
Setelah lulus sekolah, aku dan sahabat-sahabatku melanjutkan hidup kami masing-masing. Aku kuliah di luar kota dan tinggal di sebuah kos-kosan. Aku memilih jurusan sastra karena aku memang tertarik dengan dunia sastra. Tara memilih untuk mengadu nasib di luar negeri, tepatnya di Taiwan. Alby menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Ranti bersama ayahnya menjalankan bisnis ibuku, yaitu toko kue dan restoran. Bahkan dari penghasilan mereka, mereka mampu mendirikan usaha sendiri. Mereka membuka sebuah butik yang diurus sendiri oleh Ranti. Sementara Malvin, aku sudah lama tidak mendengar kabar tentangnya. Sepertinya dia masih sibuk dengan impiannya untuk menjadi seorang tentara. Suatu hari pasti aku akan bertemu dia lagi.
Jarak yang jauh di antara aku dan para sahabatku tidak lantas merenggangkan hubungan persahabatan kami. Kami selalu berkirim pesan dan melakukan panggilan video hampir setiap hari. Kami saling bertukar cerita tentang kehidupan yang kami jalani saat ini. Terkadang aku iri dengan mereka karena mereka sudah berada di depan kesuksesan. Mereka sudah mempunyai penghasilan sendiri sehingga tidak bergantung kepada orang tua lagi. sementara aku masih saja bermanja-manja dengan orang tuaku. Namun setiap orang tentunya memiliki jalan kesuksesan masing-masing.
Setiap libur akhir semester, tanah kelahiranku selalu menjadi tempat pilihanku untuk berlibur. Dengan begitu aku bisa menghabiskan waktu liburku bersama Ranti dan ibu.
Setelah tahun demi tahun kulalui dengan berbagai tugas yang cukup membuatku lelah, aku pun tiba di masa akhir perkuliahan. Aku berhasil menyelesaikan skripsiku dengan cepat, tinggal menunggu saat wisuda saja. aku senang akhirnya aku bisa sampai di titik ini. Aku tidak sabar menantikan saat aku memakai toga dengan disaksikan orang-orang yang kusayangi, khususnya ibu dan sahabat-sahabatku. Sambil menunggu saat itu tiba, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama Ranti di rumahnya karena ibu sedang ke luar kota untuk urusan bisnis. Jadi selama menunggu ibu pulang, aku akan menginap di rumah Ranti. Aku tidak mau jika harus di rumah sendirian. Aku pulang tanpa memberi tahu Ranti. Aku ingin memberinya kejutan dengan kedatanganku. Setelah terlebih dahulu pulang dan menemui ibu, aku bergegas menemui Ranti di butiknya. Ini adalah pertama kali aku akan melihat butik miliki Ranti.
Aku mengemudikan mobilku dengan cukup cepat. Rasanya sudah tidak sabar untuk menemui Ranti dan memberikan kabar bahagia mengenai kuliahku karena memang aku belum memberitahunya bahwa aku telah selesai skripsi. Memperhatikan para remaja yang asyik bersepeda membuatku teringat akan kenanganku bersama Malvin, di mana kami biasa menghabiskan waktu bersama saat senja. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Aku terus berharap agar aku bisa segera bertemu dengannya lagi. Aku rindu candaannya.
Kucari alamat yang Ranti kirimkan saat itu. Kulihat motor Ranti ada di sana. Aku segera turun dari mobil dan berlari masuk ke butik. Aku memperhatikan setiap detil butiknya. Butiknya bagus dan nyaman. Koleksi pakaiannya pun cukup banyak. Aku bangga karena sahabatkulah yang menjadi pemilik butik ini. Mataku terus berputar memperhatikan sekeliling. Aku melihat-lihat baju yang dia jual. Aku menyukainya. Model bajunya rata-rata adalah model baju kesukaanku. Saat tengah asyik melihat-lihat baju, tiba-tiba seorang perempuan menghampiriku dan menyapaku dengan ramah.
“Mau cari baju model apa, Mbak? Perlu saya bantu?”
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Ternyata dia adalah Ranti. Dia terlihat begitu terkejut saat tahu bahwa yang dia tanya tadi adalah aku. Tampak dengan jelas rasa bahagianya. Tanpa menunggu lebih lama, dia pun langsung memelukku dengan erat.
“Vanella. Gue seneng banget lo ada di sini. Ini beneran lo?” tanya Ranti sambil membolak-balik badanku dan mencubit pipiku, lalu memelukku lagi.
“Ya iyalah ini gue. Kayanya ada yang kangen banget ni sama gue. Erat banget pelukannya. Gue juga kangen banget sama lo, Ran. My bodyguard, temen berantem, segalanya pokoknya.”
“Pastilah gue kangen banget. Sedih banget jauh dari lo.”
Kami mulai saling menitikkan air mata. Ranti mengajakku masuk ke ruangan pribadinya dan duduk di sana.
“Lo mau minum apa?”
“Eh nggak usah. Jangan tawarin gue apa-apa. Gue ke sini mau ketemu lo, bukan mau makan atau minum.”
“Gimana kabar lo? Terus orang tua lo gimana? Baik juga kan mereka?”
“Iya, semuanya baik kok. Lo sama ayah lo juga, kan?”
__ADS_1
“Iya. Lo kenapa tiba-tiba ke sini? Nggak ngomong gue dulu. Lo pasti mau nginep, kan? Yah, gue belum siapin kamarnya.”
“Pasti lah gue nginep. Ibu kan belum pulang. Gampang nanti kita beres-beres bareng. Gue sengaja nggak ngasih tau. Kan ini kejutan. Gue mau ngasih kejutan kelulusan gue. Skripski gue udah kelar dan gue tinggal nunggu wisuda. Jadi gue liburan di sini dulu.”
“Serius lo? Wah gercep banget. Hebat emang lo. Dari dulu selalu jadi kebanggaan gue. Selamat ya, Van. Gue ikut seneng.”
“Iya dong. Akhirnya gue lega banget udah nyelesaiin masa-masa pusingnya gue mikirin tugas. Lo harus dateng ya pas gue wisuda nanti.”
“Pasti dong. Yang laen gimana?”
“Sip lah. Jadi nanti gantian lo yang nginep tempat gue. Emm... Kalau Alby sih positif dateng. Tara juga katanya nanti udah pulang sih pas gue wisuda. Tinggal Malvin yang belum gue denger kabarnya sampai sekarang.”
“Kenapa nggak kita coba ke rumahnya kapan-kapan? Kita kan bisa tanya sama orang tuanya dia.”
“Boleh juga ide lo. Eh ngomong-ngomong lo hebat banget ya sekarang. Gila nggak sih lo bisa punya butik sekeren ini. Pengunjungnya juga rame. Baju-baju lo juga keren banget. Favorit gue banget. Bener-bener pengusaha sukses.”
“Ini baru awal, Van. Ya semoga gue bisa jadi pengusaha yang lebih sukses dari ini. ini juga kan berkat orang tua lo yang udah ngasih banyak ilmu buat gue dan ayah gue. Soal model baju, kan gue emang sengaja banyakin baju-baju yang style-nya lo banget. Jadi kalau lo ke sini lo bisa borong koleksi baju gue.”
“Eh yuk pulang ke rumah. Lo pasti perlu istirahat. Untuk ke sini kan perlu waktu berjam-jam.”
“Lo bukannya masih sibuk?”
“Santai aja. Banyak karyawan kok di sini. Gue juga nggak setiap saat harus ada di sini.”
“Oke kalau gitu. Ayo. Gue udah kangen tidur di rumah lo.”
Aku mengajak Ranti naik mobilku untuk pulang ke rumah. Aku sudah merindukan suasana rumahnya yang begitu nyaman layaknya rumahku. Tak butuh waktu lama, kami pun tiba di rumah karena memang jarak antara butik dan rumahnya lumayan dekat.
“Selamat datang kembali di rumah gue,” teriak Ranti begitu kami tiba di rumahnya.
“Gue udah kangen banget, Ran. Ini tuh udah kaya rumah gue sendiri.”
__ADS_1
“Ya emang rumah lo, kan? Pokoknya jangan merasa kaya tamu di sini. Anggep rumah sendiri. Lo kan juga udah sering nginep di sini. Jadi jangan canggung lagi.”
“Siap deh. Eh ngomong-ngomong kok lo masih aja pake motor lo itu. Bukannya ayah lo udah ada mobil?”
“Iya, tapi gue tetep lebih suka naik motor, Van. Apalagi itu motor kesayangan gue. Gue nggak ada niatan buat jual motor itu apalagi gantiin posisi motor itu dengan mobil. Jadi biar aja mobilnya ayah yang pake.”
“Ini bener-bener Ranti sahabat gue. Nggak pernah berubah ya lo. Masih jadi sahabat gue yang sederhana.”
“Inget baik-baik ya, gue nggak akan pernah berubah.”
“Iya deh percaya.”
Ranti membantu membawa koperku ke kamarnya. Dia juga membantuku merapikan baju-bajuku di lemarinya. Aku langsung memeluk Ranti dengan erat.
“Akhirnya kita bisa tidur bareng lagi.”
“Ya ampun, Vanella. Lo masih demen aja ya tidur sama gue. Nikah sono biar ada temen tidur.”
“Ssstt... Gue belum pengen nikah. Calon juga belum ada.”
“Masih belum bisa move on ya?”
“Udah dong. Gue udah nggak pengen pacaran lagi.”
“Yakin? Mana mungkin seorang Vanella jomlo.”
“Terserah lo mau percaya atau nggak. Udah ya gue ngantuk. Nggak papa kan gue tidur dulu? Tenang, nanti gue bantu ngerjain pekerjaan rumah.”
“Udah nggak usah. Kan udah gue bilang anggep ini rumah sendiri. Nggak usah ngapa-ngapain. Ya udah lo istirahat aja dulu. Kalau nyari gue, gue lagi nonton TV.”
“Oke.”
__ADS_1
Tak lama setelah Ranti meninggalkanku sendiri di kamar, aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Sepertinya tidurku begitu lelap karena lelah yang kurasakan.