
Selama beberapa hari di rumah Ranti, aku pun ikut melakukan apa yang dia lakukan. Mulai dari mengerjakan pekerjaan rumah di pagi hari, memasak, ke butik, jalan-jalan di sore hari, dan menonton televisi bersama Ranti dan ayahnya di malam hari. Rasanya begitu menyenangkan. Aku tidak merasa sedang berada di rumah orang lain. Apalagi Om Mahesa memperlakukanku dengan sangat baik layaknya putri kandungnya.
Hari ini tidak seperti biasanya, aku merasa kesepian karena aku ditinggal di rumah sendirian. Ranti sedang di butik, sementara ayahnya sedang di toko. Aku sedang tidak ingin ikut ke sana karena aku merasa tidak enak badan. Jadi kuhabiskan saja waktuku dengan menonton TV. Saat mulai merasa bosan, aku memeriksa ponselku. Tidak ada pesan dari siapapun. Seperti inilah ketika aku sedang jomlo. Aku pun membuka facebook dan memposting sebuah foto dengan caption berupa quote. Sebenarnya aku sudah hampir tidak pernah menggunakan facebook. Aku hanya menggunakan instagram saja. Tetapi karena tengah merasa bosan, aku iseng membuka kembali akun facebookku. Baru beberapa menit kuposting quote tersebut di story facebook, tiba-tiba aku menerima sebuah pesan.
“Sip, Mbak.”
Hanya komentar singkat itu saja. Kulihat nama pengirim pesan tersebut, Fius Bagus Mulia. Aku masih ingat bahwa dia pernah dekat dengan Leony.
“Mas Gus, ya?” tanyaku.
“Iya, Mbak,” jawabnya dengan emoticon tertawa.
“Kok selalu panggil aku mbak sih, Mas. Panggil Vanella aja. Kan Mas dulu kakak kelas Vanella.”
“Nggak papa, Mbak. Udah kebiasaan kalau manggil cewek yang jarang ketemu dan jarang ngobrol dengan panggilan mbak. Nggak enak kalau nggak manggil mbak.”
“Wah sopan banget, Mas.”
Aku kagum karena di zaman sekarang ini masih ada lelaki yang sopan santun seperti dirinya. Dia tetap memanggilku dengan sebutan mbak. Padahal setahuku usianya dua tahun lebih tua dariku.
“Eh ngomong-ngomong aku nggak tau lo Mas kalau kita udah berteman di facebook. Aku jarang pake facebook sih.”
“Padahal aku sering like sama comment status Mbak lo. Tapi Mbak nggak pernah bales.”
“Apa iya, Mas? Maaf ya, Mas. Aku nggak tau.”
“Iya nggak papa, Mbak.”
Kami terus berbalas pesan hingga aku lupa bahwa TV di depanku masih menyala. Mas Gus menanyakan mengenai kuliahku. Aku pun bergantian menanyakan tentang pekerjaannya. Ternyata dia orangnya lumayan asyik. Setelah beberapa tahun kenal, ini adalah pertama kali kami chat.
“Oh ya, Mbak kuliah jurusan sastra ya?”
“Iya. Mas tau dari mana? Kayanya nggak aku tulis di bio deh.”
“Aku inget pernah lihat postingan Mbak di instagram. Pasti Mbak juga nggak sadar kan kalau kita udah saling follow di instagram?”
“Ternyata di akun media sosial kita udah temenan lama ya, Mas? Tapi baru kali ini chat. Iya, Mas. Hobiku kan baca novel, jadi aku tertarik banget sama dunia sastra. Wah ingatan Mas masih bagus juga ya. Padahal udah tua,” ledekku.
“Iya dong, Mbak. Beda dua tahun doang, Mbak. Tapi iya sih aku udah kelihatan tua, Mbak. Beda sama Mbak yang awet muda. Mbak kan baby face, jadi awet muda,” puji Mas Gus.
“Mana ada, Mas. Aku juga udah tua gini. Oh ya, Mas gimana sama Leony?"
"Gimana apanya, Mbak? Nggak ada apa-apa kok. Dari dulu kan dia juga nggak ngasih aku kepastian apa-apa. Aku juga baru tau kalau dia udah deket sama cowok lain."
Aku kasihan mendengar curahan hati Mas Gus. Lelaki sebaik dia bisa dikhianati oleh Leony. Ingin sekali kuceritakan tentang Leony dan Arka yang sebenarnya lebih kuketahui tentang mereka, tetapi aku juga tidak ingin membuat hati Mas Gus semakin terluka.
"Sabar ya, Mas. Berarti dia bukan jodoh Mas. Pasti nanti akan dipertemukan dengan yang lebih baik."
"Iya, Mbak."
Kami memang belum pernah chattingan sebelumnya, tetapi kami bisa saling bercerita banyak hal seolah-olah kami sudah begitu dekat. Karena terlalu asyik, aku sampai tidak menyadari bahwa Ranti sudah pulang.
“Van! Woy ngapain sih lo senyum-senyum sendiri. Udah mulai nggak waras?”
“Eh udah pulang lo?”
“Tuh kan sampai nggak denger suara motor gue. Itu TV juga masih nyala tapi lo asyik senyum-senyum sama HP lo.”
“Aduh lupa gue. Sorry ya. Jadi boros listrik dong.”
“Gue sih nggak musingin soal listrik. Gue cuma khawatir lo kesambet.”
“Ada-ada aja lo. Eh sini deh duduk dulu. Gue mau cerita. Tau nggak kenapa gue senyum-senyum? Gue lagi chat sama kakak kelas kita waktu SMP dulu.”
“Hah? Siapa?”
“Mas Gus. Inget, kan?”
“Maksud lo Kak Fius? Yang gemuk itu?”
“Terserah deh lo manggilnya apa. Gue lebih suka manggil Mas Gus. Iya itu. Eh dia nggak gemuk tahu. Cuma sedikit chubby dan imut gemesin gitu.”
“Kenapa lo tiba-tiba muji dia? Pake bilang dia gemesin. Dia chat apa? Godain lo ya? Terus lo mau bales chat dari dia? Nggak ada yang lebih cakep dikit? Lagian bukannya dia deket sama Leony?”
“Julid banget sih lo. Jangan gitu. Nggak boleh hina fisik orang. Lagian lo belum tau penampilan dia sekarang udah asal nyeplos aja. Satu lagi nih, dia udah nggak deket sama Leony. Leony kayanya udah bahagia sama Arka.”
__ADS_1
“Bagus deh kalau dia udah sadar sama kebusukan Leony. Eh emang dari mana lo tau penampilan dia yang sekarang? Kayanya dia udah sekitar empat tahunan deh kerja di kota dan hampir nggak pernah pulang.”
“Kan tadi gue udah stalking foto-fotonya dia.”
“Ngapain lo stalking akunnya dia segala?”
“Ah lo kaya nggak tau gue aja. Gue kan detektif. Gue nggak asal bales chat dari cowok. Pasti gue cari tau dulu.”
“Mana coba lihat gimana penampilan dia sekarang.”
Aku pun menunjukkan foto-foto Mas Agus di akun facebooknya. Ranti langsung merebut ponselku. Wajahnya menunjukkan ekspresi penuh keheranan.
“Seriusan ini dia? Kok jadi cakep gini sih. Udah ganteng, putih, tinggi, dan badannya lumayan agak kurusan. Cuma pipinya doang yang masih agak chubby.”
“Kaget kan lo? Gue juga. Eh tau nggak, ternyata selama ini dia sering komen status gue. Cuma nggak pernah gue bales. Nyesel doang gue. Untung aja yang tadi gue bales.”
“Kenapa? Lo udah naksir sama dia cuma karena di chat sekali doang?”
“Ya enggak lah. Cuma lo tau sendiri kan selama ini dia itu dikenal baik, ramah, sopan, nggak suka aneh-aneh kaya cowok-cowok lain deh pokoknya. Itu idaman gue banget. Kalau gue boleh ngasih julukan, julukan yang tepat adalah Mr. Perfect karena dia bener-bener memiliki kesempurnaan yang selama ini gue cari. Tadi aja dia chat gue manggil mbak. Sopan banget, kan? Cowok lain mana ada yang kaya gitu.”
“Itu kan cuma image yang berkembang di masyarakat. Belum tentu dia aslinya gitu.”
“Ya iya sih. Tapi andaikan itu bener, gue salut banget sama dia.”
“Ada niatan buat pacaran sama dia?”
“Kan udah gue bilang kalau gue nggak mau pacaran lagi.”
“Oke kita lihat aja nanti.”
Begitu Ranti masuk ke kamarnya, aku memeriksa ponselku lagi. Tidak ada balasan dari Mas Gus. Bahkan dia sudah offline. Aku pun meletakkan ponselku dan membantu Ranti mengerjakan pekerjaan rumah.
Malam harinya ketika sedang membaca buku di kamar, ponselku berbunyi. Terlihat notifikasi di layar yang menunjukkan ada sebuah pesan dari Mas Gus. Aku langsung membacanya.
“Maaf ya, Mbak. Tadi aku udah tidur. Maaf Mbak karena aku sering lembur jadi bawaannya ngantuk terus.”
“Iya, nggak papa, Mas.”
“Mbak, maaf boleh minta tolong nggak?”
“Besok pagi bangunin aku ya. Setengah 7 pagi aku harus udah berangkat ke kantor. Aku takut bangunnya kesiangan. Mbak kan pasti bangunnya pagi-pagi.”
Aku merasa aneh dengan permintaannya. Tetapi karena tidak enak, kuiyakan saja permintaannya.
“Iya, Mas.”
“Besok telpon aku aja sampai aku bangun, Mbak. Ini nomor WA-ku.”
Mas Gus memberikan nomor WA-nya. Aku tidak tahu ini bagian dari modus lelaki atau bukan. Meski Mas Gus yang kukenal selama ini bukan lelaki yang suka modus, tetapi dengan beberapa keanehan ini aku merasa perlu sedikit lebih hati-hati.
Keesokan paginya, begitu aku bangun tidur, aku langsung teringat pesan Mas Gus semalam.
“Dia kan memintaku membangunkannya pagi ini. Tapi...”
Aku memegang ponselku. Aku hendak meneleponnya, tetapi aku ragu. Berulang kali aku hendak meneleponnya, tetapi lalu membatalkannya. Aku memutuskan untuk menelponnya sekali. Namun karena tidak ada jawaban, aku langsung mematikannya dan bergegas ke dapur membantu Ranti memasak. Setelah selesai memasak, aku kembali lagi ke kamar dan mengecek ponselku. Kulihat ada chat WA dari Mas Gus.
“Aku udah bangun, Mbak. Makasih udah bangunin,” tulis Mas Gus.
“Kok tau kalau ini aku, Mas?”
“Kan tadi malem aku minta Mbak bangunin aku. Jadi waktu ada yang nelpon pagi-pagi aku udah tau kalau pasti itu Mbak Vanella.”
“Oh iya. Maaf cuma nelpon sekali, Mas. Aku lagi banyak kerjaan.”
“Iya, nggak papa, Mbak. Aku lagi siap-siap berangkat kerja ini. Kalau gitu aku berangkat dulu ya, Mbak.”
“Iya, Mas. Hati-hati.”
Tidak berhenti sampai di situ saja chat-ku dengan Mas Gus. Malam harinya saat pulang kerja dia langsung mengirimiku pesan lagi. Aku mulai menanyakan tentang pekerjaannya lagi. Dia pun menceritakan bahwa saat ini dia sedang bekerja di sebuah perusahaan mobil. Dia juga menjelaskan tentang jadwal shift-nya yang terkadang harus bekerja dari pagi hingga sore saat shift pagi dan terkadang dari malam hingga pagi saat shift malam. Rupanya jadwal kerjanya begitu padat. Aku pun meledeknya.
“Wah padet banget jadwal kerjanya, Mas. Persiapan untuk modal nikah ya?”
“Nikah? Kayanya belum deh, Mbak.”
“Ngumpulin duit dulu ya, Mas. Nanti kalau udah banyak duit kan tinggal berangkat ke KUA.”
__ADS_1
“Nikah itu sebenarnya nggak mahal, Mbak. Cuma sekitar 1 atau 2 juta. Yang mahal itu resepsinya dan susahnya nyari orang yang mau diajak nikah itu.”
“Iya, Mas. Nggak usah muluk-muluk sebenarnya kalau nikah.”
“Apa udah pengen nikah, Mbak? Sekarang kan lagi marak nikah muda. Aku aja sampai bosen ditanyain itu.”
“Belum lah, Mas. Aku aja baru mau wisuda.”
“Kalau calonnya udah ada, Mbak?”
“Waduh apalagi itu, Mas. Belum, Mas.”
“Masa Mbak nggak punya pacar?”
“Enggak, Mas. Udah bertahun-tahun jomlo. Aku pengennya langsung nikah, nggak usah pacaran.”
“Bagus lah kalau gitu, Mbak. Itu lebih baik.”
Entah mengapa kami malah membahas tentang pernikahan. Mas Gus pun menceritakan tentang kandasnya hubungannya karena pacarnya ketika itu mengajaknya menikah sementara ia belum ingin menikah.
Sejak saat itu, setiap hari aku selalu berbalas pesan dengan Mas Gus. Kami saling bertukar cerita dan bercanda. Mas Gus pun sering berbagi keluhannya mengenai pekerjaannya yang cukup melelahkan. Aku salut dengannya karena meski kerjanya cukup berat, tetapi dia bisa bertahan dan setia dengan pekerjaannya setelah sebelumnya dia sempat beberapa kali pindah tempat kerja. Dia merasa di tempatnya bekerja sekarang dia sudah mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga bisa membantu perekonomian keluarganya. Benar-benar sosok lelaki mandiri dan pekerja keras yang sayang keluarga. Semua itu jelas terlihat dengan seringnya Mas Gus menceritakan tentang orang tuanya, terutama ibunya. Bahkan dia sering memposting tentang ibunya. Jarang sekali ada lelaki yang sangat mencintai ibunya hingga hari-harinya dipenuhi ungkapan cinta kepada ibunya. Dengan stalking akun media sosialnya, aku begitu kagum dengan kepribadiannya.
Di akun instagram Mas Gus aku masih menemukan foto-fotonya bersama seorang gadis yang dia sebut sebagai mantan pacarnya. Dia gadis yang cantik dan dari wajahnya aku bisa melihat bahwa dia seorang yang sangat baik dan sabar. Rupanya dia adalah teman kerja Mas Gus di tempat kerjanya yang lama. Mas Gus menceritakan bahwa putusnya mereka karena mereka tidak bekerja di tempat yang sama lagi, sehingga jarang ada waktu untuk bertemu. Gadis yang bernama Marya itu pun mengajaknya untuk cepat-cepat menikah agar tidak kesulitan lagi mengatur waktu untuk bertemu. Namun Mas Gus menolak dan gadis itu memutuskan untuk meninggalkannya, lalu menjalin hubungan dengan lelaki lain.
Dari yang kutahu tentang Mas Gus, dia adalah seorang yang baik. Tidak pernah kudengar penilaian buruk orang tentangnya. Bahkan aku sering mendengar orang-orang memuji kepribadiannya. Aku pun heran mengapa gadis itu memutuskan untuk meninggalkan laki-laki sebaik Mas Gus. Padahal hubungan mereka sudah terjalin lebih dari tiga tahun. Dari foto-foto mereka pun terlihat bahwa mereka sangat bahagia dan saling mencintai. Aku yang melihat foto-foto itu pun merasa iri dengan kemesraan mereka. Namun hati orang tidak ada yang tahu. Mungkin di balik kemesraan itu ada banyak masalah yang tidak mereka tunjukkan. Tetapi melihat masih adanya foto-foto itu, sepertinya Mas Gus masih mencintai gadis itu. Saat aku stalking pun mereka masih saling follow. Aku pun mencoba bertanya padanya.
“Masih belum bisa move on ya, Mas? Lagian mesra gitu. Sayang banget harus putus.”
“Enggak, Mbak. Aku udah lupain semua tentang mantanku kok. Ya cuma belum sempet delete aja. Nanti kalau udah ada calon istri pasti aku delete.”
“Emang nggak pengen balikan aja, Mas? Udah lebih dari tiga tahun loh.”
“Ya gimana lagi, Mbak. Dia aja milih cowok lain. Wajar lah kan dia tinggal di kota, aku cuma perjaka desa yang merantau ke kota.”
“Bukannya lebih baik kita menikah dengan orang yang nemenin kita dari nol?”
“Yang terbaik itu bukan yang pertama datang, bukan yang nemenin dari masa-masa susah kita, tapi dia yang tetap bertahan tanpa pernah meninggalkan. Kalau nemenin dari nol tapi ujung-ujungnya selingkuh ya buat apa aku pertahanin, Mbak.”
“Bener juga sih, Mas. Sabar aja, Mas. Nanti pasti ada gantinya.”
“Pasti, Mbak.”
Aku tidak membalas pesannya lagi. Namun baru saja kuletakkan ponselku, ada notifikasi pesan dari Mas Gus lagi. Dia mengomentari foto yang kuposting di WA beberapa menit lalu, fotoku yang sedang duduk di bangku taman belakang rumahku.
“Gimana kalau cewek yang duduk itu yang jadi penggantinya.”
“Pengganti apa, Mas?” tanyaku keheranan. Aku tidak mengerti maksudnya.
“Pengganti buat jadi calon istriku. Daripada Mbak duduk sendiri, mau nggak duduk di sampingku di pelaminan nanti? Boleh kan cewek dengan senyuman manis itu jadi milikku?”
Aku yang mengira bahwa itu hanya candaan langsung tertawa membacanya. Aku pun membalasnya dengan candaan juga.
“Boleh, Mas.”
“Beneran, Mbak?”
“Ya enggak lah, Mas. Bercanda. Kan Mas juga bercanda tadi.”
“Aku serius, Mbak. Apa Mbak mau?”
Aku terkejut mendengar jawabannya. Bukannya merasa senang, aku justru merasa bingung.
“Tapi kita baru kenal di media sosial belum lama, Mas. Ya biarpun udah saling tau dari dulu, tapi baru kenalan dan ngobrolnya belakangan ini. Bukannya terlalu cepat? Mas juga belum terlalu mengenalku. Apa yang bikin Mas secepat itu jatuh cinta?” balasku.
Sambil menunggu balasannya, aku terus memegangi ponselku dan benar-benar merasa kebingungan. Ini terjadi secara tiba-tiba dan tanpa pernah kuduga.
“Kalau aku punya alasan, itu namanya bukan cinta.” jawabnya singkat.
Jawaban singkatnya membuatku tersenyum sendiri. Tanpa memuji diriku dan tanpa mengatakan “aku mencintaimu”, ia menyatakan perasaannya dengan cara yang berbeda. Bahkan ia tak memberiku alasan mengenai perasaannya itu. Jawaban yang cukup bijak. Aku diam beberapa saat dan memikirkan jawaban yang tepat untuknya.
“Memintaku menjadi milikmu itu lebih dari sekedar ungkapan aku mencintaimu. Kalau Mas memang mempunyai niat serius, jangan ngomong itu ke aku. Katakanlah di depan orang ibuku, Mas.”
Aku berusaha menguji keseriusannya. Biasanya lelaki yang kuberi jawaban seperti itu akan mengatakan belum siap, lebih baik mengenal dekat dulu, dan berbagai alasan lainnya. Aku ingin tahu bagaimana reaksi lelaki yang satu ini.
“Baiklah, Mbak. Kalau diizinkan, setelah wisuda nanti aku siap menemui ibu Mbak dan melamar Mbak.”
__ADS_1
Seperti sebuah petir yang langsung menyambar kuat di jantungku. Aku terkejut membaca balasannya. Aku pikir dia akan menyerah seperti lelaki lain, tetapi tidak. Dia justru menyatakan kesanggupannya. Lalu, setelah wisuda? Meski masih beberapa bulan lagi, tetapi bagiku itu terlalu cepat.