Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Terlambat


__ADS_3

Kehilangan tidak lantas membuatku kehilangan semangat. Justru aku lega karena telah melepaskan beban berat yang membelengguku. Aku telah berhasil menjauhkan diri dari orang yang salah yang tidak seharusnya aku cintai. Meski untuk beberapa hari aku sempat murung dan terus menangis, tetapi berkat adanya Ranti perlahan patah hatiku bisa terobati. Dia selalu berusaha menghiburku dengan berbagai cara. Perlahan aku pun keluar dari masa-masa patah hatiku.


Melihatku yang merasa putus asa dengan cinta, Ranti pun menyarankanku untuk memikirkan kembali mengenai pernyataan cinta Alby. Seperti yang Alby katakan saat perpisahan sekolah, dia selalu setia menanti jawaban dariku. Dia tidak pernah berpacaran dengan siapapun. Walaupun kami sudah jarang berkomunikasi, tetapi sesekali dia masih mengirimiku pesan dan menanyakan hal yang sama. Aku tahu kesetiannya itu telah berhasil membuktikan ketulusan cintanya yang tidak pernah lekang oleh waktu. Tetapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri yang tidak pernah bisa mencintainya.


Merasa galau dengan pikiranku sendiri, aku pun mengajak Ranti untuk mengunjungi rumah Malvin sekadar mencari tahu kabar tentangnya. Meski kemungkinan besar Malvin belum pulang ke rumah, tetapi setidaknya kami bisa menemui orang tuanya. Kami pun bergegas ke rumah Malvin sore itu.


Sesampainya di rumah Malvin, tampak rumahnya begitu sepi seperti rumah tak berpenghuni. Namun kebersihan rumah itu tetap terjaga. Di sana aku melihat seorang bapak paruh baya yang menyapu di halaman rumah Malvin. Aku dan Ranti merasa bingung. Kami menghampiri bapak tersebut dan mencoba bertanya padanya.


“Permisi, Pak.”


Bapak itu memandang wajahku selama beberapa saat.


“Mbak Vanella ya?”


Aku dan Ranti saling bertatapan. Kami sama-sama terkejut karena bapak tersebut mengenaliku padahal aku merasa belum pernah bertemu dengannya.


“Kok Bapak kenal saya?”


“Iya, Mbak. Mas Malvin meninggalkan foto Mbak dan berpesan kalau Mbak datang ke sini saya harus menyerahkan surat ini.”


Bapak tersebut menyerahkan sebuah surat. Aku pun semakin bingung.


“Surat apa ini, Pak? Terus di mana Malvin sekarang, Pak? Kok rumahnya sepi?”

__ADS_1


“Mas Malvin udah nggak di rumah sejak lulus SMA karena harus kemoterapi di Singapura.”


“Kemoterapi?” tanyaku dan Ranti serentak.


“Iya, Mbak. Mas Malvin mengidap penyakit kanker nasofaring. Semakin hari kondisinya semakin parah. Karena itu orang tuanya membawa Mas Malvin ke Singapura untuk menjalani beberapa pengobatan. Saya yang ditugaskan untuk menjaga dan membersihkan rumah ini.”


Bagai disambar petir. Aku hampir tidak percaya dengan pernyataan bapak tersebut. Badanku langsung lemas.


“Apa kondisinya udah parah banget, Pak?”


“Lumayan, Mbak. Mas Malvin sering mimisan dan kesulitan untuk membuka mulutnya. Saya sendiri kasihan melihatnya.”


Aku dan Ranti mulai menangis. Kami menyesal karena tidak pernah mencoba mencari tahu tentangnya. Aku langsung mengajak Ranti untuk pulang.


“Iya, Mbak.”


Aku mempercepat laju motorku, tidak peduli dengan kondisi jalan yang begitu ramai. Aku hanya ingin segera sampai di rumah dan membaca surat dari Malvin.


Begitu sampai di rumah, aku langsung duduk dan membaca surat Malvin bersama Ranti.


*Vanella, maaf gue pergi tanpa ngomong sama lo. Saat baca surat ini pasti gue udah nggak ada. Entah nggak adanya itu karena kepergian gue berobat ke Singapura atau karena gue udah nggak bisa bernapas lagi. Mungkin ini mengejutkan buat lo. Gue udah lama mengidap penyakit kanker nasofaring. Gue nggak heran sih. Sejak kecil gue udah salah pergaulan. Gue sering merokok dan mabuk-mabukan. Itu masih gue lakuin sampai SMA. Sekarang gue harus menelan pil pahit akibat kebodohan gue sendiri. Gue rahasiain itu dari semua orang, bahkan dari orang tua gue. Tapi berkat semangat dan nasehat dari lo, gue mulai terbuka sama orang tua gue. Akhirnya apa yang gue impikan terwujud. Orang tua gue jadi peduli dan sayang sama gue. Mereka jadi perhatian banget sama gue dan selalu lebih mentingin gue dibanding pekerjaan mereka. Ternyata ada hikmah dari penyakit yang gue derita. Gue bersyukur banget dengan hal itu.


Gue dan orang tua gue ngucapin makasih banget sama lo karena lo udah jagain gue selama ini. Lo udah susah payah bikinin gue ramuan herbal setiap hari biarpun lo nggak tau apa penyakit gue sebenarnya. Lo selalu perhatian sama gue dengan begitu tulusnya. Kasih sayang yang sebelumnya nggak gue dapetin dari orang tua gue bisa gue dapetin dari lo. Lo emang sahabat terbaik. Lo bener-bener orang baik. Wajar kalau banyak orang yang kagum dan jatuh cinta sama lo. Termasuk sahabat gue, Alby. Iya, gue sempet denger Alby nembak lo waktu kalian nganter gue ke rumah. Karena itu gue memilih tetap menjadi sahabat lo walaupun gue juga sangat mencintai lo. Iya, dari awal kita ketemu sampai sekarang, gue masih cinta sama lo. Gue sendiri nggak menduga kalau gue dan Alby akan memiliki perasaan ke orang yang sama. Asal lo tahu, sebelum gue kenal lo, gue adalah playboy yang sering mainin perasaan cewek. Tapi semenjak gue jatuh cinta sama lo, gue udah nggak bisa mencintai orang lain lagi. Lo bener-bener cewek istimewa yang bikin bad boy kaya gue nggak berpaling dari lo. Tapi gue sadar lo nggak mungkin bisa mencintai gue. Cowok seburuk gue nggak pantes buat lo. Dari awal pun lo udah nolak gue. Nggak masalah buat gue. Dengan siapapun lo, gue cuma mau lo bahagia. Gue harap lo bisa bersama orang yang bener-bener sayang sama lo, contohnya Alby. Dia sama kaya gue, masih tetep jaga cintanya buat lo selama bertahun-tahun. Gue doain yang terbaik buat kalian. Jangan lupa untuk tetep nemuin gue meskipun kita mungkin akan berbeda dunia. Jangan pernah menangis di makam gue. Selalu temuin gue dengan tersenyum*.

__ADS_1


Aku langsung menangis sesenggukan begitu selesai membaca surat tersebut. Tanganku gemetar. Perasaanku hancur. Ranti memelukku, berusaha menenangkanku. Tetapi tangisanku semakin menjadi.


“Ran, gue bodoh banget. Kenapa gue nggak bisa lihat cinta tulus Malvin selama ini.”


“Van, tenang. Tolong, gue paling nggak suka lihat lo nangis.”


“Andai gue dikasih satu kesempatan lagi, gue pasti akan memilih Malvin. Gue bodoh selalu menilai buruk dia padahal dia punya cinta yang begitu tulus. Dia nggak pernah egois dengan berusaha memiliki gue. Kenapa gue nggak lihat itu selama ini? Gue terlambat, Ran. Malvin udah pergi.”


“Vanella! Kata siapa Malvin pergi? Dia cuma pergi untuk menjalani pengobatan, bukan buat ninggalin lo selamanya. Gue yakin Malvin akan sembuh dan baik-baik aja.”


“Tapi dia belum pulang sampai sekarang. Lo denger sendiri kan dari bapak yang kita temui tadi, gimana parahnya keadaan Malvin.”


“Malvin itu orang yang kuat. Dia pasti bisa bertahan dan melawan penyakit itu.”


“Gue kangen Malvin. Gue mau ketemu dia.”


“Malvin akan pulang buat lo, Van. Lo harus yakin.”


Ranti terus berusaha meyakinkanku. Sementara aku rasanya sudah putus asa. Apalagi membaca pesan terakhir Malvin yang seolah-olah dia benar-benar akan meninggalkan dunia ini.


Sejak hari itu, aku menjadi Vanella yang murung. Setiap hari aku hanya memandangi foto-fotoku Malvin. Aku juga sering memutar video tingkah konyol Malvin yang selalu kurekam dengan ponselku. Aku selalu menangis dan tersenyum saat melihat video itu. Rasanya aku ingin kembali ke masa-masa itu. Aku merindukannya. Aku ingin dia kembali. Setelah kehilangan ini, aku pun baru menyadari bahwa aku juga mencintainya. Namun aku tidak pernah menyadari itu karena aku selalu menutupi semua itu dengan kata persahabatan. Sekarang aku baru menyesal.


Menjelang senja, aku suka menghabiskan waktuku dengan bersepeda. Aku mengenang kembali saat aku menghabiskan seminggu sisa liburanku dengan bersepeda bersama Malvin kala itu. Aku bisa merasakan tawanya yang seolah ada di dekatku. Aku ingin mendengarnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2