Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Seperti Semula


__ADS_3

Rasanya begitu berbeda ketika mengikuti ekskul bulutangkis kali ini. Biasanya aku bermain berempat bersama Ranti, Malvin, dan Alby. Sekarang Ranti begitu jauh dariku. Jangankan untuk bermain bersama, menatapku saja dia enggan. Malvin juga masih tetap dengan sikap cueknya meski dia sempat menunjukkan perhatiannya beberapa menit lalu. Aku pun duduk menyendiri usai mengikuti pemanasan.


“Kok malah bengong? Tadi ngotot mau ikut ekskul?” tanya Alby yang menghampiriku.


“Mood gue hilang, Al. Keadaannya udah beda. Nggak tau rasanya tuh sakit banget lihat Ranti tertawa sama yang lain, tapi sama gue cuek. Malvin pun sama. Gue pengen kita main berempat kaya biasanya.”


Memori ingatanku memutar kembali kenangan saat kami bermain bulutangkis bersama kala itu. Aku dan Malvin berada dalam satu tim, sementara Ranti bersama Alby. Saat itu timku yang menang. Perjanjian kami saat itu, tim yang kalah harus menggendong tim yang menang. Ranti pun menggendongku dan Alby menggendong Malvin. Kami tertawa dengan begitu bahagianya.


“Van, lo badannya kecil, tapi berat juga ya.”


“Lo aja yang nggak kuat gendong gue. Yee akhirnya gue bisa digendong lo. Jadi inget masa kecil kita.”


“Iya dulu kalau lo nangis, gue pasti gendong lo bawa pulang. Dasar cengeng.”


“Biarin. Namanya aja masih kecil.”


“Kecilnya aja cengeng, dikit-dikit nangis. Gedenya jadi galak banget.”


“Seenggaknya gue ada perkembangan, Ran. Lah lo dari kecil juga udah galak.”


“Gue kan galak cuma kalau lagi marahin orang-orang yang macem-macem sama lo.”


“Eh gantian dong. Gue yang gendong Vanella, Alby gendong Ranti,” sela Malvin.


“Moduuuss.”


Aku dan Ranti bersama-sama memukuli pundak Malvin.


“Sakit woy! Dasar cewek-cewek galak! Al, bantuin gue dong. Lo diem aja sih.”


“Sorry ya, Vin. Gue ada di tim Vanella.”


“Wah parah lo.”


“Lo di tim kita? kalau gitu ayo gelitiki Malvin bareng-bareng.”


Kami bertiga pun kompak menggelitiki Malvin. Dia terus tertawa tanpa henti hingga akhirnya terkulai lemas.


Tanpa sadar aku tersenyum sendiri saat mengingat kenangan indah itu. Alby menatapku heran.


“Lo kangen banget ya sama mereka?”


“Iya, Al. Gue pengen kita kaya gitu terus.”

__ADS_1


“Gue akan wujudin keinginan lo.”


“Caranya?”


“Nanti lo juga tau. Ayo main bulutangkis dulu sama gue.” Alby berdiri dan mengulurkan tangannya.


“Ayo, tapi maaf ya gue nggak bisa gerak bebas. Kaki gue masih agak sakit. Jangan tinggi-tinggi, jangan cepet-cepet juga mainnya.”


“Oke.”


Kami mulai bermain. Namun ternyata Alby melanggar kesepakatan kami. Dia bermain dengan tempo cepat dan beberapa kali mengoper cukup tinggi hingga aku terpaksa harus melompat beberapa kali dan menahan rasa sakit di kakiku. Setelah berulang kali melompat, aku terjatuh.


“Aw. Sakit. Al, sorry kaki gue sakit.”


Alby berjalan santai ke arahku. Dia berlutut hendak memijat kakiku. Namun dia malah menekan kakiku dengan kuat hingga aku menjerit cukup keras.


“Al, apa yang lo lakuin? Sakit.”


Alby semakin menekannya. Jeritanku semakin keras. Para siswa yang mengikuti ekskul pun langsung berlarian ke arahku. Tanpa kuduga, Ranti dan Malvin juga langsung mendekatiku.


“Van, lo nggak papa? Al, lo apain kaki Vanella?!” bentak Ranti.


“Lo sengaja nyakitin Vanella?!” Teriak Malvin.


Alby menatap mereka lalu kembali menekan kakiku.


Ranti mendorong Alby. Dia lalu memijat kakiku.


“Mana yang sakit, Van? Biar gue pijitin ya,” ujar Ranti.


“Van, lo tenang ya. Kita bantu pijitin kaki lo. Ran, pelan-pelan mijitinnya.”


Aku menatap Alby dengan mata sendu. Aku tidak menyangka dia bisa sekasar itu. Namun Alby malah tersenyum. Dia lalu merangkul Ranti dan Malvin.


“Nah gini. Kalian masih peduli kan sama Vanella? Terus kenapa harus sok-sok marahan? Lihat kalau Vanella sakit kalian langsung jadi pahlawan kesiangan buat dia. Gue tau kalian nggak akan diem aja kalau ada yang nyakitin Vanella.”


“Al, jadi...”


“Iya, Van. Sorry gue udah nyakitin lo. Gue juga sebenarnya nggak tega, tapi ini cara yang tepat buat menyatukan kita. Lihat, mereka masih peduli, kan?”


Ranti dan Malvin saling bertukar pandang. Mereka hendak menjauh, tetapi Alby mempererat rangkulannya.


“Eits mau ke mana? Udah nggak usah pura-pura cuek lagi. Nggak seru tau kalau kita pecah gini. Nggak pengen maaf-maafan? Atau mau gue bikin kaki Vanella sakit dulu?”

__ADS_1


“Jangan! Iya gue emang masih peduli sama Vanella. Sebenarnya gue juga nggak tahan lama-lama jauh dari Vanella. Kapan sih gue bisa marah sama dia?”


Aku tersenyum dan mengusap tangan Ranti.


“Gue tau kok, Ran. Lo nggak pernah bener-bener ninggalin gue karena di mana ada Vanella, di situ pasti ada Ranti. Maafin gue ya karena udah bikin banyak masalah, udah bikin lo kehilangan orang yang lo cintai, udah bikin lo sedih, udah...”


Ranti menutup mulutku dan menggenggam tanganku.


“Nggak ada kata maaf dalam persahabatan. Lo nggak salah. Gue yang terlalu emosional waktu itu.”


“Jadi udah clear, kan? Gue nggak tahan jauh dari lo. Gue cemburu lihat lo lebih akrab sama temen-temen yang lain.”


“Ya ampun sayangku cemburu.” Ranti mengacak-acak rambutku.


“Ran, kebiasaan deh lo. Rambut gue jadi berantakan.”


“Aduh si Miss Perfect nggak mau kelihatan jelek sedikit pun.”


Kami tersenyum. Alby terlihat bahagia melihat kami telah baikan. Kini aku mengalihkan pandanganku kepada Malvin.


“Vin, lo nggak mau baikan sama gue juga? Gue emang nggak tau salah gue apa, tapi kalau emang gue ada salah, gue minta maaf. Jarang-jarang lo Vanella mau minta maaf sama badboy kaya lo. Dimaafin nggak?”


Aku mengulurkan tanganku. Malvin tampak ragu menjabat tanganku, tetapi akhirnya dia mengalahkan keraguannya. Dia tersenyum.


“Ngapain minta maaf? Lo nggak salah.”


“Ya lo tiba-tiba marah nggak jelas gitu. Lo marah karena sering gue jailin? Kalau gitu mulai sekarang gue nggak akan ngisengin lo lagi.”


“Eh jangan dong. Enggak kok bukan karena itu.”


“Kenapa jangan? Oh jadi lo lebih suka gue isengin? Kalau gitu mau dong lo minum jus pare lagi?”


“Ya nggak gitu juga. Sekalian aja lo masukin kaos kaki basah sama upil lo ke jus itu terus suruh gue ngabisin. Biar puas.”


“Jadi request nih? Bagus juga sih ide lo. Oke kapan-kapan gue bikinin.”


“Van, jangan macem-macem ya. Gue takutin pake darah gue mau?”


“Gini dong baru seru. Males gue lihat muka kusut kalian kalau lagi marahan,” ujar Alby.


“Makasih ya, Al. Ini semua karena lo.”


“Anytime. Maaf ya gue terpaksa harus bikin kaki lo sakit. Masih sakit nggak? Gue mau tanggung jawab kalau masih sakit.”

__ADS_1


“Enggak kok. Sakitnya hilang karena kalian semua. Lo nggak mau baikan juga sama Malvin? Jabat tangan dong.”


Akhirnya Malvin dan Alby berjabat tangan dan berpelukan. Kini keadaan kembali membaik.


__ADS_2