
Aku menarik tangan Arka dan membawanya keluar kelas. Setelah di luar aku langsung melepaskannya.
“Cepet bilang lo mau ngomong apa. Sebentar lagi guru masuk. Kalau gue kelamaan di luar nanti juga bakalan bikin keributan lagi. Temen-temen gue nggak akan ngijinin gue lama-lama sama lo.”
“Oke. Van, aku mau...”
“Minta maaf? Ke mana aja lo selama ini? Baru sadar?”
“Aku mau minta maaf dari kemarin-kemarin tapi aku belum siap.”
“Lucu ya. Untuk sekadar ngomong maaf aja lo nggak berani kaya berat banget gitu. Tapi untuk nyakitin dua orang sahabat dan ngancurin persahabatan mereka lo berani banget. Hebat lo, Ka. Lo emang pantes dapet banyak pujian. Setelah populer di sekolah kayanya lo bakalan jadi artis juga. Acting lo jago banget.”
“Aku nggak pernah berniat ngrusak persahabatan kalian dan aku juga nggak pernah mendua.”
“Nggak pernah? Lo bilang nggak pernah?!”
“Dengerin dulu. Iya nggak pernah karena aku sebenarnya nggak pernah cinta sama kamu.”
Jantungku seperti berhenti berdetak detik itu juga. Rasanya seperti mimpi ketika Arka mengatakan itu.
“Aku emang kagum sama kecantikan kamu, tapi soal cinta enggak. Aku pacaran sama kamu karena kepopuleran kamu. Itu kebiasaan aku dari dulu. Aku selalu pengen dapetin cewek populer yang satu sekolah sama aku.”
Ingin sekali aku langsung menangis, tetapi aku berusaha menahannya.
“Apa lagi kebohongan lo selama ini yang gue nggak tau?”
“Aku juga mau meluruskan kesalahpahaman kamu selama ini. Kamu selama ini berpikir kalau aku yang ngirim puisi dengan pesawat kertas itu, kan? Kamu salah, Van. Bukan aku orangnya. Aku nggak salah, kan? Aku sendiri nggak pernah mengaku kalau aku yang ngirim surat itu.”
“Gue bodoh ya selama ini. Gue udah kepedean banget mikir kalau itu lo yang ngirim dan gue juga udah kepedean mikir kalau seorang Arka jatuh cinta sama gue. Iya, lo nggak salah. Gue yang salah. Gue bego. Makasih udah jelasin. Sekarang tidak ada lagi kata kita.”
Aku meninggalkan Arka dan berlari masuk ke kelas. Begitu duduk, aku tidak bisa lagi membendung air mataku. Setetes demi setetes air mata mulai jatuh di pipiku. Ranti yang melihatku menangis langsung memelukku.
“Van, lo baik-baik aja, kan? Arka ngomong apa?”
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku belum sanggup untuk mengatakan semuanya kepada Ranti. Lidahku kelu, dadaku masih sesak.
“Oke lo nggak perlu jelasin sekarang. Lo bisa jelasin nanti. Sekarang lo tenang. Gue nggak mau lo nangis kaya gini.”
Tara juga mendekatiku dan memelukku. Saat ini aku memang benar-benar membutuhkan pelukan mereka.
Baru sebentar aku duduk, kudengar suara keributan di luar. Sepertinya itu Malvin dan Arka. Aku takut pertengkaran mereka menjadi tidak terkendali. Aku pun berlari keluar.
Saat aku keluar, Malvin sudah tidak ada. Namun kulihat tetesan darah di lantai. Aku langsung menatap tajam mata Arka.
“Apa yang lo lakuin sama Malvin? Jawab gue!”
“Aku nggak nglakuin apa-apa, Van.”
“Terus ini darah apa? Lo pasti mukul dia, kan?”
“Sumpah aku nggak ngapa-ngapain dia. Gimanapun juga dia itu temen aku.”
“Pembohong! Setelah semua kebohongan lo, lo pikir gue akan percaya? Awas kalau sampai terjadi apa-apa sama Malvin, gue nggak akan diem aja.”
“Satu lagi kesalahan dan kebodohan kamu, kamu peduli sama cowok sialan itu. Mata kamu masih belum terbuka juga. Kamu salah deket sama dia.”
Aku membalikkan badanku dan kembali menatapnya dengan sinis.
“Jangan pernah lo jelek-jelekin sahabat gue di depan gue. Lo denger baik-baik. Setelah hari ini, kata apapun yang keluar dari mulut lo, gue nggak akan percaya lagi. Gue paling benci pembohong!”
“Kalau gitu kamu seharusnya benci sama Malvin.”
Aku mengabaikan perkataan Arka dan langsung berlari mencari Malvin. Kutelusuri di sepanjang koridor sekolah sembari terus memanggilnya, tetapi tidak ada jawaban. Orang-orang menatapku heran, tetapi aku mengabaikannya. Aku pun berpikir untuk mencari Malvin di kamar mandi karena mungkin dia sedang membersihkan darahnya.
Begitu aku sampai di depan pintu kamar mandi, memang benar ada bercak darah di depan pintu. Aku menggedor-gedor pintu dan memanggilnya dengan perasaan khawatir. Lama kumenunggu, Malvin akhirnya keluar. Aku memperhatikan dari atas ke bawah. Aku memeriksa pipinya, tetapi tidak ada luka sama sekali. Tidak ada bekas pukulan atau apapun. Namun wajahnya terlihat pucat.
“Vin, lo baik-baik aja? Lo kenapa? Apa yang Arka lakuin sama lo? Lo bilang sama gue.”
__ADS_1
“Arka? Arka nggak ngapa-ngapain gue. Gue nggak kenapa-kenapa.”
“Jangan bohong, Vin. Gue lihat ada darah. Bahkan di depan kamar mandi ini juga ada darah. Arka pasti mukul lo, kan?”
“Enggak, Van. Udah jangan negative thinking sama orang. Gue cuma cekcok mulut doang sama dia. Kita nggak mungkin berani saling melukai fisik.”
“Terus itu darah apa? Lo kenapa? Muka lo pucet banget.”
“Gue nggak papa. Ayo ke kelas.”
“Enggak. Lo harus jelasin dulu sama gue.”
“Udah gue bilang kan gue nggak papa.”
Malvin memegang wajahku. Mata kami saling bertemu.
“Gue yang harusnya tanya. Lo nggak papa? Van, gue nggak mau lihat lo nangis. Lo nggak perlu mikirin dia lagi. Gue cuma mau lihat lo senyum, ketawa, kaya Vanella yang gue kenal selama ini.”
“Gue berubah pikiran tentang lo. Lo itu baik. Lo sahabat yang baik.” Aku tersenyum menatapnya. Namun Malvin malah memalingkan wajahnya dariku.
Malvin menarik tanganku tanpa berkata apapun. Di sepanjang koridor, aku terus memandanginya. Dalam hatiku aku terus bersyukur karena memiliki sahabat sepertinya. Orang yang selalu berdiri di depanku dan melawan mereka yang menyakitiku. Dia yang sejak awal kubenci dan selalu kunilai buruk, ternyata malah menjadi malaikat pelindungku.
Saat sampai di kelas, ternyata guru sejarah sudah masuk. Untung saja aku dan Malvin masih diizinkan untuk masuk kelas. Selama pelajaran berlangsung, aku terus memperhatikan Malvin. Dia tampak lebih pendiam, berbeda dengan biasanya. Dia bahkan tidak menggangguku sama sekali.
Ketika diberi tugas untuk mencatat, tanpa diminta oleh Malvin aku langsung merebut bukunya. Dia tampak bingung.
“Seperti biasa. Gue catetin.”
“Nggak usah.” Malvin tersenyum kecut.
Aku terdiam. Aku heran dengan sikapnya. Mendadak dia jadi pendiam dan bahkan sekarang tidak mengijinkanku melakukan hal yang biasanya selalu dia minta.
“Malvin kenapa? Tumben.”
“Dari kamar mandi? Kalian? Van, lo sama Malvin...”
Aku mengetuk kepala Ranti dengan pena.
“Jangan ngaco deh pikiran lo. Dasar. Tadi kayanya Malvin mimisan lagi.”
“Ya ampun. Sakit apa sih tuh anak. Eh, soal lo sama Arka tadi gimana?”
“Nanti gue ceritain.”
**
Selama jam istirahat, aku tidak keluar kelas. Aku menceritakan kepada Ranti dan Tara tentang apa yang dikatakan Arka. Di depan mereka aku tidak bisa menutupi rasa sakit dan kesedihanku. Kuluapkan semua emosi yang sebelumnya berusaha kutahan.
“Udah lo nggak usah nangisin cowok kaya dia. Dia emang nggak pantes buat lo, Van. Rasanya pengen gue cincang dagingnya sekarang juga!” Tara menggerutu kesal.
“Suatu saat dia pasti akan dapat balasannya sendiri. Kalau dia sampai berani nongol di depan lo lagi, gue pastiin satu tonjokan akan mendarat di wajahnya yang sok kegantengan itu.” Ranti pun tak dapat menahan rasa kesalnya.
“Udah, gue nggak papa. Kok malah jadi kalian yang marah-marah. Gue juga kok yang salah, udah kepedean duluan.”
“Udah lah Van jangan nyalahin diri lo sendiri. Gue nggak nyangka Leony tega nglakuin itu. Gue nggak mau lagi temenan sama dia.”
“Jangan gitu, Ran. Kita nggak boleh merusak persahabatan cuma karena cinta.”
“Buka mata lo, Van. Dia macarin pacar lo tanpa rasa bersalah kaya gitu, bahkan dia terang-terangan bilang di depan lo kalau dia cinta sama Arka dan lo masih belain dia? Segalak-galaknya lo, hati lo itu emang baik. Kenapa sih Arka nggak bisa lihat itu.”
Belum sempat aku berkata-kata, Ellisa datang dengan wajah kesalnya.
“Van, ini maksudnya apa ya? Kemarin-kemarin lo yang ngrebut Arka, terus sekarang sahabat lo? Apa lo sengaja jadiin Arka piala bergilir buat kalian?”
__ADS_1
Aku bangkit dari dudukku dan menatap Ellisa tajam.
“Dijaga ya kalau ngomong. Gue cinta sama Arka dan gue nggak mungkin dengan sengaja ngasih dia ke orang lain. Satu lagi, gue nggak pernah ngrebut Arka dari siapapun.”
Malvin yang baru saja masuk kelas pun tak mau ketinggalan untuk ikut campur. Dia mencengkeram tangan Ellisa dengan kuat.
“Kak udah lah. Bisa nggak sih nggak usah gangguin Vanella? Dia lagi sedih. Nggak usah nambahin masalahnya dia. Aku minta Kakak keluar.”
“Vin, aku itu sepupu kamu. Kenapa sih kamu selalu belain cewek ini? Apa sih istimewanya dia? Diracuni apa kamu sama dia?”
“Cukup, Kak! Keluar! Kalau Kakak berani nyakitin Vanella, aku akan nglupain kalau aku pernah nganggep Kakak sebagai kakak kandung aku.”
Ellisa menatapku dengan sinis sebelum akhirnya dia keluar kelas. Malvin memegang tanganku dan tersenyum.
“Maafin kakak gue ya. Lo jangan sedih lagi.”
“Makasih. Nggak usah belain aku lagi. Kamu sendiri juga mau jauhin aku, kan?”
Kulepaskan tangan Malvin dan berjalan meninggalkan kelas. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Duduk di bawah pohon yang rindang kurasa cukup membuatku tenang. Dengan semilir angin dan suara riuh tawa para siswa. Aku termenung sendiri hingga akhirnya Alby datang dengan membawa gitar.
“Hei, sendirian lagi? Kok kusut gitu mukanya?”
“Jangan pura-pura nggak tau deh, Al. Aku lagi nggak pengen bercanda.”
“Aku juga nggak pengen ngajak bercanda. Aku lagi pengen nyanyi. Kayanya di sini tempatnya enak buat nyanyi.”
Dengan jari-jarinya yang cukup besar, Alby mulai memetik senar gitarnya dan memainkan alunan nada lembut sembari menyanyikan sebuah lagu romantis. Awalnya aku mengabaikannya. Namun semakin lama, suara merdunya saat bernyanyi berhasil menenangkanku dan membuat suasana hatiku menjadi lebih baik. Aku mulai memperhatikannya.
“Makasih ya.”
“Untuk apa?” Alby bertanya sambil tetap fokus bermain gitar.
“Udah bikin gue tenang.”
“Gue nggak berniat gitu. Gue cuma lagi pengen nyanyi. Kan itu emang hobi gue.”
“Walaupun lo ngelak, gue juga udah tau niat baik lo. Gue merasa beruntung.”
“Kenapa?”
“Karena gue punya sahabat-sahabat yang baik dan sayang sama gue. Saat gue kaya gini, kalian semua punya cara masing-masing buat menghibur gue. Gue jadi sadar kalau kehilangan yang gue alami sekarang nggak ada apa-apanya karena kalian lebih berharga.”
Alby berhenti memetik senar gitarnya. Dia menatapku sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
“Kenapa, Al? Lo nggak mau gue sebut sebagai sahabat?”
“Enggak kok. Siapapun gue di mata lo, gue tetap akan bertahan dengan perasaan gue ke lo. Apapun akan gue lakuin buat bikin lo ketawa dan gue masih akan tetap nungguin lo.”
“Emang nggak bisa ya cewek sama cowok itu sahabatan lama tanpa ada rasa?”
“Menurut gue enggak. Diakui atau enggak, pasti perasaan nyaman dan cinta itu dirasakan oleh salah satu atau keduanya.”
“Gue nggak setuju. Gue sama Malvin bisa. Ya awalnya dia emang sering godain gue, tapi kayanya itu cuma candaan aja. Sampai sekarang kita bisa temenan deket tanpa saling jatuh cinta.”
“Lo yakin Malvin nggak ada perasaan buat lo?”
“Ya enggak lah. Ada-ada aja lo. Lo lihat sendiri kan gimana gue sama dia? Udah kaya kucing sama tikus.”
“Lo sendiri gimana? Yang gue tau, justru cewek itu gampang jatuh cinta sama cowok yang selalu bikin dia ketawa atau selalu iseng sama dia.”
Aku tertawa mendengar perkataan Alby.
“Itu kan cewek lain. Gue beda. Udah jangan bahas yang aneh-aneh. Cepet nyanyi lagi. Gue masih pengen denger suara merdu lo.”
“Merdu apaan. Suara kaya radio rusak gini.”
“Ya udah gue mau dengerin suara radio rusak. Gue belum pernah denger.”
__ADS_1
Alby tersenyum. Dia melanjutkan lagi bernyanyi dengan diiringi petikan gitarnya.