Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Tak Terduga


__ADS_3

Hari yang kunantikan telah tiba. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagiaku, tetapi harus kulalui dengan air mata kesedihan, yaitu hari wisudaku. Kesedihanku akan kepergian Malvin masih begitu terasa. Bahkan aku terus menangis saat mengenakan toga dan memandangi diriku di cermin. Sejak dulu aku sudah membayangkan bahwa di hari bahagia ini aku akan ditemani oleh orang tua dan orang-orang yang kusayang, di antaranya para sahabatku, Ranti, Tara, Alby, dan Malvin. Tetapi aku justru harus merasakan kesedihan karena kehilangan salah satunya. Ibu yang melihatku menangis berusaha menenangkanku dengan memelukku. Ibu bahkan ikut menangis.


“Malvin akan datang kan, Bu?”


“Iya, sayang. Pasti Malvin datang,” jawab ibu sambil menangis terisak.


Aku tahu ibu hanya berusaha menenangkanku. Jawaban yang bagiku sangat mustahil untuk menjadi kenyataan. Namun aku tetap terus berharap agar Malvin benar-benar ada di hari bahagia ini.


Aku menghapus air mataku dan bergegas pergi ke kampus dengan diantar sopir. Sementara ibu akan menyusul nanti. Aku melalui serangkaian acara wisuda dengan terus meneteskan air mata. Sesekali aku melihat sekeliling, berharap aku akan melihat Malvin. Tetapi aku tidak melihat orang-orang yang kukenal selain ibu, Ranti, dan Om Mahesa. Aku kembali menangis.


Setelah acara selesai, aku menghampiri ibu. Aku memeluknya dengan erat.


“Selamat ya, anak ibu udah jadi anak hebat. Kamu udah bikin ibu bangga dengan menjadi mahasiswi lulusan terbaik di kampus ini,” ucap ibu dengan penuh haru.


Aku kembali memeluk ibu dengan erat. Aku memang bahagia dengan pencapaianku. Tetapi bahagiaku seakan tidak berarti lagi.


Tak lama kemudian, Ranti dan ayahnya menghampiri kami. Mereka juga memberiku ucapan selamat dan memelukku. Ranti menangis haru.


“Bener kan yang gue bilang. Sahabat gue ini selalu bikin gue bangga. Selamat ya.”


“Makasih, Ran. Tapi....”


Ranti menutup bibirku dengan jari telunjuknya.


“Di hari bahagia lo, lo nggak boleh sedih. Gue punya sesuatu yang akan bikin hari ini bener-bener sempurna buat lo.”


Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba Ranti berlari melalui kerumunan orang. Aku tidak tahu ke mana dia pergi. Dia sudah lenyap dari pandanganku hanya dalam beberapa detik. Beberapa saat kemudian, dia kembali dan bergandengan tangan dengan beberapa orang. Mereka semua berjalan menuju ke arahku. Tara, Alby, Fero, dan satu orang lagi dengan kepala botak yang sepertinya aku tidak mengenalnya. Dia duduk di atas kursi roda. Alby mendorong orang tersebut. Setelah mereka sudah berada di depan mataku, aku mengamati orang yang duduk di kursi roda tersebut. Kuperhatikan dari setiap detil wajahnya, mulai dari mata, hidung, hingga bibirnya. Malvin?


“Malvin? Vin, ini lo.”


“Iya, ini gue, Van. Ini si badboy yang dulu belagu banget sekarang cuma bisa duduk di kursi roda.”


“Vin, ini seriusan lo? Ran, ini Malvin?”


“Iya, Van. Seperti yang gue bilang, Malvin pasti akan kembali buat lo.”


Mata Malvin berkaca-kaca dan air matanya mulai menetes. Aku pun langsung memeluknya dengan erat. Aku tidak bisa menahan tangis bahagiaku.


“Vin, akhirnya lo dateng. Lo beneran dateng di hari wisuda gue. Gue pikir lo nggak akan kembali.”


“Gue nggak mungkin ninggalin lo, Van. Gue belum nyampein apa yang belum gue sampein langsung ke lo.”


Kami menangis dan mempererat pelukan kami. Semua orang ikut menangis haru.


“Eh, belum nikah kok udah pelukan? Nikah dulu dong,” ledek ibu sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Aku langsung melepaskan pelukanku. Aku dan Malvin pun tertawa.


“Maaf, Tante. Kalau gitu aku nikahin dulu anak Tante ya.”


“Boleh. Asal anak tante juga mau.”


“Mau lah, Bu,” jawabku cepat.


“Van, sekarang gue mau ngomong langsung sama lo. Gue sayang sama lo. Dari pandangan pertama sampai sekarang, cinta gue ke lo tetep sama. Lo inget kan gue pernah bilang kalau ada cewek yang udah bikin gue jatuh cinta dan bikin gue nggak bisa berpaling lagi? Gue yang playboy ini bisa takluk sama cewek itu. Itu lo, Van. Asal lo tau, gue adalah Misterious Boy yang dulu sering ngirimin lo puisi pake pesawat kertas. Sorry gue nggak pernah jujur sama lo,” ungkap Malvin dengan ketulusan yang terlihat jelas di matanya.


"Jadi itu lo? Ya ampun, Vin. Kenapa lo nggak pernah jujur?"


"Gue udah minder duluan. Mana mungkin cewek kaya lo bakalan bales cinta dari badboy kaya gue. Makanya gue sampe nyuruh Arka yang nulis itu biar lo nggak tau kalau itu dari gue. Malah Arka menyalahgunakan amanat gue, tapi karena lo waktu itu kelihatannya suka sama dia ya gue milih mundur. Setelah Arka khianatin lo, gue nyesel karena biarin lo sama dia. Gue menghukum diri gue sendiri dengan jauhin lo, tapi gue nggak bisa. Pada akhirnya takdir tetap mendekatkan kita. Di lain kesempatan, gue pengen jujur sama lo, tapi karena gue tau Alby masih suka sama lo, gue mundur lagi. Gue emang badboy, tapi gue nggak akan bisa nyakitin sahabat-sahabat gue sendiri. Setelah Alby bilang kalau dia udah berubah haluan dan mau ngelamar orang lain, barulah gue mutusin buat nemuin lo lagi dan ngungkapin perasaan gue."


“Gue nggak nyangka lo punya hati setulus itu. Lo punya cinta dan pengorbanan sebesar itu. Nggak salah lo bilang kalau cinta lo itu infinity."


"Karena emang cuma infinity gambaran yang tepat untuk cinta gue ke lo, Van. Sebesar apapun cinta laki-laki lain ke lo, seberapa besar pun nilainya, cinta gue jauh lebih besar karena cinta gue infinity."


"Cowok yang nggak suka pelajaran MIPA bisa juga ya bikin puisi dan gombalan ala anak MIPA."


"Ya bisa lah. Ini Malvin. Apa sih yang Malvin yang nggak bisa."


"Emm Vin, maafin gue ya karena nggak pernah bisa lihat cinta yang lo tunjukin ke gue selama ini. Gue nggak peduli dengan perhatian lo selama ini. Gue selalu nilai lo buruk sampai gue nggak menyadari kebaikan-kebaikan yang tersembunyi dibalik sifat lo yang terlihat selama ini. Setelah lo pergi, gue baru sadar sama semua itu, Vin. Gue juga baru sadar kalau gue nggak bisa kehilangan lo. Gue baru tau arti penting lo buat gue. Gue juga sayang sama lo. Perasaan yang mungkin udah gue rasain sejak lama, tapi baru gue sadari sekarang.”


“Lo pernah bilang kan kalau gue adalah dokter pribadi lo, perawat lo? Jadi gue akan merawat lo seumur hidup gue. Gue yakin lo akan sembuh dan kembali normal seperti dulu. Kalaupun enggak, gue tetep akan ada di samping lo. Gue nggak akan ninggalin lo. Sekarang bukan hanya sebagai sahabat lagi, tapi sebagai orang yang mencintai lo dan akan jadi pendamping seumur hidup lo.”


"Lo itu emang sin 90 derajat, Van."


"Sin 90 derajat? Maksudnya?"


"Satu. Satu-satunya cewek istimewa yang mau nerima gue apa adanya dan satu-satunya cewek yang bikin gue nggak bisa berpaling ke cewek lain lagi."


"Apaan sih lo. Ada-ada aja."


"Gue seneng lihat lo ketawa gini."


Malvin tersenyum. Dia meneteskan air mata bahagia dan menggenggam erat tanganku.


“Jangan nangis dong, Vin. Pertama kali dalam sejarah lo kita lihat Malvin nangis,” ledek Tara sembari mengusap air matanya yang jatuh.


“Guys, makasih ya kalian semua udah dateng. Makasih juga kalian udah kasih kejutan ini.”


“Nggak mungkin lah kita semua nggak dateng, Van. Kita kan udah janji bahwa persahabatan kita nggak akan terputus hanya karena jarak. Sampai kapanpun kita semua akan selalu jadi sahabat,” jawab Tara.


“Gue terharu banget. Hari ini bener-bener sempurna dengan adanya kalian. Oh ya, Fero, kok lo juga ada di sini? Lo udah lama ngilang terus tiba-tiba nongol lagi.”

__ADS_1


"Emang nggak boleh ya kumpul sama kalian lagi? Gue kan juga kangen sama kalian."


"Ya boleh lah. Gue seneng malah bisa ketemu lo lagi."


"Gue juga seneng dan lega karena lo udah nemuin cinta yang tepat."


"Lo nggak cemburu kan, Fer?" canda Malvin.


"Ya enggak lah. Lo jaga baik-baik ya. Kalau enggak, gue tikung entar."


"Siap. Pastinya. Punya calon istri secantik ini masa mau gue sakitin."


"Vin, jangan gitu. Malu."


"Tuh kan pipinya langsung merah."


Aku memukul tangannya. Malvin berbalas mencubitku. Teman-teman pun menertawakan tingkah kami yang masih saja seperti kucing dan tikus.


"Oh ya Al, ngomong-ngomong siapa cewek yang kata Malvin mau lo lamar?"


Mendengar pertanyaanku, Alby langsung menggandeng tangan Ranti. Ranti pun terlihat salah tingkah. Aku merasa bingung melihat tingkah mereka.


“Ini maksudnya apa?”


“Yaelah masa lo nggak ngerti, Van? Itu yang digandeng calon istrinya. Mau nyusul lo sama Malvin tuh mereka,” sahut Tara.


“Hah? Serius?! Kok bisa?”


“Iya, Van. Kejutan! Gue nggak pacaran sama Alby. Tiba-tiba dia dateng dan ngelamar gue. Gue minta dikasih waktu sambil kita saling mengenal kepribadian masing-masing dan keluarga kita juga saling kenal dulu. Setelah beberapa hari, akhirnya kita udah sepakat buat segera melaksanakan pertunangan kita. Nggak nyangka kan lo? Apalagi gue. Ini bener-bener hal yang nggak pernah gue duga.”


“Gue telat sadar kalau selama ini ada cewek yang sebaik dia yang bahkan selalu ada di depan mata gue. Gue terlalu dibutakan oleh cinta sampai nggak bisa melihat cinta yang lain. Sekarang gue nggak mau kehilangan cinta itu. Boleh kan gue jagain sahabat lo, Van?” ujar Alby.


Aku terharu mendengarnya. Sebuah kejutan tak terduga.


“Ya ampun kalian manis banget. Ya boleh lah. Wah bener-bener hari ini gue dapet banyak kejutan.”


“Setelah ini kalian bakalan sama-sama lamaran dong. Tinggal gue aja yang jomlo,” sahut Fero.


“Eh kan gue udah sama Vanella, Ranti udah sama Alby, kenapa lo nggak sama Tara aja? Sama-sama jomlo, kan?” ledek Malvin.


“Oh iya ya. Lo mau nggak sama gue, Tar?” canda Fero.


“Ngelamarnya yang romantis dong kaya dua pasangan sweet ini,” jawab Tara.


Kami semua pun tertawa. Akhirnya kebahagiaanku lengkap sudah. Prestasi sudah kuraih, sahabat-sahabat yang luar bisa telah kumiliki, dan cinta yang sempurna telah kudapatkan. Kami saling berpelukan dan melepas rindu. Tangis haru mewarnai hari ini. Hari penuh kejutan yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Terkadang takdir memang lucu. Dia menjauhkan yang berusaha mendekat dan mendekatkan yang berusaha menjauh. Namun dia tidak pernah membiarkan yang berjuang akan kalah. Takdir selalu memberi kejutan manis kepada dia yang tulus dan tidak pernah menyerah untuk berjuang. Aku bahagia. Aku menatap mata Malvin. Dalam hatiku, aku berjanji untuk selalu menemaninya dan ada di sampingnya dalam setiap keadaan. Kami saling menggenggam dengan erat seolah tidak ingin ada jarak yang memisahkan kami lagi. Takdir telah memberiku cinta yang luar biasa, cinta yang seperti bilangan tak hingga dalam matematika, setelah beberapa kali aku gagal memperjuangkan cinta. Tak hanya cintaku yang infinity, kebahagiaanku juga infinity.

__ADS_1


__ADS_2