Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity

Salah!! Direvisi Di Naskah Infinity
Siapakah Misterious Boy Itu?


__ADS_3

Hari ini aku pulang sekolah naik motor dengan Ranti. Kami memang selalu berboncengan setiap harinya karena rumah kami bersebelahan. Kami bergantian motor. Usai mengantarku hingga di depan pintu, Ranti pun pulang. Baru saja aku akan masuk, kulihat sebuah kertas berbentuk pesawat seperti mainan anak-anak pada umumnya. Aku memungutnya. Kupikir mungkin saja itu adalah mainan anak-anak di sekitar rumahku yang terbang hingga sampai di depan rumahku. Namun begitu aku melihatnya, aku melihat tulisan "Open me". Aku bingung. Karena aku orang yang suka penasaran, aku pun membukanya. Tertulis sebuah puisi di dalamnya.


*Dear Vanella,


Keajaiban apakah yang kamu miliki?


Kamu seperti memiliki gaya gravitasi yang terus menarikku untuk mendekat


Di dekatmu aku merasa seperti helium yang melayang bebas di daratan luas


Apakah mungkin kamu berasal dari kutub positif dan aku dari kutub negatif?


Mungkin saja


Nyatanya aku dan kamu tidak saling tolak-menolak


Di hatiku terus tumbuh molekul-molekul cinta untukmu


Tak terbatas, tak terdefinisi


Hingga aku tak tahu dengan besaran vektor apakah harus kugambarkan besarnya cintaku


With infinity love,


Misterious Boy*


Bukannya terharu, aku malah tertawa cekikikan membaca puisi itu. Makna kata-katanya begitu dalam. Namun juga lucu.


"Bahasanya anak IPA banget ini. Tau aja kalau gue anak IPA. Apa dia anak IPA juga?"

__ADS_1


Aku terus bertanya-tanya sendiri. Dengan masih menahan tawa, kubawa kertas itu masuk. Di kamar, aku masih saja membacanya berulang kali dan berulang kali pula aku tertawa. Aku penasaran siapa sebenarnya pengirim puisi unik ini. Hal seperti ini tidak boleh kulewatkan untuk kuceritakan kepada Ranti. Aku pun langsung meneleponnya. Begitu dia mengangkatnya, belum sempat aku berbicara, aku sudah tertawa lebih dulu. Ranti merasa heran.


"Lo gila, Van? Kenapa sih lo?"


"Ran, lo harus tau ini. Harus banget pokoknya."


"Tau apaan?"


"Tadinya gue mau bacain. Tapi gue nggak kuat bacanya, gue ketawa mulu malah. Gue foto aja ya. Gue kirim lewat WA. Ni gue kirim. Langsung buka, langsung lo baca."


Selama beberapa detik Ranti terdiam. Sepertinya dia sedang serius membaca puisi itu. Sesaat kemudian dia langsung tertawa terbahak-bahak.


"Gue nggak tau ya harus kagum sama yang bikin puisi ini atau harus ketawa dulu. Tapi jujur pengen ngakak gue bacanya. Ada ya orang bikin puisi bahasanya ala anak IPA banget gitu. Ini antara orangnya emang pinter atau orangnya konyol. Tapi bagus sih. Sumpah gue pengen ketawa terus, Van. Dapet dari mana sih lo?"


"Gue aja udah baca berulang kali masih tetep ketawa tau gak. Gue nggak tau. Tadi gue mau masuk rumah terus nemu itu di vas bunga depan rumah gue. Gue pikir itu cuma mainan anak-anak karena tadi dibentuk kaya mainan pesawat dari kertas gitu. Eh pas gue ambil kok ada tulisan open me. Ya udah gue buka. Terkejut dong gue begitu gue baca puisi di dalamnya."


"Eh seriusan lo? Kayanya itu emang dari salah satu fans lo deh. Niat banget bikin puisi kaya gitu. Mungkin karena dia tau lo anak IPA kali. Gila ya dari kelas 10 masih aja lo dikejar-kejar fans."


"Dia cukup cerdik juga sih caranya. Yang lain sibuk gombalin lo, dia malah ngasih puisi kaya gini. Gue juga jadi penasaran siapa orangnya. Detektif siap bekerja lagi?"


Ranti memang sering memanggilku detektif karena aku suka penasaran dengan sesuatu dan pasti akan menyelediki sesuatu yang membuatku penasaran. Aku juga suka menganalisis pemikiran dan perasaan orang lain dengan menatap matanya.


"Pastinya dong. Mulai besok kita akan selidiki."


"Caranya?"


"Kita cari tau dulu cowok di sekolah kita yang suka pelajaran IPA dan jago bikin puisi. Saat ini menurut gue itu sih ciri-ciri orangnya. Ya walaupun belum tentu juga. Bisa aja dia cuma iseng bikinnya."


"Oke. Kita akan cari tau bersama-sama."

__ADS_1


Aku menutup telepon dan kembali tertawa. Aku tidak sabar mengetahui siapa pengirim puisi aneh ini.


 


\


 


Hari masih terlalu pagi. Belum tampak lalu lalang anak sekolah yang lewat di depan rumahku. Tetapi aku sudah bersiap untuk berangkat sekolah setelah sarapan bersama ibu. Aku bergegas menuju rumah Ranti. Kami pun berangkat.


Setelah setengah jam perjalanan, Ranti dan aku tiba di sekolah. Kami duduk di bawah pohon yang ada di halaman sekolah. Kami sengaja berangkat lebih pagi untuk memulai penyelidikan.


"Lo ngajak gue berangkat sepagi ini sebenernya lo punya rencana apa sih, Van?"


"Gini, kita kan mau nyari tau cowok dengan ciri-ciri suka pelajaran IPA dan jago bikin puisi. Jadi kita harus punya team yang bisa diajak kerja sama. Kita cari perwakilan dari setiap kelasnya itu minimal satu orang. Tapi harus orang yang tepat yang kira-kira bener-bener bisa ngasih kita informasi. Kita fokus di kelas 11 dulu deh karena entah kenapa gue yakin kalau itu cowok yang seangkatan sama kita. Gue kan kenal beberapa anak dari kelas lain, jadi nanti pas mereka baru muncul dari gerbang, kita langsung berhentiin dan jelasin soal itu. untuk kelas 11 IPA2 biar kita sendiri yang nyelidikin, kan kelas kita sendiri jadi lebih gampang. Oh ya jangan lupa kasih foto puisi itu ke orang-orang yang mau kita ajak kerja sama biar mereka bisa nyocokin tulisan tangan si pembuat puisi sama temen sekelas mereka."


"Lumayan juga ide lo. Oke siap. Kita tunggu aja."


Tidak butuh waktu lama, sekolah mulai ramai. Para siswa mulai berdatangan. Ketika melihat beberapa orang yang kupikir bisa kupercaya untuk mencari tahu tentang Misterious Boy itu, aku dan Ranti langsung menghentikannya dan menjelaskan semuanya. Kami juga mengirimkan foto puisi itu agar mereka bisa mencocokkan tulisan tangannya. Setelah selesai, barulah aku dan Ranti berjalan menuju kelas.


Tidak ada yang berubah sejak kelas 10. Di sepanjang tangga selalu ada deretan cowok playboy yang duduk di sana dan memanggil namaku setiap kali aku melewati mereka. Tidak lupa mereka melancarkan rayuan gombalnya. Aku melaluinya tanpa menatap mereka sama sekali.


"Masih aja kaya cinderella yang setiap dateng langsung disambut para pangeran tampan. Sampai kapan lo mau cuek sama mereka?"


"Lo pikir gue akan berubah pikiran dan mau sama salah satu di antara mereka? Iya kali gue mau sama cowok-cowok kaya gitu. Jelas-jelas bukan tipe gue."


"Jangan kelewat cuek, Van. Jangan galak-galak juga. Nanti kalau mereka berhenti godain lo, bingung kan lo nggak ada channel."


"Bodo amat. Ambil aja kalau mau."

__ADS_1


"Yaelah ni anak. Kapan sih lo bisa jatuh cinta?"


__ADS_2