“Nggak usah minta maaf. Lebay lo. Gue mimisan bukan karena makan pedes kali.”
“Terus? Lo sakit apa?”
“Gue sehat-sehat aja. Cuma mimisan doang. Emang lo seumur hidup belum pernah mimisan?”
“Emang harus ya semua orang ngalamin mimisan?”
“Ya enggak sih. Lo belum pernah? Mau nyoba ngrasain mimisan nggak? Besok kalau gue main voli gue lemparin bola ke muka lo ya.”
Aku menekankan saputanganku di hidungnya hingga Malvin pun menjerit.
“Orang aneh. Cepet sembuh lo. Lo itu nggak pantes baring di sini.”
“Iyalah. Gue cocoknya tiduran di kamar mewah dengan didampingi permaisuri dan para selir. Aduh surga banget dah.”
“Dasar cowok! 1 wanita aja nggak cukup.”
“Enggak lah.”
Malvin melempar saputangan ke wajahku. Untung saja aku bisa menghindar tepat waktu.
“Vin! Itu kan ada darahnya. Ih nyebelin banget sih lo!”
“Eh kalian, nggak bisa ya kalau deketan gitu akur? Hati-hati lo sering berantem nanti lama-lama baper,” celetuk Tara.
“Amit-amit. Biarpun Malvin satu-satunya cowok yang tersisa di antara sekumpulan kambing, gue milih kambingnya daripada dia.”
“Gila ni anak. Cowok seganteng gue disamain sama kambing. Naksir gue baru nyesel lo bilang gitu. Eh gue juga ogah ya punya cewek kaya lo. Udah galak, pelupa lagi. Mending sama nenek-nenek sekalian.”
“Gue doain lo beneran dapet nenek-nenek ya.”
“Stop! Pusing gue dengerin kalian ribut. Eh tapi hebat lo, mimisan Malvin langsung berhenti tuh. Vanella udah kaya obat aja buat Malvin,” ledek Ranti.
“Kebetulan aja mimisan gue berhenti. Darahnya udah habis kali. Kalau nggak, pasti tambah banyak darah yang keluar gara-gara nenek lampir ini.”
“Sok-sokan ngatain gue nenek lampir. Lo lupa dulu lo ngejar-ngejar gue?”
“Itu kan dulu sebelum gue tau galaknya lo yang amit-amit itu.”
“Bodo amat. Gue keluar. Males lama-lama lihat lo. Nih kalian urusin aja ni bayi besar kalian.”
Aku keluar dari UKS, meninggalkan mereka. Sambil menunggu bel masuk, aku duduk di bawah pohon. Tak lama, Alby datang menghampiriku.
“Hei, Van. Sendirian aja.”
“Eh, Al. Iya. Tadi gue habis dari UKS.”
“Kenapa? Lo sakit?” Terlihat kekhawatiran di wajah Alby. Aku menggelengkan kepala.
“Malvin yang sakit. Nggak tau tadi dia tiba-tiba mimisan.”
“Tuh anak bisa sakit juga. Kok lo nggak nemenin? Bukannya kalian temen deket?”
“Deket apaan. Sering berantem mah iya. Eh ngomong-ngomong, makasih ya buat tadi pagi. Sorry gue tadinya mau nemenin waktu lo dihukum, tapi...”
__ADS_1
“Udah nggak usah dibahas. Gue paham kok. Lagian lo emang nggak seharusnya ikut panas-panasan.”
Melihat Alby, aku jadi teringat dengan perkataan Arka. Aku pun memanfaatkan kesempatan ini untuk menggali informasi tentang Arka.
“Al, gue boleh nanya sesuatu nggak? Tentang Arka.”
“Tanya aja.”
“Lo dulu temen sekelasnya Arka waktu SMP, kan? Pasti lo tau dong dia pernah deket sama siapa aja.”
“Nggak cuma temen sekelas, Van. Gue dari TK bareng terus sama dia. Tidur di rumah dia juga udah hampir tiap hari.”
“Sip. Berarti lo tau banyak tentang Arka. Lo tau Arka sama Ellisa ada hubungan apa? Apa mereka pernah pacaran?”
“Oh mereka. Pacaran sih enggak. Cuma dari dulu Arka naksir Ellisa. Ellisanya aja yang sok jual mahal nggak mau nerima dia. Ya mungkin karena dulu Arka nggak sekeren sekarang. Padahal Arka tergila-gila sama dia. Dinding kamarnya dia aja ditempelin foto-foto Ellisa. Parahnya lagi, sampe di kamar mandinya dia di dindingnya juga ditulisin nama Ellisa. Seumur hidup gue baru sekali lihat Arka suka sama cewek sampai segitunya.”
Mendengar cerita Alby, aku mulai merasakan atmosfer panas dalam tubuhku. Jelas saja aku cemburu. Kurasa Arka tidak berlebihan seperti itu dalam mencintaiku. Mengapa dengan Ellisa dia malah begitu tergila-gilanya.
“Eh sorry, lo cemburu ya? Maaf-maaf gue nggak bermaksud gitu. Itu kan dulu, Van. Sekarang kan dia udah jadi pacar lo. Jadi lo nggak perlu khawatir lagi.”
“Apa sekarang di kamarnya dia udah nggak ada foto Ellisa?”
“Nggak tau sih kalau itu. Gue udah lama nggak nginep di rumah dia.”
Sedang asyik berbincang dengan Alby, Malvin tiba-tiba datang. Dia berjalan santai menghampiri kami sambil tersenyum.
“Si detektif lagi nyelidikin pacarnya ni ceritanya.”
“Ngapain lo di sini? Ganggu aja. Terserah gue ya. Nggak usah ikut campur!”
“Kayanya nanti kalau lo punya suami, suami lo bakalan tersiksa karena dicurigai melulu sama lo. Nggak kebayang betapa menderitanya pria malang yang nanti bakalan jadi suami Vanella Rose Karina.”
“Nggak usah sok-sok ngeramal masa depan gue. Kalau nasib gue jelek nantinya, pokoknya lo yang gue salahin.”
“Bukan ngeramal, tapi udah kebayang aja gitu gimana nggak enaknya punya istri bawel, galak, curigaan kaya detektif pula. Ish kalau gue sih mending kabur nyari istri baru.”
“Ih nyebelin banget sih lo. Sana balik aja ke UKS lagi. Nyesel gue nyuruh lo cepet sembuh.”
Aku mendorong tubuh Malvin agar menjauh pergi. Namun tubuhnya terlalu berat untuk bisa kudorong. Dia pun menertawakanku. Alby hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kami. Dia beranjak pergi.
Aku menjulurkan lidah pada Malvin dan berjalan mengikuti Alby. Namun rupanya Malvin tidak menyerah. Dia berlari mengikuti kami. Begitu sampai di belakang kami, dia langsung merangkul kami berdua. Aku menyingkirkan tangannya, tetapi dia terus mengulanginya.
**
Sore sepulang sekolah, Ranti dan Tara ke rumahku untuk mengerjakan tugas matematika bersama. Sebenarnya Malvin juga ingin ikut, tetapi dia tak kunjung datang. Kami pun memutuskan untuk mengerjakan terlebih dahulu. Kami mengerjakan di taman belakang rumahku sambil menikmati camilan dan minuman.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara orang berlari. Malvin pun muncul dengan napas terengah-engah. Keringatnya terus menetes.
“Akhirnya dateng juga. Ngapa lo? Habis lomba lari?” ujar Ranti.
“Sorry gue habis main voli tadi. Capek gue.”
“Minum dulu. Nih.” Aku memberikan segelas jus kepada Malvin. Dia langsung meneguknya sampai habis, tetapi kemudian langsung memuntahkannya.
Tanpa Malvin tahu, jus itu adalah jus pare yang sedari tadi aku siapkan untuk mengerjainya. Bahkan Ranti dan Tara pun tidak tahu. Aku bisa tertawa puas melihat wajah lucu Malvin usai meminum jus pare tersebut.
“Enak, Vin?”
“Pare ya? Ngeselin lo! Tamu bukannya dikasih minuman enak kek. Pahit banget kaya hidup gue. Mana minum.”
Malvin mengambil segelas jus mangga yang ada di meja dan langsung meminumnya untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya.
“Gue aja nggak tau lo mau ngerjain Malvin. Bagus, Van. Gue suka ide lo,” puji Tara.
“Gue tersiksa amat ya kalau kumpul sama kalian. Udah kaya mainan buat kalian. Udah udah ayo belajar. Ajarin gue cepet.”
Malvin duduk di antara Ranti dan Tara. Mereka langsung menutup hidung mereka dan menjauh dari Malvin.
“Bau banget lo. Keringetan kaya gini. Jangan-jangan deket kita. Tolong banget ini.” Ranti berkata sambil terus menutup hidungnya.
“Lagian lo aneh, udah tau mau ngerjain tugas pake main voli dulu.”
“Eh lo doang ya yang belum nyium bau badan gue. Nih gue tunjukin.”
__ADS_1
Malvin mendekatiku dan mengangkat tangannya. Aku berusaha menghindar, tetapi dia terus mengejarku.
“Stop, Vin. Tunggu di sini. Gue udah nggak tahan sumpah.”
Aku berlari masuk ke rumah dan mengambil salah satu kemejaku yang kusimpan di lemari. Kubawa kemeja itu dan kuberikan kepada Malvin.
“Ni ganti ini. Ini kemeja gue. Waktu itu gue beli kegedean. Kayanya muat buat lo.”
“Nggak papa ni gue pake?”
Iya nggak papa. Cepetan ganti.”
Malvin hendak melepas bajunya. Aku, Ranti, dan Tara pun berteriak.
“Nggak buka baju di depan kita juga kali. Sana sana.” Tara mendorong Mavin menjauh. Sementara kami bertiga menutup mata.
Setelah Malvin berganti pakaian, kami mulai mengerjakan PR matematika kami. Malvin dan Ranti yang sama sekali tidak menyukai matematika pun harus bertanya berulang kali. Tidak mudah untuk mengajari mereka berdua. Setelah melalui bermenit-menit yang terasa cukup panjang, kami pun selesai.
“Kelar juga. Susah banget tau ngajarin kalian. Kok bisa samaan gitu benci sama matematika.”
“Jangankan ngerjain soalnya, baru lihat angka-angkanya udah pusing gue. Lagian itu pelajaran aneh. Di contoh aja gampang banget. Beda jauh sama soal.”
“Kali ini gue setuju sama Malvin. Mending gue disuruh nyatet pelajaran sejarah yang berlembar-lembar dan berbab-bab itu daripada harus ngerjain matematika.”
“Kalau gue sih nggak mending dua-duanya, Ran. Eh iya sih mending sejarah, kan ada asisten gue yang nyatetin gue. Jadi gue nggak perlu capek-capek.”
“Maksud lo gue? Enak aja. Nggak gratis ya. Awas aja nanti pas lulus gue tagih total biayanya.”
“Tenang aja, Van. Nanti gue bayar dalam bentuk mahar.”
Mendengar candaan Malvin, aku pun melemparkan roti yang belum sempat kumakan ke wajahnya. Malvin malah menangkapnya dengan mulutnya. Dia memang terlalu menyebalkan.
“Eh gue punya tebakan. Camilan apa yang paling gue benci.”
Aku berpikir sejenak untuk menjawab tebakan Malvin, tetapi aku tetap tidak mengetahui jawabannya. Ranti dan Tara juga menyerah.
“Nyerah deh kita. Apaan?”
“Angka camilan. Gue kan benci sama angka-angka.”
“Sembilan, Malvin...” Kami bertiga berteriak serentak.
“Garing banget lo! Nggak jelas!” Aku melemparkan roti ke wajahnya lagi.
“Masih ada satu lagi tebak-tebakan gue.”
“Apa? Kalau tebak-tebakan lo nyebelin lagi, gue lempar ni apel ke muka lo. Inget ya, apel bukan roti lagi yang gue lempar.”
“Oke. Jawab ini. Gang apa yang bisa bikin mati?”
“Hah? Gang bisa bikin mati? Gang sempit?” Tara berusaha menjawab.
“Salah. Masa kalian nggak tau?”
Kami bertiga menggeleng. Malvin bangkit dari duduknya dan mengambil ancang-ancang seolah bersiap untuk melarikan diri.
“Pertanyaan gue gampang banget loh. Gang apa yang bisa bikin mati? Ya gangguin Vanella lah.”
“Kok bisa?” Tara mengernyitkan keningnya.
“Vanella kan galak. Suka marah-marah, suka ngelempar apa-apa ke muka orang. Kan bisa mati tu orang yang dilemparin atau kena serangan jantung dadakan gara-gara dimarahin. Bener kan gue?”
“Lo ya bener-bener. Ini apel gue lempar beneran ke muka lo. Sini lo!”
Aku mengejar Malvin yang berlari menghindariku sambil sesekali menjulurkan lidahnya menantangku. Aku semakin bersemangat mengejarnya. Ingin sekali kulemparkan apel yang cukup besar itu ke wajahnya. Ranti dan Tara hanya duduk sambil menyoraki kami seolah seperti sedang menonton sirkus saja.
Tiba-tiba Malvin terjatuh. Dia memegangi kepalanya seperti sedang kesakitan. Aku pun menggelitiki Malvin yang berbaring di rumput.
“Nggak usah pura-pura lo. Udah nggak kuat lari makanya sekarang akting gini?”
Mengira bahwa Malvin tengah bercanda, Ranti dan Tara pun turut menggelitiki Malvin. Namun Malvin masih terus memegangi kepalanya. Keringatnya mulai menetes. Dia memegang tanganku dengan erat.
“Van, sakit.”
Merasakan tangannya yang basah dengan keringat dan melihat tatapannya, aku pun menyadari bahwa Malvin tidak sedang berpura-pura. Sepertinya dia memang benar-benar menahan sakit.
“Guys, berhenti! Malvin beneran sakit. Lihat deh keringat dia. Dia juga kayanya kesakitan banget. Vin, lo kenapa? Lo nggak papa, kan? Sorry, gue pikir lo pura-pura.”
__ADS_1
Aku terus menggoyang-goyangkan tubuh Malvin. Dia tidak menjawabku. Tangannya semakin erat mencengkeramku. Aku mulai khawatir.