Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Terjadi Lagi


__ADS_3

Ujian akhir semester genap telah usai. Tiba saatnya untuk menikmati masa liburan. Rasanya begitu melegakan setelah semua masa sulit berlalu. Meski aku juga tidak tahu apakah semuanya sudah benar-benar berlalu atau akan banyak masalah yang berdatangan lagi. Setidaknya untuk sejenak aku bisa membuat otakku beristirahat dari memikirkan masalah. Meski aku tidak mempunyai rencana liburan ke suatu tempat dan hanya menikmati waktu berlibur di rumah, bagiku itu sudah cukup menyenangkan karena aku bisa mempunyai waktu lebih banyak dengan ibu dan Ranti. Sayangnya Tara tidak bisa bersama kami. Dia dan orang tuanya akan tinggal di rumah kakeknya selama liburan.


Pagi itu aku menikmati waktu liburanku dengan jogging. Berlari sambil menikmati sejuknya udara pagi sangatlah menyenangkan. Meski hanya sendiri, aku begitu menikmatinya. Namun kesendirianku tak berlangsung lama karena tanpa sengaja aku berpapasan dengan Malvin yang mengendarai sepeda. Sepertinya dia juga sedang berolahraga. Dia berhenti tepat di sampingku. Aku menghentikan langkahku dan menatapnya.


“Nggak sekolah, nggak liburan, kenapa harus ketemu lo sih?”


“Kayanya kita emang udah ditakdirkan buat selalu ketemu deh.”


“Mulai lagi deh. Lo lagi olahraga juga?”


“Iya dong. Harus. Demi menjaga tubuh atletis gue.”


“Idih sok banget sih lo.”


“Ih nggak percaya. Lo mau lihat perut sixpack gue?”


“Eh enggak-enggak. Awas kalau sampai lo berani buka baju di depan gue.”


“Untung aja lo nggak mau gue tunjukin. Kalau nggak nanti lo naksir lagi sama gue. Selain ganteng ternyata Malvin punya roti sobek. Gitu kan pasti lo,” ujar Malvin dengan begitu PD-nya.


“Ini anak PD-nya emang over ya. By the way lo udah selalu berlagak sok keren gitu, tapi kok masih jomlo-jomlo aja? Nggak laku kan lo? Gitu sok ganteng.”


“Sok tau lo. Siapa bilang gue jomlo? Ada kok cewek. Kan gue orangnya nggak suka pamer. Jadi gak perlu lah gue tunjukin ke orang-orang.”


“Nggak mau pamer atau takut ketahuan cewek lo yang lain? Biasanya gitu tuh para buaya. Sengaja nggak mau mempublikasikan pasangannya karena takut ketahuan selingkuhannya.”


“Enggak ya. Gue setia sama cewek gue.”


“Emangnya siapa sih cewek lo? Jadi penasaran gue. Siapa coba cewek yang mau sama orang senyebelin lo?”


“Eh jangan ngeremehin gue ya. Gini-gini kalau urusan cinta gue setia. Dulu sih iya gue playboy, tapi setelah gue nemuin cewek gue ini, gue udah nggak mau jadi playboy yang suka mainin cewek lagi. Pokoknya cukup satu, dia aja.”


“Widih gaya banget lo. Tapi gue belum percaya kalau gue belum kenal sama cewek lo. Gue mau buktiin lo bener setia apa nggak. Gue mau pastiin kalau sampai lulus nanti lo harus tetep sama dia.”


“Jangankan sampai lulus, gue maunya sampai mati. Tenang, nanti suatu saat gue bakalan kenalin dia ke lo.”


“Janji ya? Gue tunggu pokoknya. Janji juga kalau lo nggak bakalan bikin cewek itu nangis. gue nggak suka sama cowok yang suka nyakitin cewek. Kalau lo berani macem-macem sama cewek lo, dia sampai nangis gara-gara lo, gue nggak akan mau temenan sama lo lagi. Lo tau kan gue detektif? Jadi jangan coba-coba bohongin gue.”

__ADS_1


“Iya deh janji. Aduh berasa diawasin nih gue. Eh yuk lanjut lagi. Mau naik sepeda gue nggak? Capek kan lo lari?”


“Hah? Naik sepeda lo? Kan nggak ada boncengannya.”


“Ya lo naik di depan sini lah.”


“Enggak lah. Udah kaya ftv romantis aja. Hati-hati nanti ketahuan cewek lo bisa-bisa gue dikira perebut pacar orang.”


“Yaelah. Santai aja. Nggak bakalan. Lagian kita sahabat, kan? Ayo.”


Aku berpikir sejenak. Kemudian aku menyetujui ajakannya. Aku pun naik sepeda bersama Malvin. Sebenarnya aku sedikit takut. Aku terus berpegangan pada tangan Malvin. Setiap kali dia mengayuh sepedanya dengan sangat cepat, aku langsung mencengkeram tangannya. Bahkan kuku-kukuku membekas di tangannya.


“Gimana? Seru, kan?”


“Iya sih. Tapi jangan lama-lama ya? Nggak enak dilihatin orang-orang. Jangan ngebut-ngebut juga, gue takut.”


Mendengarku berkata demikian, Malvin malah semakin menambah laju sepedanya. Aku dan Malvin tertawa sepanjang jalan hingga akhirnya tiba-tiba tawa Malvin terhenti. Laju sepedanya pun melambat.


“Vin, lo kenapa tiba-tiba diem? Capek ketawa? Ayo kayuh lebih cepat lagi. Gue udah nggak takut.”


Malvin tidak memberi jawaban. Tiba-tiba dia mengerem sepedanya. Aku pun kaget dan langsung melompat ke samping. Saat kumenoleh, Wajah Malvin berubah menjadi sangat pucat. Malvin terus memegang kepalanya. Lagi-lagi darah keluar dari hidungnya. Sontak aku langsung berteriak.


Aku menggoyang-goyangkan tubuh Malvin dan terus mengajaknya bicara, tetapi Malvin seperti sudah kehilangan kesadaran. Dia hanya terus memegangi kepalanya dan tidak merespon pertanyaanku.


“Kepala lo sakit lagi ya? Vin, tetep buka mata lo. Jangan bikin gue takut.”


Aku mulai menangis. Aku terus berusaha menyadarkannya. Rasa takutku akan darah seolah menghilang. Apalagi melihat Malvin yang terus meringis kesakitan. Tiba-tiba dia menggenggam erat tanganku.


“Iya, Vin. Ini gue ada di sini. Lo kenapa? Jangan bikin gue khawatir gini. Bilang kalau ini cuma prank. Vin, sadar. Jawab pertanyaan gue. Gue bawa lo ke rumah sakit ya?”


“Ja.. jangan, Van. Gue..baik..baik..aja. Nggak usah khawatir.”


“Baik-baik aja gimana. Lihat lo mimisan kaya gini. Lo kesakitan. Gue telpon ambulans sekarang.”


“Please, jangan. Kali ini aja lo..lo..kabulin permintaan gue. Bawa gue ke..ke..rumah..rumah gue, lo bisa telpon Alby buat jemput kita di sini,” pinta Malvin dengan terbata-bata.


“Oke gue ikutin kemauan lo. Lo tahan bentar ya.”

__ADS_1


Aku segera menghubungi Alby. Untung saja Alby langsung mengangkatnya. Aku mengatakan mengenai keadaan Malvin sambil terus menangis terisak.


“Cepet ke sini, Al. Gue takut. Gue nggak mau Malvin kenapa-kenapa.”


“Oke, Van. Lo tunggu. Lo tenang. Jangan panik. Malvin akan baik-baik aja. Gue ngebut kok.”


Sambil menunggu kedatangan Alby, aku terus menggosok kedua telapak tangan Malvin agar tangannya tetap hangat. Aku terus mengajaknya bicara agar dia tak memejamkan mata. Meski seperti hampir kehilangan kesadaran, terkadang Malvin masih bisa menjawab pertanyaanku. Bahkan dia masih bisa sesekali tersenyum. Aku tahu dia sedang berusaha menutupi rasa sakitnya.


Tak beberapa lama, Alby datang. Kami pun segera membawa Malvin ke rumahnya. Selama di perjalanan, aku terus menangis. Tanganku yang sudah berlumuran darah terus menggenggam erat tangan Malvin. Handukku yang seharusnya kupakai untuk mengusap keringat, kini kupakai untuk membersihkan hidung Malvin setiap kali darah keluar.


“Sabar ya, Vin. Bentar lagi kita sampai. Lo akan baik-baik aja.”


Akhirnya kami pun sampai. Aku dan Alby langsung membawa Malvin ke kamarnya. Sepertinya rumah Malvin sedang sepi. Orang tuanya mungkin sedang pergi. Untung saja ada Alby. Dia sudah sering ke rumah Malvin sehingga dia tahu di mana letak kamar Malvin. Begitu sampai di kamar, kami langsung merebahkan tubuh Malvin.


“Van, ambilin obat di laci meja belajar gue,” rintih Malvin.


Aku segera mencari obat yang dimintanya. Sementara Alby mengambil air di dapur. Ternyata ada cukup banyak obat di laci tersebut. Aku pun mengambil semuanya. Kutunjukkan pada Malvin dan dia mengambil dua jenis obat. Setelah Alby masuk ke kamar membawakan air minum, Malvin langsung meminum obatnya. Setelah beberapa saat, dia mulai tenang. Sepertinya rasa sakitnya mulai mereda. Mimisannya pun mulai berhenti.


“Vin, lo sebenarnya sakit apa?”


“Gue nggak papa.”


“Jangan bohong, Vin. Lo mimisan dan kesakitan kaya gitu masih mau bilang kalau lo nggak papa? Lo udah berkali-kali kaya gini. Lo jujur sama gue.”


“Gue cuma mimisan biasa. Itu wajar, kan? Lo pasti juga pernah ngalami mimisan, kan?”


“Enggak. Gue yakin itu bukan mimisan biasa. Gue bisa lihat kebohongan di mata lo. Al, apa lo tau Malvin sakit apa? Lo kan temen deketnya dia. Lo jangan coba-coba bohongin gue juga ya.”


“Sumpah gue nggak tau apa-apa, Van. Van, Malvin kan masih sakit. Mendingan jangan tanya apa-apa dulu deh. Biarin dia istirahat.”


“Iya, lo bener. Maafin gue ya, Vin. Gue malah bawel banget padahal lo lagi sakit gini. Ya udah gue keluar dulu. Al, lo gantiin bajunya Malvin ya. Bajunya dia penuh darah.”


“Iya, Van. Nanti gue nyusul keluar.”


“Vin, lo istirahat ya. Jangan mikirin apa-apa. Gue sama Malvin di sini. Kalau ada apa-apa panggil kita.”


“Iya, makasih, Van.”

__ADS_1


Aku tersenyum kepada Malvin sebelum aku menutup pintu kamar. Begitu keluar kamar, aku memandangi rumah Malvin. Rumahnya terlihat besar dan mewah. Bahkan perabotan-perabotan rumahnya jelas terlihat bukan perabotan murahan. Aku tidak pernah menduganya sama sekali. Malvin yang selama ini selalu berpenampilan sederhana ternyata sekaya ini. Dia memang selalu berlagak sok ganteng, tetapi dalam penampilan dia selalu tampil sederhana. Sepatu dan tas yang dia gunakan pun bukan sepatu dan tas branded. Aku baru menyadari, di balik sifat menyebalkannya itu Malvin memiliki sisi kesederhanaan yang mungkin tak diketahui semua orang.


__ADS_2